Alicia, Agen Cinta

Alicia, Agen Cinta
31. Rasa Tidak Suka Nyonya Irma


Alicia masih canggung dengan mama sambungnya Bara itu. Namun begitu, dia juga harus bersikap hormat dan sopan. Bagaimana pun, perempuan di depannya itu adalah orang yang sangat di sayangi Bara.


Dia melihat penampilan dan perawakan mama sambung Bara itu terlihat masih muda dan cantik. Dia sangat menjaga penampilannya, meski usia sudah tidak muda lagi.


"Oh ya Alicia, nanti tante lanjut lagi ya bicaranya." kata mama sambung Bara.


"Iya tante." jawab Alicia sopan.


Bara menatap pada Alicia, dia melihat kekasihnya itu masih canggung. Papanya Bara menepuk pundak anaknya, membuat laki-laki itu menoleh.


"Sabar Bara, mamamu hanya ingin sesuatu yang membuatnya puas." kata papanya.


"Aku tahu pa, tapi ini pertama kalinya Alicia datang kemari. Jadi dia gugup dan canggung." kata Bara.


"Ya, wajar saja." kata papanya, pergi ke kamarnya lagi untuk berganti celana.


Bara duduk di sebelah Alicia, dia melihat kekasihnya itu masih tegang. Dia menarik tangan Alicia untuk menenangkan hati gadis itu yang tegang dan gugup.


"Jangan takut sayang, mama dan papaku ngga apa-apa kok." kata Bara.


"Ya, aku tahu. Aku hanya tegang saja, heheh." ucap Alicia.


Pak Hengky kembali lagi setelah tadi dia mengganti sarungnya dengan celana panjang. Dia melihat anaknya memegangi tangan Alicia, duduk di hadapan mereka.


"Jadi gadis ini pacar barumu, Bara?" tanya pak Hengky.


"Iya pa, namanya Alicia." jawab Bara.


"Waah, namanya bagus ya. Dia bekerja?" tanya pak Hengky lagi.


"Ya pa, Alicia bekerja di sebuah agen." jawab Bara lagi.


"Agen apa?" tanya pak Hengky penasaran.


"Emm, sebuah agen yang menangani masalah pasangan om." jawab Alicia.


"Ooh, itu." kata pak Hengky seperti tahu tentang kantor agen di mana Alicia bekerja.


Bara dan Alicia heran, apakah pak Hengky tahu tentang agen itu?


Tapi keduanya diam tak bertanya apakah pak Hengky itu benar-benar tahu tentang pekerjaan Alicia. Karena nyonya Irma, ibu sambung Bara datang dan duduk di samping suaminya.


Dia berpakaian rapi dan wangi, membuat heran suaminya atau pun Bara.


"Mama mau kemana?" tanya Bara.


"Mau pergi sebentar, ada urusan. Ya mungkin hanya satu jamlah Bara, nanti mama balik lagi kok." kata nyonya Irma.


"Kan ada tamu penting lho ma, ya di batalkan dulu urusannya." kata pak Hengky suaminya.


"Ngga bisa pa, ini urusan penting. Kalau tidak pentinh, mana mau mama keluar. Apa lagi ada calon menantu mama ini, tapi kan mama sudah janji lebih dulu sama orang." kata mamanya.


"Janji sama siapa ma?" tanya Bara.


"Ya, sama teman mama. Kan mau ada rencana bisnis berlian, nah mama di undang. Ini penting lho, ngga bisa ada lagi nantinya. Kalau ada ya harus menunggu satu bulan lagi." kata nyonya Irma.


0ak Hengky diam saja, dia sepertinya malas berdebat dengan istrinya itu. Tapi Bara jadi kecewa dengan kepergian mamanya, karena kemarin dia memberitahu kalau besoknya dia akan membawa kekasihnya ke rumah. Dan mamanya itu setuju kalau dirinya akan di rumah saja.


"Mama kemarin sudah janji sama aku, mau di rumah saja dan ingin berkenalan dengan pacarku ini. Kenapa sekarang mendadak mau pergi?" tanya Bara.


"Maaf sayang, kemarin mama lupa kalau hari ini ada janji. Emm, lain kali deh ya pacar kamu di bawa lagi kesini. Nanti mama akan kenalan lebih jauh sama Alicia." kata nyonya Irma lagi.


Pandangan nyonya Irma sepertinya kurang menyukai Alicia. Tapi Alicia tahu diri dan mengerti kalau mama sambung Bara itu kurang suka padanya.


"Ya sudah ma, nanti kapan-kapan Alicia aku ajak lagi ke rumah dan mama janji harus ada di rumah. Aku ingin mama dan Alicia itu dekat, ya nantinya kan aku akan menikahi Alicia ma." kata Bara.


Tentu saja membuat nyonya Irma dan pak Hengky terkejut. Terlebih Alicia karena Bara mengatakannya langsung. Bara tersenyum senang, tapi raut wajah nyonya Irma datar saja.


"Tapi, apakah tidak terlalu cepat sayang? Kan kalian baru kenal." kata nyonya Irma.


"Ngga ma, aku sudah yakin kalau Alicia itu jodohku dan aku akan menikahinya." jawab Bara.


"Ya, terserah kamu. Mama hanya tidak mau terjadi seperti Jessi dulu." kata mama sambungnya.


"Tapi pa ..."


"Ma? Katanya tadi mau ada janji dengan teman mama itu. Sudah sana pergi, biar nanti papa yang temani Bara dan Alicia di rumah." kata pak Hengky.


Nyonya Irma menarik nafas kasar, kemudian dia bangkit dari duduknya dan pergi dari hadapan suami serta anaknya. Masuk ke dalam kamarnya dan mengambil tasnya, dengan wajah kesal nyonya Irma pergi begitu saja.


"Jangan lupa pulang ya ma." kata pak Hengky.


Tak ada sahutan, Bara dan pak Hengky merasa tidak enak hati pada Alicia. Pak Hengky tersenyun, dia menyuruh Bara untuk membawa Alicia makan siang ke meja makan.


"Bara, ajak Alicia makan siang. Mungkin mbok Nem sudah menyiapkan makan siang di meja makan." kata pak Hengky.


"Iya pa." kata Bara.


Alicia yang sejak tadi diam saja jadi merasa tidak enak hati. Dia merasa tidak di terima oleh mama sambung Bara itu.


"Alicia, maafkan istriku ya. Kamu jangan merasa tidak enak hati, mungkin karena dulu dia kecewa sama mantan tunangan Bara. Jadi seperti itu, nanti om kasih tahu tante secara pelan-pelan. Pasti menyukai kamu kok." kata pak Hengky.


"Iya om, saya tidak apa-apa kok." kata Alicia tersenyum saja.


Bara menarik tangan Alicia, dia menatap wajah Alicia lalu mengecup tangan kekasihnya itu.


"Jangan khawatir, aku tidak akan selalu membelamu. Mamaku sebenarnya baik, memang dulu juga awalnya begitu. Tapi nanti lama-lama mamaku menyukaimu, mungkin mama belum mengenal kamu lebih jauh saja sayang." kata Bara.


Mereka pun pergi menuju meja makan untuk makan siang. Pak Hengky menatap Alicia lalu dia duduk di kursi yang biasanya dia duduk.


Tiba-tiba ponsel Bara berbunyi, dia pun mengambilnya. Tampak di layar wajah seorang gadis dengan senyum cerianya. Bara tersenyum, dia lalu mengangkat teleponnya.


"Halo, kamu sudah sampai di bandara adik manis?" tanya Bara.


"Kak Baraaa! Cepat jemput aku!"


Teriakan di telepon di seberang sana. Bara tertawa senang.


"Oke, kakak akan jemput kamu."


"Oke, Chika tunggu kak."


Klik!


"Chika sudah sampai?" tanya pak Hengky.


"Iya pa, katanya dia sudah sampai di bandara." jawab Bara.


"Emmz jadi kamu mau menjemput adikmu?" tanya Alicia.


"Iya sayang, apa kamu ngga apa-apa aku tinggal dulu?" tanya Bara ragu.


"Ngga apa-apa Bara, papa juga ingin mengobrol dengan pacarmu itu." kata pak Hengky tiba-tiba.


Alicia menatap calon mertuanya itu, lalu beralih pada Bara. Bara menatap Alicia lalu tersenyum.


"Oke, kamu ngga apa-apa kan sayang?" tanya Bara.


"Ya sudah, ngga apa-apa. Anggap saja aku ada wawancara dengan calon mertua. Heheh." kata Alicia.


"Hahah! Baiklah. Pa, tolong jangan buat Alicia menangis ya." kata Bara.


"Kamu itu. Ya sudah sana pergi, kasihan Chika menunggumu."


"Baik. Aku pergi dulu sayang. Cup." ucap Bara mengecup kening Alicia.


Alicia merasa malu, tapi kemudian dia tersenyum dan mengangguk. Bara pun pergi dari meja makan itu, dan pak Hengky sepertinya akan menanyakan sesuatu pada Alicia.


_


_


********************