Alicia, Agen Cinta

Alicia, Agen Cinta
27. Ajakan Bara


Esok harinya, Alicia sudah di perbolehkan pulang ke rumah. Hanya perlu kontrol saja ke rumah sakit untuk memeriksakan tulang mata kakinya yang agak retak itu.


Kepulang Alicia di temani oleh Bara, dia akan mengantar Alicia pulang ke apartemennya. Bukan ke rumah Alicia, karena teror dari Aditya belum usai. Jadi dia akan menyewa detektif sungguhan untuk menyelidiki siapa Aditya itu.


Kini mereka sudah berada di mobil untuk pergi ke apartemen Bara. Awalnya mobil itu melaju dengan tenang, Bara mengendarainya begitu santai. Tapi dia merasa mobilnya ada yang mengikuti, bukan hanya mobil tapi juga motor.


"Ada apa Bara?" tanya Alicia.


"Sepertinya mobilku di ikuti seseorang sayang." kata Bara.


Alicia menoleh ke belakang, dia melihat mobil putih mengikutinya. Di tambah satu motor yang dia ingat malam itu mengikutinya juga.


"Waah, itu motor yang malam itu mengikutiku Bara. Ya, motor itu yang mengikutiku sampai aku menabrak trotoar jalan." kata Alicia.


"Lalu, siapa yang ada di dalam mobil itu?" tanya Bara.


"Aku tidak tahu, mungkinkah Aditya?" ucap Alicia.


"Siapa pun mereka sepertinya memang sedang mengincar kita sayang." kata Bara.


Dia berpikir bagaimana menghindari dua kendaraan yang mengikutinya itu. Lima ratus meter lagi akan melewati kantor polisi, Bara pun dapat ide. Dia akan masuk ke gedung kantor polisi, menunggu kedua kendaraan itu pergi dari jalanan.


"Kita harus bagaimana Bara?" tanya Alicia.


"Tenang saja Alicia, di depan sebentar lagi melewati kantor polisi. Aku akan masuk kesana, dan berhenti sebentar untuk menghindari mereka itu." kata Bara.


"Aah benar, masuk ke kantor polisi. Mereka pasti tidak akan berani masuk ke dalam kantor polisi." kata Alicia ikut senang dengan rencana Bara.


Kantor polisi sebentar lagi di lewati, Bara melajukan mobilnya menambah kecepatan agar bisa sampai dan masuk ke dalam halaman kantor polisi.


Begitu hampir lewat gerbang kantor polisi, Bara langsung memasang lampu sen agar bisa masuk ke dalam tanpa ada yang mendahului di samping kiri jalan. Dia masuk gerbang kantor polisi. Penjaga di sana pun memandang mobil Bara masuk, dia heran ada mobil mewah masuk ke halaman kantor polisi.


"Sial! Dia masuk ke kantor polisi." ucap seseorang di dalam mobil yang mengikuti mobil Bara.


Tuuut.


Ponselnya berbunyi, dia mengangkatnya dan menjawab telepon itu.


"Bagaimana? Apa harus di lanjut mengikuti mereka?"


"Kamu saja yang ikuti, aku akan pergi. Cari tahu apakah Alicia akan tinggal di rumahnya atau kemana dia tinggal." katanya.


"Baik."


Klik!


Mobil itu pun pergi dari tempatnya berhenti, sedangkan motor masih menunggu Alicia dan Bara keluar dari kantor polisi. Dia masih memantau keadaan mobil Bara.


Sedangkan Bara dan Alicia masih di dalam mobil, seorang polisi menghampiri mobil Bara. Bara pun keluar dari mobilnya dan menjabat tangan pak polisi.


"Selamat siang pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya pak polisi itu.


"Siang pak polisi, saya tadi di ikuti sama mobil dan motor sejak keluar dari rumah sakit. Kami mau pulang, tapi ada yang mengikuti terus. Jadi saya berinisiatif untuk berhenti di kantor polisi lebih dulu." kata Bara menjelaskan.


"Oh, anda di ikuti? Siapa? Di mana mobilnya?" tanya polisi.


"Tadi sih ada mobilnya, dan motor juga." kata Bara.


Bara lalu berjalan menuju pintu gerbang kantor polisi. Di ikuti oleh pak polisi, dia menujuk ke arah motor yang terparkir itu. Dan tiba-tiba motor yang di tunjuk Bara pergi dari tempatnya.


"Waah, dia pergi." kata Bara.


"Nanti saya lacak nopolnya. Sepertinya bapak bukan orang biasa?" tanya pak polisi.


"Hahah, kalau saya orang biasa tidak mungkin ada yang mengikuti dan mau berbuat jahat." kata Bara.


"Waah, apa perlu saya minta pada kepala untuk memgusut orang yang mau berbuat jahat pada anda?" tanya pak polisi menawarkan diri.


"Bisa."


"Kalau begitu, bapak bisa masuk ke kantor saja. Bicarakan dengan kabareskrim. Kebetulan ada di dalam sedang sidak di kantor ini." kata pak polisi itu.


"Hemm, boleh juga."


Bara dan pak polisi pergi ke kantornya, dia memberitahu Alicia dulu kalau dia akan membuat kerja sama dengan pak polisi mengenai kasus Alicia itu. Dan Alicia juga ikut masuk ke dalam kantor polisi.


_


Sampai di apartemen Bara, Alicia memakai kursi roda. Dia di dorong sama Bara untuk masuk ke dalam apartemen. Bara membuka pintu apartemennya, mendorong masuk Alicia. Gadis itu melihat sekeliling apartemen yang lumayan cukup mewah.


"Ini milikmu?" tanya Alicia.


"Ya, tidak ada yang menempati. Aku jarang menempati apartemenku ini, hanya kadang-kadang jika sedang suntuk masalah pekerjaan atau lainnya." kata Bara.


"Berarti tempat ini sering bau asap rokok jika kamu tinggal di sini." kata Alicia.


Dia berdiri dan hendak duduk di sofa. Di bantu oleh kekasihnya untuk duduk di sofa.


"Kalau aku merokok, ada tempat khusus untuk merokok. Tapi seringnya aku merokok di balkon di kamar, dua hari sekali pasti ada yang membersihkan apartemenku ini." kata Bara.


Mereka duduk, Bara sudah memesan makanan melalui aplikasi pesan antar untuk makan mereka.


"Aku lapar." kata Alicia.


"Aku sudah pesan makanan. Tunggu saja, sebentar lagi sampai kurirnya." kata Bara.


Alicia tersenyum, dia menelan ludahnya karena haus. Bara mengerti, dia mengambilkan air minum untuk Alicia.


"Kamu bisa melakukan semua sendiri dalam keadaan seperti ini?" tanya Bara.


"Bisa kok. Ada tongkat juga kan, aku bisa jalan sedikit-sedikit. Lagi pula kalau diam di kasur saja kan kapan aku belajar jalan dan bisa jalan." kata Alicia.


"Nanti juga bisa jalan kok. Jangan terburu-buru, yang penting kamu aman dulu di sini. Kepolisian akan mencari orang yang mmebuatmu seperti ini." kata Bara.


"Ya, kupikir hanya parkir saja di kantor polisi. Ternyata polisinya cepat tanggap ya."


"Ya, ada salah satu polisi yang aku kenal tadi di kantor itu. Jadi mereka akan bergerak cepat menemukan pelaku yang meneror kamu." kata Bara lagi.


Bara menatap Alicia, mengelus pipinya kemudian dia mencium bibirnya. Lama mereka berciuman, hingga tangan Bara memegangi leher Alicia. Dia sangat menikmati ciuman pada gadis itu, dan tangannya menyentuh punggung Alicia.


Alicia mendorong dada Bara, dia tidak mau kebablasan dengan laki-laki di depannya itu. Senyum Alicia mengembang ketika Bara melepas pagutan bibirnya, mengelap saliva yang menempel di bibir Alicia.


"Maaf." kata Bara.


"Ngga apa-apa." ucap Alicia.


"Emm, Alicia. Kamu mau menikah denganku?" tanya Bara.


"Eh, kenapa mendadak?" tanya Alicia terkejut.


"Ya, aku tidak mau seperti tadi. Atau kamu mau meneruskan yang tadi dan berlanjut lebih dalam?" tanya Bara.


"Ya tidak. Tapi aku kaget kamu mendadak mengajakku menikah secepat ini, apa kamu tidak memikirkan lebih lama lagi?" kata Alicia.


"Kenapa harus di pikirkan? Aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kamu celaka seperti kemarin dan ada yang menerormu. Kupikir lebih baik kamu keluar dari pekerjaanmu itu." kata Bara.


"Menikah hanya karena itu?" tanya Alicia, dia tidak suka pemikiran Bara itu.


"Tidak, aku hanya takut kamu ada yang menakutimu lagi. Dan kamu kenapa kaget dengan ajakanku tadi untuk menikah?" tanya Bara ingin tahu alasan Alicia.


"Kamu tahu, aku ini tidak punya kedua orang tua. Mereka sudah meninggal sejak aku lulus SMA. Aku hanya takut saja keluargamu tidak menerimaku sebagai istrimu nantinya." kata Alicia.


"Hahah! Jangan takut sayang, papaku dan mamaku menyerahkan sepenuhnya siapa jodohku. Setelah mereka tahu kebusukan Jessi itu, papa justru waktu itu menentang. Tapi aku tidak peduli dengan tentangan papa, jadinya aku yang di bohongi oleh Jess. Tapi mama sambungku yang sangat ingin aku bersama Jessi." kata Bara.


"Itu artinya mama kamu tidak mau orang lain yang jadi menantunya." ucap Alicia.


"Bukan, mamaku tidak tahu kalau Jessi seperti itu. Dan dia menyesal dan kesal dengan harapannya tidak sesuai keinginannya. Jessi membohonginya, membuat mama merasa bersalah." kata Bara lagi.


Obrolam mereka terhenti ketika ada suara bel berbunyi. Bara pun berdiri dan segera membuka pintunya, karena itu pasti kurir pesan antar makanan.


_


_


********************