
Dua hari Bara memikirkan bagaimana dia bicara dengan mama sambungnya itu. Dia berusaha untuk bicara baik-baik dengannya. Di samping itu papanya nanti juga ikut bicara, tapi lebih tepatnya papanya lebih dulu yang bicara dengan istrinya itu.
Kini Bara duduk di meja makan, bersama dengan papanya dan nyonya Irma. Mereka makan dengan tenang, Hanya Bara saja yang tampak tidak tenang memikirkan apa yang akan dia mulai lebih dulu.
"Bara, kamu sepertinya sedang gelisah." kata nyonya Irma.
"Apa mama tahu? Aku sedang kecewa pada seseorang." kata Bara menatap mamanya.
"Kecewa? Sama siapa? Pacarmu?" tanya nyonya Irma sedikit sumringah.
"Bukan, sama ...."
"Bara, ajak mamamu ke ruangan kerjamu. Papa juga akan datang kesana." kata papanya untuk memutus ucapan Bara.
"Iya pa." ucap Bara.
"Ada apa ini? Apa yang mau kalian bicarakan sama mama?" tanya nyonya Irma.
"Banyak ma, mama ke ruang kerjaku saja dulu. Aku akan ke toilet dulu, nanti menyusul." kata Bara.
"Heh, sepertinya kalian mau menyidang mama ya. Baiklah." ucap nyonya Irma.
Makan malam itu selesai dengan percakapan kaku dan dingin dari pak Hengky dan Bara. Nyonya Irma sendiri masih begitu tenang dengan sikap dingin suaminya, karena memang setiap hari suaminya itu selalu bersikap dingin padanya.
Hanya malam hari mereka memang masih tidur di satu kamarnya. Tapi keduanya sudah tidak sehangat enam tahun lalu, sebelum pak Hengky mengetahui sesuatu yang janggal pada istrinya itu.
Nyonya Irma masuk ke dalam ruang kerja Bara, di susul oleh pak Hengky. Pak Hengky membawa map merah di tangannya, dia melihat istrinya berjalan berkeliling mengitari meja kerja Bara.
Pak Hengky menarik napas panjang, dia duduk di sofa. Sengaja dia tahan Bara agar jangan masuk dulu sebelum dia bicara dengan istrinya itu.
"Irma, duduklah." kata pak Hengky.
Nyonya Irma pun mendekati suaminya, dia melihat tangan pak Hengky map merah. Penasaran apa yang di tangan suaminya itu, apa pembagian harta atau surat cerai?
"Apa itu pa?" tanya nyonya Irma.
"Kita bicara berdua saja dulu." kata pak Hengky.
"Mau bicara apa? Kamu mau menceraikan aku?" tanya nyonya Irma dengan tenang.
Pak Hengky menatap istrinya itu, memang sejak dulu dia meminta istrinya untuk memperbaiki diri dan hubungan mereka. Tapi nyonya Irma menolaknya, dan pak Hengky pernah memperingatkannya jika tidak menuruti apa yang dia katakan. Maka dia akan menceraikannya.
Sekarang sepertinya nyonya Irma paham dengan suaminya itu. Bahkan dia siap dan tidak peduli lagi, dia akan mendekati anaknya. Begitu pikir nyonya Irma.
"Itu kan yang kamu inginkan? Agar bisa lebih dekat dengan anakku." kata pak Hengky.
"Bara maksudnya? Hahah, tentu saja. Dia juga anakku kan?" kata nyonya Irma tersenyum smirik.
"Tidak semudah itu, kamu tahu. Bara itu mengetahui apa yang seharusnya tidak dia ketahui." kata pak Hengky.
Senyum nyonya Irma meredup, dia menatap dingin pada suaminya. Pikirannya melanglang, apa yang di ketahui Bara tentangnya?
"Maksud kamu apa pa?" tanya nyonya Irma.
"Kamu lihat ini." kata pak Hengky melempar map merah di meja.
Nyonya Irma menatap map merah itu, dia penasaran tapi ragu juga untuk mengambilnya. Tapi rasa penasarannya lebih besar dari pada keraguan dalam hatinya. Dia mengambil map tersebut, melihat isinya. Dia melihat foto pernikahan dirinya dan suaminya itu.
Tak ada ekspresi senang atau tersentuh dengan foto pernikahannya. Lalu membuka lembaran demi lembaran foto yang begitu banyak, dia sampai jengah dengan banyaknya foto itu.
"Ini apa maksudnya pa? Aku sudah tahu foto-foto ini. Untuk apa di perlihatkan padaku?" kata nyonya Irma kesal.
Pak Hengky mengambil foto yang ada di kantong bajunya. Lalu melempar lagi di meja, nyonya Irma pun mengambilnya. Dia melihat foto dirinya dengan teman-temannya, ada juga foto dia mengobrol dengan laki-laki seusia Bara.
"Lalu, hanya ini saja?" tanya nyonya Irma masih tenang.
Pak Hengky pun mengambil foto lagi di kantongnya. Dia melempar lagi di meja, dan nyonya Irma kaget. Dia menatap suaminya itu lalu beralih pada foto-foto tersebut. Mengambilnya pelan dan membuka satu persatu foto yang berjumlah lima buah.
Hatinya berdebar, tapi dia berusaha tenang. Sebenarnya apa maksud suaminya itu.
"Apa ini maksudnya?" tanya nyonya Irma.
"Kamu selingkuh, dan masih berusaha tenang begitu?" tanya pak Hengky.
"Selingkuh? Bukankah kamu tahu sejak dulu aku selingkuh, dan kamu berjanji tidak akan memberitahu Bara tentang hal ini. Karena apa? Kamu sendiri yang tidak bisa memberiku kepuasan." kata nyonya Irma berdalih.
Pak Hengky menarik napas panjang, dia memang kurang memberikan perhatian pada istrinya masalah nafkah batinnya sejak dia tahu kalau anaknya Chika bukan dari benihnya sendiri. Entah itu anak siapa, tapi pak Hengky berusaha menerimanya. Tapi justru mengacuhkan istrinya.
"Aku tahu, tapi kamu yang membuat aku malas memberikan itu sama kamu. Karena Chika ..." ucapan pak Hengky terhenti, melihat mimik wajah nyonya Irma yang mulai tegang dan takut.
"Cukup! Dari mana kamu tahu semuanya?" tanya istrinya itu.
"Ck, terus. Kamu mau menceraikan aku?" tanya nyonya Irma.
"Aku berpikir selama lima tahun ini. Memang ada baiknya aku berpisah denganmu." kata pak Hengky.
"Heh, baik. Aku terima." kata nyonya Irma dengan senyumnya.
"Emm, dan tentang foto itu Bara sudah tahu." kata pak Hengky lagi.
"Heh, persetan. Aku akan meyakinkan dia agar percaya dengan ucapanku. Dia lebih percaya padaku dari pada kamu pa." kata nyonya Irma.
Pak Hengky diam, tak lama Bara pun masuk. Dia membawa ipad di tangannya, menatap mamanya itu. Nyonya Irma pun menoleh pada Bara, dia buru- buru memberesi foto-foto yang berserakan di meja.
Bara duduk di samping papanya, melihat apa yang di lakukan nyonya Irma menyembunyikan foto-foto tadi.
"Ituu, foto mama semua?" tanya Bara.
"Oh, iya sayang. Itu foto mama, ngga tahu kenapa papa suka sekali memfoto mama." kata nyonya Irma gugup.
"Hemm, begitu ya. Papa suka memfoto mama?" tanya Bara.
"Sebenarnya papa suka foto mama kamu. Tapi sayang, dia tidak bisa bersama lagi. Papa sedih." kata pak Hengky.
Bara menepuk pelan punggung papanya, layaknya dua aktor yang sedang bermain peran dengan tenang. Mereka seperti kompak untuk menjebak nyonya Irma.
"Semoga mama tenang di sana." kata Bara.
"Hei, Bara. Mamamu ada di depanmu, kenapa kamu membicarakan orang yang sudah meninggal?" tanya nyonya Irma kesal.
"Oh ya, mama." kata Bara.
Dalam hatinya sangat marah, tapi seperti apa yang di rencanakan papanya waktu itu. Bara harus tenang menghadapi mama sambungnya itu.
"Ma, aku menemukan video mama. Oh tidak, aku melihat video mama di ipad ini. Apa mama mau lihat?" tanya Bara berusaha tenang.
Nyonya Irma menatap anak sambungnya itu, beralih pada ipad yang di sodorkan Bara padanya. Lalu mengambilnya pelan, kemudian dia melihatnya.
Video sudah siap di tonton, hanya dengan mengklik tombol play video menyala. Ragu nyonya Irma memutar video itu.
"Putar saja ma, ngga apa- apa." kata Bara.
Nyonya Irma pun menurut, dia memutar video itu. Semua sudah di edit oleh Bara, jadi agak lama untuk menonton video inti dari permasalahan yang mereka hadapi. Baru setelah tiga puluh detik, nyonya Irma kaget. Dia melihat video itu sewaktu di restoran waktu itu dengan teman-temannya.
Dalam video itu memang awalnya saja menampilkan dirinya bercanda dengan teman-temannya, tapi pembicaraan di dalamnya membuat nyonya Irma kaget dan takut. Dia melirik ke arah Bara, dia terus melihat video tersebut.
Hingga video terakhir yang ada di cotage itu, dia berciuman liar denga seorang laki-laki muda. Membuat merah padam wajahnya, tiba- tiba kaku sekali tubuhnya. Menuduk dalam karena sekarang Bara tahu kelakuannya itu yang selana bertahun-tahun dia tutupi.
Dia melirik ke arah suaminya, bersikap tenang lalu beralih ke anak sambungnya. Sama halnya juga berusaha bersikap tenang, padahal dalam hatinya benar-benar marah sekali. Tangannya mengepal di belakang sikutnya.
"Itu mama kan?" tanya Bara masih berusaha tenang.
"Bara, itu ..."
"Mama pengen apa? Katakan saja, kemarin-kemarin mama minta saham kan? Dan di tambah lagi minta berlian, untuk apa? Apa papa tidak memberi jatah uang sama mama?" tanya Bara.
"Bara, mama ..."
"Aku berikan ma, tapi mama keluar dari rumah ini." kata Bara dengan tegas.
"Bara! Kamu mengusir mama?!"
"Ya! Aku muak melihat foto dan juga video itu! Menjijikkan! Selama ini memang mama menginginkan aku kan? Heh, di mana otak dan pikiran mama?!"
Nyonya Irma diam saja, tangannya mengepal keras. Dia tidak menyangka anak sambungnya itu mengetahui semuanya. Tiba-tiba dia menangis tersedu, membuat pak Hengky melengos ke samping. Dia tahu pasti itu semua untuk menarik rasa iba Bara padanya.
"Jangan menangis ma, aku tidak tertarik dengan air mata tangisan mama itu. Aku bahkan muak melihat mama!"
"Bara! Mama sayang sama kamu!"
"Cukup! Rasa sayang mama itu bukan sebagai ibu, tapi sebagai perempuan pada laki-laki. Mama menyukaiku?! Jangan harap mama mendapatkan simpati atau balasan dariku. Aku tidak mau melihat mama lagi di rumah ini!" ucap Bara.
Setelah bicara seperti itu, Bara pun pergi meninggalkan pak Hengky dan ibu Irma yang menangis.
"Sudah jelaskan? Anakku menolakmu, sekarang kita akan bercerai, kamu bisa dapatkan apa yang kamu inginkan. Tapi tidak dengan saham itu, karena aku melarang anakku memberikannya. Kamu memanfaatkan kebaikan Bara padamu, meski pun aku tahu dan diam saja. Tapi Bara punya otak yang harus berpikir jernih dan benar, tidak melulu mendengar rengekanmu meminta barang pada anakku." ucap pak Hengky dengan tegas dan tajam.
Dia benar-benar muak dengan istrinya, selama lima tahun dia pendam. Baru kali ini semuanya terbongkar, kalau istrinya menikahinya hanya untuk kesenangannya saja. Meski menikah sudah bertahun-tahun, tapi watak seseorang tidak bisa di rubah. Apa lagi dengan adanya harta yang melimpah yang dia dapatkan.
_
\=>> part ini panjang ya, semoga puas kaka. Maaf othor ga bisa up banyak, othor panjangin bab aja ya..😉😊