Alicia, Agen Cinta

Alicia, Agen Cinta
40. Ketahuan Bara


"Alicia, bagaimana dengan pengintaianmu kemarin?" tanya pak Hengky di seberang sana.


"Emm, masih perlu penyelidikan lagi om. Apa tante Irma ada jadwal keluar lagi hari ini?" tanya Alicia.


"Sepertinya ada, nanti om tanya sama tante Irma."


"Oke om, saya tunggu kabar dari om Hengky kemana tante Irma pergi."


"Ya."


Klik!


Telepon di tutup, Alicia menarik nafas panjang. Dia masih memikirkan bagaimana menyampaikan pada pak Hengky dengan hasil pengintaiannya kemarin.


Tak lama, pesan masuk di ponsel Alicia. Dia mengambil ponselnya dan membuka pesan singkat itu. Membacanya lalu dia mengambil tasnya, segera dia akan mengikuti nyonya Irma kemana tujuannya kali ini.


"Al, mau kemana?" tanya Nindy.


"Satu bukti lagi, mau aku dapatkan." jawab Alicia.


"Ouh, mengikuti calon mertuamu?" tanya Nindy.


"Yap, semoga kali ini terakhir aku dapatkan. Setelah aku pikir, sangat berat sekali dan resikonya besar." kata Alicia.


"Bara maksud kamu?"


"Ya, kemungkinan jika dia tahu pasti marah besar. Bahkan mungkin akan memutuskan hubungan." ucap Alicia lirih.


"Al, apa sebaiknya kamu mundur saja?" tanya Nindy.


"Ngga Nin, aku pikir ini pekerjaanku. Pekerjaan yang memgandung resiko juga, aku mendapatkan Bara memang tanpa sengaja dia karena dia memintaku menyelidiki mantan pacarnya. Dia sendiri yang mendekatiku, jadi kalau dia mundur dan memutuskan pacaran. Aku terima, Nin." kata Alicia.


"Al, meski resikonya kamu yang akan mendapat masalah. Sebaiknya kamu mundur saja, katakan pada om Hengky kamu tidak menemukan apa pun. Kamu juga bisa buang itu rekaman." kata Nindy lagi.


"Ngga Nin, aku sudah maju. Jika aku mundur, berarti aku tidak profesional."


"Ya ampun Al, mbak Reina juga ngga masalah jika nantinya kamu dapat masalah. Apa lagi menyangkut kekasihmu itu."


"Untuk kali ini aku menolaknya, tapi aku sudah memutuskan sesuatu. Cukup kali ini saja, setelah nanti benar Bara marah padaku sampai memutuskanku. Aku akan mundur dari pekerjaanku." kata Alicia.


Dia pun pergi, tidak akan mundur lagi. Dia yakin kenapa pak Hengky memintanya untuk menyelidiki istrinya, karena suatu saat pak Hengky akan membantunya dan tidak mungkin menjebloskannya pada masalah yang rumit dengan Bara.


Dia senang membantu permasalahan orang-orang yang mengalami masalah dalam percintaan. Tapi dia juga tahu resiko seperti apa yang dia hadapi nanti, seperti dulu. Aditya justru menjadi teror buatnya, bukankah sejak dulu selalu ada yang membantunya?


Alicia melajukan mobilnya menuju rumah Bara. Beberapa kali dia menolak makan siang bersama dengan Bara, hanya untuk menyelidiki target dari permintaan klien. Sejauh ini Bara belum marah, karena memang pekerjaan Alicia. Jadi Alicia masih aman hubungannya dengan Bara.


Sampai di depan rumah Bara, Alicia memarikirkan mobilnya agak jauh. Agar tidak di curigai oleh nyonya Irma yang akan keluar dari rumahnya. Dan memang tak lama, sebuah mobil rolls roice phantom hitam keluar perlahan. Alicia pun sudah siap mengikuti mobil nyonya Irma.


Memberi jarak beberapa meter saja, Alicia memantau kemana nyonya Hana pergi. Dan ternyata mobil rolls roice phantom itu memasuki restoran mewah, mobil itu terparkir di depan. Di sambut oleh petugas palet di depan pintu restoran.


Alicia berhenti, dia sengaja tidak masuk mobil ke restoran. Memilih memarkirkan mobilnya agak jauh di tempat lain, lalu keluar dari mobil dan masuk ke dalam restoran.


Dia memakai kacamata hitam dan juga masker. Tak lupa topi juga dia kenakan. Mencari di mana nyonya Irma berada, matanya berkeliling. Lalu satu titik di meja besar tempat khusus, dia melihat nyonya Irma bercengkerama dengan teman sosialitanya.


Alicia mencari tempat yang dekat dengan mereka dan aman dari pandangan orang-orang kelompok nyonya Irma. Dia duduk tepat di belakang mama sambung Bara itu, dengan penyamaran sempurna.


"Jadi kemarin kamu sama si Joni?" tanya teman nyonya Irma.


"Iya, kan dia berondong aku selama satu bulan. Hahah!"


"Ya ampun, lalu kamu kasih apa sama dia?" tanya temannya lagi.


"Emm, ada sih aku siapkan. Meski dia belum memintanya kemarin."


"Ya, dia mungkin masih memikirkannya. Biasanya setelah satu minggu jalan, dia akan memintamya."


"Arisan dulu seperti biasa. Di kocok." sahut yang lain.


"Oh ya, Irma. Gimana rasanya Joni? Apa dia hebat?" tanya temannya yang berambut ikal.


"Uuuh, gimana ya? Hahah, dia memang hebat sekali. Aku merasa puas kok." jawab nyonya Irma.


"Suamimu, apa dia curiga?"


"Aku ngga tahu, tapi dia diam saja tidak peduli urusanku. Hanya dia selalu tanya kemana aku akan pergi." kata nyonya Irma.


"Oh ya? Waah, enak banget ya. Aku harus sembunyi-sembunyi lho. Ini juga aku sering di tanyain."


"Tapi, menurutku ya. Suami pendiam itu lebih banyak curiganya, dia akan menyelidiki dalam diam. Dia akan cari tahu secara diam-diam."


"Biar sajalah, aku tidak peduli. Lagi pula, anak sambungku lebih sayang padaku. Apa yang aku minta, dia selalu memberikannya, jika bukan anak sambungku. Kupacari dia seperti si Joni, hahah!" ucap nyonya Irma.


"Gila kamu! Dia yang kamu asuh sejak kecil. Kamu mau embat juga?".


"Tapi dia tampan, entahlah. Kenapa jiwa puberku mengarah padanya, aku tahu tidak bisa dekat layaknya seorang perempuan. Tapi meminta dia mengantarku pergi ke mall, selalu dia mau. Terkadang memang aneh sih, tapi hasratku kok lain." kata nyonya Irma.


Alicia yang duduk di belakangnya itu mengepalkan tangannya. Dia menjadi marah karena ucapan nyonya Irma itu. Sangat tidak etis sebagai ibu meski ibu sambung tapi menyukai anak sambungnya.


Dengan cepat, Alicia menyudahi penyelidikannya. Alat rekam sudah dia rapikan dan di masukkan ke dalam tasnya. Rasanya jijik sekali mendengarkan ucapan nyonya Irma itu, tidak mencerminkan seorang ibu yang baik.


Alicia pun berdiri, melangkah beberapa langkah tapi tangannya di tarik oleh seseorang. Alicia kaget, dia melihat wajah orang yang menarik tangannya itu.


Wajah dingin menatap ke depan dan terus menarik tangannya itu. Alicia seketika lemas setelah tahu siapa yang menarik tangannya. Dia tidak menyangka, penyamarannya yang memakai baju kemeja, bertopi dan memakai masker serta kacamata hitam di ketahui oleh laki-laki yang menariknya itu.


"Kamu mau bawa aku kemana?" tanya Alicia.


"Mengintrogasimu, siapa yang kamu selidiki." katanya dengan nada dingin dan penuh kemarahan.


Alicia diam, dia pasrah kemana laki-laki itu membawanya. Dia sudah menduganya jika tahu ibu sambungnya yang dia selidiki itu, akan ada kemarahan padanya. Tapi dia terkejut kenapa bisa ada di restoran itu?


"Masuk!" ucapnya.


"Bara, aku mau di bawa kemana?" tanya Alicia.


"Berikan apa yang kamu dapatkan." kata Bara.


"Aku tidak dapat apa-apa." kata Alicia.


"Berikan tasmu!"


"Bara!"


"Alicia!"


Alicia pun memberikan tasnya, Bara mengambilnya dengan paksa. Dia benar-benar marah pada Alicia.


"Kamu, kenapa ada di sini?" tanya Alicia.


Tak ada jawaban, Bara mengambil isi yang ada di tas Alicia. Dia pasrah saja, karena dia pikir Bara akan mengetahuinya sendiri tentang rekaman yang dia dapatkan tadi.


Brak! Brak! Brak!


_


_


********************