
Alicia terjungkal ke bangku belakang, Aditya menatap tajam pada Alicia. Dia lalu pergi meninggalkan tempat itu, Alicia berharap Bara segera datang membawa polisi yang sudah di rencanakan sebelumnya.
GPS yang terpasang bukan pada ponsel saja, tapi juga di sepatu Alicia yang memang sengaja memakai sepatu flat agar tidak copot jika dia memang di paksa masuk ke dalam mobil Aditya.
Mobil Aditya melaju kencang menuju gudang yang akan di jadikan eksekusi Alicia. Dia sangat puas sekali bisa menculik Alicia, tapi kemudian dia melihat ada mobil mengikuti mobil Aditya.
Satu tembakan polisi mengarah pada roda mobil Aditya, dan mobil itu pun oleng. Aditya kaget, dia menoleh ke belakang ternyata ada mobil yang mengikutinya sejak tadi.
"Sialan! Kamu menghubungi kekasihmu?!" tanya Alicia.
Tak ada jawaban dari Alicia, dan mobil itu di tabrak dari belakang.
Brak!
Beberapa kali mobil Aditya di tabrak, dia geram kenapa jadi seperti itu. Dia justru di kepung oleh tiga mobil hitam, salah satunya mobil Bara dan dua lainnya adalah polisi di dalamnya.
Hingga beberapa menit terjadi kejar-kejaran dan tabrak-tabrakan mobil. Justru mobil Bara lebih banyak menabrak mobil Aditya, dan akhirnya di jalan dua arah menuju perkampungan Mobil Aditya pun masuk dan dia bingung mau pergi kemana selain terus masuk ke dalam gang-gang sempit.
Alicia mencoba melepas ikatan tangannya, lalu membuka penutup mata. Tubuhnya terombang ambing ke kanan ke kiri, satu tembakan melesat ke arah roda mobik Aditya. Dan mobil itu pun kembali oleng lalu menabrak pohon besar.
Tubuh Aditya pun menubruk setir di depannya hingga beberapa kali. Darah mengalir dari hidungnya karena terkena dasbor mobil, Alicia tak membuang kesempatan untuk keluar dari dalam mobil itu.
Bara langsung mendekati mobil Aditya dan menarik tubuh Alicia agar menjauh kekasihnya itu. Dua polisi yang tadi mengejarnya pun segera meringkus Aditya.
"Syukurlah kamu selamat sayang." kata Bara memeluk Alicia.
"Aku sebenarnya takut, tapi harus seperti itu agar dia keluar dan di tangkap. Bukti pun sudah di dapatkan." kata Alicia.
"Aku takut sekali ketika dia membawamu pergi dan mengikatmu dalam mobil." ucap Bara.
"Oh ya, pengemudi motor itu tadi mengambil ponselku. Apa dia juga sudah di tangkap?" tanya Alicia.
"Sudah, lebih dulu dia di tangkap. Lalu aku mengejar mobil laki-laki brengsek itu, dan langsung di susul oleh mobil polisi. Ternyata dia melawan dan langsung melajukan mobilnya, aku takut kamu kenapa-kenapa." kata Bara.
Alicia melepas pelukannya, dia mengecup pipi Bara dan tersenyum. Mereka pun masuk ke dalam mobilnya, sedangkan polisi sudah menangkap Aditya.
Laki-laki itu melirik Alicia dengan tajam, dia benar-benar terkecoh dengan sikap Alicia yang membawa ponsel dengan menyetel GPS. Ternyata GPSnya ada pada sepatu Alicia.
"Cuih, perempuan jalaang!" ucap Aditya yang di dengar oleh Bara.
Dia keluar dari dalam mobilnya, darahnya mendidih ketika mendengar Alicia di sebut jalaang oleh Aditya. Dia pun menarik kerah baju Aditya dan menukul pipinya dua kali, tanpa polisi ketahui karena Bara dengan cepat memukul Aditya.
"Dasar brengsek! Psikopat kadal!" umpat Bara.
Dia di tahan oleh polisi yang lainnya untuk tidak memukul Aditya lagi.
"Cuih! Kekasihmu itu pantas di sebut jalaang! Karena dia membuat semua laki-laki putus oleh pacarnya!" ucap Aditya.
Dia benar-benar tidak habis pikir dengan Aditya, memang laki-laki itu otaknya sudah tidak waras. Begitu yang di pikirkan Bara, dengan tatapan tajamnya pada Aditya.
Setelah di bawa ke dalam mobil polisi, ketua aksi penangkapan Aditya pun berbicara dengan Bara sebentar, lalu dia pun masuk juga ke dalam mobil.
Bara juga masuk ke dalam mobilnya lalu menjalankan mesin mobil. Melajukannya dengan cepat.
"Apa yang di katakan polisi tadi?" tanya Alicia.
"Besok kamu buat laporan ke kantor polisi untuk kesaksian kalau laki-laki brengsek itu adalah pelaku teror dan penculikan kamu tadi." kata Bara.
"Hmm, baiklah. Aku akan ke kantor polisi besok setelah makan siang. Apa kamu akan menemaniku?" tanya Alicia.
"Tentu sayang, aku akan ikut menuntut dia juga. Karena ada karyawanku yang juga dia teror, sekalian juga karyawanku untuk melapor ke kantor polisi.
_
Setelah memberikan laporan pada polisi, Alicia pun merasa senang sekli langsung di tangani. Bukti pun sudah ada, tinggal nanti menunggu vonis dari pengadilan.
Kini Alicia tenang bekerja di kantor agensinya. Dia duduk dengan tenang, Nindy pun menghampiri Alicia yang sedang duduk. Reina pun ikut masuk, dia ingin tahu cerita Alicia tentang Aditya itu.
"Jadi kamu memang sengaja menjebak dia untuk membuat bukti kuat?" tanya Reina.
"Iya mbak, kalau tidak begitu dia akan terus menerorku. Aku tidak tenang bekerja mbak, lagi pula Bara juga tidak mau aku terus ketakutan. Dia sebenarnya tidak setuju, tapi aku nekat saja." kata Alicia.
"Hemm, dia memang benar-benar laki-laki jahat ya. Katanya korban seperti kamu ada beberapa ya yang dia teror." ucap Nindy.
"Ya, dan mereka semua ikut melaporkan dan memberikan keterangan tentang teror itu."
"Baguslah, berarti dia menunggu vonis dari pengadilankan. Bukti sudah lengkap dan masuk penjara juga, aku harap laki-laki itu dapat ganjarab yang setimpal. Lagi pula, apakah dia itu sakit jiwa? Kenapa sasarannya selalu gadis-gadis yang terlihat mandiri?"
"Mungkin dulunya dia pernah sakit hati sama perempuan, bisa jadi. Atau keluarganya yang tidak mendukung dengan benar, akhirnya dia berbuat seperti itu."
"Sayang sekali dia laki-laki sukses sebenarnya, tapi punya karakter ganda seperti itu."
"Orang seperti dia yang berbahaya bagi perempuan. Jika sasarannya perempuan yang lemah dan mudah di intimidasi, maka dia akan merasa bangga dengan sikap dan perbuatannya." ucap Reina.
Ketiganya pun diam, ucapan Reina itu ada benarnya juga. Mengenal laki-laki harus berhati-hati, karena ada sikap asli yang tersembunyi seperti Aditya. Jika sudah terlanjur menikah dengan orang seperti Aditya, maka kehidupan rumah tangganya akan ada kesengsaraan bagi istrinya.
_
_
******************