Alicia, Agen Cinta

Alicia, Agen Cinta
25. Klien Psikopat


Nindy dan Alicia kaget dengan kedatangan seorang laki-laki yang tak lain adalah Aditya. Alicia sendiri merasa aneh kenapa Aditya bisa tahu dia berada di rumah sakit. Nindy hendak pergi, tapi di tahan oleh Alicia.


Dia merasa takut Aditya melakukan di luar kendali dan tak terduga. Aditya melerakkan bunga di meja, senyumnya tak pernah hilang. Selalu mengembang, menatap Alicia yang tampak syok dengan kedatangannya itu.


"Mbak Alicia kaget ya, saya tahu mbak di rawat?" tanya Aditya.


"Kenapa mas Aditya datang kemari? Bukankah anda tidak tahu saya di sini?" tanya Alicia.


"Hahah! Saya ke kantor anda mbak Alicia, dan menanyakan mbak Alicia. Mereka mengatakan mbak Alicia ada di rumah sakit, saya berinisiatif untuk menjenguk mbak Alicia sekalian saya bawa bunga juga." kata Aditya dengan santainya.


Alicia kembali diam, Nindy sebenarnya ingin menemani Alicia agar Aditya tidak akan macam-macam.


"Al, aku ada pertemuan dengan klien. Kamu sendirian sama dia ngga apa-apa?" tanya Nindy sambil berbisik.


"Ngga apa-apa. Nanti aku telepon Bara saja untuk datang kemari." kata Alicia.


"Baiklah, aku tinggal ya. Hubungi aku kalau ada apa-apa." kata Nindy lagi.


Aditya melirik Alicia dan Nindy bicara, dia tersenyum tipis. Lalu berucap pada Nindy.


"Jangan khawatir mbak Nindy, saya akan menjaga Alicia di sini. Saya hanya butuh bicara sama mbak Alicia." kata Aditya yang tahu kalau Nindy harus pergi.


"Maaf merepotkan anda mas Aditya." kata Nindy basa basi.


"Oke Al, aku ke kantor dulu." kata Nindy.


"Iya, hati-hati Nin."


"Oke."


Nindy lalu pergi, dia menatap sekilas Aditya kemudian keluar dari kamar rawat inap Alicia. Sedangkan Alicia masih waswas dengan kedatangan Aditya di kamar inapnya. Kenapa bisa laki-laki itu tahu kalau dirinya kecelakaan dan di rawat di rumah sakit itu.


"Mbak Alicia masih penasaran dengan kedatanganku?" tanya Aditya.


"Sebenarnya apa mau mas Aditya?" tanya Alicia tidak mau basa basi dengan orang seperti Aditya.


"Emm, kan sudah aku katakan kan. Mbak Alicia mengawasi dan mencari bukti tunanganku berselingkuh, tapi mbak Alicia malah kecelakaan." ucap Aditya.


"Saya sudah menyelidiki, tapi kenyataannya tunangan mas Aditya tidak ada selingkuh. Lalu, apa lagi yang harus di selidiki?" tanya Alicia mencoba bersabar dengan Aditya itu.


"Baiklah kalau tidak ada, bagaimana kalau aku sendiri yang menyelidiki?" tanya Aditya dengan senyum penuh misteri.


"Itu bagus, agar mas Aditya tahu sendiri tunangannya tidak macam-macam dengan mas Aditya sendiri." kata Alicia.


"Aku bukan menyelidiki tunanganku, tapi menyelidiki mbak Alicia." ucap Aditya dengan senyum mengerikan.


Kali ini Alicia merasa takut dengan ucapan dan sikap Aditya itu. Rasanya dia dalam keadaan di mana tidak bisa menolak dengan kehadiran seorang psikopat. Klien satu itu sepertinya psikopat, pikir Alicia.


Aditya berdiri, dia mendekat pada Alicia. Masih dengan senyum mengerikan itu, Alicia mengambil ponselnya untuk menghubungi siapapun yang dia atur panggilan darurat di teleponnya.


"Hahah! Tenang saja mbak Alicia. Alicia. Alicia." ucap Aditya membuat Alicia ketakutan.


"Tolong pergi dari kamarku!" ucap Alicia.


"Hemm, padahal aku mau katakan kalau aku tahu mbak Alicia adalah kekasih klien sendiri." ucap Aditya.


Alicia kaget, jadi ternyata Aditya mengetahui semua statusnya selama ini. Siapa Aditya ini?


Dia menatap tajam pada Aditya yang tersenyum penuh kemenangan. Dia lalu berbalik dan hendak pergi dari kamar Alicia, tapi dia berbalik menatap Alicia.


"Aku tahu semuanya mbak Alicia, tahu tentangmu." kata Aditya dengan tatapan dinginnya.


Membuat Alicia semakin takut. Baru kali ini dia mendapatkan klien aneh dan seperti psikopat. Aditya pun melangkah pergi keluar dari kamar inap Alicia.


"Siapa dia? Kenapa jadi seperti ini?" tanya Alicia bingung sendiri.


"Sayang, kamu sendirian?" tanya Bara yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya.


"Bara, kamu berpapasan dengan Aditya?" tanya Alicia.


"Tidak. Kenapa?" tanya Bara heran.


"Dari siapa ini? Aditya?" tanya Bara.


"Iya, aku tidak tahu kenapa dia kemari. Padahal baru beberapa hari aku di sini, lagi pula aku tidak memberitahu siapa pun keadaanku di sini. Dan dia kemari, apa mungkin dia menanyakan keadaanku di kantor?" tanya Alicia.


"Dia bilang apa?"


"Dia bilang tahu semua tentangku, bahkan dia tahu kalau aku pacaran dengan klienku sendiri. Yaitu kamu, Bara. Aku takut dia berbuat macam-macam nantinya." kata Alicia.


"Jadi dia tahu aku kekasihmu? Baguskan, dia tidak akan macam-macam dengamu." kata Bara.


"Tidak begitu Bara. Dia seperti psikopat, dia sepertinya mengetahui semuanya tentangku sebelum jadi klienku. Dia hanya berpura-pura jadi klienku dan meminta menyelidiki tunangannya berselingkuh." kata Alicia.


"Lalu, kamu harus di jaga ketat sayang. Aku akan menyewa bodyguard untuk mengawasimu dari jauh. Jangan takut, aku akan melindungimu." ucap Bara.


Dia mendekat pada Alicia, menundukkan wajahnya dan mencium bibir Alicia. Memberi ketenangan pada kekasihnya itu. Lama mereka berciuman, lalu Bara melepas ciumannya dan tersenyum mengusap bibir Alicia.


"Sudah, jangan pikirkan laki-laki itu. Biar jadi urusanku. Kamu tenang saja." kata Bara.


"Tapi tetap saja aku takut Bara, dia seperti mengancamku. Meski dia tidak mengatakannya, dia menatapku aneh." kata Alicia.


"Aku akan menjebloskannya ke dalam penjara jika dia mengancammu." kata Bara lagi.


Alicia diam, dia menatap kekasihnya itu memang tenang sekali. Tapi dia percaya dengan Bara, bisa mengatasinya. Semoga saja.


"Kata dokter, besok aku boleh pulang." ucap Alicia.


"Kalau begitu, pulang ke apartemenku saja. Kamu di izinkan cuti kan selama sakit ini?" tanya Bara.


"Iya, kaki tidak bisa berjalan. Jadi mbak Reina mencutikan aku selama sakit sampai sembuh." ucap Alicia.


"Baguslah, nanti apartemenku kamu yang tempati."


"Kamu tidak tinggal di sana?"


"Tidak, sudah lama aku tidak tinggal di sana. Aku tinggal di rumah papaku, mamaku yang memintanya." kata Bara lagi.


"Kamu sepertinya sayang sekali sama mamamu ya." ucap Alicia.


"Ya, meski mamaku itu bukan mama kandungku."


"Bukan mama kandung?"


"Iya, dia mama sambungku. Mama kandungku sudah meninggal sejak aku usia lima tahun, jadi papaku menikah lagi dengan mama sambungku suiaku sudaj enam tahun." kata Bara menjelaskan tentang keluarganya.


"Emm, kamu punya adik dari mama sambungmu?" tanya Alicia.


"Ya, dia perempuan. Namanya Chika, dia kuliah di luar negeri." ucap Bara lagi.


"Oh, pantas saja."


"Pantas apa?"


"Biasanya kakak laki-laki akan sangat sayang sekali pada adik perempuannya."


"Hahah, tepat sekali sayang. Aku sangat menyayangi Chika, dia gadis manja tiba-tiba ingin kuliah di luar negeri. Awalnya papa dan mama juga aku tidak setuju, tapi dia memberikan alasan yang masuk akal bagiku. Jadi kami menyetujuinya juga." kata Bara lagi.


Dia mengambil kotak berisi makanan, dia dan Alicia akan makan siang di rumah sakit. Sejenak Alicia melupakan tentang Aditya, dia sadar Bara tidak akan selalu ada di rumah sakit itu. Jadi, dia akan berjaga selama dia belum pulang saat ini.


Alicia mengambil ponselnya, karena ada pesan masuk ke aplikasi watshapnya. Membuka dan membacanya, dia terkejut membaca pesan tersebut.


'Malam ini, berhati-hatilah Alicia.'


_


_


**********************