Alicia, Agen Cinta

Alicia, Agen Cinta
21. Menggombal Di Telepon


Bara mengantar Alicia ke kantornya, kini mobilnya sudah berada di depan kantor Alicia. Dia senang akhirnya Alicia jadi kekasihnya, dan nantinya dia akan mengenalkan pada papa dan mamanya.


"Aku masuk dulu ya." kata Alicia.


"Ya, nanti sore.aku jemput pulang." kata Bara.


"Ya." jawab Alicia.


Alicia pun membuka pintu mobilnya, tapi tidak bisa. Dia menoleh pada Bara dan memberi isyarat kalau pintunya terkunci, laki-laki itu pun tersenyum. Dia mendekati Alicia dan mencium bibirnya lagi.


"Jangan lupa kecupannya sayang." kata Bara.


"Ish, kamu itu." kata Alicia tersenyum.


Bara membuka kunci mobilnya, Alicia melambaikan tangannya dan keluar dari mobil Bara. Setelah Alicia keluar, Bara pun melajukan mobilnya. Dia harus kembali ke kantornya karena Neti memberitahu akan ada tamu yang datang ke kantornya.


Alicia tersenyum senang, dia pun masuk ke dalam kantor. Senyumnya tak juga hilang karena rasa bahagia di hatinya sangat dalam. Kini dia tidak sendiri lagi, Bara adalah kekasihnya. Dia masuk ke dalam ruang kantornya.


Nindy melihat Alicia tersenyum jadi penasaran. Apa yang membuat rekan kerjanya itu tersenyum sejak masuk ke ruangannya. Dia pun duduk di depan Alicia yang belum menyadari kehadirannya.


"Ehem! Sepertinya ada yang sedang bahagia nih." kata Nindy bersedekap menatap Alicia.


Alicia mendongak, menatap Nindy yang menatapnya datar. Dia pun tertawa kecil, membuat Nindy semakin penasaran.


"Hei, kamu sedang bahagia?" tanya Nindy.


"Ya, aku bahagia. Sangaat bahagia." kata Alicia.


"Karena apa?" tanya Nindy lagi.


"Emm, karena aku sudah punya kekasih." jawab Alicia penuh semangat.


"Oh ya? Jadi pak Bara sekarang adalah kekasihmu? Kulihat tadi dia mengantarmu di depan." kata Nindy.


"Ya, makan siang yang awalnya membuat kesal sih. Tapi dia tiba-tiba menciumku dan menembakku." kata Alicia.


"Waah, selamat kalau begitu. Aku yakin laki-laki itu terlalu bucin sama kamu." kata Nindy.


"Dari mana kamu tahu?" tanya Alicia.


"Dari sikap dan dia sering meneleponmu, dan menjemputmu pulang juga mengajakmu makan siang. Apa itu bukan termasuk bucin?"


"Emm, aku ngga tahu. Tapi dia memang mendekatiku sih selama ini, dan menyatakan cinta padaku tadi di mobil. Dan kamu tahu, dia memaksaku. Oh ya ampun, aku jadi tidak bisa berkutik. Selain pesonanya yang membuatku tertarik, aku juga gayanya dulu yang sangat sopan ketika bari kenal denganku." kata Alicia.


"Hahah, tapi laki-laki seperti pak Bara itu termasuk tipe setia Alicia. Kuharap kamu tidak menyia-nyiakan dia seperti Jessi dulu." kata Nindy.


"Hei, siapa yang akan menyia-nyiakan cintanya padaku? Aku bahkan sangat mencintainya, dia tahu aku mencintainya dan tidak membutuhkan jawabanku saja dia tahu." kata Alicia lagi.


"Ya ya, orang yang sedang jatuh cinta akan lupa segalanya. Baiklah, yang terpenting jangan abaikan pekerjaanmu sebagai agen cinta Alicia." kata Nindy."


"Ya, aku tahu. Eh, tapi kamu tahu. Sewaktu di restoran itu, Aditya datang menemuiku, dan Bara tidak suka itu. Tapi bukan itu poinnya, Aditya memintaku kembali menyelidiki tunangannya. Katanya dia punya bukti kalau tunangannya itu selingkuh. Dulu aku sudah bilang padanya, kalau tunangannya tidak selingkuh. Tapi dia tidak percaya juga." kata Alicia.


"Lalu, kamu mau menyelidikinya lagi?" tanya Nindy.


"Ya, dia langsung mentransfer uangnya ke rekeningku. Jadi aku terpaksa akan mengerjakannya, lagi pula aku ingin membuktikan kalau Aditya itu cuma modus saja. Bara mengatakan kalau Aditya itu punya maksud denganku, dan penyelidikannya hanya modus." kata Alicia.


"Ya, jika kekasihmu itu sudah bicara seperti itu. Kurasa kamu harus hati-hati juga, biasanya jika laki-laki akan tahu laki-laki itu punya maksud. Hanya saja, ada beberapa orang yang peka dan banyak juga yang tidak peduli keadaan sekitar." kata Nindy.


"Ya, aku hanya perlu menyelidiki tunangannya saja. Dan nanti aku tegaskan sama dia kalau tunangannya itu setia." kata Alicia.


Nindy hanya mengedikkan bahunya, Alicia diam. Dia mendapat telepon dari Aditya, dia menatap Nindy meminta saran pada sahabatnya itu.


"Bagaimana ini?" tanya Alicia.


"Telepon dari siapa?" tanya Nindy.


"Aditya, dia meneleponku." jawab Alicia.


"Jawab saja, mungkin dia memberitahu sesuatu yang penting."


"Hemm, ya baiklah."


Alicia pun menjawab telepon dari Aditya, dia menatap Nindy.


"Halo?"


"Mbak Alicia, akhirnya di angkat juga. Aku pikir sedang sibuk." kata Aditya di seberang sana.


"Ya, agak sibuk. Sedang rapat sebenarnya." jawab Alicia dan mendapat acungan jempol dari Nindy.


"Oh, maaf kalau begitu. Aku hanya mau memberitahu, kalau besok tunanganku mau ketemu seseorang. Kupikir mbak Alicia harus tahu dan bisa menyelidikinya langsung." kata Aditya.


"Ooh, begitu. Di mana mereka bertemu? Mungkin aku akan menyelidikinya dan merekam percakapan mereka." kata Alicia.


Alicia diam, dia heran kenapa Aditya tidak mau di rekam pembicaraan mereka itu? Apa memang benar yang di ucapkan Bara padanya?


Tapi dia masih penasaran, apa maksud dari Aditya itu. Dia lalu melanjutkan kesepakatan untuk besok di mana dia harus melihat atau mendengar pembicaraan tunangannya dengan selingkuhannya itu.


"Baiklah, karena besok ya saya harus menyidiki di jam makan siang. Saya akan lakukan mas Aditya." kata Alicia..


"Iya mbak, aku akan menunggu kiriman fotonya dari mbak Alicia dan nantinya aku langsung kesana. Ke tempat tunangan dan selingkuhannya berada." kata Aditya lagi.


"Ya baiklah, saya kabari nanti jika semuanya sudah beres mas Aditya." kata Alicia lagi.


"Iya mbak."


Klik!


Alicia meletakkan ponselnya di meja, dia menghela nafas panjang. Nindy memperhatikan apa yang Alicia lakukan.


"Bagaimana? Dia ingin bertemu?" tanya Nindy.


"Besok katanya dia mau menunjukkan tunangannya ketemuan dengan laki-laki lain." kata Alicia.


"Lalu, kamu harus menyelidikinya?"


"Ya, dan anehnya dia mengatakan jangan merekamnya. Cukup memotretnya saja, aku jadi semakin penasaran kenapa dia seperti itu." kata Alicia.


"Hemm, mungkin hanya untuk bukti saja kalau dia ingin kamu tahu." kata Nindy.


"Aku tidak ingin tahu apa-apa, tapi biarlah. Besok aku akan datang sesuai perjanjiannya." ucap Alicia lagi.


Keduanya diam, mereka memikirkan apa yang ada di benak masing-masing. Nindy pamit keluar karena dia juga ada klien ingin bertemu, dan Alicia masih diam di kursinya. Hingga satu deringan telepon mengagetkannya, Bara terpampang di layar ponselnya. Alicia tersenyum, baru dua jam dia berpisah kini Bara meneleponnya kembali.


"Halo, ada apa?" tanya Alicia dengan senyumnya mengembang.


"Kok aku kangen sama kamu ya. Sedang apa?" tanya Bara di seberang sana.


"Gombal banget sih, hahah."


"Aku ngga gombal, kamu sedang apa?"


"Emm, sedang memikirkan pekerjaan untuk besok. Kenapa?"


"Sebentar lagi jam pulang, kujemput ya?"


"Ya, terserah kamu. Aku juga ngga bawa mobil kan."


"Oke, I love you."


"Love you too."


"Hahah, aku sangat senang mendengarnya."


"Sudah ah, malu aku."


"Ya ampun, kenala malu. Di telepon saja malu. Duh, aku jadi gemas sama kamu."


"Sudah ya, aku tutup teleponnya."


"Hei, tunggu!"


"Kenapa lagi? Kan sore ketemu juga."


"Satu kecupan untukku sayang."


"Ish, ngelunjak kamu ya."


"Ayo dong."


"Mmuuaaah!"


"Thank you, sayang. Mmuuah."


Klik!


"Hahah! Gombal banget sih, Bara. Ada-ada saja dia itu. Kenapa jadi seperti anak kecil?" ucap Alicia menatap ponselnya dengan tersenyum.


Kemudian dia letakkan lagi ponsel di meja, meneruskan pekerjaan laporan selama satu bulan ini dia belum menyetorkan pada Reina. Jadi dia harus segera menyelesaikannya sebelum waktu pulang kantor tiba.


_


_


********************