Alicia, Agen Cinta

Alicia, Agen Cinta
37. Dilema Alicia


Sejak pertemuan dengan pak Hengky, Alicia banyak melamun di kantor atau di rumahnya. Dja sangat dilema dengan permintaan papa dari kekasihnya itu.


Dia bukannya tidak mau membantu, sangat beresiko sekali. Karena istrinya pak Hengky, nyonya Irma mengetahui dirinya. Jika ibu sambung Bara itu tahu dia sedang menyelidikinya, sudah pasti marah sekali. Apa lagi nanti Bara juga ikut memarahinya juga, bahkan nanti membencinya.


"Bagaimana ini ya, kok aku dilema begini?" gumam Alicia.


Telepon dari Bara dia abaikan, hanya karena memikirkan permintaan papanya. Tapi, apakah benar di antara mereka ada ketidak cocokan setelah lama menikah?


"Kenapa tante Irma jadi berubah, atau memang selingkuh. Kenapa bisa selingku?" ucap Alicia lagi.


Matanya di pejamkan, mendongak ke atas. Dan kembali terdengar suara ponselnya berbunyi, sekali lagi dia mengabaikannya. Lama ponselnya berbunyi, dia pun mengambilnya dan mengangkatnya.


"Halo?"


"Sayang, kamu kenapa tidak menjawab teleponku?" tanya Bara di seberang sana.


"Kan ini aku lagi jawab telepon kamu."


"Ya, tadi kok di jawab. Tiga kali lho aku telepon kamu, keempat kali ini baru di jawab."


"Iya maaf, aku tadi sakit perut. Jadi ponselku kutinggalkan di meja kerjaku, aku ke toilet." jawab Alicia berbohong.


"Ya ampun, kamu harusnya minum obat. Dan kenapa bisa sakit? Apa kamu belum sarapan pagi?" tanya Bara cemas.


"Ngga apa-apa kok, tadi mulas dan ingin buang air besar. Biasalah kalau malam hari makan sambal banyak, paginya perut mulas." kata Alicia beralasan.


"Hemm, lain kali jangan makan sambal banyak-banyak. Sakit kan perutnya."


"Iya. Ada apa kamu meneleponku?"


"Aku kangen sama kamu sayang, seharian kemarin aku ngga ketemu kamu."


Alicia tersenyum, dia merasa lucu pada Bara. Baru juga sehari tidak bertemu, tapi seperti anak kecil merajuk.


"Alicia, apa kamu tidak kangen padaku?" tanya Bara.


"Tentu saja aku kangen. Tapi aku banyak kerjaan, jadi aku tidak sempat meneleponmu." kata Alicia masih dengan kebohongannya, tapi dalam hati dia meminta maaf karena harus berbohong.


"Apakah klienmu sedang banyak? Waah, aku nanti tersingkirkan karena banyaknya klienmu yang harus kamu tangani?" kata Bara mulai merajuk.


"Oh tidak Bara, hanya saja memang akhir-akhir ini aku lagi sedikit rumit memikirkan satu klien itu. Jadi butuh pemikiran dan tindakan yang tepat untuk menyelesaikannya."


"Hemm, baiklah. Jika kamu butuh saran atau bantuanku, aku siap sayang."


"Kamu itu super sibuk, Bara. Aku tidak mau mengganggu kesibukanmu, sehingga nanti pekerjaanmu jadi terbengkalai gara-gara aku."


"Kamu tahu, aku sepertinya butuh asisten. Tapi sangat susah untuk mencari asisten yang dapat di andalkan."


"Jangan memaksa yang tidak bisa kamu lakukan Bara. Sudah, kamu fokus kerja saja. Jangan pikirkan aku."


"Hei, kenapa aku tidak boleh memikirkanmu?"


"Oh Tuhan, bukan begitu Bara. Di saat bekerja, jangan pikirkan aku. Nanti pekerjaanmu jadi terbengkalai, itu maksudku."


"Aku hanya ingin cepat menikahimu, Alicia."


Alicia diam, lalu tersenyum. Rasanya memang menyenangkan dan membahagiakan di cintai begitu besar oleh Bara. Tapi, ada sesuatu yang mengganjal di benaknya. Apakah akan dapat restu dari papanya Bara, pak Hengky?


"Apakah kita akan menikah?" tanya Alicia dalam dilemanya.


"Hei, kamu meragukan cintaku? Aku akan secepatnya melamarmu dan saat itu juga aku akan menikahimu. Aku tidak peduli jika mamaku tidak menyukaimu." kata Bara.


"Ya, aku tahu Bara. Aku sangat mencintaimu." kata Alicia memotong pembicaraan Bara yang nantinya akan lama sekali.


_


Tiga hari menjelang keputusan yang harus di ambil, Alicia masih dilema dan bingung. Hingga Nindy pun heran dengan Alicia yang sejak dua hari lalu jadi diam dan tidak bicara.


Nindy masuk ke dalam ruangan Alicia, dia melihat Alicia hanya memainkan kursi yang dia duduki ke kanan dan ke kiri sambil menatap laptop di depannya.


"Kamu kelihatannya lagi bingung, Alicia." kata Nindy duduk di depan Alicia.


"Aku ngga tahu apakah harus menerima pekerjaan ini atau tidak. Resikonya sangat riskan sekali, jadi bingung. Lagi pula tidak punya pilihan, klienku ini tidak memberiku pilihan untuk menolak. Memberi waktu untuk memikirkan, tapi harus mau dengan permintaannya." kata Alicia.


"Maksudnya apa?" tanya Nindy tidak mengerti apa yang di katakan Alicia.


Alicia pun menceritakan apa yang menjadi dilema di hatinya dan kebingungannya selama tiga hari ini. Nindy mendengarkan dengan serius, dia menyimpulkan kalau Alicia sebenarnya sedang di uji atau memang sedang di mintai pertolongan dengan amat sangat.


"Jadi begitu, Nin. Aku bingung harus bagaimana." kata Alicia di akhir ceritanya.


"Kamu sudah mengarahkan pak Hengky padaku?"


"Sudah, beberapa kali aku sudah memberitahu om Hengky. Kalau spesialisasi hubungan rumah tangga ya ke kamu, tapi om Hengky tidak mau. Dia meminta aku yang menyelidkinya, aku takut tante Irma itu tahu aku dan pekerjaanku." kata Alicia.


"Menurutku, terima saja Alicia. Karena aku pikir om Hengky memang butuh pertolongan, coba kamu ingat. Dia selama lima tahun terakhir istrinya bersikap dingin dan berubah. Bayangkan bagi seorang suami yang mencintai istrinya, sedangkan secara tiba-tiba istrinya berubah. Dan itu sudah lima tahun? Kupikir jika bukan karena lelaki sabar, mungkin sudah berpisah sejak awal. Dan mungkin juga tindakan om Hengky itu sudah di pikirkan matang-matang, dia juga tahu resikonya. Apa lagi melibatkan kamu, dan pastinya Bara akan bisa di kenadlikan olehmu jika dia marah pada papanya." kata Nindy.


"Aku takut jika Bara tahu aku yang menerima kasus papanya, dia akan benci padaku." kata Alicia.


"Tapi om Hengky sudah berpikir kesana Alicia, mungkin saja memang untuk mengujimu juga sekaligus untuk memberitahu Bara kalau mamanya itu sudah tidak sayang lagi sama papanya. Buktinya mungkin om Hengky ada, tapi dia mencari bukti lagi kan. Coba kamu pikirkan, Alicia." kata Nindy lagi.


Alicia diam, dia memikirkan pertimbangan dari Nindy. Asal dia hati-hati dan bisa menahan Bara untuk tidak marah pada papanya, dia juga bisa memberitahu pada Bara kalau papanya sebenarnya menderita. Hanya saja dia tidak mau mengecewakannya dan Chika, mungkin benar apa yang di katakan Nindy.


"Kamu bisa bantu aku?" tanya Alicia.


"Bantu apa?"


"Menemui om Hengky, sekaligus nanti jika aku tidak bisa menangani kasusnya itu. Aku bisa alihkan sama kamu." kata Alicia.


"Oke, bisa kok. Tapi, tetap harus secara sembunyi-sembunyi ya. Agar Bara tidak mencurigaimu atau aku bertemu dengan papanya." kata Nindy lagi.


"Ya, begitu. Cuma masalahnya Bara lagi jadi anak kecil." ucap Alicia.


"Jadi anak kecil? Kenapa?"


"Dia kadang merajuk dan ya ampun, sehari bisa lho menelepon tiga kali ketika sedang kerja. Bayangkan jika aku sedang bersama om Hengky, atau sedang dalam penyelidikan dia selalu meneleponku. Bisa gawat kan?"


"Hahah! Maka, nikmatilah semua ujianmu itu. Saranku, kamu terima lamaran dia menikah secepatnya. Agar dia tidak selalu mengganggumu bekerja. Dulu juga sama, suamiku seperti itu. Ketika sudah menikah, dia begitu santai. Dan aku bekerja dengan tenang, aku jelaskan sekarang agen di bagian rumah tangga. Jadi dia mengerti." kata Nindy.


"Begitu? Tapi sayangnya kurasa om Hengky tidak akan merestuiku jika kasusnya belum selesai aku tangani." kata Alicia.


"Maka, terima permintaannya itu. Pasti kamu dapat restu lahir batin dari om Hengky." ucap Nindy.


"Ya, baiklah. Dilemaku sekarang sudah terurai, mungkin nanti aku akan kucing-kucingan dengan Bara mengenai kasus papanya itu." kata Alicia.


"Good job, Alicia."


Alicia pun tersenyum, dia merasa lega juga kareja Nindy bisa memberikannya solusi. Meskipun tentunya itu tidak seratus persen benar. Hanya saja, Alicia ingin mencobanya. Resiko pekerjaan tentu akan dia dapatkan nantinya, karena Bara sekarang ini sedang sangat buta cinta padanya.


_


_


*********************