
Saat Zia keluar kelas, Zayn dan teman - temannya pun keluar dari kelasnya dan Zayn cz menuju ke kantin sementara Zia menuju ke taman belakang sekolah karena Zia ingin mencari ketenangan..
"Sulit sekali untuk mencari ketenangan"
"Kenapa banyak orang - orang menyebalkan di dunia ini, rasanya ku ingin lenyapkan saja semua para pengganggu itu"
"Huh, Bunda hidup di dunia sangat lah melelahkan dan menyebalkan, apakah kalau Zia pergi menemui Bunda Zia akan terbebas dari pengganggu?"
∆∆∆∆
Di tempat lain
"Siapa yang selalu meneror ku dan bahkan Rio juga mengatakan bahwa ia akhir - akhir ini juga sering di teror"
"Haish siapa pelakunya, aku tidak bisa menebak siapa yang patut di curigai"
"Jika Rio juga mendapatkan teror yang dimana aku juga sama artinya yang melakukan teror adalah musuh yang sama. Musuh yang memiliki dendam padaku dan juga Rio"
"Tapi siapa? Tidak mungkin Abraham, dia belum mengetahui jika aku yang telah membunuh istrinya."
"Jika Abraham saja tidak mengetahui pelaku pembunuhan istrinya yang sebenarnya pasti anak - anaknya juga pasti belum mengetahuinya"
Laras terus menggerutu dan terus berpikir namun tidak ada jawaban yang bisa ia dapat. Bahkan saat ia terus berusaha mendekati Abraham teror yang datang padanya lebih banyak lagi bahkan ancaman untuk tidak mendekati Abraham ..
"Mamaaa.." teriak Clarista.
"Ada apa sayang?"sahut Laras yang hendak menghampiri putrinya ke kamarnya ternyata putrinya sudah menghampirinya terlebih dahulu..
"Maa, Mama ada yang ngancem Clarista Ma"ucap Clarista panik.
"Ngancem gimana Clar?"bingung Laras..
"Lihat nih, katanya aku harus nyuruh Mama buat mengakui kesalahan yang pernah Mama lakukan di masa lalu dan menyuruh Mama untuk menjauhhin Abraham kalau enggak reputasiku taruhannya Ma dia bakal meluncurkan berita tentang aku yang jadi simpanan om - om Maa, gimana dong?"ucap Clarista cemas dengan ancaman itu.
"Dia hanya menggertak sayang, Mama yakin dia tidak akan mempunyai buktinya jadi kamu tidak perlu khawatir kamu blok saja nomornya itu gak usah di ladenin"
"Mama yakin? Terus gimana kalau dia punya buktinya dan akan di beritakan di mana - mana dan reputasiku akan hancur"
"Tenang yah sayang, Mama akan sewa orang - orang yang handal untuk menangani semua permasalahan kita".
"Ma, memangnya kesalahan apa yang pernah Mama perbuat di masa lalu sampai ada yang mengancam begini apa itu kesalahan yang sangat besar Ma?"tanya Clarista penasaran akan masa lalu ibunya.
"Bukan apa - apa mungkin itu hanya musuh yang tidak suka dengan keluarga kita, tidak usah kamu pikirkan ya sayang"
"Tidak mungkin aku ceritakan yang sebenarnya kepada Clarista. Di saat keadaan seperti ini bisa saja ada yang mendengar percakapan kami bahkan mungkin juga di rekam, aku harus menyimpan rahasia ini rapat - rapat terlebih dahulu sampai situasi dan kondisinya terkendali"batin Laras berwaspada..
"Ma bener yah jangan sampai berita itu di up di sosial media atau bahkan di tv bisa - bisa aku di hujat dan pastinya aku bakal di keluarin dari sekolah, aku juga gak mau sampai kejadian aku tidak di terima di sekolah mana pun Ma"ucap Clarista panjang lebar..
"Iya iya sayang yang penting kamu percaya sama Mama yah, dan yah sebaiknya kamu jangan bertemu dulu dengan penghasil uangmu. Bisa saja orang yang mengancam mu itu akan mengikuti mu dan bisa saja dia akan memotret kebersamaan mu dengan pria - pria tua itu, kau mengerti kan apa maksud Mama?"
"Yahh terus Clarista nanti gak bisa nyalon, belanja dan lain - lain dong Ma"rengek Clarista .
"Huh ya sudah lah kalau begitu, Clarista nurut aja"jawab Clarista pasrah..
Setelah kepergian Clarista dari kamarnya, Laras memijit pelipisnya "Punya anak yang suka poya - poya kenapa tidak memiliki anak yang rajin saja, tekun dan pandai dalam mencari uang tanpa melakukan hal menjijikan itu. Kenapa dia harus seperti diriku bukan seperti Ayahnya"
"Menyusahkan diriku saja, harus kemana lagi aku mencari uang untuk mencukupi kehidupan kita berdua"gumamnya yang putus asa..
∆∆∆
Zia baru saja sampai di Mansion Nya, Zia merebahkan tubuhnya keranjang Queen sizenya.
Baru satu menit Zia merebahkan tubuhnya ponselnya pun berdering ..
"Baru juga mau merem siapa sih dah main telpon aja"gerutu Zia kesal lalu Zia meraih ponselnya yang berada di saku jaketnya.
Tanpa melihat nama si penelpon Zia langsung mengangkatnya "Iya"sahut Zia dengan begitu malasnya.
"Zia lo baik - baik aja kan?"tanya seseorang yang berada di sebrang telpon.
"Hah?"jawab Zia dengan mata terpejam dan mengangkat sebelah alisnya..
"Keadaan lo baik - baik aja kan? Belum ada yang parah"tanyanya terlihat panik.
Zia mengerutkan keningnya lalu membuka matanya dan melihat nama si penelpon.
"Zayn"gumam Zia pelan.
"Gue baik, kenapa?"
"Enggak, akhir - akhir ini gue jarang liat lo check up tentang keadaan lo"
"So tau lo, emang lo selalu ada di rumah sakit?"
"Ya enggak, tante sama om gue kan kerja disana"
"Oh"jawab Zia singkat..
"Zia lo harus rutin check up yah, obatnya jangan lupa di minum dan jangan terlalu banyak pikiran jangan sampai emosi lo meluap makan dan istirahat yang teratur yah Zia"nasehat Zayn panjang lebar.
"Iya bawel bin cerewet"kesal Zia.
Zayn terkekeh di balik telpon "Yah sudah gue tutup dulu yah, kalau ada apa - apa jangan sungkan telpon gue yah"
"Iya" telpon pun terputus.
"Zayn Zayn, cuek - cuek so perhatian lu"gumam Zia dan kembali memejamkan matanya..
Di tempat lain.
"Ya allah jaga lah Zia dimana pun dia berada dan angkat penyakitnya ya Allah, saya belum buat Zia bahagia, saya belum menebus hutang saya kepada Zia yang dulu pernah menolong saya"gumam Zayn dalam hati sembari memejamkan matanya..