
Hari ke 9 belum ada tanda-tanda Zia muncul, Bodyguard Adhitama pun sudah mencari kemana-mana namun tak menemukan petunjuk apapun, bahkan pasukan khusus Adhitama pun di kerahkan..
Hal itu membuat seseorang tengah uring-uringan karena menahan rindu yang begitu berat dalam hatinya..
Zayn yang masih belum paham akan perasaannya sendiri pun masih di landa kebingungan.. Mengapa dia begitu merindukan gadis itu, perasaan apa sebenarnya ini. Apa karena dia sudah terbiasaa akan kehadiran gadis itu, sehingga ketika gadis itu hilang dia merasa ada yang aneh..
Zayn semakin menjadi orang yang pendiam, sudah memang pendiam kini dia lebih dari sebelumnya seakan dia orang bisu. Bahkan tak jarang laki-laki itu mendatangi makam Rhea, seperti saat itu..
"Hayy tante, Zayn datang lagi"
"Maafkan Zayn tante, Zayn tidak bisa menjaga putri tante, maafkan Mama Zayn yang tidak bisa memenuhi keinginan tante"
"Tante, Zia masih hidup kan? dia belum menyusul tante kan?"
"Zayn begitu khawatir kan Zia tante, Zayn sempat mendengar percakapannya saat di makam tante"
"Tanre Rhea saya janji, jika saya sudah menemukan Zia saya tidak akan melepaskan Zia. saya tidak akan membiarkan dia menghilang lagi tante"
"Saya juga akan membantu tante mendapatkan keadilan tapi Zayn minta tolong sama tante"
"Tolong jangan ambil Zia dari dunia ini, saya akan berusaha membahagiakan Zia tapi biarkan dia hidup lama disini tante" tak terasa air mata jatuh begitu saja dari mata amber milik Zayn, dia merasakan dadanya begitu sesak..
Seperti kehilangan separuh jiwanya.
Tanpa Zayn sadari terdapat seseorang yang memperhatikannya dari jauh..
"Baru kali ini gue liat lo selemah ini Zayn, apa lo sangat mencintainya ..
Hari ke 1o, tidak ada tanda-tanda Zia masuk ke sekolah, bahkan hingga jam istirahat..
"Udah 1o hari ini kemana yah si Zia" ucap Galang..
"Kangen gue sama My Princess"sahut Arbian..
"Helehh My Princess palamu"
"Liat Zayn diam ae kayak patung liberty" bisik Arbian pada Andrew..
Arbian dan Andrew melihat ke arah Zayn, bener saja laki-laki itu telah terdiam diri pandanganya lurus ke depan sudah seperti patung yang di beri nafas.. Rafael pun sedari tadi memperhatikan Zayn..
"Zayn" panggil Rafael sembari menepuk bahu laki-laki itu Zayn pun terlonjak kaget dengan tepukan Rafael..
"Lo ngelamun?"tanya Rafael..
"Enggak"
"Lo rindu Zia?"
"E,,enggak" jawab Zayn membuat semua temannya memicingkan matanya..
"Kok gugup gitu pak" sahut Arbian..
"Enggak, siapa yang gugup"
"Helehh.."
Tidak lama kemudian datanglah seseorang yang kehadirannya sangat di benci oleh ke lima laki-laki itu..
"Zayn, hayy aku tahu kamu ada disini"
"Enak aja cacing kremi, body kaya model korea begini masa di bilang cacing kremi sih"
"Gak sadar diri lo?" ucap Galang..
"Apa sih"
"Heh Claristq lebih baik lo pergi deh, lo gak cape apa tiap hari deketin Zayn. Gak malu lo tiap hari di tolak sama Zayn" ucap Andrew..
"Suka-suka gue lah" ucap Clarista..
Clarista semakin mendekati Zayn dan duduk di samping laki-laki itu..
Clarista menggandeng lengan Zayn dan bergelayutan di lengan Zayn..
"Zayn temani aku makan yuk" ucap Clarista dengan nada yang di manja-manjakan..
Zayn lantas langsung menghempas. Clarista dan tanganya tidak sengaja menampar pipi Clarista saat hendak melepaskan lengannya dari tangan Clarista..
Hal itu membuat Arbian dan Andrew tertawa terbahak-bahak..
"Hahaha, mampus kena tamparkan lo sama patung liberty" ucap Arbian yang masih tertawa..
Clarista memegang pipinya yang terkena tamparan"Zayn kok kamu nampar aku"ucap Clarista dengan nada merengek..
"Bodo amat" balas Zayn dingin, datar dan tegas. Setelahnya Zayn meninggalkan rooftop sekolah, diikuti oleh teman-temannya..
"Bye,b*tch" ucap Arbian saat berada di samping itu..
"Arghh sial, awas aja lo Zayn, gue akan buat lo menyesal sudah memperlakukan gue kayak begini"
****
Pulang sekolah Zayn tidak langsung pulang, laki-laki itu mengelilingi kota hingga ia berhenti di taman yang ia dapati..
Zayn duduk sembari merenung di taman itu, pikirannya berkecamuk..
Dia harus mencari kemana lagi gadis itu, gadis yang memenuhi pikirannya..
Gadis yang selalu muncul dalam setiap mimpinya, gadis yang selalu muncul ketika ia memejamkan matanya walau hanya sekejap..
"Lo dimana? gue harus cari kemana lagi, please balik" lirih Zayn..
Zayn mendongakan kepalanya ke atas sembari matanya terpejam. Zayn menghirup udara segar, berharap agar bisa menetralisir rasa sesak didadanya..
Setelah di rasa cukup Zayn membuka matanya dan melihat ke sekeliling, matanya tak sengaja menangkap sesosok yang ia kenali. seseorang gadis yang selama ini menghilang dari pandangannya, seorang gadis yang memenuhi pikirannya, seorang gadis yang membuat hidupnya kacau dan dadanya sesak..
Gadis itu kini sedang duduk disisi lain di taman itu, Zayn bangkit dari duduknya dan berdiri kearah gadis itu. saat sudah mendekat Zayn menarik gadis yang sedang duduk itu hingga berdiri dan langsung memeluk erat, seakan-akan ia tidak ingin gadis itu kabur. Sedangkan gadis itu kabur..
Sedangkan gadis yang tiba-tiba di peluk itu terlonjak kaget dan hanya diam saja..
"Lo kemana aja Zia, lo pergi kemana? kemana lo menghilang?"lirih Zayn..
"Syukurlah lo gak papa, jangan ngilang lagi Zia"lanjut Zayn..
"Lo gak tau seberapa paniknya gue pas lo gak ada" ucap Zayn yang masih memeluk Zia dari belakang..
****