'Gadis Mafia Dingin'

'Gadis Mafia Dingin'
bab 6 Teka-Teki


Zia yang selama di perjalanan hanya diam dan melamun ia tidak menyadari kalau Zayn membawa ia kerumahnya. Zayn membawa Zia kerumahnya sebab ia tidak tahu dimana rumah gadis itu dan selama di perjalanan.


Gadis itu nampak melamun, Zayn yg melihat itu enggan untuk bertanya rumah gadis itu.


saat motor berhenti Zia kembali sabar, dan melihat di sekitarnya nampak asing ia pun mengerutkan dahinya.


" Dimana?" tanya Zia.


" Rumah gue"


Zia yg mendengar itu berdekat kesal dalam hstinya, kenapa laki-laki itu malah membawanya ke rumah laki-laki itu.


Zia pun langsung turun dari motor Zayn dan beranjak ke arah gerbang rumah Zayn, Zayn yg melihat hal itu mengeryitkan dahinya dan segera turun dari motornya.


" Mau kemana?" tanya Zayn.


" Pulang" jawab Zia tanpa menoleh kearah Zayn dan masih melangkah ke arah gerbang.


" Nanti gue anter, gue mau ganti baju dulu"


" Gausah, gue bisa sendiri"


Zayn merasa kesal dan menyusul Zia selanjutnya dia mencekal tangan Zia dan menariknya memasuki rumahnya.


Zia yg di tarik tiba-tiba pun tubuhnya hendak terhuyung hanya saja Zia dapat mengimbanginya. Zia mengikuti langkah kaki Zayn akibat cengkraman laki-laki itu yg kuat, bukanya Zia tidak bisa memberontak.


Namun ia tahu, jika ia memaksa melepaskan cekalan di tangannya itu akan membuat tangannya memerah dan bekas luka yg ada di pergelangan tangannya akan kembali tergores sehingga dia menurut saja.


Saat sudah masuk ke dalam rumah Zayn bersamaan dengan mamahnya Zayn yg turun dari lantai atas.


" Zayn baru pulang kamu" ucap mamah Zayn sambil melangkah mendekati Zayn.


Zia yang mendengar suara perempuan paruh baya mengedarkan netranya kearah pemilik suaranya.


'Deg


" itu kan " gumam Zia dalam hati


Zia terkejut melihat perempuan paruh baya di depanya ini.


" iyah mah, tadi mampir ke markas bentar " jawab Zayn sembari mencium tangan perempuan paruh baya itu.


" Ha? jadi ibu ini ibunya Zayn" tanya Zia dalam hati.


" Eh ini kamu bawa siapa?" tanya mamah Zayn


" Teman"


" Cantik, jadi kamu culik dia?"


" Enggak, mamah apaan sih masa Zayn culik anak orang"


" Nama kamu siapa cantik?" tanya mamah Zayn pada Zia


" Zia" jawabnya.


" Suara ini..." gumam mamah Zayn


" Saya mamahnya Zayn, Rosa Adhitama" ucap mamah Zayn sembari mengelurkan tangannya.


Benar, dia tidak salah mengenali orang meski baru hanya sekali bertemu.


Melihat Zia hanya diam saja Rosa sedikit mengerutkan dahinya sembari menoleh sebentar pada Zayn, gadis di depannya ini seperti Zayn hanya saja dalam Versi perempuan.


" Ya udah sini duduk dulu, anggap rumah sendiri yah pasti cape kan habis sekolah " ucap Rosa sambil menuntun Zia kesofa di ruang tamu.


Zia hanya diam dan mengikutinya jelas beradu pandang.


dia bingung harus berperilaku bagaimana dia tidak pernah berintraksi dengan orang lain kecuali hanya sebatas partner kerja, dia tidak pernah bersosialisasi dengan banyak orang.


" kamu tinggal dimana?" tanya Rosa setelah keduanya duduk.


" Dirumah" jawab Zia seketika membuat Rosa tercengang, ya dia tau semua orang tinggal di rumah tapi bukan itu maksudnya.


saat Rosa melihat mata Zia dia seakan mengingat seseorang, mata itu persis dengan mata seseorang yg di kenali.


Rosa pun mulai mengamati wajah gadis itu dengan seksama dia mendapatkan sebuah kemiripan dengan seseorang yg dia kenal, dan suaranya sama persis dengan orang yg Rosa maksud sejak tadi, bahkan Rosa pun merasa suara gadis ini sama dengan hacker yg ia temui kemarin yg membuat penasaran.


" orang tua kamu siapa kalau boleh tau" tanya Rosa berusaha mencari suatu informasi siapa tahu akan membantunya.


" Saya tidak tahu" balas Zia dengan suara yg lumayan kecil namun masih terdengar di telinga Rosa.


" kamu tidak punya orang tua?" tanya Rosa dengan hati-hati takut menyinggung gadis cantik di sebelahnya.


Zia menatap mata Rosa dan hanya mengedikan bahunya. Dari sorot mata Zia Rosa bisa menyimpulkan bahwa terdapat luka dari sorot mata Zia yg berusaha ia tutupi.


Namun naluri keibuan Rosa sangat dalam, dia bisa merasakan bahwa ada luka yg di simpan dengan rapi oleh gadis cantik di depannya ini.


ingin sekali dia merangkul dan memeluk gadis cantik ini.


" Emm, bagaimana bisa kamu pulang bersama Zayn,Zia?" tanya Rosa lembut.


Zia tertegun, baru kali ini ada seseorang yg memanggilnya dengan lembut selama ini dia slalu mendengar namanya di panggil dengan tegas, nada tinggi, kasar dan terdengar seperti sarkas.


" A..aku, ban motor bocor" jawab Zia sedikit terbata, entah dia sangat gugup dengan situasi saat ini, kuku-kuku tangannya memucat entah mengapa dia sangat grogi saat ini.


" Ban motor kamu bocor, baiklah tunggu Zayn sebentar, Zia mau minum apa nak atau mau sekalian mau makan?"


katakanlah Zia norak tapi memang itu lah kenyataan gadis cantik itu tidak pernah mendapatkan panggilan itu dari siapa pun termasuk ayah kandungnya sendiri.


" Tidak perlu t...ante, terimakasih" Zia ragu memanggil perempuan paruh baya di depannya, sungguh Zia tidak pernah memakai panggilan itu Zia seperti manusia yg baru keluar dari goa.


Rosa ingin kembali bertanya namun urung karena melihat Zayn sudah datang.


" Makan dulu habis itu gue anter lu " ucap Zayn datar


" iyah lebih baik kita makan terlenih dahulu, ayo Zia" sambung Rosa.


" Tidak perlu, kalian saja yg makan saya akan menunggu saja atau saya pulang sendiri saja tidak masalah" jawab Zia.


" Ga, lo harus ikut makan dan gue ga izinin lo pulang sendiri " ucap Zayn tegas dan mencekal tangan Zia erat.


Rosa yg melihat itu lantas menyurai rambut Zia dengan lembut.


" ikut makan yah nak, kamu tamu di rumah ini mamah akan sedih kalau mamah tidak bisa menjamu kamu".


Zayn yg di perlakukan lembut seperti ini hanya diam mematung, dia bingung dengan situasi seperti ini, dia merasakan desiran aneh dalam dirinya, entah gejolak apa ini.


Zia menatap Rosa, Rosa yg di tatap tersenyum manis dan menganggukan kepalanya.


akhirnya Zia pun mengangguk pada Zayn dan menuruti kemauan ibu dan anak ini.


selanjutnya mereka pergi ke meja makan dan makan siang bersama. Tidak ada percakapan, hening, mereka makan dengan hikmat.


Rosa yg sebenarnya ingin menanyakan banyak hal pada Zia sebab dia merasakan kejanggalan dan rasa ingin tahu siapa Zia dan siapa keluarga Zia.


Namun Rosa tidak mau gadis itu merasa tidak nyaman padanya hingga dia akan mendekati Zia secara perlahan setelah acara makan siang selesai Zayn akan mengantarkan Zia pulang.


" Mah, Zayn pamit anterin Zia" pamit Zayn


" iya hati-hati yah jangan ngebut, jangan sampai lecet Zianya" ucap Rosa lembut.


" tante, terimakasih atas makannya" ucap Zia pada Rosa nadanya tida sedatar tadi namun masih datar walau hanya sedikit.


Rosa tersenyum dan mengelus rambut Zia.


" Sama-sama cantik, semoga kita bisa bertemu lagi"


lagi-lagi dan lagi Zia merasakan hal aneh dlm dirinya, mendapat perhatian lembut seperti ini adalah suatu hal yg asing bagi Zia.


......................


" Anterin gue ke tempat motor gue" ucap Zia kini keduanya sedang berada di jalan di atas mator Zayn tentunya.


" Kenapa?" tanya Zayn dalam balik helmnya dengan tetap pokus menyetir.


" Ha?" tanya Zia, entah mengapa setelah berintraksi dengan mamahnya Zayn membuat Zia Sedikit bolot.


" Kenapa gak langsung kerumah lu?"


" Gak papah, lagian gak mungkin motor gue belum kelar, mumpung lagi di luar jadi sekalian ajah.


Zayn pun mengangguk menuruti kemauan gadis itu entah dia malas berdebat saat ini.


Tak berapa lama setelah 2o menit perjalanan mereka sampai di bengkel dimana motor Zia di perbaiki.


terlihat motornya sudah siap, namun saat Zia ingin membayar administrasi ternyata sudah di bayarkan Zia pun menoleh ke arah Zayn yg masih berada di motor sendiri dan menghampiri Zayn.


" Nih " ucap Zia menyodorkan uang pada Zayn.


Zayn yg akhirnya mengerti pun menggelengkan kepalanya


" Gak usah "


" Ck, gue gak mau berhutang budi sama orang jadi lo terima ini"


" sekali enggak ya enggak, Zia Aliana " ucap Zayn tegas dengan menekan namanya, setelahnya laki-laki itu kembali menaiki motornya dan memakai helm.


" Ayo buruan pulang, gue ikutin lo dari belakang"


" gak usah, mening lu pulang gue bisa sendiri " tolak Zia dan beranjak ke motornya.


Namun bukan Zayn namanya jika tidak keras kepala, Zayn tetap menunggu Zia, setelah melihat Zia sudah siap pergi, Zayn pun begitu.


Zia menyalahkan motornya di ikuti oleh Zayn begitu pun saat Zia melajukan motornya Zayn pun mengikutinya dari belakang Zia.


Zia yg melihat Zayn mengikutinya itu mendengus kesal, laki-laki itu sangat keras kepala. Zia tidak mungkin membiarkan laki-laki itu mengetahui rumahnya bisa kacau semuanya.


bagaimana jika dia tahu keluarga yg sebenarnya.


Zia pun melajukan motornya dengan kencang, namun rupanya laki-laki itu pun tak mau kalah.


Zia yg geram pun akhirnya ingin mengecoh Zayn, dia menuju ke jalan raya yg lebih rame dengan motor, Zia melewati mobil" di jalan raya itu dengan pola zigzag, saat ia melihat kearah spion Zayn lumayan" tertinggal setelahnya Zia langsung membelokan motornya ke gang kecil.


Zia melihat ke spionnya lagi belum ada tanda-tanda Zayn muncul di belakangnya, Zia pun melihat terdapat belokan dan kembali ke jalan yg akan menuju rumahnya.


Zayn yg melihat kedepan tidak mendapatkan Zia menggeram di balik helmnya.


sial dia kehilangan jejak Zia. Dia tak menyangka bahwa Zia handal dalam bermotor, dia seperti seorang pembalap untuk ukuran perempuan itu cukup menakjubkan, membuat Zayn semakin penasaran siapa Zia sebenarnya, karena tidak kunjung mendapati sosok Zia ,


Zayn pun putar balik dan kembali ke rumahnya.