
Zia kembali ke Mension Emmerson, saat pulang pelayan disana mengatakkan bahwa Abraham dan Ezra sedang tidak di rumah. Abraham sedang ada perjalanan bisnis ke luar negri dan Ezra entahlah dia belum kembali sejak pagi. Zia yang mendengar papanya tidak ada di indonesia ia bergegas ke kamarnya menyiapkan alat penyadap suara, dia ingin menyadap di ruangan papanya di kantor.
Setelah semuanya siap Zia pergi lagi menuju perusahaan sang Ayah untuk memasang alat penyadap setelah Zia memasang alat penyadap suara di ruang papanya dia akan ke rumah sakit untuk mencari berkas-berkas tentang kematian sang ibu..
Zia yang tahu sudut dimana saja penjaga perusahaannya sehingga dia tahu dia harus masuk di sebelah mana, Zia masuk memalui pintu emergency yang memang tidak pernah di lalui orang-orang karena pintu emergency itu di gunakan jika situasi emergency saja itu artinya belum pernah di gunakan..
Zia juga tahu bagaimana membuat pintu emergency itu karena menggunakan kunci yang berbasis teknologi yang pastinya Zia yang membuat keamanan itu..
Zia berhasil masuk ke dalam perusahaan papanya, perusahaan yang sudah sepi karena memang perusahaannya sudah tutup dan semua karyawan telah pulang..
Ziq langsung berangsur menuju ruangan papanya dan mulai memasang alat penyadap suara di ruangan papanya ..
*Di tempat lain ..
Rafael kini telah berada di rumah Zayn, karena sekolah hari ini sedang libur sebab hari ini hari sabtu. Rafael dengan raut wajah yang serius ingin menyampaikan sesuatu yang penting pada Zayn.
"Raf, jadi lu mau bilang apa?" tanya Zayn
"Gue tahu siapa dalang yang udah nyulik Ansel" jawab Rafael.
"Siapa?" tanya Zayn penasaran..
"Bokap gue" jawab Rafael dengan entengnya yang membuat Zayn terkejut mendengar jawaban dari Rafael
Rafael pun mengangguk mantap "Dan maaf gue juga baru tahu dua hari yang lalu gue mau kasih tahu kemaren tapi gue nunggu kita ada waktu berdua, lu tenang ajah gue bakal awasin tuh bapak jahamam" ucap Rafael.
Zayn menepuk bahu Rafael, Zayn tahu betapa hancurnya hidup Rafael karena Ayah kandungnya sendiri..
"Gue gak sudi punya bokap kayak dia sama sekali tidak, gue lebih baik gak punya bokap, Zayn. Dan hue juga yakin dia bakal pake cara lain buat nyerang keluarga lu lagi, gue gak akan bikin iblis itu berbuat yang aneh-aneh lagi.."
"Makasih lu mau bantu jagain keluarga gue" ucap Zayn.
"Zayn keluarga kalian lah yang bantu nyokap gue sama gue waktu kita terpuruk, gue berhutang budi banget sama lu jadi gue gak mungkin lupain itu. keluarga lu udah nganggep gue sama kayak nyokap gue dan bukankan keluarga harus saling menjaga satu sama lain?" jawab Rafael dan Zayn pun memeluk Rafael sembari menepuk-nepuk punggung Rafael yang di balas juga oleh Rafael..
"Lu bener, kita sodara sampai kapan pun kita tetap sodara" ucap Zayn sambil melepaskan pelukan persodaraan di antara mereka, lalu saling berpegangan tangan..
"Kita sama-sama harapi si iblis itu"ucap Rafael dengan serius dan di angguki oleh Zayn..
Disisi lain, Zia sedang meretas data seseorang di ruang kerjanya, Zia membaca seluruh isi data itu..
"Rupanya Deri ini dulunya sahabat Ayahnya Zayn, sepertinya sekarang jadi musuh karena tuh orang punya iri dengki deh" gumam Zia..
"Ck,,ck,,ck,, selain itu tukang selingkuh juga, gila bahkan sampai selingkuhannya hamil di luar nikah dan itu artinya anak hasil di luar nikah juga berarti sodara tiri Rafael? Rumit sekali, kasihan ibunya Rafael punya suami seberengsek dia dan ayah yang gak bertanggung jawab." gumam Zia yang tidak biasa merasa kasihan kepada orang lain, bahkan dirinya juga sama malahan lebih dari pada Rafael..