THE RECORD: Dari Balik Kamera, Dia Mengawasi

THE RECORD: Dari Balik Kamera, Dia Mengawasi
CHAPTER 6: The Plan (Part 2)


Rupanya tidak sesuai seperti apa yang kuharapkan. Primrose tidak bertindak apapun selama kelas P.E.


Aku menghela nafas. Menyerah.


Mungkin dari awal Primrose tidak berniat memanfaatkan ketenaranku. Mungkin dia hanya ingin menggodaku saja seperti yang lalu-lalu saat dia mengataiku Crawford si muka gorden. Itu karena rambutku yang panjang menutupi sebagian wajahku. Entahlah.


Aku memasukkan sepuluh sen ke ke dalam vending machine yang berada di paling pojok koridor aula saat istirahat tiba. Suara mesin berdengung memproses pesananku. Namun kaleng susu itu tidak kunjung jatuh bergelutuk ke wadah. Aku menunggu. Sekitar satu menit aku menunggu tapi mesin tidak juga memprosesnya. Apa mesin ini menelan uangku yang berharga itu?


Aku sedikit kesal dan memukul mesin itu pelan-pelan, berharap dapat memperbaikinya. Namun suara biiib yang berbunyi nyaring mengejutkanku. Sebuah peringatan muncul di layar.


...Warning!...


...Kaleng tersangkut, mohon segera periksa wadah ^.^”...


Aku mengernyit. Sejak kapan vending machine memunculkan perintah seperti ini?


Aku celingukan berharap mendapati seseorang untuk bertanya namun ternyata aku sendirian. Koridor yang kosong terlihat lenggang di pandanganku. Aku memutuskan untuk tidak habis pikir dan segera berjongkok di depan wadah. Memasukkan sedikit wajahku ke dalam.


Benar saja, kalengku tidak ada disana. Kalau tersangkut itu artinya aku harus memasukkan tanganku ke dalam wadahnya, kan?


Kusingkap penutup wadah ke atas dan menahannya dengan lenganku yang lain. Tanganku masuk separuh dan melipatnya guna meraba-raba mencari kaleng milikku. Aku sedikit mengerang saat merasakan punggungku yang pegal. Sebelum aku bangkit karena menyerah, jariku menyentuh sesuatu yang dingin tersangkut oleh lid yang tidak tertutup sempurna.


Aku mengubah posisi untuk sedikit lebih masuk ke dalam mesin selagi jemariku mencoba mengeluarkan kaleng yang tersangkut. Aku melihatnya. Sedikit lagi. Tinggal digeser ke kiri dan …


Dapat!


Begitu aku hendak menariknya, tiba-tiba aku merasakan nafas seseorang di pipiku. Tepat di dalam mesin. Dia berbisik dengan sangat pelan.


Itu membuatku sontak berhenti bergerak. Bau amis yang tidak asing seketika masuk ke dalam penciumanku dan begitu bola mataku menoleh perlahan ke samping …


Tepat di dalam wadah, sebuah kepala berbaring bersisian dengan wajahku. Bibirnya terbuka hendak berbicara. Aku diam mematung. Kami bertatapan selama beberapa detik.


Lidahnya yang ditindik mulai bergerak, membisikkan sesuatu tepat di depan telingaku.


“Kepala tersangkut, mohon segera periksa wadah."


Aku sontak menjerit dan menarik diri. Dengan nafas yang berkejaran, tubuhku beringsut panik sejauh mungkin. Namun kepala yang baru ku ingat adalah milik seorang korban kecelakaan bus, masih menatapku lekat-lekat dari dalam sana. Dan sekarang, dia mulai bergerak, mencoba keluar dari dalam wadah.


Seperti waktu itu, tubuhku diam mematung seperti lilin. Sedang kepala itu terus menggelinding pelan dengan rambut merahnya yang menyapu lantai koridor. Sebelum dia sampai padaku, tiba-tiba saja seseorang memegang pundakku dari belakang.


“BOO!”


Dengan terkejut tangan yang memegang pundakku kutepis kasar. Isaac Petterson berdiri disana dengan kebingungan saat aku menatapnya dengan tatapan horor.


“Hey, sorry. Apa aku mengejutkanmu?”


Aku kembali menoleh ke arah vending machine. Namun si kepala merah itu tidak ada disana. Aku mengatur nafas sebelum menggeleng mencoba mengembalikan lagi kesadaranku.


Tidak ada kepala disana. Tidak ada kepala disana. Tidak pernah ada kepala disana. Berulang kali aku merapalkan itu seperti mantra.


Satu kaleng susu yang kebeli ada di dalam wadah, seperti kehilangan pemilik. Dengan cepat aku mengambilnya dan berniat untuk pergi dari hadapan kurcaci Primrose ini.


Sebelum aku sempat melangkah lebih jauh, lenganku dicekal–menghentikan langkah dengan terpaksa.


“Maaf, oke? Kau baik-baik saja?” Sekali lagi aku mengangguk dan berniat pergi tapi pemuda ini masih saja menahan pergelangan tanganku.


Aku menoleh ke arahnya dengan tatapan bertanya. Dia hendak mengatakan sesuatu namun kalimatnya ditelan dalam nafas yang dibuang. “Rose mencarimu. Kau Izzy, kan?”


Lagi-lagi aku hanya mengangguk, tenagaku seolah tersedot habis untuk sekedar berbicara. “Tumben sekali. Kenapa dia mencarimu? Apa kau membuat masalah? Kau membuatnya kesal?”


Aku tidak tahu kalau kurcaci Primrose yang satu ini sangat cerewet. Tidak bisakah dia melihat aku tidak dalam keadaan baik?


“Aku tidak tahu,” kataku acuh. Terpaksa nenunggu dia berbicara lagi.


Dia sedikit mencibir mendengar balasanku. “Yasudah, kau boleh pergi,” ujarnya balas menjawabku acuh.


Tapi aku terlalu lelah untuk peduli dan meninggalkannya begitu saja.


...***...