
“Dalam jarak seratus meter, belok kanan menuju jalan 275 Church Hill. Rd.”
Suara Googly map adalah satu-satunya yang merusak keheningan di dalam mobil. Decitan dari wiper sesekali bergabung menyatu dengan gemuruh petir di luar sana. Cuacanya tiba-tiba menggelap begitu suara robot googly mengatakan bahwa destinasi kami tinggal berjarak satu kilometer lagi. Tak lama setelah itu, awan mulai tumpah dalam tangis yang tersedu. Mengguyur bumi tak kenal ampun hingga jarak pandang mobil kami memburam seketika.
Tiga puluh menit yang lalu, Max membangunkan kami semua dari tidur lelap. Suaranya terdengar kebingungan dengan bibir yang sesekali berdecak kesal. Sedang kedua matanya tidak berhenti menoleh kanan dan kiri dengan tubuhnya yang duduk tegak–menajamkan penglihatannya.
Ketegangan yang dikeluarkan Max rupanya menular, membuat kantuk kami memudar tersapu bersih.
“Tidak ada pemukiman disini.” Max tiba-tiba melapor membuat kami semua mengintip ke luar jendela. Benar saja. Sejauh mata memandang hanya ada pepohonan dan semak-semak yang kini bergoyang tertiup angin. Kabut mulai turun dengan cepat menghalangi visi.
“Apa ini jalan yang benar?” Delilah yang duduk di kursi tengah bertanya dan segera mengambil alih ponsel Max untuk memeriksanya.
“Ini jalan yang benar. Tapi kenapa tidak ada tanda-tanda kehidupan di depan?” sambung Delilah heran sambil terus memperbesar layar melihat peta.
Aku menggigit bibir gelisah. Bukan karena takut dengan keadaan yang memungkinkan kami tersesat, akan tetapi perasaan familiar tiba-tiba saja merasukiku seperti angin beku. Ingatan-ingatan masa lalu kembali datang seperti pecut. Memaksaku untuk kembali ke masa saat itu.
Dengan ini aku tahu, bahwa kami tidak tersesat.
Aku sudah pulang.
“L-lanjut saja. Sebentar lagi kita sampai,” ujarku membuat semua orang menoleh kepadaku secara bersamaan.
“Dari mana kau tahu?” tanya Ethan.
Delilah menjentikkan jari seolah mengingat sesuatu. “Ah! Kenapa aku lupa! Kau kan berasal dari Woodstock iya kan? Rose, kau kan yang memberitahuku soal dia kenapa malah diam saja?” protes Delilah. Rose tidak merespon apa-apa dan malah memainkan ponselnya.
Aku menghela nafas melihat Primrose yang pasif sejak kemarin malam. Gadi situ bersikap tidak seperti biasanya.
“Wah, bagaimana bisa ada orang yang tinggal di pedalaman seperti ini? Mereka tidak akan tahu kalau ada virus zombie menyerang,” kelakar Ethan yang mencoba mencairkan suasana. Namun tidak ada diantara kami yang melepaskan tawa.
Waktu sudah menunjukan jam empat pagi. Seharusnya kami sudah sampai dari dua jam yang lalu tapi hujan menghambat kami nyaris dua jam lamanya demi kesalamatan. Max yang tidak banyak bicara terus menyetir dengan fokus sampai akhirnya …
“Anda sudah sampai di tujuan. Destinasi anda berada di sebelah kiri.” Ponsel Max yang berada di tangan Delilah kembali memberitahu. Sontak, kami semua menoleh ke arah yang disebutkan Goggly.
Sebuah jalan setapak yang lebarnya hanya cukup dilalui satu mobil menjadi fokus utama kami. Sedangkan pagar tumbuhan jalar memanjang merambati kayu yang dipasang asal. Cukup terlihat tradisional di dunia yang kini modern. Meskipun terlihat kecil dan tidak terawat, jalanannya terbuat dari aspal dan itu cukup aman untuk kami lewati tanpa tergelincir atau lebih parahnya ban yang terjebak di lumpur.
“Apa ini benar jalan menuju desa?” tanya Ethan padaku. Dengan gerakan patah-patah aku mengangguk. Pasangan pun itu berdecak dengan kesal. Mungkin mereka sudah bisa menerka tempat seperti apa yang akan mereka temui dengan melihat keadaan jalan yang ala kadarnya.
“Come on, Max. Matahari sudah hampir terbit, kita tidak boleh terlihat oleh penduduk desa.” Setelah berdiam cukup lama, Rose akhirnya berbicara. Mungkin ini kalimat pertama yang diujarkan gadis itu selama perjalanan kami.
Mungkin Rose ingat apa yang aku katakan soal Woodstock. Selain karena Woodstock Highschool dihilangkan dari peta, para penduduk setempat juga mengubur keberadaan sekolah itu dalam-dalam. Terlebih setelah kejadian satu tahun lalu ketika seorang streamer dan dua orang lainnya ditemukan di sekolah itu. Maka, sebisa mungkin kedatangan kami tidak boleh diketahui maksudnya.
Mungkin karena sekeliling kami adalah tanaman rambat yang hampir menyentuh kaca, udara menjadi sangat berat seolah ruang tengah menyempit. Terlebih ketika sura Googly mengejutkan kami disela-sela keheningan.
“Ada yang menghalangi jalan. Harap putar arah.”
Sontak kami semua memanjangkan leher untuk memeriksa bagian depan jalan. Hanya kabut dan jalanan sempit yang kosong. Mobil kami adalah kendaraan satu-satunya yang membelah jalanan. Sedangkan di depan kami cahaya dari lampu sorot hanya menerangi jalan sekitar empat puluh persen.
“Apa yang dimaksud adalah kabut?” cicit Ethan. Namun lagi-lagi tidak ada yang menjawab. Karena kami semua tahu jawabannya adalah bukan.
“Maju saja, apa yang kalian khawatirkan sebenarnya? Kalian sendiri lihat tidak ada apa-apa di depan,” tekan Rose sarat akan emosi.
“Matikan saja ponselnya. Toh, sudah ada yang hapal jalan,” sambung Primrose dengan menyindirku halus. Max tidak punya pilihan lain selain menurut. Delilah sudah mengeluarkan tab Googly dari ponsel Max dan mengembalikan benda itu kepada pemiliknya.
Sebelum satu menit kemudian …
“Ada yang menghalangi jalan. Harap putar arah.”
Mobil Max berhenti dalam sentak bersamaan dengan kami yang ikut mematung mendengar suara Googly dari ponsel Max.
“A-aku sudah mematikannya barusan,” cicit Delilah memberi penjelasan.
Perasaan tidak enak tiba-tiba menyusup. Kami pun kembali memeriksa jalanan depan. Hanya jalanan yang gelap sejauh mata memandang.
Sekali lagi, tidak ada apa-apa disana.
Kali ini Primrose tidak mengatakan apapun lagi. Dari belakang sini, aku melihatnya menggigiti kukunya dengan gugup. Kami semua terdiam dan tidak ada yang mengambil keputusan.
Aku melirik ke arah Noah yang sedari tadi tidak bersuara. Begitu aku menoleh, pemuda itu bertingkah seolah tengah tertangkap basah tengah melihat sesuatu sebelum menatapku dengan gugup.
Aku mengalihkan tatapanku seolah tidak melihatnya demikian.
Seolah aku tidak melihatnya bertatapan dengan Isaac di sampingku.
Seolah aku tidak tahu bahwa mereka berkomunikasi lewat tatapan diam-diam.
...***...
Author Note: Halo semuanya, selagi menunggu update dari aku, ada novel seru nih yang aku rekomendasiin buat kalian! Cerita bikin baper lho! Jangan lupa buat mampir ya 🥰