THE RECORD: Dari Balik Kamera, Dia Mengawasi

THE RECORD: Dari Balik Kamera, Dia Mengawasi
CHAPTER 11: D-3 (Part 1)


Lingkaran merah pada kalender tinggal tersisa tiga hari lagi. Hari dimana aku akan pergi ke tempat yang paling aku hindari.


Aku cemas.


Aku kalut.


Aku takut.


Aku bisa merasakan tatapan ibu di belakangku menatapku lekat-lekat dengan pandangan kosongnya. Namun saat ini aku terlalu banyak berpikir untuk sekedar merespon. Kepalaku penuh pikiran-pikiran tentang apa yang akan terjadi pada ibu kalau saja aku tidak bisa pulang. 


Apa ini keputusan yang salah?


Apa memilih jalan pintas ini adalah keputusan yang akan membunuh kami berdua? Maksudku aku dan ibu?


Aku menggigiti bibirku dengan perasaan yang kacau. Berharap mungkin sedikit banyaknya rasa tidak mengenakkan ini akan pergi dari benakku. Mengingat bahwa sisa waktuku hanya tersisa kurang dari 72 jam untuk bersama ibu membuat perasaanku semakin tidak karuan. Apa yang terjadi pada ibuku kalau aku tidak berhasil keluar dari sana.


Dari Woodstock.


Tempat terkutuk yang tidak akan pernah kukunjungi lagi kalau aku tidak dalam keadaan terdesak seperti sekarang. Sebuah neraka.


Menyebut desa itu lagi setelah sekian lama, membuat sesuatu dalam diriku terbangun. Mimpi buruk yang ingin aku lupakan kini muncul lagi ke permukaan seperti busuk yang lama tertimbun dalam. Baunya menyengat. Mengontrol pikiranku dengan borok di masa lalu.


Aku menggelengkan kepalaku guna mendistraksi dari pikiran-pikiran aneh. Dengan sangat terpaksa, sebisa mungkin aku mengulas senyum–menyembunyikan borokku. Balas menatap ibu yang kini duduk di atas kursi roda. Tubuhnya yang kaku dan ringkih itu aku peluk erat-erat. Meski ibu tidak bisa balas memelukku, aku tahu kalau wanita kesayanganku ini membalas dekapanku dengan tatapannya. Aku selalu tahu itu.


"Ibu, jaga diri Ibu baik-baik selagi aku pergi, ya. Sebentar saja. Hanya satu minggu." Pelukan singkat itu kulepas. Tatapan kosong ibu beradu pandang dengan milikku. Sudut matanya yang berair semakin memberati pundakku tanpa bisa ku kontrol. Aku tidak ingin pergi meninggalkannya sendirian. Ibu hanya punya aku.


Tapi karena ibu hanya punya aku, aku harus pergi. Aku harus melindungi satu-satunya keluargaku yang tersisa.


Aku harus melindungi ibu dari orang-orang berkuasa yang ingin memanfaatkannya. Orang-orang dengan dalih ingin menyembuhkan ibu. Screw it! Aku tahu sekali tujuannya mereka tidak semulia itu. Tentu saja itu sudah jelas sekali bagaimana kenyataannya sekarang aku terjerat hutang karena tujuan licik mereka.


Dengan perasaan sedih kuusap perlahan kedua sudut matanya.


"Aku akan kembali untuk ibu. Doakan aku supaya bisa pulang."


"Aku tidak akan membiarkan mereka membawa ibu seperti yang mereka lakukan pada Harper. Aku janji."


Mungkin hanya perasaanku saja atau apa, tapi aku bisa melihat pupil itu membesar sepersekian koma detik saat nama kakakku sampai di pendengarannya. Aku tersenyum pahit. Ibu pasti sangat merindukannya.


"Ayo. Kita sudah terlambat." Suara seseorang di belakangku menghentikan pembicaraanku dengan ibu. Walau secara teknis hanya aku yang berbicara.


Dengan perasaan yang campur aduk, aku berbalik. Di depanku Primrose sudah berdiri dengan rapi. Syal tebal memeluk lehernya untuk menghalau udara malam. Siap untuk menjalankan misi pertama sebelum kami pergi ke Woodstock.


Mungkin kalian kebingungan kenapa Primrose ada bersamaku dan ibu. Mungkin kalian juga penasaran kenapa kami tiba-tiba terlihat … seperti teman.


Well, banyak yang terjadi sekitar satu bulan yang lalu sejak kami setuju tentang rencana ini.


Singkatnya, aku terpaksa dibayar di muka.


Setelah Rose mengatakan rencananya, orang-orang dari Lawrenceville tiba-tiba datang dua minggu kemudian seperti manusia tidak tahu aturan. Menggedor pintuku keras-keras seperti seorang rentenir alih-alih orang-orang dari institusi kesehatan jiwa. Lalu dengan tanpa perasaan menyeret tubuh ringkih ibuku di kedua tangannya. Mereka hendak membawa ibuku secara paksa.


Tentu saja aku kelabakan saat itu. Aku memohon-mohon di depan kaki mereka, meski aku tahu harga diriku jatuh dibawah telapak kaki yang terbalut sepatu kulit itu. Terinjak-injak nyaris tidak ada harganya. Aku terlalu kalut untuk peduli. Harga diriku tidak jauh lebih berharga dari kenyataan aku akan kehilangan ibu.


Di saat aku tengah memohon-mohon seperti pecundang, Isaac Petterson, salah satu kurcaci Primrose, yang tidak pernah aku duga tiba-tiba muncul di pekarangan rumahku sambil mengumpat kasar. Menghentikan para debt collector berkedok pihak rumah sakit ini seketika.


Sekilas, kupikir dia adalah preman mabuk yang kebetulan lewat dan menemukan pertunjukan dramatis dan memutuskan untuk menonton. Terlebih pakaiannya yang urakan itu sedikitnya meyakinkanku.


Tapi tidak. Itu benar-benar dia.


I swear to God, Isaac Petterson, apa yang kau lakukan di depan rumahku?


...***...


Author Note: Halo semuanya, jika kamu menyukai cerita ini, tolong like, komen dan vote ya~ sedikitnya support dari kalian buat aku semangat nulis lagi 😆 Terimakasih atas dukungan kalian~


-Kaia Lituhayu-