
"Hey, as*holes! Kalau bertamu itu setidaknya gunakan tata krama," Isaac Petterson mengumpat keras-keras seperti mahasiswa demo di depan gedung pemerintah.
Aku hanya mematung di tempat saat ia mengumpat–memotong tontonan dramatis antara aku dan orang-orang Lawrenceville. Dengan wajah penuh air mata, aku hanya menatapnya seperti orang bodoh. Terlalu lambat untuk memproses kenapa salah satu kurcaci Primrose tiba-tiba muncul disini.
Mungkin aku ini memang sedang merasa sedih dan kacau, tapi perasaanku langsung lega luar biasa saat melihat tubuh jangkung kurcaci milik Primrose kini terang-terangan membelaku di hadapan para orang-orang Lawrenceville. Mungkin ini karena aku sudah lama tidak merasakan seseorang berdiri di sisiku setelah sekian lama.
Kedua pria dari Lawrenceville terkekeh jengah, mungkin mereka tersinggung saat bocah SMA mengatainya lub*ng pant*at tak tanggung-tanggung.
"Kalian tidak lihat? Dia kesakitan!" Yang dimaksud Isaac adalah ibuku. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa tahu padahal ekspresi ibu datar-datar saja karena tidak bisa berekspresi. Mungkin dia hanya mengarang. Entahlah.
Mereka melepaskan ibuku saat itu juga. Bukan karena mereka setuju dengan ucapan Isaac. Tapi karena mereka ingin memberi perhitungan pada pemuda itu.
Kedua tubuh besar mereka mendekati kurcaci Primrose yang terlihat tenang. "Apa masalahmu?" tanya salah satu dari mereka pada Isaac.
Diam-diam aku mempunyai pertanyaan yang sama.
Pemuda itu berdecak. Rambutnya yang mencuat tak beraturan itu disugar ke belakang dengan jari jemarinya yang panjang. Tampak semakin kesal.
"Dia temanku. Aku tidak suka kalian menyakitinya," ujarnya menunjukku dengan dagunya yang lancip.
Aku tentu saja terkejut. Kenapa tiba-tiba dia mendeklarasikanku sebagai teman? Kami bahkan tidak terlalu dekat untuk itu.
"Dia tidak mau membayar hutangnya. Tentu saja kami harus bertindak semestinya pada orang-orang yang tidak patuh."
'Tenggat waktunya masih dua minggu lagi assholes!' umpatku keras-keras dalam hati, meniru Isaac.
"Kalian bertingkah seperti preman begini hanya karena uang kecil? Berapa memangnya?" Isaac kembali bertanya dengan galak.
Kedua pria itu menyeringai, "Lima ribu dolar."
"Lima ribu do–"
Aku menutup mataku malu saat Isaac kehilangan kata-katanya. Tentu saja lima ribu dolar bukan uang kecil bagi Isaac.
"Nah, katamu itu uang kecil kan? Kalau begitu bantu temanmu itu untuk membayar." Tantang salah satu pria besar itu sambil terkekeh penuh kemenangan.
Isaac melirikku dengan pandangan memastikan, tapi aku langsung memalingkan wajah. Terlalu malu untuk bertatapan dengan siapapun.
"Wah, banyak sekali ya rupanya, Paman. Tapi menyeret orangtua dengan kasar bukan cara yang sopan. Bukan begitu? Hahaha!" Aku nyaris tertawa mendengar nada bicaranya yang kali ini terdengar lebih ramah padahal sebelumnya dia mengatai mereka dengan terang-terangan.
"Banyak bicara kau!" Mungkin mereka terlanjur kesal pada pemuda itu, tanpa bicara apa-apa lagi, kerah seragam Isaac diamit dalam kepal. Hendak ditinju keras-keras sebelum Isaac menangkisnya lebih dulu dengan cekatan seperti seorang yang sudah terbiasa berkelahi.
"Kalau kalian mau uang itu kembali, bicara baik-baik. Aku bisa hilang kesabaran kalau kalian terus begini," ucapnya tegas. Ekspresi jenaka sebelumnya hilang begitu saja sedang lengannya mendorong dada itu dengan keras.
Pria kekar itu terhuyung beberapa langkah ke belakang. Tidak menyangka kalau pemuda tinggi kurus ini ternyata tidak selemah kelihatannya.
"Aku tidak mau ada kekerasan. Kalau kau ingin uang, bersabarlah. Aku akan menghubungi seseorang dulu."
Aku menontonnya bingung dari teras rumah bersama ibuku. Apa yang akan dia lakukan sebenarnya? Menelpon siapa?
Setelah beberapa menit Isaac terlibat perbincangan yang serius, pemuda itu akhirnya kembali berbicara pada kedua pria itu. Aku tidak bisa begitu mendengarnya karena kali ini mereka hanya berbisik alih-alih berteriak adu emosi seperti tadi.
Anehnya, setelah perbincangan sunyi itu, kedua pria Lawrenceville pergi. Memberikan sebuah salute padaku dari jauh. Yang sebenarnya aku tidak mengerti kenapa mereka melakukan itu.
Mungkin Isaac tahu aku sedang kebingungan. Dia akhirnya menghampiriku dengan tergesa.
"Kalian baik-baik saja?" tanya Isaac mensejajarkan tinggi tubuhnya denganku dan ibu.
"Apa yang kau lakukan?" Alih-alih menjawab pertanyaannya, aku lebih penasaran kenapa dia tiba-tiba datang ke rumahku padahal sebelumnya kami tidak pernah bertegur sapa. Yang terpenting dari mana dia tahu alamatku?
Rose memintanya mengawasiku? Kenapa?
"Itu karena … um, kudengar kau menerima tawarannya."
Aku terdiam.
"Soal vesta hestia," sambung Isaac.
Aku mengalihkan tatapanku sembari mengangguk. "Aku terpaksa, aku butuh uang."
Lalu Isaac mengusak rambutnya frustasi dan berbicara sesuatu.
"Kau yakin? Apa kau bahkan tahu apa itu?"
Tentu saja aku tahu. Aku lebih dari tahu.
Aku lagi-lagi mengangguk dan Isaac terdiam untuk beberapa saat sambil menatapku dan ibu bergantian. Pemuda itu tidak mengatakan apa-apa lagi.
"Bagaimana mereka bisa pergi?" tanyaku.
Kedua mata fox miliknya berlarian ke segala arah. Menolak untuk beradu pandang denganku.
"Itu … Primrose yang membantumu," ujarnya sambil terbatuk.
"Apa?"
"Rose bilang … uh … kau sudah jadi bagian kami! Ya, ya! Karena itu! Kurasa karena itulah dia membantumu begitu aku menghubunginya."
Aku mengernyit merasakan gelagat anehnya. Apa Primrose semudah itu membantuku? Terlebih apa itu tadi? Aku, menjadi bagiannya?
"Terimakasih." Walaupun aku tak yakin Rose benar-benar melakukan ini, aku tetap berhutang budi pada pemuda satu ini.
Karena inilah Rose dan aku akhirnya terlibat hubungan yang serius. Uh, maksudku, kami menjadi lebih dari sekedar si mayoritas dan minoritas. Daripada yang seharusnya. Hutangku terbayarkan sepuluh persen, dan Lawrenceville memperpanjang masa tenggatnya. Tidak sampai disana, Primrose memintaku menitipkan ibu kepada bibinya. Seorang psikiater yang kini rumahnya kutinggali.
Aku yang dulu, tidak akan pernah percaya seorang Primrose melakukan hal ini kepada seorang pecundang sepertiku. Walaupun mungkin dia memiliki tujuan lain, tapi dia sedikitnya merubah pandanganku tentangnya.
“Ya memangnya kenapa, uangku banyak, setidaknya kau mempunyai alasan untuk tidak kabur,” jelas Primrose sambil mendelik tajam pada Isaac, begitu aku bertanya padanya. Melihat ekspresi Pirmrose saat itu aku memikirkan sesuatu. Karena mungkin saja … Isaac …
Aku menggelengkan kepala menolak kemungkinan aneh yang sampai ke otakku. Tidak mungkin.
Apapun itu. Sekarang aku lebih lega.
Selama pergi ke Woodstock, setidaknya ibu akan berada di tempat teraman.
Karena itulah, disinilah kami sekarang.
Setelah berpamitan pada psikiater itu, Primrose dan aku menenteng banyak perlengkapan kami menuju mobil yang akan membawaku ke sekolah.
Satu jam lagi, live streaming perdana kami akan disiarkan disana.
Satu yang kuharapkan.
Semoga halusinasiku tidak datang tiba-tiba.
...***...