THE RECORD: Dari Balik Kamera, Dia Mengawasi

THE RECORD: Dari Balik Kamera, Dia Mengawasi
CHAPTER 25: The Village Oddity


Hari sudah beranjak siang ketika kami kembali melanjutkan perjalanan.


Izzy bilang, akan ada dua jalur yang memisah. Satu menuju ke desa, satu lagi menuju ke peternakan. Apapun yang kita pilih, keduanya tidak akan membawa kami menuju tujuan.


Mendengar itu, aku hampir saja melepaskan amarahku jika saja si cupu itu tidak lanjut berbicara. “Kita pilih jalur tengah,” ujarnya.


Gadis itu kembali menambahkan, “itu adalah jalan pintas menuju sekolah. Kita tidak bisa masuk melewati penduduk desa. Banyak hal yang sudah terjadi. Dengan perlengkapan yang kita bawa, itu akan membuat mereka curiga.”


Duh. Seingin apapun aku protes karena kami harus melewati jalur hutan lagi alih-alih jalur setapak, kami tidak punya pilihan lain. Hanya si culun itu yang tahu arahnya. Mau tidak mau aku harus menyetujuinya dan menurunkan egoku.


Setelah melalui perjalanan yang melelahkan, kami pun sampai di persimpangan yang Izzy katakan. Arah menuju desa berada di timur laut dan peternakan mengarah ke tenggara. Sedangkan kami harus menuju ke Timur.


Dan yang tengah kami lakukan sekarang adalah mematung di tengah-tengah persimpangan.


Sekarang aku tidak cukup yakin untuk tidak menuruti egoku.


Di hadapan kami, arah timur yang akan kami tuju, berdiri dua buah batu besar seukuran dua kali freezer yang ada di supermarket. Dan mereka berdiri bersampingan mengapit sebuah jalan sempit di tengahnya. 


Melihat itu, aku tentu saja tidak tahan untuk menarik nafas dan menghembuskannya dengan perasaan kesal. Si Crawford itu kutatap dengan pandangan 'kau serius?'.


Memangnya siapa yang menyalahkanku, ketika apa yang harus kami lewati lebarnya saja tidak sampai seukuran lebar tubuh orang dewasa?!


Jika ingin melewatinya, mungkin kami harus berjalan menyamping dan dihimpit batu. Belum lagi lumut yang tumbuh menutupi bagian batu yang menjadi dinding jalan. Itu akan mengotori pakaian kami dalam satu kali langkah.


Dengan perasaan jengkel, aku berjalan mendekat guna mengintip. Memeriksa apakah ada sesuatu lain yang akan membuatku meledak dalam amarah.


Jalannya terlihat licin dan lembab. Memanjang sekitar tiga meter ke depan hingga sampai pada bagian yang lebih luas. Ada tumbuhan kakus dan lain macamnya yang ada disana. Bagian itu memang tidak sepenuhnya dipenuhi semak belukar, akan tetapi aku tidak menjamin bahwa beberapa duri dan ranting tajam akan melukai kami.


"Kau yakin kita harus melewati jalan ini, Crawford?" tanyaku tak yakin sambil melangkah mundur. Kembali menatap si culun dengan datar.


"Aku setuju. Bagaimana kalau ada ular?" Delilah di belakangku menimpal dengan rengekan manja.


Mendengar rengekan kekasihnya, Ethan ikut protes. "Memangnya kenapa sih tidak lewat desa saja? Paling mereka hanya bertanya-tanya. Kau lihat, Max saja tidak apa-apa."


Izzy Crawford menggeleng. "Tidak. Mereka akan curiga. Kalau para penduduk desa tau apa yang akan kita lakukan, mereka tidak akan pernah membiarkan kita pergi."


Mendengar itu, kami bungkam.


"Kau pernah melewati jalan ini sebelumnya?" tanya Ethan masih berusaha.


Si cupu menggangguk sebelum menjawab "Kakakku pernah mengajakku ke sana satu kali lewat jalan ini," cicitnya.


Temanku yang paling berisik itu mendengus kesal mendengar jawabannya. "Satu kali? Memangnya kau masih ingat?" kesalnya.


Tanpa diduga, si culun balas menjawab Ethan dengan nada dingin. "Kalau kau mau mengambil resiko dengan lewat desa dan membuat kita gagal, silahkan. Aku tidak memaksa. Batalkan saja rencananya."


Ethan membuka mulut dan menutupnya kembali. Kehilangan kata-kata dalam satu kali serangan.


Isaac dan Noah saling pandang dengan pandangan bangga. Well, si cupu itu memang cukup keren saat membuat Ethan tidak lagi bisa berkata-kata.


Baiklah. 


Kalau kami sudah sejauh ini hanya karena sedikit hambatan, itu tidak lebih menyebalkan dibanding tidak mendapatkan apa-apa. Dengan memantapkan hati, aku pun memutuskan.


"Fine. Kita tidak ada pilihan lain. Biar aku masuk lebih dulu."


"Aku saja. Biar ku periksa dulu." Noah menarikku ke belakang dan melepaskan tasnya untuk dipanggul di atas kepala sebelum menyisipkan diri dan masuk dengan tertatih.


Wajahku panas seiring Ethan yang bersiul menggoda di belakangku. Bukannya apa, aku benci merona di hadapan banyak orang. Bagaimana kalau mereka berpikir aku ini gadis gampangan?


Well, i mean i am.


Tapi bagaimana kalau Noah tau aku menyukainya?


"Guys …." Suara Noah yang terdengar tegang membuyarkan pikiranku.


"Bagaimana? Aman?" Isaac ikut melangkah maju untuk mengintip.


"Kurasa … kurasa kalian harus melihat ini," timpal Noah. 


Tanpa berpikir panjang lagi, Isaac dengan cepat masuk ke dalam jalanan sempit itu.


Tidak sampai satu menit, kami semua tersentak mendengar teriakan Isaac.


"Oh God! Apa itu?!"


Aku dan Izzy bertukar pandang. Dengan jantung yang bertalu aku menyisipkan diri di antara batu besar. Tubuhku yang ramping sedikitnya membuatku tidak kesulitan untuk menyerongkan sedikit badan dan berjalan maju.


Lumut-lumut menggesek pakaian, aroma basah, dan samar-samar bau aneh mulai tercium. Aku tidak tahu aroma menyengat apa ini, tapi yang jelas aku merasa pernah menciumnya dari suatu tempat.


Bau rumah sakit.


Aroma menyengat seperti antiseptik, alkohol, bau busuk dan …


Aroma formalin.


Dua langkah terakhir kuambil dan detik itu juga aku melihat kedua pemuda yang tingginya nyaris sama itu tengah mendongak ke atas dengan sorot mata tak percaya.


"Hey, ada ap-"


Sebelum aku sempat menyelesaikan pertanyaanku, sesuatu di depanku menarik perhatianku seperti kejut jantung.


Aku tidak bisa bernafas.


Tubuhku ambruk.


Dengan mata yang bergetar …


Kutatapi puluhan kepala kerbau yang menggantung di pohon memenuhi langit.


...***...


Halo semuanya, aku ada rekomendasi novel keren lagi nih. Dijamin gak bisa berenti baca karena seseru itu! Jangan lupa mampir selagi nunggu update dari aku ya~