THE RECORD: Dari Balik Kamera, Dia Mengawasi

THE RECORD: Dari Balik Kamera, Dia Mengawasi
CHAPTER 10: Residual Energy


“ … but their revenge, can.”


Begitu aku mengatakannya …


Primrose tertegun.


Tampak kehilangan kepercayaan dirinya untuk sejenak.


“Sifat manusia itu kompleks.” Dengan ragu-ragu aku melanjutkan. Aku kalut, namun tidak berniat untuk berhenti.


“Kita … kita tidak pernah tau ketika jiwa mereka lepas dari raga, apa saja yang mereka tinggalkan. Mimpi apa yang ingin mereka tuju. Perasaan apa yang mereka punya? Semua emosi itu memang tidak berwujud nyata, tapi dunia di sekeliling mereka merekam emosi dalam bentuk yang paling kecil, yaitu sebuah energi. Residual energy.”


Aku menatap Primrose dan Delilah bergantian. Keduanya masih menatapku lekat-lekat seolah apa yang barusan kukatakan adalah sesuatu yang baru bagi mereka.


“M-mereka pada awalnya juga manusia sama seperti kita. Kita tidak pernah tau energi seperti apa yang mereka keluarkan ketika kematian datang. Emosi yang kuat dan trauma mendalam adalah yang paling berpengaruh meninggalkan jejak energi pada benda di sekelilingnya. Pada entitas yang menyerap. Ataupun, seberapa besar energi yang mereka tinggalkan hingga itu dapat mencelakai seseo–”


“Mmfth–”


Aku berhenti berbicara saat suara tawa yang ditahan terdengar dari mulut Primrose. Gadis itu menutup mulutnya dengan tawa yang terhibur. Di belakangnya Delilah melangkah maju menghampiriku. Rambutku disibak dan diselipkan ke belakang telinga. Lalu gadis itu membuat tanda salib di depan dadanya.


“Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, Amin,” ujarnya dengan nada mengejek. Primrose semakin terbahak di tempatnya.


Mereka mempermainkanku. Mereka tidak percaya apa yang aku katakan. Aku memilih untuk diam.


“Apa yang kau bicarakan, Crawford?” tanya Primrose dengan sisa tawanya–merendahkanku. Namun aku tidak menjawab. Semua yang kujelaskan sepanjang apapun hanya akan dianggap angin lalu. Percuma.


“Kau terdengar seperti dukun.” Gadis itu menyambung dengan ekspresi yang menyebalkan.


“Aku tidak tahu kalau kau banyak bicara. Kukira kau itu bisu,” sahut Delilah di belakangnya menghinaku semakin jauh.


Primrose mendekat. Mensejajarkan wajahnya denganku. Kami bertatapan selama beberapa saat.


“Aku penasaran darimana kau tahu kalau yang akan kita lakukan ini akan mendapatkan uang yang banyak. Tapi baiklah, itu tidak penting untukku. Aku setuju. Lima puluh persen. Asalkan kau tidak menyebarkan apapun, kepada siapapun tentang apa yang akan kita lakukan.”


Aku mengernyit. “Bukankah kita … akan melakukannya di Moutube?”


Aku diam sejenak untuk berpikir. Ada sesuatu yang disembunyikan Primrose.


Namun aku tidak punya pilihan apapun. Ini adalah jalan buntu. Aku bisa saja tidak menerima tawarannya dan memilih untuk bekerja paruh waktu untuk melunasi hutang. Tapi itu akan memakan waktu yang sangat lama sedangkan tempo yang ditetapkan Lawrenceville sudah mendekati tanggalnya.


Meskipun aku sedikit banyaknya merasa cemas. Ini adalah Woodstock highschool yang kita bicarakan. Tempat yang sudah dihilangkan keberadaannya dalam peta. Tempat yang memiliki sejarah kelam. Tempat yang sudah menghabisi seluruh penghuninya.


Primrose tidak tahu apapun yang akan dia hadapi.


Meskipun aku menjelaskannya, dia tidak akan mendengarkanku.


“Tapi Izzy, setelah kupikir-pikir lagi, lima puluh persen itu banyak. Jadi kau harus melakukan beberapa hal lain untukku agar adil.” Primrose kembali bicara dengan nada menyebalkan.


“Apa … yang harus kulakukan?”


“Pertama, kau harus mencari cara bagaimana kita akan menyelinap keluar dari Killington untuk pergi ke Woodstock. Kedua, kau harus melakukan beberapa wawancara kecil perihal kecelakaan di Pittsburgh. Aku tidak peduli kau mau berbohong tentang itu atau terserahlah, tapi yang pasti …” Gadis itu menggantungkan kalimat.


“Buat cerita yang menarik. Kau pasti tahu bagaimana caranya kan?”


Aku menghela nafas sebelum mengangguk patuh.


“Good. Terakhir.” Gadis pirang di hadapanku bangkit hingga tinggi kami kembali tidak sejajar. Aku menengadah menatap wajahnya dari kursi.


“Sebulan lagi kita akan berangkat dan kuharap kau siapkan mentalmu. Karena ….”


Sepasang sorot tajam itu menatapku dengan tatapan licik. Satu alisnya diangkat, ia menyeringai semakin lebar.


“Aku ingin kau yang membacakan Vesta Hestia.”


...***...


Author note:


Halo semuanya, jika kalian menyukai cerita ini, tolong berikan dukungan untuk author dengan like, komen dan vote yaaa~ sedikitnya dukungan dari kalian membuat author untuk semangat update nih 😆 Terimakasih~