THE RECORD: Dari Balik Kamera, Dia Mengawasi

THE RECORD: Dari Balik Kamera, Dia Mengawasi
CHAPTER 16: D-2 (Part 4)


Ring light seketika padam dan layar monitor menjadi gelap gulita.


Sedangkan komentar mulai dipenuhi dengan tanda tanya.


“The f*ck? Ah maafkan aku kurasa ada sedikit kesalahan teknis,” ujar Primrose yang kini berdiri dan keluar dari layar meninggalkanku sendiri.


Entah mungkin suhu pendingin ruangan berada di suhu terendah, aku tiba-tiba merasakan tubuhku menggigil. Dengan cahaya remang-remang dari layar monitor, aku melihat Isaac memegang kabel ring light dan pemuda itu menanti komando Primrose untuk kembali menyalakannya.


Ah, rupanya mereka tengah bersandiwara.


Begitu aba-aba dilemparkan, Isaac kembali menyalakan ring light.


“Ah ini aneh sekali, kenapa tiba-tiba mati ya?” Primrose semakin berpura-pura.


Beberapa penonton menyadari kalau yang kami lakukan hanyalah sandiwara tapi beberapanya lagi ada yang percaya dan menyuruhku untuk melihat apakah aku melihat sesuatu.


“Hantu yang melakukannya?” Primrose membaca sebuah komentar dengan nada terkejut seolah ia terkesiap lalu gadis itu memeluk lengan kiriku.


“Kau melihat sesuatu Izzy? Apakah mereka ada disini?”


Sial. Primrose melemparkan bolanya padaku.


Aku celingukan dengan gugup dan menatap ke sekeliling ruangan, mencoba mencari ide apa yang harus kukatakan.


Namun, tiba-tiba, begitu pandanganku terpaku pada bayangan Noah, aku mematung.


“Apa yang kau lihat Izzy?” Rose kembali bertanya di sampingku. Masih memerankan peran terbaiknya. Sedangkan aku merasakan tubuhku kaku seperti waktu itu.


Di belakang Noah yang sedang memasukan kedua tangannya ke saku celana, bayangan pemuda itu menjulang tinggi sedang lengannya mengangkat perlahan sebatas dada. Di pergelangan tangannya ada sesuatu yang melingkar. Sebuah bayangan jam tangan.


Seketika aku mencium bau petrichor¹, aroma ragi dan bau kecut dari pakaian tak kering


Jantungku semakin berdebar tak karuan. Nafasku memburu. Sedang bayangan Noah yang sedang kutatapi itu melangkah semakin maju menembus tubuh Noah. Aku berdiri ketakutan dan keluar dari layar. Primrose memanggil namaku berulang kali tapi aku seolah tidak bisa menangkap suaranya.


Bayangan itu semakin dekat dan berhenti tepat di depanku. Berbisik kepadaku dengan suara yang sangat pelan.


Aku kaku di tempat. Kehilangan nafas.


Kelima orang disana menatapku dengan bingung dari tempatnya.


Aku membuka mulut dengan kaku, “A-ada penumpang bus di depanku.”


Dan setelah itu ring light kembali padam.


Primrose menoleh ke arah Isaac. Pemuda itu mengangkat kedua tangannya memberitahu bahwa bukan dia yang melakukannya.


Seseorang memadamkan ring light.


Dan kali ini pelakunya bukan salah satu dari kami.


Satu detik berikutnya, lampu kembali menyala. Bayangan itu sudah hilang.


Primrose menatapku dengan kernyitan tegang. Dengan kaku ia kembali menata ekspresinya dan kembali duduk dengan tenang.


“Wah, sepertinya ada yang tidak suka diceritakan,” jelas Rose dengan tenang.


Delilah mengendikan dagunya padaku memintaku untuk kembali masuk ke layar. Dengan perasaan yang masih kacau, aku menurut dan duduk di samping Rose.


“Ceritakan, apa yang kau lihat Izzy,” titah gadis di sampingku.


“K-kurasa, ada sesuatu yang ingin penumpang itu katakan,” jawabku.


Sound effect kembali berbunyi dengan nyaring.


...Radolphy memberikan 10 topi cowboy...


Komentar semakin menggila.


Rose menatap kamera dengan serius. Sedangkan waktu hampir menunjukan jam tiga. Sebentar lagi Hunch akan kembali ke post.


“Karena mungkin kondisinya tidak memungkinkan untuk lanjut, tunggu live streaming kami besok di Woodstock high school dan kita akan mencari tahu apa yang ada disana.”


Victoria: Aku tidak sabar.


Breegu: aku percaya ini karena Radolphy.


Bashnk: Terakhir yang masuk kesana mati lho. Hati-hati yaaa


Sherlock: Akan kutunggu!


Live streaming berakhir.


Hening sejenak sebelum Rose, Ethan dan Delilah bersorak dengan semangat sambil berpelukan.


“Wah, aku tidak menyangka mereka percaya!”


“Apa para eksekutif itu bodoh? Bisa-bisanya dia percaya pada omong kosong kita.”


“Banyak sekali yang kita dapatkan hari ini!”


Teriakan mereka terdengar jauh di balik kesadaranku. Aku masih gemetar dan bernafas tidak beraturan. Noah dan Isaac menghampiriku.


“Kau baik-baik saja?” tanya mereka bersamaan. Keduanya saling menatap satu sama lain sebelum aku menjawab dengan suara parau.


“Aku … bisa tolong matikan AC nya?” pintaku.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Isaac bangkit mencari remot AC. Meninggalkanku dengan Noah yang masih menatapku cemas. Entahlah, kalau kalian bingung kenapa dia begitu, aku juga. Namun, kondisiku sedang tidak memungkinkan untuk berpikir macam-macam.


“Hey, Crawford! Aktingmu lumayan juga. Akan kupersembahkan piala Oscar untukmu!” seru Ethan yang masih menikmati euphoria.


“Ya meski yang tadi itu lucu sekali melihatmu gelagapan seperti melihat hantu sungguhan.” Kekasih Ethan itu masih menertawakanku dengan puas.


“Aku benar-benar melihatnya.” Perkataanku menghentikan pergerakan mereka.


Mereka semua memaku pandangannya ke arahku dengan tawa yang perlahan mereda.


“Apa?” tanya Rose dari tempatnya berdiri. Tatapan mata kucingnya itu menghujam mataku dengan raut meremehkan.


Aku meremas jemariku sambil melanjutkan. “Penumpang itu benar-benar ada disini.”


Gadis pirang itu berdecak jengah. “Jangan mengada-ngad-”


“Don’t go there²,” sanggahku dengan jantung yang semakin berdebar mengingat kalimat yang diucapkan bayangan itu.


Rose mendekatiku hendak protes, “The f*ck are yo–”


Sebelum apa yang aku ucapkan menghentikan langkahnya.


“He said dont go there³ ….” Aku merasakan bibirku bergetar saat mengatakannya.


Bisikan yang sarat akan rasa sakit itu kembali terdengar diingatanku.


Kalimatnya bukanlah sebuah ancaman.


Tetapi sebuah peringatan.


“... or we're gonna die⁴.”


...***...




Bau hujan




Translate: Jangan pergi kesana.




Translate: Dia bilang jangan pergi kesana.




Translate: Atau kita akan mati.