
Tapi ternyata, aku penasaran.
Mungkin saja Steav benar. Mungkin saja aku bisa menyelamatkan kanalku dengan beralih kesana. Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku langsung mencari tahu tentang B.I di internet seperti yang disarankan Steav.
Ada berbagai artikel yang muncul. Salah satunya adalah artikel soal dia yang namanya melejit karena konten podcast horornya di Moutube lalu sampai pada berita tentang penemuan mayatnya–
Wait.
B.I sudah mati?
Aku melepaskan tawa. Entah kenapa hal yang barusan membuatku semakin tertarik.
Aku semakin menelusuri internet mencari nama B.I dan ada satu yang paling menarik perhatianku. Bukan sebuah artikel memang, melainkan sebuah fanpage. Sebuah pesan pop up muncul memintaku untuk mendaftar. Aku berdecak protes tapi tetap melakukannya dengan email palsu.
Begitu aku sudah berada di dalam beranda, sebuah video muncul dengan judul “Extended version”. Aku tidak mengerti konteksnya dengan apa yang dimaksud video yang diperpanjang. Karena itulah tanpa babibu dan aku segera menekan tombol play.
Video itu dimulai dengan suara nafas memburu seseorang dan kualitas videonya seolah direkam dengan kamera ponsel keluaran zaman purba. Kualitas videonya sangat jelek untuk seukuran seorang live steamer kaya.
Ada seseorang yang berbicara pelan-pelan dibalik kamera. Si kameramen, atau sebut saja dia sang streamer.
“Ini dia. Kelas senior di lantai empat dekat tangga.” B.I terkekeh sambil membuka pintu kelas yang nyaris hangus. Memperlihatkan ruangan yang menghitam akibat kebakaran.
Seketika bulu kudukku merinding menontonnya. Kelas itu terlihat … mematikan.
Kotor, sunyi, gelap gulita dan terlihat pengap.
Aku tidak tahu bagaimana mendeskripsikannya tapi damn, sesuatu yang sangat mengerikkan pasti terjadi disini saat itu.
B.I menarik sebuah laci dan pemuda itu berteriak heboh dengan bahagia saat menemukan sebuah kertas usang yang kusut. Tunggu itu bukan kertas. Itu adalah papirus¹. Diatasnya tertulis sesuatu berjudul Vesta Hestia.
“Vesta Hestia,” ucap B.I membacanya. Aku menyunggingkan satu sudut bibirku ketika mendengar nama konyol itu. Namun aku tetap mendekatkan wajahku ke layar untuk mendengarnya lebih jelas. Suara videonya sangat kecil meskipun aku sudah menaikkan volume sampai seratus persen.
“Dalam rengkuh peluk sang Dewi Vesta Hestia …” ucap B.I.
“Aku menemukan diriku mema–”
Video pun berakhir.
“The f*ck?” umpatku tak sadar.
Aku diam sejenak untuk memproses. Video konyol macam apa ini?!
Dengan melepas tawa yang jengah aku menggeleng tak mengerti. Namun jariku kembali menggulir kursor semakin ke bawah. Ada paragraf yang panjang di bawah video.
Sebuah konspirasi. Aku membacanya dengan cepat. Isinya menceritakan bahwa streamer itu sempat hilang selama satu tahun setelah video yang baru saja aku tonton, menjadi video terakhirnya. Lalu kembali ditemukan dalam keadaan tak bernyawa setahun kemudian di dalam bangunan bekas sekolah tempat dia melakukan live streaming.
Namun polisi akhirnya memberikan hasil penyelidikan dengan menyebutkan bahwa kematiannya disebabkan karena percobaan bunuh diri. Kedua mayat lain yang berhasil diidentifikasi, disebutkan sebagai kru. Berdasarkan hasil wawancara keluarga terdekat, B.I sempat beberapa kali pergi ke psikiater akibat depresi yang dideritanya.
Kepolisian menduga bahwa B.I adalah yang membunuh para kru sebelum membakar dirinya sendiri. Tentunya hal ini berdasarkan bukti-bukti yang ada di tempat kejadian. Satu buah pemantik api dan jejak jejak kekerasan pada tubuh para kru adalah salah duanya. Kepolisian mengatakan tidak ada sidik jari lain selain milik B.I yang ada pada bukti. Kasus pun berakhir dengan B.I yang dijadikan tersangka.
Dan disinilah konspirasi diceritakan.
Pertama, kedua mayat itu bukanlah para kru. B.I selalu pergi sendirian ketika dia pergi untuk live streaming. Identitas mereka masih menjadi misteri.
Kedua, aku tahu satu akun bernama twittor @.xxbixx. Di adalah salah satu penonton setia B.I yang menyaksikan live sampai akhir. Setelah berita ini disiarkan dimana-mana, akun itu hilang tanpa jejak. Siapa pun yang menghapus akun itu, aku yakin salah satu anggota platform itu yang melakukannya agar platform itu tidak ditutup. Entah siapa yang mendalanginya.
Sebelum akunnya hilang, ia sempat menuliskan bahwa B.I sempat live kembali sekitar dua puluh menit setelah live pertama dimulai. Namun durasinya sangat singkat, hanya 10 detik saja. Ia mengaku bahwa melihat B.I meminta tolong untuk mengeluarkannya dari sana karena sesuatu mengejarnya. Sebelum sempat pemilik akun merekam, video pun sudah berakhir.
Aku yakin kalau sesuatu yang dimaksud B.I mengejarnya adalah pemilik vesta hestia. The devil.
Jarum jam berdetak dengan kencang selagi aku terdiam memproses apa kubaca.
Aku terdiam sejenak sebelum terbahak keras-keras sampai memegangi perutku. Lihat betapa seriusnya manusia-manusia sok detektif ini mengait-ngaitkan tindak kriminal dengan hal mistis yang aneh-aneh. Namun aku merasa terhibur dan memutuskan membaca lebih jauh.
Kalau memang ini hanya kecelakaan biasa, kenapa Woodstuck Highschool dihilangkan dari peta? Itu karena B.I melakukan live streaming di H**O. Kalian tau sendiri banyak orang yang berkuasa disana. Hal yang mudah bagi mereka untuk menutup kasus ini.
Tulisan pun berhenti disana.
Tawaku berhenti perlahan. Aku sedang berpikir.
Kuketuk meja belajarku dengan jemari selagi aku memutar otak berpikir. H**O. Aku sangat yakin kalau huruf yang disensor itu adalah huruf E dan O. Apa jangan-jangan Steav tidak membual soal platformnya?
Lupakan soal B.I atau apapun itu. Mungkin tidak ada salahnya aku mencoba. Mungkin aku bisa mengembangkan kanalku lebih besar dan hidup mandiri tanpa campur tangan Couper.
Maka dari itu, lima puluh menit berikutnya kuhabiskan untuk mencari tahu tentang HEWO dan apa yang kutemukan selama itu membuatku menyeringai dengan lebar.
Pada akhirnya, kursor ku arahkan diatas link yang diberikan Steav. Mouse kutekan hingga bunyi klik memenuhi isi kamarku.
Halaman googly berubah menjadi merah. Aku berhasil masuk ke halaman.
...Welcome to HEWO....
...Tunjukan duniamu bersama kami....
Sign Up kutekan.
Ada beberapa pertanyaan aneh yang kujawab dengan asal.
...Submit your answer?²...
Aku mengendikkan bahu dan menekan YES.
...Loading …...
Aku menggigit bibir, menunggu.
Dan tiba-tiba saja.
...Sorry, your answers are sucks. TRY AGAIN?³...
...YES or NO...
F*ck, NO!
Aku melempar mouse dengan kesal. Mungkin aku tidak tahu apa-apa soal ini. Aku harus meminta bantuan orang lain yang lebih mengerti. Baiklah, yang ini bisa dilakukan nanti.
Sekarang aku harus menyusun rencana agar para eksekutif tertarik padaku. Aku harus menembangkan kanalku disana mulai dari nol. Tentu saja itu akan memakan waktu yang lama.
Aku menggerakkan kedua kakiku gusar. Mencoba berpikir siapa kiranya yang cocok untuk menjadi booster agar kanalku meningkat pesat.
Dan tiba-tiba saja aku terpikir akan seseorang.
Dengan ini aku sampai pada sebuah keputusan.
Yaitu …
...***...
Menjadikan Izzy Crawford sebagai sebuah jalan pintas untukku.
“Saat glamping, kita akan lakukan live streaming disana dan bacakan Vesta Hestia. Tiga puluh persen penghasilannya untukmu. Bagaimana?”
Gadis cupu pecundang yang namanya tengah dibicarakan dimana-mana itu tampak kehilangan arah. Aku menunggu dengan sabar meski itu bukan bukan keahlianku. Terlebih rambutnya yang seperti gorden itu membuatku kesal setengah mati. Dia terlihat bodoh dan lelet. Argh! Cepat jawab, pecundang!
“Lima puluh,” ujarnya tiba-tiba bicara, mengejutkanku yang tidak siap.
“Apa?”
“Aku ingin lima puluh persen.” Sepasang mata coklat yang menatapku dari tirai itu berkilat berani.
Aku melepaskan tawa. Mungkin aku terlalu meremehkannya yang bersikap terlalu pecundang. Lihat saja mata yang bekilat dibalik rambut tirainya. Padahal sebelumnya kulihat dia ciut nyaris menangis.
Aku berdiri tegak melepaskan rambutnya yang kugenggam. Oke, aku perlu berpikir dan sedikit meredakan emosi.
“Serakah sekali pecundang ini. Memangnya kau bisa apa sela–”
“Woodstock tidak ada dalam peta. Kau kira bagaimana kau akan kesana?”
Aku terbahak mendengar betapa berani nada bicaranya itu. Apa benar dia Izzy si bisu dan pecundang itu?
“Berani-beraninya kau berbicara begitu pada Rose!” Delilah dibelakangku tersulut emosi dan hendak mendekati Izzy namun dia berhenti seketika begitu aku mengangkat tangan guna menghentikannya.
Aku berpikir sejenak. Membawa Izzy dalam live streaming tentunya akan sangat menguntungkanku karena namanya tengah jadi sorotan. Terlebih ini adalah si surat konyol Vesta Hestia yang menjadi penarik para penonton HEWO untuk memberi gift yang banyak seperti yang mereka berikan pada B.I.
Lima puluh persen itu banyak. Separuh dari apa yang akan dia dapatkan. Apa semuanya akan sebanding?
“Kenapa? Kau butuh uang?” tanyaku to the point.
Izzy kelihatan berpikir sejenak, wajahnya yang pucat itu terlalu banyak menyimpan masalah, kurasa.
“Setidaknya kalau aku mati disana, aku bisa meninggalkan uang banyak untuk ibuku.”
Ekspresi jengahku luntur mendengar kata mati. Sekarang aku bertanya-tanya apa yang diketahui Izzy soal surat konyol Vesta Hestia itu hingga ia tampak terkejut.
“Kau percaya? Soal kutukan itu? Oh come on, tidak ada hantu yang bisa membunuh manusia–”
“Hantu memang tidak bisa membunuh ...” Izzy memotong ucapanku dan menggantungkan kalimat. Matanya berkilat akan sesuatu yang aku tidak tahu apa.
Lalu tanpa aku rencanakan, kalimat terakhirnya berhasil membuatku termenung.
“... but their revenge, can.⁴”
...***...
Kertas yang terbuat dari tumbuhan papirus. Zaman dulu orang-orang menulis dengan menggunakan kertas ini.
Trans: Kumpulkan jawabanmu.
Trans: Maaf. Jawabanmu gak banget. Coba lagi?
Trans: ... tapi dendam mereka, bisa.
...***...