THE RECORD: Dari Balik Kamera, Dia Mengawasi

THE RECORD: Dari Balik Kamera, Dia Mengawasi
CHAPTER 14: D-2 (Part 2)


Broadcasting room seketika senyap saat kami berenam mulai terdiam.


Primrose dan aku duduk di depan kamera. Sedangkan Ethan, Delilah, Isaac dan Noah berdiam diri di depan mixing console–duduk tenang tak bersuara di zona blind spot dengan serius. Di tanganku dan Rose terdapat lilin yang sudah menyala dengan api yang sesekali bergoyang mengikuti arah angin yang berhembus dari pendingin ruangan.


Lampu sengaja dipadamkan, sehingga rona orange kemerahan dari lilin, terbias di masing-masing wajah serius kami yang tengah menatap layar monitor. Sedangkan lampu kecil dari indikator kamera berkedip konstan di depan kami. Menandakan bahwa benda itu tengah merekam dan internet yang bertugas mendistribusikan gambar pada penonton sudah terhubung.


Kurasakan jantungku mulai berdebar melihat countdown yang kian menghitung waktu mundur semakin cepat. Tinggal tersisa sepuluh detik lagi. Aku bisa merasakan kami semua menahan nafas. Dengan pikiran yang berkelana, aku menatap halaman kanal dari platform bernama HEWO. Logonya yang berbentuk huruf M kecil dengan liuk di ujungnya menyatu dan membentuk sebuah simbol aneh. Entah kenapa itu terlihat mencurigakan untukku.


Primrose mengatakan bahwa ini adalah platform rahasia yang hanya orang-orang terpilih yang bisa masuk. Dia tidak banyak bicara padaku soal ini. Mungkin karena kami juga tidak begitu dekat. Aku tidak tahu apa-apa kenapa Rose memilih untuk live streaming di platform rahasia alih-alih di kanal moutube miliknya yang sudah dikenal banyak orang. Aku penasaran namun tidak memiliki niat untuk bertanya padanya. Tidak sebelum aku mendengar percakapannya bersama Noah di ruang komputer beberapa minggu yang lalu.


“Tidak. Ini berbahaya. Kau tidak tahu siapa saja yang ada disana. Kalau kita celaka saat melakukan live streaming, tidak akan yang akan menolong kita karena situs ini ilegal. Mereka tidak akan membiarkan publik mengetahui situs ini!” Suaranya yang meninggi menandakan bahwa pemuda itu menolak mentah-mentah ide apapun yang tengah mereka bicarakan.


Primrose di depannya menyisir rambut pirangnya dengan jarinya yang ramping. Terlihat cukup frustasi dari balik pintu dimana aku berdiri. “Noah, kau tahu ini berarti untukku kan? Aku tidak bisa melakukan ini di Moutube lagi. Kumohon bantu aku, lagipula tidak ada yang berbahaya disana. Itu hanya mitos aku jamin,” pinta gadis itu sambil memegang tangan Noah.


“Ini jalan satu-satunya agar aku lepas dari mereka. Kau tidak mau kan aku terus hidup begini?” sambung Rose. Kali ini tatapan Noah sedikit melembut. Mereka bertatapan selama beberapa saat.


“Siapa saja yang akan ikut?” tanya pemuda jangkung itu.


Mungkin Rose melihat Noah perlahan mulai luluh, maka dengan semangat ia kembali memohon. “Kalau kau tidak mau tak apa. Hanya bantu aku untuk masuk dan menjadi anggota, hm?”


Alih-alih merespon kalimat Rose, Noah melemparkan pertanyaan yang membuatku mengernyit. “Apa Izzy ikut? Karena itu kau memintanya bertemu?”


Primrose dan aku tertegun untuk sesaat dari tempat yang berbeda. Kenapa ini tiba-tiba tentang aku?


“Kenapa kau bertanya?” Kudengar Rose kembali bertanya dengan nada tak yakin.


Alih-alih menjawab, Noah mengotak atik sesuatu di atas keyboard komputer dengan cepat. Rose menelan pertanyaannya dalam diam dan ikut memperhatikan apa yang Noah kerjakan. “Aku ikut. Asalkan bawa Isaac, Ethan dan Delilah bersama. Semakin banyak orang semakin baik.”


Pikiranku akan percakapan mereka buyar saat layar di depanku berubah menjadi preview kamera yang menampilkan wajah kami. Rupanya countdown sudah selesai dan kini kamera sudah terhubung ke HEWO.


Belum ada satu menit, tetapi jumlah penonton yang masuk sudah mencapai seribu orang. Komentar mulai bermunculan dengan cepat. Beberapa di antara mereka adalah penggemar Rose dari Moutube. Beberapanya lagi adalah penonton baru yang baru saja mengenal kami dan tertarik untuk menonton setelah membaca judul streaming kali ini.


‘Pengakuan si Gadis mata Tuhan tentang tragedi Pittsburgh’


Rose disampingku merubah ekspresi seriusnya menjadi lebih ekspresif. Mungkin karena ia tidak menyangka kalau jumlah penonton yang masuk melebihi ekspektasinya.


“Seperti yang sudah kalian tahu, ini adalah kali perdana aku bergabung bersama kalian di HEWO. Mungkin ada yang sudah mengenalku sebelum aku terjun kemari … “ ucap Rose. sedangkan aku hanya memperhatikannya dalam diam dari layar monitor.


“Karena ini adalah live special, aku membawa seorang teman yang tentu saja beberapa di antara kalian sudah mengenalnya.”


Ethan di balik kamera memutar lensa guna memperbesar fokus hingga kini wajahku yang terlihat pucat memenuhi layar preview monitor.


Seketika itu juga banyak komentar yang menyebutkan namaku.


Glorify: Bukankah itu si mata Tuhan?


Xylemo: ah aku ingat dia. Namanya Izzy … Izzy something pokoknya!


Vloyan: Izzy Crawford, right?


Coolguy: Bukankah dia gadis yang ada di CCTV Pittsburgh itu?


“Ya, dia adalah gadis dengan mata Tuhan,” ujar Primrose dengan nada jenaka. Aku hanya berdehem canggung tidak tahu harus berbuat apa.


“Dan kali ini dia akan menjelaskan secara rinci apa saja yang terjadi saat kecelakaan besar yang terjadi di Pittsburgh.”


Gift tiba-tiba bermunculan. Penonton tiba-tiba membludak hingga mencapai angka tiga ribu penonton. Aku semakin gugup di tempat.


Primrose meniup lilinnya hingga asap putih mengepul dan membias tersapu udara. Dengan matanya yang berkilat, gadis itu menepuk tangannya sekali dengan semangat.


“Baiklah, bagaimana kalau kita mulai saja?”


...***...