THE RECORD: Dari Balik Kamera, Dia Mengawasi

THE RECORD: Dari Balik Kamera, Dia Mengawasi
CHAPTER 22: The Villager


Author Note: Halo semuanya, sebelum membaca chapter ini, aku punya rekomendasi novel horor misteri yang seru lho! Bagi yang suka mikir dengan bumbu-bumbu seram wajib bgt baca ini terutama penyuka horror. Jangan lupa mampir selagi nunggu update dari aku ya🥰



...***...


Gagak terkikik dari kejauhan.


Entah apa yang membuat si hitam itu tertawa. Mungkin mereka tengah bertegur sapa dengan gagak yang lain, atau mungkin saja menertawai kami yang tak kunjung menemukan ujung dari tujuan.


Seingatku, kami harus melewati sebuah jembatan kayu untuk sampai di gerbang desa. Namun setelah nyaris setengah jam kami menyusuri setapak yang sempit ini, jembatan itu tidak kunjung kelihatan. Yang terlihat sepanjang jalan hanya semak-semak yang pepohonan yang menjulang tinggi memerangkap kami dalam kegelapan.


Padahal matahari sudah sekuat tenaga membantu penglihatan kami. Namun seolah tak mengizinkan, dahan-dahan yang lebat menutupi langit hingga cahayanya enggan masuk. Hanya secuil sorot yang mengintip dari celah dedaunan. Membuatku nyaris tidak bisa membedakan apakah ini malam atau pagi. Beruntung hujan sudah mereda dengan cepat.


“Kurasa sudah banyak yang berubah sejak terakhir kali kau kemari.” Delilah memecah keheningan. Aku menyetujui ucapannya dalam diam. Sudah tujuh tahun lamanya. Tentu saja banyak hal yang terjadi selama aku meninggalkan tempat ini. Itu mungkin saja.


Meskipun terdengar sedikit memaksakan, menjadi suatu yang memungkinkan bagi penduduk desa untuk menghilangkan jembatan guna mencegah kejadian tahun lalu. Namun mustahil bagi mereka mengeringkan sungai yang membentang di bawah jembatan. Akan ada tapak tilas yang menjadi tanda bahwa perairan pernah mengalir dari sini. Seperti batu-batuan sungai yang besar dan struktur tanah yang menjorok kebawah. Dan dengan ini aku menyimpulkan bahwa kami belum sampai.


Perjalanan kami terasa cukup lama dari yang kuingat saat aku pertama kalinya datang kesini.


Dan aku menemukan ini aneh.


Entahlah.


Bisa saja aku salah ingat, kan?


Mencoba untuk berpikir lebih jernih, aku menimpali kalimat Delilah. “Ya, itu sudah lama sekali. Mungkin saja jembatannya tertutup semak-semak,” terka ku asal. Aku tidak ingin membebani mereka dengan menyebutkan kemungkinan bahwa kami tersesat.


Setelah memikirkan itu, tiba-tiba saja Max berseru. “Oh! Sebentar, apa yang kulihat itu jembatan?”


Kami semua menoleh bersamaan ke arah yang ditunjuk Max. Rupanya beberapa meter dari arah timur, sebuah tali tambang membentang dengan longgar di dua sisi. Ada beberapa potong kayu yang menggantung dan beberapanya lagi patah seperti gigi yang keropos.


Benar itu sebuah jembatan.


Yang sudah roboh.


“Crawford, apa benar ini jembatannya?”


SUV memelankan lajunya dan berhenti di dekat semak untuk melihat ke arah jembatan lebih jelas. Jembatan itu memang masih saling menyambung dan membentang dari sisi ke sisi, namun kayu-kayu yang sudah patah membuat jembatan ini kehilangan fungsinya. Ini jelas tidak aman untuk digunakan.


Aku mengangguk merespon pertanyaan dari Primrose.


“Kalau begitu tunggu apa lagi, ayo kita turun. Sudah mau pagi. Kita harus sudah sampai di Killington sebelum malam.” Rose mempersiapkan barang bawaannya–memberi aba-aba. Kamera sudah berada di tangannya dan siap untuk memulai live streaming kembali. Begitu kami ikut melakukan apa yang dilakukan gadis itu, Rose menghentikan kami.


“Kali ini biar aku saja. Untuk solo live streaming kita lakukan di sekolah,” titahnya tegas.


Setelah Rose memberikan perintah pada Max untuk siap-siap memonitor kami dari dalam mobil, kami pun turun dan berdiri di pinggir sungai yang ternyata kering. Hanya tersisa jejak-jejak air yang menggenang akibat hujan deras dini hari tadi.


Rose menyalakan kamera, setelah beberapa saat menunggu, kameranya sudah terhubung ke platfrorm. Ekspresi dingin dan cuek yang sebelumnya terpoles di wajah cantiknya, kini sudah berganti topeng begitu lima ratus penonton pertama sudah masuk. Sapaan pembuka di lempar. Dengan bahasa tubuh yang ceria, gadis itu memperkenalkan kami satu persatu.


Rose berubah dari bunga mawar hitam berduri menjadi bunga matahari dalam sekejap mata. Kadang aku takjub sendiri melihatnya bersandiwara dengan begitu mudahnya.


“Guys, kami sudah sampai di gerbang desa dan sekarang kami akan masuk dengan jalan kaki menuju sekolah. Terus temani kami ya~" Komentar pun segera berlomba memasuki layar dengan sorakan antusias.


Begitu Rose mengalihkan lensa ke arah sungai, ekspresi wajahnya langsung berubah 180 derajat kembali menjadi semula. Mungkin Noah menyadari perubahan Rose, pemuda itu mengambil alih kamera dari tangan Rose dengan lembut. Tatapan yang dilontarkan sarat akan sebuah permintaan maaf. 


"Biar aku saja," tutur pemuda itu menawarkan diri. Delilah dan Ethan bersiul menggoda. Rona kemerahan pun seketika terulas di pipi Rose.


Tentu saja, Isaac.


Entahlah, apa jembatan itu masih layak disebut sebagai jembatan melihat kondisinya yang sudah tua renta.


Sebenarnya akan lebih cepat jika kami melewati jembatan itu untuk menyebrang. Dasar sungai akan menghambat kami karena lumpur memenuhi area itu hampir separuhnya. Tentu saja berjalan diatasnya bukan pilihan yang bijak.


Tapi kami sepertinya tidak punya pilihan lain. Jembatan itu terlihat lebih berbahaya daripada turun sampai berlumur lumpur. Daripada kami terjatuh dan cedera, lebih baik sedikit terlambat.


Dengan langkah yang diambil perlahan, kami berjalan tertatih memilah bagian mana tanah yang setidaknya tidak menenggelamkan kaki. Nafas kami memburu seiring dengan tanah kering yang tidak tersisa.


"Kalau tidak menemukannya, m*ti kita!"


Suara seseorang yang berasal dari seberang menghentikan langkah kami. Dua orang pria berumur sekitar lima puluh tahun awal berjalan tergesa mendekati jembatan. Dilihat dari pakaiannya yang apa adanya sepertinya mereka adalah penghuni lokal.


Para penduduk desa.


Noah meminta kami untuk segera merunduk dan bersembunyi di bawah jembatan yang kayunya jarang-jarang. Mungkin itu tidak akan sepenuhnya menyembunyikan kami tapi itu lebih baik daripada terlihat sebelum kami memulai langkah pertama.


Ethan memeluk Delilah–menyembunyikan gadis itu dalam dekap. Noah dengan sigap menyembunyikan Rose di balik punggungnya sedangkan aku …


Aku mendongak. Melihat Isaac yang menatap jembatan dengan awas di atasku. Lengannya yang merengkuh punggungku mengerat saat dua orang itu mendekat. Menghadapi ini, aku tidak tahu harus bersikap seperti apa. 


"Sebelum petang, kita harus segera kembali." Lagi-lagi salah satu dari pria itu berbicara. Kami menguping dalam diam.


Dari celah jembatan, mereka terlihat berjalan tergesa menginjakkan kaki ke atas kayu jembatan yang rapuh. Surprisingly, meskipun seketika jembatan bergoyang, tapi tambang mengikat kayu-kayu yang tersisa dengan kokoh. Ayunannya yang besar, membuat kami semakin merunduk menyembunyikan eksistensi.


"Tunggu, ada mobil!" Salah satu dari mereka berseru. Pria itu menunjuk SUV milik Max yang terparkir tak jauh dari ujung jembatan. 


"Sh***! Max, penduduk desa melihatmu," bisik Rose dengan panik melalui earpiece.


"It's okay, Rose. Aku bisa mengatasinya. Kalian cepat lari selagi aku mengalihkan atensi mereka," titah Max dengan tenang.


Mendengar komando Max kami pun menunggu kedua orang itu dengan sabar. Setelah mereka lewat, dengan tergesa dan tanpa suara berlari diam-diam.


"Hei apa yang kau lakukan disini?!" Dari earpiece milik Max, suara salah satu penduduk desa terdengar. Nada tinggi penuh ancaman dilontarkan membuat kami berlari penuh ketegangan.


Namun ternyata Max dengan santai menanggapi, "Mobilku mogok. Jadi aku berhenti sebentar menunggu montir."


Setelah Max menyampaikan kebohongan itu, suasana hening. Tidak ada satu suara pun yang kembali melontar respon. Aku bisa membayangkan kedua pria itu bertatapan mendengar jawaban clasic Max. Jantung bertalu dengan tidak nyaman. Perasaan tidak enak sekali lagi merecoki pikiranku seketika.


Aku menoleh, untuk memastikan bahwa semuanya tidak sesuai seperti yang aku pikirkan.


Namun begitu aku menoleh …


Dengan gerakan lambat, salah satu dari mereka mengeluarkan sesuatu dari balik celana belakangnya …


Sesuatu yang mengkilat saat memantulkan cahaya.


Sesuatu yang membuatku menghentikan langkah detik itu juga.


Sesuatu yang aku yakin ada disana karena sebuah tujuan.


Sebuah c*lurit.


...***...