
Holy.
Sh**.
Aku tidak tahan untuk terkesiap begitu apa yang menjulang dihadapanku terpampang nyata di mata.
Teriknya matahari bahkan tidak terlalu membantu. Pepohonannya terlalu menjulang mencakar langit hingga langit seolah meredup. Sedangkan bangunan rapuh nan tua ini berdiri terlalu angkuh di tengah rimbun yang membelukar. Ilalang menjamur sampai ke lantai koridor. Lumut-lumut memenuhi sebagian dindingnya. Tiangnya yang sudah rapuh dan menghitam terlihat seperti tungkai si tua tapi itu tidak juga membuatnya gentar membuat nyali kami meringkuk ketakutan.
Aura gelapnya sungguh menusuk terasa membangunkan kuduk hingga tegang berdiri.
“Damn.” Dari sekian banyak kalimat yang muncul di kepalaku, hanya umpatan itu yang lolos. Rambut-rambut halus di tengkukku tentu sudah berdiri seolah aura dingin membangunkannya dalam sekali kibas.
Mungkin kami memikirkan hal sama, tidak ada di antara kami yang memulai pembicaraan. Semuanya kata seolah terkubur dalam-dalam oleh ketakjuban, kengerian dan apapun itu sebutannya yang membuat kami mematung seperti pengecut.
Sekilas aku menjadi tidak yakin untuk masuk ke dalam bangunan yang tampaknya nyaris roboh jika disentuh.
“Wow! Thi sh** is mega huge!” Ethan membuka pembicaraan. Mulutnya menganga penuh takjub.
Benar.
Bangunan yang terletak di tengah hutan ini benar-benar melebihi ekspektasiku. Memang siapa sangka kalau desa terpencil yang jauh dari peradaban ini mempunyai hidden gem sebesar ini. Mungkin jika bangunannya masih bagus dan kokoh, suasananya tidak akan semengerikkan ini. Tingginya yang menjulang, bergaya classic dan memiliki struktur bangunan kuno, membuatnya terlihat vintage. Pastinya, tujuh tahun yang lalu, bangunan ini lebih mirip seperti sebuah mansion mewah seorang borjouis alih-alih sebuah sekolah.
Sangat disayangkan, keindahan yang terbayang di pikiranku langsung buyar begitu saja begitu melihat cat putih yang mengelupas dan bahkan menghitam hangus karena jilatan api. Jendelanya pecah beberapa dan memperlihatkan teralisnya yang diukir dengan liuk dari tangan indah seorang seniman.
Entah siapa pula yang membuat sekolah semacam ini di sebuah desa. Yang bahkan akses masuknya pun sungguh menguras emosi dan tenaga.
Karena itulah sekarang aku punya banyak sekali pertanyaan.
Aku melirik satu-satunya orang yang mengetahui tentang tempat ini.
Si cupu itu, Izzy Crawford hanya diam saja dengan tubuh gemetaran. Memang cuacanya sedang dingin membeku belum lagi akibat hujan yang mengguyur Vermont beberapa waktu lalu. Namun begitu aku melihatnya lebih dekat, matanya berkeliaran tak fokus menatap bangunan dengan dada yang naik turun dengan cepat.
Sebelum tiba-tiba mataku melotot melihat gadis itu ambruk begitu saja sebelum aku sempat sampai.
“Izzy!”
...***...
Rupanya matahari menyerah membantu kami di pukul satu siang. Awan kelabu kini menggantikannya. Membuat langit semakin gelap seolah malam akan segera datang menggantikan siang. Sepertinya hujan akan mengguyur tak lama lagi.
Sepuluh menit yang lalu Izzy pingsan begitu saja. Isaac membopongnya untuk diletakkan di atas teras berdebu. Itu jauh lebih baik dibanding tanah berlumpur yang becek. Kami kompak menyingkirkan beberapa ilalang yang tumbuh di antara lantai yang retak.
Noah menyentuh pergelangan tangannya guna memeriksa denyut nadi lalu menatap kami. "Dia kelelahan kurasa."
Aku menjatuhkan tubuhku di atas lantai dengan perasaan kesal. Semuanya kelelahan oke?
Kenapa si culun ini merepotkan sekali?!
Aku sungguh tak tahan menggerutu dalam hati. Terlebih Noah terlihat sangat khawatir sekarang. Cih.
"Ck. Merepotkan sekali." Bukan aku yang bicara. Delilah yang biasanya ogah-ogahan dengan urusan begini, kini gadis itu mulai mengobok-obok tas ranselnya mengeluarkan minyak aroma terapi untuk membantu Izzy tersadar.
"What? Apa aku tidak boleh membantu?" protesnya malu-malu membuat semuanya tersenyum.
Kecuali aku tentu saja.
"Dia tadi membiarkan kami masuk lebih dulu di jalan sempit. Tentu saja aku harus balas budi," cicit Delilah.
Entah perasaanku saja atau apa, semakin lama Izzy semakin mencuri semua perhatian teman-temanku. Pertama Isaac, Noah dan sekarang Delilah.
Aku bukanlah orang yang posesif, tapi kenyataan ini membuatku sedikit banyaknya merasa sangat jengkel.
JLEGER!
Kami berjengit terkejut saat tiba-tiba saja petir menyambar disusul hujan yang tiba-tiba turun dengan derasnya. Basah kembali memerangkap kami semua. Beruntung kami sudah berada di teras dengan plafon yang tidak berlubang. Setidaknya kami tetap kering dan hangat.
Kami semua mend*sah pasrah memaklumi situasi sebelum tiba-tiba saja Izzy terbangun dengan cepat mengejutkan kami. Matanya menatap satu persatu dari kami dengan horor dan defensif. Nafasnya memburu tak beraturan seolah saja ia baru saja bermimpi buruk.
"Izzy, hei, ada apa?" Isaac yang duduk paling dekat dengan gadis itu bertanya. Wajahnya penuh rasa khawatir.
Namun yang ditanya hanya balas menatap Isaac dengan sorot ketakutan. Kedua mata itu memandang Isaac seolah pemuda itu sesuatu yang menyeramkan.
"Izzy?" Kali ini Noah yang duduk di sampingku mencoba bertanya dan si culun meresponnya dengan menoleh. Saat itu juga, pandangan si culun itu melembut seperti semua kegilaannya lenyap oleh bius.
Dan detik berikutnya, apa yang dilakukan gadis itu membuat kami terkesiap.
Noah tiba-tiba saja dirangkul dalam pelukan erat. Ibarat sepasang kekasih yang sudah lama tidak bertemu, gadis itu meraung sambil meracau "Aku takut aku takut," beberapa kali. Lengannya mengalung di leher, sedang wajahnya disembunyikan di samping leher.
Kami semua, menatapnya dengan 'what the f**k' look.
Sedangkan Noah, pemuda itu membulatkan matanya tak siap dengan apa yang dilakukan gadis pendiam ini sebelum balas memeluknya dan mengelus punggungnya dengan lembut.
Persis seperti apa yang biasa dia lakukan padaku.
Jariku dilipat dalam kepal. Emosiku sudah memuncak di ubun-ubun.
Belum sempat aku memuntahkan semuanya, mataku yang berkilat penuh amarah bersinggungan dengan sepasang mata licik si culun yang menyeringai kepadaku di balik punggung Noah.
...***...
Author Note:
Halo semuanya! Kaia's baaaack!
Selagi nunggu up dari aku, kalian bisa banget baca novel-novel keren dari temen-temenku yang bikin kalian baper dan penasaran karen ceritanya bagus banget! Yok, jangan lupa mampir yaa~