THE RECORD: Dari Balik Kamera, Dia Mengawasi

THE RECORD: Dari Balik Kamera, Dia Mengawasi
CHAPTER 18: D-1 (Part 2)


Author Note:


Halo semuanya, sebelum lanjut membaca, aku ada rekomendasi novel seru nih dengan alur ceritanya yang keren banget! Jangan lupa mampir ya, selagi menunggu update dari aku 😆



...***...


Menjelang malam, lampu-lampu tenda sudah mulai dinyalakan.


Suhu udara yang semakin rendah membuat kami diharuskan memakai pakaian berlapis untuk menghalau udara beku. Karenanya, beberapa menit lagi kami akan menyalakan api unggun untuk setidaknya menghangatkan tubuh.


Sore tadi, Mr. Beneth mengumpulkan kami di tengah lapangan dan memberitahu bahwa acara pembukaan akan dilakukan nanti malam dengan peluncuran kembang api. Setelahnya, pria itu membagikan nomor tenda ke masing-masing kelas. Aku mendapatkan tenda nomor empat. Letaknya berada di paling ujung dekat dengan toilet dan hutan pinus.


Begitu aku sampai disana, tenda yang berbentuk seperti rumah iglo itu sudah terisi oleh dua orang dari kelasku. Kim dan Jocelyn. Aku menahan diri untuk tidak mengumpat keras-keras.


Dua orang ini … Ck! Kenapa juga aku harus satu kamar dengan mereka?


Kedua gadis itu tengah berbincang dan asik membicarakan sesuatu saat aku membuka pintu tenda. Mereka menoleh sekilas dengan acuh dan kembali mengobrol. Aku melangkahkan kaki dengan canggung dan mulai membereskan barang-barang yang akan kubawa nanti malam tanpa berbicara apapun.


Bukan aku tidak mau, aku hanya tidak terbiasa memulai percakapan dengan mereka. Itu saja. Terlebih dengan orang-orang seperti Primrose. Biar kutunggu saja mereka berbicara lebih dulu.


"Hey Crawford. Kudengar sekarang kau tinggal dirumah Couper?"


Aku tentu saja tidak mengharapkan mereka akan memulai percakapan dengan ini. Dari mana pula mereka tahu?


"Oh my God! Dia tinggal dengan keluarga Primrose? Dang, orang sepertimu bagaimana bisa masuk circle mereka?"


Orang sepertiku, dia bilang.


Ironisnya, ya. Itu fakta. Menjadi sesuatu yang mustahil bagiku menjadi bagian mayoritas jika saja Primrose tidak berniat memanfaatkan ketenaranku. Kalau saja aku tidak terdesak seperti sekarang, aku tidak akan mau menjadi bagian dari para mayoritas. Lihat saja, belum apa-apa gosip tentangku sudah sampai di telinga mereka.


Aku memilih tidak menjawab dan melanjutkan pekerjaanku dalam diam.


"Tentu saja karena dia menjilat! Memangnya alasan apalagi yang masuk akal selain itu? Dia tidak punya apapun yang menjual selain ketenarannya. Itupun karena sebuah tragedi." Lalu keduanya cekikikan seolah apa yang baru saja mereka bicarakan adalah gosip terhangat dari selebritis yang terkena skandal berat. Persis kelakuan seorang haters.


Namun aku tidak protes. Kubiarkan mereka menggosipkanku sampai puas.


Tiba-tiba pintu tenda disingkap dari luar. Delilah masuk dengan gaya arogan, membuat Kim dan Jocelyn menghentikan kegiatan mereka dengan segan seolah seorang presiden yang sedang berjalan ke arah mereka.


Delilah adalah orang kedua yang membuat pengaruh seperti ini setelah Primrose. Mungkin karena gadis ini adalah yang paling dekat dengannya.


"H-hai Eli! Apa kau butuh sesuatu?" tanya Kim dengan ekspresi penuh harapnya. Aku menertawakan mereka dalam hati. Lihat, sekarang siapa yang menjilat siapa?


Alih-alih menjawab, yang ditanya malah berjalan ke arahku dan mengaitkan lengannya ke perpotongan lenganku–sok akrab kalau aku boleh jujur.


"Girls, Rose dan aku butuh dia untuk melakukan sesuatu, jadi tolong bilang pada Mr. Beneth kalau Izzy mabuk kendaraan dan tidak bisa mengikuti kegiatan malam ini, ya?"


Delilah menatap kedua gadis itu dengan intimidasi yang menguar dari tubuhnya. Membuat Kim dan Jocelyn mengangguk patuh seperti wayang yang disetir sang dalang.


"Tenang saja Eli, kami akan jaga rahasia. Tapi kalau boleh tahu, apa … apa yang akan kalian lakukan?" tanya Jocelyn penasaran.


Delilah melangkah maju dan menyelipkan diri di antara kedua gadis itu. Kekasih Ethan itu membisikan sesuatu hingga membuat kedua orang itu terkesiap sambil menutup mulut. Entahlah apa yang Delilah katakan pada mereka hingga bereaksi seperti itu.


"K-kami janji! Rahasia kalian aman bersama kami."


Delilah mengangguk puas dan kembali menarik lenganku keluar dari tenda.


Langit sudah mulai gelap ketika Delilah membawaku ke dalam tenda miliknya. Gadis itu menatap ke sekitar dengan awas. Barangkali jaga-jaga agar tidak ada orang yang akan menguping apapun pembicaraan kita di dalam sana. Begitu kami masuk, di dalam tenda sudah ada Ethan, Isaac, Rose dan Noah.


Pandanganku langsung bersinggungan dengan milik Noah dikarenakan dia duduk berhadapan dengan pintu tenda. Aku berdeham canggung saat aku mendapati Rose yang tengah menyandarkan kepalanya pada bahu bidang milik pemuda itu. Aku pun mengalihkan segera tatapanku dari kedua malibunya.


Dalam hati aku diam-diam berpikir tentang hubungan keduanya.


Noah ... bagaimana aku menjelaskannya.


Dia itu tidak seperti kurcaci primrose yang lain. Mereka terlalu dekat dan kerap kali terlihat bersama. Dilihat dari saat aku tak sengaja menguping pembicaraan mereka, kupikir Rose seringkali menceritakan masalahnya pada Noah. Sedikit … terlihat bergantung kalau aku pikir-pikir. Apa mereka ada hubungan?


Maksudku tidak apa kalau mereka punya hubungan, itu sama sekali tidak mempengaruhi hidupku. Aku hanya … uh …


Penasaran.


Ya, aku hanya penasaran.


"Good. Semuanya sudah ada disini." Mulai Rose membuyarkan lamunanku.


Gadis itu mengangkat kepalanya dari bahu Noah dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.


Enam buah kamera.


Para kurcaci Primrose bersorak takjub melihat usaha gadis yang berdedikasi melakukan rencananya. Ethan yang bersorak paling kencang, mendapat pukulan di bibir oleh Isaac karena terlalu berisik. Bisa saja kelakuannya itu mengundang rasa penasaran orang-orang.


"Masing-masing dari kita akan memegang satu buah kamera dan melakukan solo live stream dari tempat yang berbeda," jelas Rose, merebut perhatian kami dari Ethan.


Kami mengangguk dan masing-masing dari kami mulai mencoba mengoperasikan kamera.


"Okay, seperti yang sudah Izzy rencanakan, kita akan keluar dari sini secara terpisah agar mereka tidak curiga. Disanalah kita mulai menyalakan kamera yang terhubung ke monitor di mobil SUV yang terparkir sebelah utara. Max sudah menunggu disana."


"Max? Siapa? Pacarmu?" goda Ethan keluar dari topik.


Rose melirik Noah sekilas lalu melempar Ethan dengan tutup pulpen. "Hati-hati kalau bicara. Max is gay."


"Ouch! And you are Noah." Godaan Ethan semakin menjadi namun kali ini Rose tidak memperdulikannya dan hanya memutar bola matanya jengah.


Sedangkan Noah hanya diam saja sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Menatapku.


Sh***et!


Aku terkejut.


Sejak kapan dia memperhatikanku?


Aku mengalihkan tatapanku dan kembali menatap Rose yang kembali menjelaskan.


"Aku sudah meminta teman tenda kalian untuk mengcover semuanya. Jadi, setelah acara api unggun hendak dimulai, kita harus segera bersiap dari kamar masing-masing dan pergi melalui jalur di hutan pinus yang mengarah ke lapangan parkir dimana Max menunggu. Seterdesak apapun, jangan pernah lewat jalur utama karena Ben dan para guru berjaga disana,” jelas Rose. Matanya yang berkilat itu terbakar oleh semangat yang membara.


“Ingat. Jangan sampai berpapasan dengan guru atau pun dilihat seseorang atau tidak rencana kita akan gagal." Kami semua mengangguk paham.


Pandangan Primrose beralih padaku. “Izzy, karena tendamu yang paling jauh, aku ingin kau berjalan lebih cepat dari yang lain.”


Aku mengangguk paham, “Baiklah,” ujarku.


Kamera pun dibagikan beserta microphone kecil. Kemudian kami berpisah untuk masuk ke dalam tenda masing-masing.


Ditengah lapangan, semua orang sudah berkumpul saling melempar canda. Kayu bakar sudah dikumpulkan dan para guru sudah mengomando agar semua siswa dan siswi berkumpul saat itu juga. Namun kami tentu saja berlari menghindar dan segera masuk ke dalam tenda.


Begitu lid dibuka, Kim dan Jocelyn sudah tidak ada disana. Dengan cepat kugendong tas bawaanku di punggung lalu memasang earpiece–menunggu aba-aba dari Rose.


Karena mungkin tendaku jauh dari tengah lapangan, dan kini semua orang tengah berkumpul disana, suasana di tenda menjadi sangat sunyi. Hanya terdengar suara sorakan samar-samar dan suara ringkik jangkrik dari hutan.


Langit pun sudah sepenuhnya gelap. Aku mengeratkan scarf yang mengalung membelit kulit leherku. Tak cukup membantu memang, dikarenakan bahannya yang tipis, tapi setidaknya aku tidak membiarkan kulitku tersapu langsung oleh angin beku. Sedang uap sudah mulai mengepul keluar tiap kali aku menghembuskan nafas.


Suara gerusuk dari earpiece yang terpasang di telingaku tiba-tiba terdengar.


“Guys, aku sudah mengirim link. Log in dan segera sambungkan kamera.”


Aku segera membuka ponsel dan satu pesan dari Rose muncul di notifikasi paling atas. Ada email, password dan link yang dikirimkan gadis itu.


Tanpa menunggu lagi, aku mengikuti arahan Rose dan berhasil masuk ke halaman platform. Aku masuk ke profile dan di bagian paling atas, sebuah video live stream sedang berlangsung. Begitu aku klik, halaman berubah menjadi preview yang terbagi menjadi enam layar dan Rose yang tengah melakukan pembukaan, menyapa para penonton yang baru berjumlah dua ribu. Lima diantara layar sudah terhubung dan menampilkan masing-masing wajah kami. Hinggal kamera enam yang belum tersambung. Kamera milikku.


Dengan jantung yang berdebar-debar, aku menekan layar enam dan sebuah pop up muncul di layar ponselku memintaku untuk menghubungkan kamera dengan bluetooth. Aku pun melakukan sesuai perintah dan tidak begitu lama, kamera pun tersambung.


Layar enam yang semula kosong kini sudah terisi dengan wajahku yang terlihat semakin pucat di kamera. Bagian komentar berjalan dengan cepat dan menyebut-nyebut namaku dengan antusias.


Dari earpiece, Rose kembali bicara.


“Semuanya sudah terhubung. Satu menit lagi kita akan berangkat. Dimulai dariku.”


Aku menatap satu persatu wajah Primrose beserta para kurcacinya yang terlihat tegang. Dari kejauhan, suara sorak sorai semakin terdengar dan Mr. Beneth yang memberi komando untuk menghitung mundur.


Kembang api akan diluncurkan dalam hitungan.


“Tiga! “


Inilah saatnya!


Aku berdiri dan mengintip dari pintu tenda. Tidak ada satupun orang yang terlihat. Oke, kurasa ini aman.


Dengan cepat aku keluar dan berlari ke arah hutan pinus dekat toilet. Ada jalur setapak yang mengarah ke dalam hutan yang gelap. Aku menelan ludah dan menyalakan senter dari kamera. Seketika cahaya menyorot menerangi pepohonan.


“Dua!“


Earpiece kembali berbunyi. “Guys, kita berangkat.” Rose mengomando.


Aku menelan ludah.


Sesuai aba-aba dari Rose, kaki ku pun melangkah masuk ke dalam hutan.


“SATU!”


...***...