
“Rose? Ada apa?”
Suara Delilah membangunkanku dari keterkejutan. Aku tidak menjawab. Nafasku tercekat tak bisa terkontrol. Entah karena aroma formalin yang kuat atau karena jantungku yang masih berdetak tak karuan.
Seperti halnya lampion-lampion yang menggantung guna mempercantik pemandangan, penggalan kepala kerbau digantung begitu saja dengan tali tambang. Menjuntai sampai tiga meter di atas kepala.
Sebuah pemandangan gila. Siapa pun yang melakukannya sudah pasti adalah orang tidak waras.
“Kau baik-baik saja?” entah sejak kapan Noah dan Isaac berada di dekatku untuk membantuku bangun. Aku lagi-lagi tidak bisa menemukan kata-kata untuk menjawab. Seolah lidahku ditelan dalam keterkejutan.
“Hey, yang disana! Apa yang terjadi?” Di balik batu Ethan bertanya dengan penasaran.
“Sebaiknya kita batalkan rencananya.”
Aku sontak menoleh pada Noah. “Apa?” Ini bukan aku yang bertanya. Ethan dibelakang sana mulai berisik dengan terus melemparkan pertanyaan.
“Tunggu sebentar jangan kemari,” titah Noah pada yang lain.
Mungkin pemuda itu bisa melihat aku yang menatapnya penuh protes, ia menatapku dengan lekat sebelum mematikan earpiece miliknya dan milikku. Mencegah yang lain mendengar percakapan kami. “Kau lihat sendiri banyak kejanggalan disini,” tekan pemuda itu dengan nada rendah merujuk pada apa yang kami lihat sekarang.
“Kepala-kepala kerbau itu berada disana karena sebuah alasan!” tandasnya melanjutkan. Alisnya yang tebal bertaut menjadi satu. Mungkin ini adalah kali pertama aku melihatnya seekspresif ini.
Seolah belum puas membuatku yakin, Noah kembali menambahkan. “Dan aku yakin itu bukanlah sesuatu yang baik.”
Aku menatap iris Noah yang seperti laut itu bergantian. Aku mungkin bukanlah seorang pakar mikro ekspresi yang bisa membaca kemungkinan sekecil apapun dari mimik seseorang. Seperti halnya pupil matanya yang mengecil merasa terancam.
Sorot mata yang selalu kukagumi bersinar penuh dengan rahasia. Bukan hanya sekedar rasa cemas dan takut yang coba ia sampaikan disini, tapi ada sesuatu yang lain yang tidak ia ceritakan padaku. Sesuatu yang menjadikannya alasan terbesar mengapa ia menolak dengan keras rencana ini sedari awal sampai sekarang.
Padahal dia tahu kenapa aku bersikeras melakukan ini dan apa yang ia lakukan justru membuatku kembali terjun kepada apa yang menindasku. Kembali pada ayahku yang abusive itu.
Aku kesal.
Sekaligus kecewa.
Dengan tanpa memperdulikannya, aku meraih kamera dari tas punggung Noah tanpa bicara apa-apa sedangkan pemuda itu melihatku dengan kebingungan.
“Apa yang kau lakukan?”
Alih-alih menjawab, aku kembali menyalakan earpiece setelah merebutnya dari Noah dan mencoba menyambungkan audio dengan monitor Max.
“Halo Max. kau dengar aku?” ujarku menghiraukan Noah.
“Ya, Rose. Kenapa? Kalian menemukan sesuatu disana?” Max menyahut dengan cepat.
Mungkin pemuda itu tahu apa yang akan aku lakukan, Noah pun langsung membuang mukanya dengan hembusan nafas jengah dan berjalan menjauhiku. Aku tahu dia berpikir aku sudah gila.
Screw it. Memangnya aku peduli?
Haha.
Tidak.
Tidak lagi.
“Sambungkan kameraku dengan HEWO. Kita akan memulai live lagi,” titahku sambil menatap Noah dengan menantang. Pemuda itu menatapku dengan pandangan kecewa. Kucoba sebisa mungkin mengubur rasa bersalahku dalam-dalam.
“Aku mengerti,” sahut Max. Aku pun menyalakan ponselku untuk memeriksa halaman platform. Tak membutuhkan waktu satu menit, aku pun kembali tersambung.
Sejenak, kujauhkan kamera dan memperbaiki raut wajahku sebelum memasang wajah antusias dan berbicara di depan kamera.
“Guys, sebelumnya, aku bilang pada kalian bahwa kita akan kembali bersama kalian kemari begitu sampai di sekolah. Tapi tidak. Ada yang harus kalian lihat disini.” Ku arahkan kamera ke depan dengan perlahan agar para penonton melihat dengan jelas pemandangan gila yang kami temukan.
Lensa menyorot fokus kepada puluhan kepala kerbau yang menggantung dari atas pohon.
“Bagaimana? Bukankah ini gila? Menurut kalian apa yang dilakukan orang-orang desa dengan memenggal kepala kerbau dan menggantungnya disini?” ujarku mencoba menarik perhatian penonton.
“Apa? Kepala apa?” di belakang kami, Ethan dan Delila semakin berisik penasaran.
“Kalian tidak mau melihat ini.” Isaac yang sedari tadi diam menyahut.
Suara Max tiba-tiba terdengar. “Rose, Radolphy memberi 20 topi cowboy!” Sahabatku itu berseru tiba-tiba melapor dengan antusias. Aku menyeringai semakin puas.
“Kita tidak tahu apa itu, kan? Bisa jadi ….” Lensa ku perbesar hingga salah satu kepala kerbau yang tengah menjulurkan lidah memenuhi layar monitor.
“Bisa saja kan kalau ini … adalah persembahan kepada iblis?”
Entahlah. Aku tidak tahu apa yang kukatakan hingga nyaris terbahak oleh perkataanku sendiri. Iblis, kataku?
Ck. Apa selera mereka memang selalu serendah ini? Kenapa mereka tidak meminta wagyu atau apapun itu selain kepala kerbau.
“Good job Rose, penonton semakin antusias! Sudah ada dua eksekutif yang bergabung!"
Sebelum aku sempat merasa lebih puas atas kalimat Max, Ethan dan Delilah di belakang kami berseru panik.
“Sh*** sh*** sh*** ada yang datang!”
“Penduduk desa! Ada penduduk desa!”
Sontak, kuturunkan kamera dengan terkejut. “Apa?!”
Noah mengusak wajahnya dengan kasar seolah mengumpat dalam diam. Sedangkan Isaac mendekat ke pintu jalan dengan panik. “Guys, masuk kesini! Cepatlah! Jangan sampai mereka melihat kalian!”
Aku diam seolah otot gerakku dibekukan rasa panik. S*al*n. Kalau kami ketahuan sedang melakukan live dan menyebarkan apa yang kami temukan disini, aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan pada kami.
Kami menunggu dengan tegang, lagi-lagi jantungku bertalu tanpa bisa dikontrol. Telapak tanganku basah karena keringat. Sedangkan nafasku mulai memburu menunggu kedatangan teman kami yang lain dari pintu jalan.
Ethan dengan suara yang dibuat rendah terdengar paling rusuh dengan mengatakan “Go go go go!” berulang kali tak sabaran. Sedangkan suara hembusan nafas panik perempuan mengiringinya. Entah itu Izzy ataupun Delilah aku tidak yakin.
Samar-samar, dari balik earpiece, terdengar suara asing dari kejauhan.
“Hey! Siapa disana?”
Jangtungku tersentak. Mereka melihat? Penduduk desa melihat!
“Go go go go! Ayo cepat! Cepat!”
“Oh my God! Oh my God!”
“Guys–”
Suara mereka bertiga tumpang tindih secara bersamaan. Gerusukan semakin dekat. Suara langkah kaki berada di depan mata. Tak lama lagi. Tinggal beberapa langkah lagi. Ayolah!
“Come on, Guys,” bisik Isaac penuh harap.
Dari satu meter di depan aku melihat Delilah yang tergopoh-gopoh dengan wajah panik menyisiri jalanan sempit lebar-lebar. Mereka datang. Lima langkah lagi.
Isaac menjulurkan tangan untuk meraih lengan Delilah. Sedangkan suara penduduk desa di belakang sana terdengar lebih dekat dari earpiece.
“Ada seseorang yang masuk rubanah,” ujar penduduk desa dengan nada rendah saat akan rasa cemas. “Ayo kita periksa.”
Suara langkah lain terdengar mendekat.
Semakin dekat.
Delilah dan yang lain terlihat di depan mata. Dua langkah diambil. Satu langkah lagi dan …
Dapat.
Isaac menarik dengan tarikan kuat membuat mereka terhuyung beberapa langkah ke depan. Tepat dimana puluhan kepala kerbau terpampang jelas di mata.
Gadis itu hampir menjerit jika saja Isaac tidak menutup mulutnya dan menarik Delilah untuk bersembunyi.
Kami pun berhasil menjauh dari pintu jalan dengan berlari ke balik dinding batu yang sedikit menjorok. Tak lama, dua orang pria dan wanita yang tidak kami kenal keluar dari sana. Menyusuri pemandangan gila di depan mereka dengan pandangan menyidik.
Aku menutup mulut erat-erat. Khawatir kalau nafasku yang memburu terdengar sampai ke telinga mereka. Jantungku semakin berdegup kencang saat mengintip dari balik sana. Posisiku yang paling depan membuatku harus semakin menenggelamkan diri ke dalam dinding batu yang dingin.
“Tidak ada apa-apa.”
“Tapi tadi aku lihat sesuatu yang masuk kesini.”
Mereka diam sejenak, masih meyakini ada seseorang yang menginvasi apapun nama tempat gila ini.
“Sudahlah mungkin kucing. Ayo pergi," celetuk wanita itu.
Percakapan mereka terdengar beradu nada dengan suara jantung dan nafas kami yang kucoba untuk tidak berhembus terlalu kencang.
Langkah kaki yang menginjak dedaunan kering terdengar mendekati pintu jalan, salah satu dari mereka pergi namun si pria masih belum puas membuktikan kecurigaannya. Dia masih diam di tempat. Menebar pandangan ke seluruh penjuru seperti detektif handal.
Sebelum tiba-tiba pria itu menoleh, sontak aku memundurkan kepala setelah mengintip.
Dan sekarang dia berjalan ke arahku. Langkah diambil dengan pelan. Tinggal tiga langkah lagi …
Satu …
Dia semakin mendekat.
Dua …
Satu langkah lagi.
Tiga …
"Hey! Aku menemukan sesuatu!"
Dia berhenti. Ujung sepatunya berada kurang dari setengah meter dariku. Suara wanita itu menghentikannya sebelum dia memergoki kami.
"Apa yang kau temukan?" Teriak pria itu dan berjalan menjauh sampai suara langkah kakinya hilang di pintu jalan.
Kami diam.
Keringat membanjiri punggung. Nafas memburu berangsur normal meskipun jantung masih berdetak kacau.
Sebelum tiba-tiba, Noah berseru dalam nada rendah dengan panik. Sedangkan matanya berkeliaran ke segala penjuru.
Menatap tajam Ethan dan Delilah dengan pandangan menuntut.
"Dimana Izzy?"
...***...