
Kandungan Fay sekarang memasuki bulan ke 5. Dan itu membuat perutnya semakin membuncit. Fay diprediksi akan melahirkan bayi perempuan.
James memperlakukan Fay dengan sangat protektif. Dia tidak ingin terjadi apapun pada Fay dan bayinya.
"Honey...seharusnya kau dirumah saja...kau akan kelelahan jika disini setiap hari", kata James.
Fay memaksa ikut James ke perusahaan. Dan itu hampir tiap hari. Fay benar benar tidak ingin James jauh darinya.
"Aku tidak akan lelah James..bukankah aku hanya tidur di ranjang saja", kata Fay sambil memakan kripik kentangnya sambil melihat tayangan youtube di televisi.
"Apa kau tidak suka aku disini?", Fay memandang James tajam.
James menghampiri Fay dan mencium pipinya.
"Bukan begitu...disini kau hanya berdiam dikamar dan kadang naik turun ke lobby..kalau di mansion kau bisa menghirup udara segar dan berjalan jalan di taman honey", kata James.
"Tidak..aku lebih suka di dekatmu..tapi jika kau tidak suka, aku akan pulang sekarang", Fay menaruh kripik kentangnya dengan kesal lalu beranjak dari ranjang tetapi James menahannya.
"Aku suka kau didekatku..baiklah..terserah kau saja..kau bisa sesukamu disini", James mencium kening Fay dan beranjak dari ranjang karena tidak ingin memperpanjang masalah ini lagi.
"Wajahmu menunjukkan bahwa kau tidak suka aku disini James", Fay mulai kesal.
James menghentikan langkahnya dan menoleh pada Fay.
"Tidak honey..aku sangat suka kau disini", James berusaha tersenyum.
"Tidak..kau tidak suka..aku tahu itu..senyummu palsu", Fay memandang James kesal.
"Oh God", gumam James lalu menghampiri Fay dan menciumi wajah istrinya yang sekarang sedang dalam mode ngambek.
"I love you honey..aku hanya khawatir padamu..itu saja", kata James lembut dan mengecup bibir Fay.
"Aku benar benar akan pulang jika kau tidak suka aku disini James", Fay melepaskan tangan James yang menangkup rahangnya.
Fay beranjak dari ranjang dan berjalan mengambil tasnya.
"Honey..kau marah?", tanya James.
"Aku tidak marah..aku tidak akan mengganggumu", Fay berjalan sambil memegang perutnya yang besar.
James memegang tangan Fay dan menciummya.
"Jangan pergi honey".
"Aku sudah tidak mood James..perkataanmu seolah olah menyuruhku pergi..aku akan pulang kerumah", kata Fay dengan wajah kesalnya.
James tahu bahwa tidak gunanya berdebat dengan Fay, karena Fay tetap akan memilih pulang kerumah.
"Okey..aku akan mengantarmu", kata James lalu mengantar Fay pulang kerumah.
Sepanjang perjalanan Fay hanya diam. Moodnya rusak gara gara James.
Sesampainya di rumah, Fay membuka pintu mobil dan membantingnya keras tanda bahwa dia kesal.
James menghembuskan nafasnya keras. James turun dan mengantarkan Fay kekamar. Fay masih tidak bicara dengannya.
Fay masuk ke kamar mandi dan menangis. Fay termasuk orang yang jarang menangis. Tetapi karena hamil, hatinya lebih cepat tersinggung dengan segala hal apapun.
"Honey..aku akan kembali ke kantor", kata James dari luar kamar mandi.
James menunggu Fay sampai keluar dari kamar mandi.
"Sayang...buka pintunya..apa kau masih marah padaku?i'm sorry oke?!", kata James.
"Pergilah", kata Fay dari dalam kamar mandi.
"Aku tidak akan pergi sebelum kau keluar", kata James.
James berusaha sabar menghadapi Fay. Benar kata Alex, para suami harus amat sangat bersabar jika istrinya sedang hamil.