THAT DIMPLE GIRL

THAT DIMPLE GIRL
#28


Fay melihat ponsel James yang tergeletak di ranjang. Fay segera mengambil ponsel itu dan segera menelepon Jayden.


Halo sayang..bagaimana kabarmu?maaf mommy tidak meneleponmu kemarin..mommy sangat sibuk", kata Fay yang hampir menangis karena mendengar suara Jayden yang sangat dirindukannya.


"Momm...apakah ini mommy?tapi ini bukan nomer mommy...", tanya Jayden.


"Ponsel mommy rusak..mommy meminjam ponsel teman mommy", jawab Fay


"Are you okey mom?", tanya Jayden lagi. Jayden adalah anak yang sangat peka dengan keadaan di sekitarnya. Jadi dia akan cepat tahu jika terjadi sesuatu dengan sang ibu hanya dari suaranya saja.


"Mommy hanya sedikit lelah sayang..bagaimana liburanmu?apakah kau senang sayang?", tanya Fay.


"Hmm..i'm so happy mom..nanti kita bisa pergi bersama jika mommy libur", kata Jayden.


"Ya..semoga..hmm baiklah mommy akan bekerja lagi..baik baik disana okey?i love you honey..muah..Oiya jangan menelepon nomer ini, oke?!".


"Hmm oke mom..I love you too mom...", jawab Jayden.


Fay cepat cepat menutup teleponnya dan memencet nomer Karina.


"Halo nyonya..maaf aku tidak sempat mengabari..kerabatku sedang sakit keras dan membutuhkanku...aku ingin mengajukan cuti..apakah boleh?".


"Oh God Fay..aku sangat khawatir denganmu..syukurlah kau menghubungiku..vaiklah kau bisa cuti..salam untuk kerabatmu dan semoga kerabatmu cepat sembuh", kata Karina.


"Terima kasih nyonya", kata Fay.


"You're welcome Fay", jawab Karina.


Fay segera menghapus riwayat telepon James kemudian menaruh ponsel itu lagi di ranjang.


James seharian berada di ruang kerjanya. Sedangkan Fay tidak bisa melakukan apapun kecuali memandangi pemandangan danau yang indah di depannya.


Pelayan mengantarkan makan siang untuk Fay di kamar.


"Apa yang sedang dilakukan James, bibi?", tanya Fay.


"Apakah pintu depan masih terkunci?".


Sang pelayan hanya mengangguk. Fay tahu jika dia tidak akan bisa meminta bantuan pelayan untuk keluar dari rumah itu.


Setelah makan siang, Fay keluar dari kamar. Dia melihat ke sekitar dan mencari celah untuk keluar.


Ketika melihat ke arah jendela, banyak pria berpakaian hitam yang menjaga di luar.


'James benar benar mengurungku', batin Fay.


"Kau tidak akan bisa lari dariku Fay", kata James yang tiba tiba muncul dibelakangnya.


Fay terkejut dan berbalik melihat ke arah James. James tak mengenakan bajunya. Hanya celana panjang berwarna hitam.


Fay sadar bahwa dirinya masih tergila gila pada James. Tapi melihat perlakuan James padanya membuat dirinya hilang harapan pada James.


"Sampai kapan kau akan mengurungku James?", tanya Fay dengan suara pelannya yang terlihat pasrah.


"Sampai aku bosan..", jawab James santai dan menghampiri Fay.


Dia menangkup rahang Fay dengan paksa agar memandang ke arah mata tajamnya.


"Hidupmu ada ditanganku Fay..Jangan berpikir bisa bebas dariku", James tersenyum jahat lalu menghempaskan wajah Fay dengan kasar dan kembali ke ruang kerjanya.


Fay tetap berdiri di tempatnya. Air matanya keluar dan memandang sedih ke arah punggung James.


"Maafkan aku...aku tidak punya pilihan lain dulu..aku harus memilih antara kau dan kakakku", kata Fay.


James menghentikan langkahnya.


"Itu bukan suatu alasan..kau bisa memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi daripada menusukku dari belakang..aku sangat bisa membantumu Fay..tapi kau menghancurkan semuanya", James meneruskan langkahnya masuk ke dalam ruang kerjanya.