Rich Girl With System

Rich Girl With System
Misi berubah


‘’Nona senjata ini harus kita beli’’ Kata SP yang membuat Warti terkejut ‘’Eh gak gratis?’’ Tanya balik warti ‘’Tidak nona, jadi setiap senjata di level 11 hingga 100 kita butuh beli karena senjata ini lebih bagus dari pada senjata kita di level kemarin kemarin’’ Jawab SP yang membuat Warti cemberut ‘’Begitu, lalu berapa harganya?’’ kata Warti ‘’500 jt nona’’ Ya warti tentu langsung melongo sampai ia tidak bisa berkata apa apa lagi karena sangat terkejutnya.


‘’Kenapa mahal banget lah?’’ Protes Warti.


‘’Tapi anda bisa mendapat uang hamper 1,5 milyar lebih kalo menang misi ini bukan kah itu balik modal?’’ Tanya SP lagi memberikan argument supaya pikiran tuannya ini terbuka ‘’Ah begitu, oke gas lah beli. Semoga aja menang lagi ya allah aamiin’’ Kata Warti yang membuat SP tersenyum senang karena tuannya ini akhirnya mau menerima penawarannya. ‘’Pilihan yang bijak nona, hmm tapi uang anda mau di buat apa?’’ Tanya SP penasaran ‘’Aku menyumbangkan separonya ke panti asuhan dan juga untuk sedekah fakir miskin di kota ini, sisanya untuk kebutuhan ibu,ayah dan adikku. Juga aku bayarkan zakat’’ Jawab Warti yang membuat SP kini mengerti mengapa sedari tadi malam tuannya ini geger minta di carikan badan amal ternyata Warti memang ingin menyedekah kan uangnya.


‘’Nona tidak ingin membeli sesuatu gitu?’’ Tanya SP yang membuat kepala Warti menggeleng ‘’Aku sudah punya mobil dan rumah bagiku udah cukup’’ Jawab Warti santai sehingga SP tersenyum kecil ‘’Begitu, baik lah kita beli senjata ini ya? Dan mau pergi ke misi kapan?’’ Tanya SP lagi ‘’Nanti aja. Kalo gak ya besok deh, sekarang kita ke rumah sakit dulu’’ Jawab Warti yang membuat SP langsung mengerti ‘’Baik lah nona Lest go’’ Ajak SP sehingga mereka berdua pun segera keluar dari rumah karena ingin pergi kerumah sakit.


Di perjalanan tampak begitu sepi, kendaraan yang lalu lalang di jalan pun sepi karena itu mobil ini bisa berjalan dengan santai ‘’SP aku sebentar lagi ulang tahun tahu’’ Tentu SP langsung terkejut saat mendengar perkataan Warti barusan ‘’Eh benarkah? Kapan anda resmi 19 tahunnya?’’ Tanya SP sehingga warti tertawa kecil ‘’Tanggal 24 bulan ini, kau ingin memberikan aku hadiah?’’ Tanya warti tampak antusias yang membuat SP kebingungan karena ini terlalu dadakan ‘’Ah anda memang ingin apa?’’ Kata SP ‘’Tidak ada, Cuma ingin jadi sukses dan menikmati hidup tidak tertekan oleh pekerjaan dan selalu bisa me time hahaha’’ Sahut Warti dengan santainya, sungguh ia pun ingin tidak stress namun sayang nyatanya kini ia mulai stress karena mendapat uang banyak dan mendapatkan kekuatan misterius.


‘’Itu adalah permintaan mudah’’ Kata SP lirih sehingga Warti berhenti tertawa ‘’Semoga saja..’’ guma Warti lalu tidak ada percakapan penting lagi bagi mereka karena itu kesunyian di dalam mobil ini yang mendominasi sampai tiba tiba SP berkata ‘’Nona tidak mau mengganti nama?’’ Tentu warti terkejut saat mendengarnya ‘’Maksud mu mengganti nama lahir ku?’’ Kepala SP manggut manggut untuk merespon perkataan Warti barusan ‘’Enggak lah, ini nama terbaik dari kedua orang tua ku aku gak mau menggantinya’’ Kata Warti dengan tegas lalu tiba tiba bibir SP tersenyum penuh makna saat matanya yang berwarna biru itu menatap wajah Warti yang cantik itu.


Saat Warti keluar dari mobil ia segera masuk kedalam rumah sakit dan menemui sang dokter yang merawat ayahnya ‘’Eh tumben sekali anda datang kemari?’’ Tanya sang dokter yang membuat Warti cemberut ‘’Saya sibuk dok jadi wajar jarang jenguk jadi ayah saya gimana keadannya?’’ Tanya warti, ia kini sudah berada di dalam ruang kerja sang dokter ‘’Ayah anda baik, hanya saja belum bisa terbangun dari koma. Efek operasi masih belum mampu menyadarkan ayah anda kembali, karena penyakit komplikasi yang ayah anda derita sangat parah’’ Warti mengangguk samar, ia mengerti penjelasan sang dokter yang membuatnya langsung berdiri.


‘’Ya sudah tolong terus rawat ayah saya ya dok, saya permisi dulu ingin menjenguk ayah saya’’ selesai mengatakan itu Warti langsung melangkah kan kakinya begitu saja tanpa menunggu merespon dari sang dokter ‘’Dia gadis yang tangguh’’ Kata hati sang dokter, sungguh jika belum beristri pastilah ia ingin mendekati warti karena kini gadis itu semakin cantik dan sang dokter baru menyadari mata biru milik Warti begitu indah saat di pandang.


‘’Cengep’’ Warti membuka pintu ruang rawat ayahnya lalu ia masuk kedalam, terlihat sang ayah masih terbaring lemah di tempat tidur dan mungkin tanpa bantuan alat medis yang terpasang di tubuhnya sang ayah akan kesulitan untuk bertahan hidup ‘’Cepat sembuh pak, ibu menunggu adik juga’’ Selesai mengatakan itu di telinga sang ayah dengan suara yang lirih warti pun keluar dari ruangan tersebut ‘’Cepat sekali?’’ Tanya sang dokter yang ingin masuk ke ruangan ‘’Aku sibuk..’’ selesai mengatakan itu warti pergi begitu saja membuat sang dokter melongo di buatnya karena warti tampak begitu dingin sekarang. Kini Warti sudah masuk kembali kedalam mobilnya dan SP yang tadi masih menjadi ponsel telah berubah menjadi robot kecil yang imut lagi ‘’Anda tampak murung. Ada apa?’’ Tanya SP hati hati yang membuat Warti menatapnya lalu menghela napas dengan berat.


‘’Ha ah, dulu ayah ku arogan banget udah jelas dia tahu rokok akan membunuhnya perlahan tetap saja di hisapnya’’ Kata Warti. Sungguh ia memang benci dengan hal yang di lakukan ayahnya namun Warti tidak bisa berbuat banyak karena ia memberi nasehat pun tidak digubris oleh ayah nya "Anda jangan sedih nona, sesuatu yang sudah terjadi tidak bisa di ulang kembali" Warti langsung menatap SP saat mendengar perkataan itu "Kau benar, yang penting aku sudah berusaha. Ya sudah yuk berangkat?" Ajak Warti sungguh ia pun berpikir begitu terlebih memang ia tidak bisa berbuat banyak yang penting sudah berusaha memberitahu yang terbaik untuk pengobatan ayahnya, tentang sembuh atau tidak Warti sudah pasrahkan semuanya kepada tuhan.


"Oke lest go" selesai mengatakan itu Sp langsung mengemudikan mobilnya menuju ke sebuah tempat yang sangat sepi dan tidak terjamah oleh manusia.