
Di malam hari yang sunyi lagi lagi efek samping dari obat ini kembali terasa. tubuh warti menggigil hebat keringat mulai bercucuran namun herannya warti tidak merintih sehingga SP tidak menyadarinya. denyut jantung yang semakin cepat membuat warti gelisah namun saat ia membuka mulutnya tidak muncul suaranya begitupun saat warti membuka kedua matanya hanya ada gelap dan hitam pekat.
"sebenarnya aku ini kenapa?" tanya warti didalam hatinya, ia berpikir akan segera mati karena rasa sakit ini begitu nyata menyiksa tubuhnya "tap tap tap" tiba tiba terdengar suara langkah kaki mulai mendekatinya "siapa?" warti ingin berteriak namun kalimat itu hanya mampu terucap didalam hatinya "kau cukup hebat, aku kira saat siang hari tubuhmu akan merasakan sakit seperti ini. ternyata kau mampu berbicara dan melihat meski tidak bisa menggerakan tubuhmu sama sekali." suara itu, suara yang baru warti dengar itu sangat ia kenali "justin.." warti berpikir tentang sosok pria yang di sukainya karena suara itu benar benar mirip dengan suara justin "jangan kuatir, aku akan menjagamu" belum juga warti selesai dengan rasa terkejutnya suara itu kembali membisikan kalimat yang menenangkan di telinga warti.
dan tiba tiba warti merasakan ada yang memeluknya sehingga ia tidak merasa kedinginan lagi karena tubuh pria yang memeluknya ini begitu hangat "sebenarnya kau ini siapa?" warti benar benar ingin melihat sosok pria misterius ini namun na as ia tidak akan bisa menghilangkan rasa penasarannya itu. saat warti mulai bisa merasa tenang pria itu tersenyum saat melihat wajah warti yang tampak tersiksa itu.
"segera lah sembuh dystopia 10 sudah menunggu mu, lagi pula aku sudah tidak sabar ingin melihat evolusi tubuhmu karena di level 11 hingga 20 udah ada monster zombie menunggumu" kata pria bermata biru itu lagi namun warti tidak bisa mendengarnya karena kesadaran tubuhnya mulai hilang.
tepat pukul 3 dini hari pria itu akhirnya berhenti memeluk tubuh warti lalu ia beranjak dari tempat tidur "kau bilang ingin menyelesaikan level 100 namun saya ibumu melarang mu, tenang saja jika dia tidak mau merubah keputusannya aku yang akan menyingkirkan ibumu supaya tidak ada lagi yang mehalangimu" selesai mengatakan itu ia pun langsung melangkah kan kakinya menuju jendela lalu pria itu pun keluar dari rumah warti.
"deg" jantung warti semakin berdebar kencang saat ia mendengar apa yang telah pria itu katakan "ibu.. aku tidak boleh.. aku harus melindungi ibu!" warti di buat panik brutal saat ia pura pura tenang dan menahan rasa sakit ini supaya ia tetap sadar dan mekelabuhi pria bermata biru itu.
dan tidak sia sia usahanya sehingga warti tahu apa tang harus ia lakukan setelah pagi menjelang sedang pria bermata biru itu seelah keluar dari rumah warti langsung bertemu dengan 2 orang pria "kau bodoh atau gimana sih?" pria bermata biru itu tersenyum saat mendengar pertanyaan konyol itu.
"kau berani sekali bertanya begitu, seolah aku ini orag terlemah di antara kalian?" tanya balik pria bermata biru yang membuat kedua pria itu tersenyum "terserah kepadamu, tapi jangan menyesal jika mutan buatan mu bakal kalah duluan sebelum perang" setelah mengatakan itu dua pria itu langsung menghilang begitu saja bagai angin yang menerbangkan dedaunan kering. "cih dasar ular dan kalajengking, cuma andalkan racun saja bangga! tapi mata merah dan darah kalian memang kuakui sangat berbahaya, namun D eyes ku juga tidak kalah berbahaya nya" setelah mengatakan itu pria bermata biru itu pun menghilang.
pagi telah menjelang dan semua mahluk hidup yang tertidur pun terbangun tidak terkecuali warti dan anggota keluarganya "good morning nona" sapa SP saat ia melihat wajah warti yang tampak pucat itu menatapnya "SP kau bilang sudah memasang cctv apa itu benar?" tanya warti yang tentu membuat SP terkejut "iya nona, memang anda melihat ada penyusup?" tanya balik SP dengan ekspresi wajah panik.
"gimana kabarmu mbak?" tanya nurul yang membuat warti tersenyum "masih gak bisa bergerak hehehe" jawab warti jujur yang membuat sang ibu dan adiknya ini tersenyum kecut "ndok sudah jangan lagi kau teruskan main game itu" pinta sang ibu tiba tiba "ah lebih baik jangan bahas itu bu, apa kalian berencana untuk pulang kampung?" warti sengaja mengalihkan pembicaraan karena ia ingin menjaga perasaan SP sang ponsel ajaibnya itu.
"benar, kami memang berencana ingin pulang tapi ibu bingung kondisi mu masih sakit?" jawab sang ibu , sungguh ia sangat mengkhawatirkan anak pertamanya ini "ibu jangan kuatirkan aku, SP bisa menjagaku" mendengar itu kepala SP langsung manggut manggut sambil tersenyum lebar "iya ibu tenang saja, saya akan menjaga nona dengan baik" sahut SP penuh semangat.
"tapi.." keluh sang ibu "iya ibu jangan kuatir, mbak war aman pasti hehehe" kini giliran nurul yang nimbrung membuat mata sang ibu melototinya sedang warti hanya tertawa kecil "adik benar, ibu pulang lah bersama adik tapi SP apa kau bisa buatkan robot untuk melindungi ibu dan adikku?" mendengar perkataan itu tidak hanya membuat SP terkejut, namun juga sang ibu dan adiknya.
"ya tentu saja aku bisa nona, jika anda minta akan aku buatkan sekarang" jawab SP "bagus buatkan sekarang" pinta warti cepat yang membuat adik dan ibunya melongo "pelindung armor tubuh" setelah SP mengatakan itu muncul dua gelang berwarna silver yang langsung ia ambil.
"gelang ini tidak hanya sebagai alat pelacak, namun juga bisa membuat perlindungan seperti layaknya jubah sehingga jika ibu dan nona nurul memakainya bisaa membantu kalian terhindar dari bahaya" jelas SP "ibu, adik ambil lah dan pakai gelang itu segera" pinta warti yang membuat mereka berdua segera menurutinya sehingga kini gelang sudah mengalung di tangan kanan mereka.
"gelang itu tidak akan bisa di lepaskan, jadi ibu dan nona tenang saja" kata SP yang mendapat anggukan kepala sang ibu dan nurul "terus kapan ibu mau pulang?" tanya warti "terimakasih banyak SP, hari ini ibu dan adik mu akan pulang ndok. kami sedang menunggu gojek datang" jawab sang ibu sehingga warti tampak terkejut.
"batalkan pesanannya bu, ibu dan adik naik mobil ku saja. bisa kan SP?" karena setelah mengatakan itu warti langsung menatap penuh harap kearah SP membuat ponsel ajaibnya itu langsung menganggukkan kepalanya "tentu saja nona" jawab SP singkat yang membuat warti berbinar matanya dan tersenyum lebar.
"terimakasih banyak SP ku.." kata warti, karena sangat senang ia ingin sekali memeluk ponsel ajaibnya itu namun "Ah.." seketika mereka semua langsung panik saat mendengar suara warti yang terpekik karena kesakitan itu "makanya jangan pecicilan, udah thu masih sakit" gerutu sang adik yang membuat SP dan sang ibu menganggukan kepalanya setuju sedang warti hanya tersenyum canggung.