Rich Girl With System

Rich Girl With System
Restui aku bu


"aku tidak akan pergi kemana pun jadi kau tenang saja.." setelah mengatakan itu pria itu langsung tersenyum lalu memperbaiki selimut warti "istirahat lah, SP akan menjaga mu" pria itu langsung melangkah kan kakinya menjauhi warti setelah ia merasa tidak ada lagi yang perlu ia pastikan.


saat pria itu keluar dari rumah warti melalui jendela rumah, ia pun bertemu dengan seorang gadis cantik namun sayang tangan kanannya buntung "kau yakin dia orangnya?" tanya gadis itu "masih belum bisa di pastikan, lagi pula masih ada 91 level lagi yang harus dia selesaikan" jawabnya lalu ia pun berjalan mendekati gadis itu "kalo punya mu bagaimana?" tanya balik pria bermata biru itu "sulit mencari serigala yang benar benar serigala, karena kebanyakan manusia itu serigala berbulu domba" jawabnya sangat aneh karena perkataannya terdengar ambigu namun pria itu hanya tersenyum.


"sana kembalilah aku belum butuh bantuan mu.." ujar pria itu terdengar tidak ramah.


"kau mengusirku?" tanya sang gadis kurang suka.


"ya harusnya kau sudah mengerti nona" setelah mengatakan itu tiba tiba pria itu sudah menghilang entah kemana? bagai debu yang di terpa angin hilang tidak berbekas "cih dasar sok cold" guma gadis itu mencibirnya namun tidak berselang lama ia pun ikut menghilang seperti daun kering di terpa angin yang kencang.


keesokan harinya saat warti mulai terbangun dari tidurnya wajah SP yang terpampang jelas di matanya "selamat pagi nona" sapat SP lalu ia tersenyum sehingga warti ikut tersenyum "ah.." namun saat warti mencoba bangun tubuhnya terasa lemas dan bahu kanannya terasa nyeri sehingga ia berdesis kesakitan "nona jangan banyak bergerak dulu, anda sedang masa pemulihan" pinta SP sehingga warti mengangguk samar.


"jam berapa ini?" tanya warti lirih "sudah jam 8 pagi" jawab SP singkat sehingga warti menatapnya "ibu dan aik belum pulang?" kata warti lagi "sudah, mereka lagi masak tadi pulang jam 7 lebih jadi belum matengan" sahut SP sehingga warti tiba tiba tersenyum "nona.." panggil SP yang membuat warti menatapnya.


"ada apa kenapa wajah mu murung begitu?" tanya warti tampak heran "maaf semalam aku mentransfer uang anda 510 juta ke rekening ibu anda, tadi nya 10 juta karena takut kurang aku transfer 500 juta lagi" jawab SP menjelaskan tentang uang karena takut akan di omeli oleh tuannya ini namun tiba tiba hal tidak terduga pun terjadi "hahaha" warti tertawa kecil yang membuat SP tersenyum dan canggung.


"ah kau harusnya memang melakukan itu karena aku sedang tidak bisa melakukan apa pun, bagus lah kau memang robot yang cakap sekali" sanjung warti yang tentu hal itu membuat SP tampak kegirangan karena merasa lega "jadi nona tidak marah kepada ku?" tanya SP ingin memastikan lagi "tentu tidak lah, justru aku ingin berterimakasih kepadamu karena sudah membantu ku" jawab warti yang membuat SP langsung memeluknya.


"hahaha.." dan mereka pun akhirnya tertawa bersama "aduh.. ternyata nona lapar toh?" tanya SP setelah pusa tertawa sedang warti langsung menjawabnya dengan anggukan kepalanya "ya kau bayangkan saja aku habis di terkam singa terus belum makan dari kemarin hmm.." kata warti yang membuat SP langsung terbenang "baik lah tunggu sebentar ya, aku ke dapur dulu" pinta SP setelah melhat warti mengangguk lagi ia pun langsung terbang menuju dapur.


warti langsung menatap kearah jendela "cuaca sangat terik, tapi semalam kenapa aku merasa kedinginan ya? dan suara itu.." warti kembali berpikiran tentang peristiwa semalam , ia seolah mendengar suara justin juga merasakan hawa dingin menyentuh wajahnya. rasanya jika itu mimpi namun lebih nyata "ceklek.." suara pintu terbuka yang membuat lamunan warti langsung buyar.


"makanan datang.." kata nurul sambil berjalan kearah tempat tidur warti bersama sang ibu yang membawa nampan besar berisi makanan "masak apa hari ini?" tanya warti tampak antusias "nanti juga kamu tahu mbak, sini aku bantu duduk dulu" setelah mengatakan itu nurul langsung membantu warti untuk duduk bersandarkan bantal.


"gimana kabarmu ndok?" tanya sang ibu yang membuat warti tersenyum "lumpuh untuk sekarang bu, bahkan untuk menggerakkan 1 jari pun susah. tapi kalo udah sembuh normal lagi kok jadi jangan kuatir hehehe.." jawab warti yang langsung di setujui oleh SP yang sedang duduk di samping bantalnya "syukurlah kalo gitu, ya sudah mari kita makan" kata sang ibu sehingga warti hanya manggut-manggut dan saat melihat nampan ada ayam goreng dan berbagi sayur tumis membuat mata warti langsung berbinar.


"buka mulutnya mbak" pinta nurul yang membuat warti melakukannya sehingga nurul langsung memasukan sendok berisi makanan itu dan warti langsung mengunyahnya "hmm enaknya masya allah" kata warti kegirangan sendiri dan mereka pun akhirnya makan bersama.


setelah hampir 30 menit lebih akhirnya mereka pun selesai makan. "Alhamdulillah aku kenyang terimakasih untuk makanan enaknya" kata warti yang membuat ibu dan adiknya itu tersenyum "iya sama sama" jawab ibu dan adiknya bersamaan "ndok" panggil sang ibu tiba tiba yang membuat warti tampak terkejut sontak langsung menatap wajah sang ibu yang sudah mulai keriput.


"iya bu ada apa?" tanya warti hati hati "semalam ibu di kirimi uang banyak banget, bahkan lebih dari cukup untuk membayar utang.." kata sang ibu yang membuat warti kini mengerti arah pembicaraan ini "iya ibu aku memang sengaja mengirimkan uang sebanyak itu biar ibu tidak kerja lagi dan adik bisa buat usaha sendiri" jelas warti secara singkat yang membuat kepala sang ibu mengangguk "ndok sekiranya jika uangnya sudah cukup untuk membiayai hidup kita dan kita bisa melunasi hutang dan biaya perawatan bapak mu. bisakah kau berhenti saja memainkan game itu?" tentu karena perkataan ibu barusan tidak hanya membuat warti terkejut namun juga SP yang mendengarkannya sedari tadi.


"eh kok ibu bicaranya begitu?" tanya warti tampak panik terlebih saat ia menatap wajah SP sesaat "ibu takut kamu kenapa napa, ibu sedih melihat luka di bahumu itu. ibu gak tega kau pertaruhkan hidup mu untuk terus berjuang membantu kami" jelas sang ibu membaritahu warti tentang rasa kuatirnya selama ini.