
Beberapa minggu kemudian.
Nggak beberapa sih... banyak. Sekitar setahun kemudian lah.
(Ini kalo aku loncat-loncat tahun, tandanya apaaaa? Iyaaa tandanyaaaa jariku kram.)
Di suatu pagi yang panas, di Kampus tercinta.
Abbas menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kesal.
“Kenapa sih hidup orang pada lancar?” dengusnya.
Dari kejauhan, sosok Meneer berjalan ke arahnya, dengan jeans robek di bagian lutut, rokok di pinggir bibirnya dan kemeja hitam yang dikancingkan sampai leher dan bagian lengannya dilipat sampai siku. Rantai kapal... ya tidak sebesar itu sih, pokoknya ada rantai yang menggantung di kantong jeansnya.
Mungkin dompetnya sering kecopetan kali pakai dirantai segala.
Sosok cowok 180 cm itu lumayan ganteng kalau dilihat-lihat. Tapi Abbas memang agak narsis sih, “Gantengan gue anjir,” desisnya.
Kalau dipikir standar ganteng orang-orang beda-beda sih.
Meneer lebih kebarat-baratan secara nenek moyangnya Londo. Sementara Abbas lebih ke campuran Arab-China tapi versi Indonesia. Gimana ya?
Dua-duanya ganteng dan lumayan menarik perhatian, mungkin karena kejombloan mereka. Masalahnya jarang ada orang tertarik dengan Abbas karena penampilannya agak kekanak-kanakan. Tatto dan tindik, aksesoris perak, mata yang pakai eyeliner. Antara KPop tapi Anak Band juga. Amburadul pokoknya.
Tingkah Abbas juga seringkali bikin ilfeel sih. Suka-suka dia saja sok rame sok asyik, bosen dia tinggalin tapi kalo dia yang ditinggalin nangis. Beneran labil.
Sementara Meneer lebih rapi dan elegan, nggak macam-macam dan dia cool banget, Kalau di depan cewek. Kalo di depan teman-temannya... ya tahu sendiri lah bagaimana.
Meneer duduk agak membungkuk di sebelah Abbas sambil ikutan menatap kosong ke arah depan, sementara Abbas duduk di bangku sambil menyandarkan kedua tangannya ke sandaran bangku.
“Bro...” sapa Meneer.
“Cuy...” balas Abbas.
“Udah pamer apa lo hari ini?”
“Ini liat...” Abbas menunjukkan layar ponselnya. “Tabungan gue 150 ribu sudah termasuk biaya admin. Kemarin 80ribu. Hebat kan?!”
“Gimana itu caranya?”
“Judi Online.”
“Menang 70ribu, lo berhenti.”
“Iya udah ada feeling nggak enak. Dosa bro.”
Lalu mereka terdiam, sambil mengamati orang lalu-lalang di depan mereka. Tampak satu dua cewek melirik mereka lalu berlalu sambil cekikikan. Lalu lewat lagi dan curi-curi pandang, lalu lewat lagi dadah-dadah dan kabur.
Di depan sana kegiatan wisuda sedang berlangsung. Mahasiswa almamater Jenny. Dan biasanya kalau ada acara seperti itu, David Yudha dan Susan Tanudisastro, alias orangtua Abbas, diundang sebagai tamu kehormatan. Tapi sekarang Bu Susan berhalangan hadir karena mengikuti Press Conference di Swiss, jadi dia digantikan asistennya yaitu... Om Kevin, ayah Meneer.
“Liat tuh bokap lu,” gumam Meneer.
“Kenapa sih dia suka tebar pesona begitu. Lewat ya lewat aja, masuk mobil, jalan pulang, gitu loh, simple! Nggak harus berhenti dan meladeni cewek-cewek foto bareng... ah elah!! Udah tahu anaknya jomblo!” tanya Abbas.
“Lo tanya gue?” gumam Meneer, “Lagian naksir sama kriminal, ditolak pula. Sudah begitu Jeng netizen nggak ridho. Sukurin...”
Abbas diam. Dan dari arah seberang, Om Kevin datang sambil melambaikan tangan ke Pak David.
“Terus bokap lo ngapain ke sini?” Abbas mengencangkan dasi tipisnya ke atas.
“Ya lo tahu kenapa...” gerutu Meneer.
“Kenapa pas acara wisuda mereka berdua harus ada?”
“Wajar bokap gue jadi tamu kehormatan. Dia mahasiswa almamater pertama kampus ini, sekaligus menyandang gelar kehormatan Egregia cum laude gara-gara skripsinya yang mindblowing, menyatukan konsep Amoeba dan IT, gara-gara dia bosen sering diomelin nyokap dibilang jarang ada di rumah padahal kerjaan menuntut 24/7. Jadi memang dasar otak mager, dia menciptakan AI yang bisa merefleksikan proyektor dirinya sendiri di kantor, sementara badan aslinya di rumah bantuin nyokap nyuci piring! Mirip amoeba, bisa membelah diri!” ucapan Meneer ini terdengar menggerutu.
“Iyaaa gue juga tau yang itu. Aslinya bokap lo jarang ke kantor.”
“Kalau dia bisa Egregia cum laude, gue dituntut harus Maxima Cum Laude!!” seru Meneer kesal.
“Nggak ada yang nuntut lo.”
“Gue nuntut diri gue sendiri! Kalo bokap gue bisa kenapa gue nggak?”
“Obsesi lo itu lama-lama bikin lo sinting. Gue mah IPK 2,5 saja sudah berasa selamet dunia-akhirat. Terserah lo dah.” Desis Abbas.
“Lo itu belajar ekonomi, hafalan semua intinya. Kok bisa IPK Cuma 2,5? Lo tidur di kelas?”
“Jadi?!”
“Dosen Manajemen Keuangan gue Pak Baron.” Maksud Abbas alias dosen Killer.
“Alasan aje lu! Gue sama Pak Ivander saja bisa quis dapet A, kenapa lo cuma segitu?”
“Takabur lo.” Gumam Abbas. “Biasanya yang IPKnya 2,5 malah jadi CEO loh. Yang IPKnya kumlot-kumlot cuma mentok jadi dosen, atau peneliti, atau staf ahli. Tetap saja suruhan CEO.” Abbas menyeringai.
“Sampe lo suatu saat jadi atasan gue-“
“Namanya takdir Meneer. Takdiiiiir. Terima saja nasib loooo,”potong Abbas.
Lalu Om Kevin menghampiri mereka dan nekat duduk di tengah-tengah menyingkirkan kedua anak-anaknya. “Jangan dempet-dempetan duduknya, sensitif.” desisnya.
“Amit-amit, aku juga punya selera kali Pah!” desis Meneer.
“Selera kamu yang bagaimana?”
“Paling nggak yang tampangnya kayak Junot tapi bodynya kayak Jenny.” Kekeh Meneer.
“Si Anggun udah paling bener dah. Tapi jangan yang badannya setinggi itu. rada Mungil dikit lagi.” Desis Abbas.
“Yang kayak Anggun tapi mungil dikit. Wana itu sih.” Desis Om Kevin. “Tampang naif tapi licik.”
“Benci bener sama Tante Wana sih Om?” Tanya Abbas.
“Kalau di deket Wana, saya kena sindrom tololhaseyo, alias sial melulu. Berasa dihipnotis.”
“Diperbudak lebih tepatnya.” Gumam Meneer.
“Kalo didekat ibu saya bagaimana?” tanya Abbas
“Auto ngilang.” Desis Om Kevin.
“Tapi perasaan karib banget sama bapak saya.”
“Ini saya lagi caper biar bisa naik pangkat dan menjauh dari Bu Susan. Makanya rela kesini buat jadi tamu kehormatan di wisudanya Jenny biar duduk sebelahan.” Kata Om Kevin.
“Jujur banget deh Pah.”
Lalu mereka semua terdiam saat David Yudha menghampiri mereka. “Kenapa bertigaan tampang kusut semua?” tanya Pak David. Seperti biasa wajahnya glowing dan senyumnya sumringah.
“Lagi mikirin pipa beton di lapangan Doraemon itu sebenarnya buat apa.” Kata Om Kevin.
“Buat sembunyi dari Giant kan?” tebak Pak David.
“Kita umpamakan Giant itu Bu Susan dan Pak David adalah pipa-nya. Plis sembunyikan keberadaan saya dari Bu Susanlah Pak.” Kata Om Kevin.
“Plot twistnya jangan-jangan pipanya itu portal ke dimensi kultivasi. Kevin, Kamu itu lebih berguna di Amethys Tech. Sabar-sabarin aja, saya saja yang suaminya anteng.”
“Dia lebih sering ketemu saya dibanding bapak.” desis Om Kevin. “Pernah kena jewer di depan peserta seminar nggak Pak?”
“Ya kamu nyetel video wakwakgung.”
“Itu nggak sengaja, bahan referensi semalem.”
“Jangan kekanak-kanakan Kevin. Kamu dibutuhkan di Amethys Tech, ide kamu sudah paling canggih. Kalau kamu begitu terus bagaimana kalau... Susan aja yang saya mutasi?”
“Bener Pak?! Ah serius !!” Om Kevin langsung girang.
“Ya dia sudah saatnya resign sih, biar ngurusin Abbas aja. Tugas Istri kan memang mendidik dan mengurus anak. Kebayang kan bagaimana pinternya Abbas kalau ada campur tangan Susan? Makanya seorang istri kalau bisa lebih baik berpendidikan tinggi. Sementara kita mencari nafkah biar bisa bayar ART dan istri kita nggak terbebani pekerjaan rumah, ngurus anak-anak saja.”
“Aku yang ditumbalin!!” seru Abbas tak percaya sambil berdiri dan mengguncang-guncang lengan pak David.. “Ayah kenapa kayaknya lebih sayang Om Kevin dibanding aku yang anakmu sendiri!!”
“Kevin bisa kabur, tapi kamu kan enggak. Kamu bisa tahan loh 9 bulan di perut ibu kamu nggak protes...” Pak David menyeringai menggoda Abbas
“Kan aku dirantai pakai plasenta ayaaah, mau keluar lebih cepat nggak bisaaa!” rajuk Abbas
“Nggak sia-sia gue ke sini panas-panas macet-macet! Akhirnya bebas dari omelan pagi-pagi!” seru Om Kevin.
“Paling nggak, di kantor aman ya Pah, kalo pulang mah tetap aja disindir Mamah.” Kata Meneer
“Mamah kamu tinggal papah banting ke kasur, udah kalem dia. Bu Susan mana bisa dibanting. Bisa dibantai lakinya...” kata Om Kevin pakai moonwalk karena lagi senang.
“Dia satu-satunya karyawan saya yang bisa kurang ajar. Untung aja jenius, masih saya amati...”