
“Papah berangkat dulu,” kata Pak Banyu sambil berpamitan. Rio mencium tangan Pak Banyu dan menunggu di teras sampai mobil yang dikendarai Papah Mertuanya itu menghilang dari pandangan.
Lalu ia menuju dapur untuk sarapan.
“Kamu nggak jadi... ehem! Ke kantor Papah?” Anggun berdehem karena suaranya masih agak hilang.
Rio tak menjawab, hanya tertawa tertahan.
Anggun mencubit pipi Rio.
“Nggak jadi, kata papah jangan kerja magang dulu, nanti nggak fokus kuliah,” kata Rio.
Anggun duduk di depan Rio sambil menyeruput lemon teanya. Rio di depannya, melahap sandwichnya sambil mencoret-coret modul ujiannya.
“Turunan pola berikut adalah, : aba, abe, abi,...” gumam Rio.
“Jawaban kamu?”
“Hm.... tentu saja : abu, abo,”
“Itu soal bahasa Indonesia atau matematika?”
“Matematika.”
“Jadi jawaban kamu salah. Jawabannya abm, abq.”
“Hah? Kan a,i u,e,o?!”
“Makanya tadi aku tanya, soal bahasa indonesia, atau matematika?”
“Matematika,”
Anggun tersenyum, “Jadi seluruhnya mengenai hitungan. Itu kata kuncinya. Dari huruf a ke e, melewati 3 huruf yaitu b,c,d. Dari e ke i melewati lagi 3 huruf yaitu f,g,h. Dari i... melewati 3 huruf lagi ke?”
Rio meletakkan pensilnya dan menggelengkan kepalanya, “Mindblowing!”
Anggun terkekeh.
“Yakin benar aku, suatu saat anak-anak kita bakalan pinter kayak ibunya, InsyaAllah!”
“Ih, apa sih Rio...”
“Kamu sekolah yang tinggi ya, asalkan sambil belajar sambil didik anak-anak kita.”
“Aku harus sekolah setinggi apa?”
“Setinggi mungkin dong! Kalau ada S4 S5 ambil deh!”
“Buat apa? Nanti kan aku juga kan di rumah mengurus anak-anak kita,”
“Entah akan berkarier atau menjadi ibu rumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi karena ia akan menjadi seorang ibu. Aku nggak mau anak-anakku jadi bodoh.”
“Siap Boss Suami!”
“Jangan Boss lah, Panggil Paksu hehehehe!”
“Ih kesannya tua, masih muda udah bapak-bapak, hahahaha! Ehem!” Suara Anggun makin habis.
“Mas Rio, permisi...” salah seorang ART menghampiri Rio dan Anggun. Keduanya menoleh ke arah si ART dengan mengangkat alisnya.
“Ya Bik?”
“Ada yang cari Mas Rio, di depan. Namanya Adinda. Katanya dia ibu tirinya Mas Rio?”
Anggun langsung gebrak meja, “Ngapain sih- ohok!! Ohok!!”
“Kalem Sayang, aku temui dulu.” Kata Rio sambil beranjak. Tapi Adinda sudah muncul dan masuk melewati pintu, bahkan tanpa melepas alas kaki.
“Kamu- astagaaa,” geram Anggun.
“Ngomong apa sih kamu? Kenapa suara kamu hilang? Lagi sakit tenggorokan ya?” Adinda mengernyit menatap Anggun.
Hampir saja Anggun mendamprat Adinda yang dianggapnya lancang sekali menemui Rio Di rumah orang tuanya, tapi pada akhirnya Anggun tidak melanjutkan amarahnya. Ia dan Rio malah tertegun saat ada dua anak mendampingi Adinda. Yang satu usianya sekitar 3 tahun, yang satunya usianya sekitar baru beberapa bulan digendong oleh Adinda.
“Aku titip mereka ya,” Kata Adinda dengan senyum tipisnya, sambil menyerahkan bayi itu ke Rio.
“Titip?” Rio mengernyit sambi menerima si Bayi, mau tak mau karena sudah dijuntrungin ke depan dadanya.
“Iya,” Adinda mengangguk yakin.
“Aku kabur dari sana,”
“Astaga Adinda... kenapa? Kamu nggak betah? Berantem sama Iptu Rayhan?!” tegur Rio.
“Nggaaaak , nggak berantem. Tapi dia malah terlalu baik padaku. Itu tidak boleh.”
“Tidak boleh bagaimana?!”
Adinda hanya mengangkat bahunya sambil mencibir, “Dia terlalu baik untukku. Nanti yang ada malah sial. Seperti... Ayah kamu. Semua orang yang berhubungan denganku pasti sial akhirnya. Jangan sampai Ray juga kena.”
“Apa sih maksud kamu? Nih urus sendiri anak kamu, mereka kan tanggung jawab kamu!” hal itu Rio lakukan agar mencegah Adinda kembali ke safehouse.
“Mama...” desis si Sulung sambil cemberut, bisa jadi malah hampir menangis.
Adinda berlutut dan berbicara dengan anak itu, “Laras, ini kakak kamu, namanya Mas Rio. Laras sama Mas Rio yaaa, sama Kak Anggun. Kalau ada umur, nanti kita kana ketemu lagi. Mamah pergi dulu,”
Rio mencengkeram lengan Adinda, “Jangan konyol kamu,” desis Rio bersikeras agar Adinda tinggal di sana.
“Aku akan ke Thailand, lokasi pastinya kurahasiakan. Mereka mengejarku sampai safe house. Aku tak ingin keluarga Ray terkena dampaknya. Jadi aku kabur.”
“Pak Iptu tahu atau tidak?”
Adinda menaikkan bahunya, “Kubilang ke mamah jangan bilang-bilang Ray. Entahlah mamah kasih tahu atau tidak,”
“Siapa Mamah?”
“Ibunya Ray,”
“Kamu sudah seakrab itu dengan keluarganya, hadapi dong!”
“Nggak bisa Rioooo!” nada suara Adinda meninggi. “Kamu tahu kan jenis gangster macam apa yang kuhadapi? Jalan keluarnya hanya berlindung ke gangster yang lebih kuat baru mereka berhenti mengejar! Polisi nggak bakalan bisa ngapa-ngapain! Mereka malah akan menyalahkanku! Salahnya lagian kamu ini lah kamu itu lah! Ujung-ujungnya dipenjara. Pas masuk penjara, ya ketemu juga sama antek mereka! Judulnya maju kena mundur kena!”
Tapi akibat nada suara Adinda yang meninggi, Laras malah menangis sambil mencoba menggapai Adinda.
Adinda hanya menghela nafas sambil memeluk anak itu.
“Mamah nggak punya banyak waktu sayang...” desis Adinda. “Kamu akan aman di sini.”
“Adinda...”
“Rio, mungkin Laras akan tantrum sebentar, tapi dasarnya aku jarang berinteraksi dengan mereka karena anak-anak selalu dititip ke orang lain. Bisa jadi Hana juga nggak akan ingat padaku, kok. Aku hanya sebentar mengasuhnya. Hehe,” Adinda tertawa pelan, mencoba bersemangat.
Tapi sedetik kemudian, air matanya turun.
Ia langsung menunduk sambil menaikkan hoodienya.
“Aku pergi dulu, mumpung Laras belum nangis.” Desis Adinda sambil beranjak.
Tapi Anggun menghentikannya.
“Aku buru-buru, ada apa lagi?!”
“Sebentar, diam di sana!” Anggun berbicara dengan suara serak, lalu gadis itu lari ke kamarnya.
“Apa tidak ada jalan lain?” tanya Rio.
“Kamu kenal konglomerat yang memiliki bekingan mafia tidak?”
“Tidak. Tapi mungkin Papah mertuaku tahu,”
“Yaaaah, tapi tidak bisa diusahakan sekarang kan.”
“Tolong beri aku kabar,”
“Aku akan menghubungimu, tapi random waktunya.”
Anggun keluar dari kamarnya sambil menyerahkan tas dengan logo Louise Vuitton ke Adinda.
“Ini tas asli bersertifikat, kamu bisa jual kalau kurang uang ke konternya langsung! Ehem hem!! Di dalamnya ada beberapa perhiasan, buat bekal pelarian kamu! Tapi kuharap kamu bertanggung jawab atas anak-anak kamu dengan Ohokk ohok!! Kembali ke sini dan melihat pertumbuhan mereka juga! Dasar cewek bego! Bisa nggak sih hidup yang lurus dikit gitu?!” susah payah Anggun mengomeli sekaligus memberikan saran ke Adinda, yang ada malah suara batuk dan sumpah serapah.
“Akta dan dokumen milik anak-anak masih di rumah Ray.” Adinda tersenyum tipis. “Makasih ya,” ia mengusap bahu Rio, mengelus pipi Anggun, lalu mengecup dahi anak-anaknya.
Dan Adinda pun keluar dari rumah Rio dan Anggun dengan tergesa-gesa. Ojek Online dengan jaket hijau ada di depan gerbang rumah Anggun, menunggu Adinda.
Wanita itu pergi dengan sekejab mata, seperti kemunculannya.