Rascal In Love

Rascal In Love
Restu Pak Artha ??


(Perhatian : Judulnya Click bait)


**


Junot mondar mandir di depan ruang Operasi, di dalam sana sedang dilakukan tindakan operasi ke Jenny untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di pahanya. Junot menatap jam, masih pukul 9.35 pagi.


Yang ia ingat, tadi malam ia meninggalkan gedung ayahnya jam 1 pagi. Jadi prosesnya sangat cepat. Para polisi berjaga memenuhi rumah sakit dan saat ini Pak Artha sedang dalam perjalanan untuk menemuinya.


Rio keluar dari ruang IGD dan duduk di salah satu kursi ruang tunggu. Tampak sepanjang tangannya dibalut rapi oleh perban. Dan ada jahitan di pelipisnya di tutup kain kasa.


“Tenang aja Not, InsyaAllah Jenny bakal selamat kok. Gue lihat sih dia cuma kecapekan,”


“Dia transfusi dua kantong,” gumam Junot.


“Bangun-bangun makan Indomie juga sembuh, hehe.” Desis Rio.


“Lo ngegampangin banget deh,” gerutu Junot.


“Yaaa, gue liat-liat kondisinya, Not. Si Jenny itu dari kecil badannya sudah terlatih untuk medan perang. Terasa dari struktur ototnya, bahkan keakuratannya menembak di saat ia sedang dalam kondisi kritis. Jenny itu bisa dibilang, lebih kuat dari gue sih. Kecuali dia punya diabetes.”


Junot pun menghela nafas dan kembali mondar-mandir. “Gue nggak tenang. Biarin dulu gue mondar-mandir...”


“Nih, sambil minum.” Rio mengulurkan susu kotak rasa strawberry ke Junot. Sementara dia sendiri menegak air mineralnya.


“Yo... lu ke sini cepet banget? Sudah beda kota loh ini...” desis Junot sambil menyeruput susu kotaknya.


“Ngebut... 4 jam lewat tol Cikopo-Palimanan.”


“Ya tapi ngebut juga terlalu singkat rentang waktunya. Kecuali lo notice duluan di awal.”


“Iya... dari sini.” Rio mengangkat tangannya. Gelang couple milik Jenny masih tergelung di pergelangannya. “Tadi malam nyala-nyala merah kayak alarm. Pas gue liat lewat koneksi bluetooth, mengarah ke sini. Ya gue bingung dong... karena kalau Jenny dan Elo ke bandara, harusnya kan lawan arah. Ini malah ke Jawa. Di saat yang berbarengan, Pak Artha nelpon gue, nanyain keberadaan lo. Katanya pas dia cek ke kamar lo-nya nggak ada. Dia cek CCTV katanya lo keluar gedung bareng Jenny. Gue masih belum ngeh itu soal alarm di gelang couple. Pas polisi dateng, rame-rame, gembar-gembor mau cari lo dan mereka yakin banget dalangnya Pak Kinto, gue diam-diam ke lokasi yang ditunjukin Map.”


Junot menggelengkan kepalanya mendengar cerita Rio.


“Lo nekat banget sendirian ke sini Yo. Itu namanya cari mati!”


“Karena kalo gue rame-rame , si penculik pasti sadar kalau ada alat pelacak, Not. Gue juga nggak bisa percaya siapa-siapa karena gue yakin ada penyusup di salah satu bodyguard atau oknum polisi yang kerjasama. Masalahnya, ini tuh soal emas. Tapi gue hubungin Mereka sih... hehe.”


Abbas dan Meneer datang dengan tas kesek di tangannya. “Sarapan bubur.” Abbas menyeringai sambil mengangkat sterofoam.


“Tapi gue minta Abbas dan Meneer tunggu di area RS terdekat. 30 menit gue nggak dateng, hubungi IPTU Rayhan. Soalnya gue sebenarnya nggak yakin juga lo berdua di sini.” Kata Rio sambil menepuk-nepuk punggung Abbas.


“Gue sampai meluk Abbas waktu Rio nyetir kayak orang gila. Beneran nggak pake Rem...” keluh Meneer. “Ini tangan gue masih gemeteran.”


“Itu mah karena lo laper!” ungkit Abbas. “Eh,eh, tebak harga buburnya berapa sebanyak ini loh?”


“Berapa?”


“Lima ribu anjiiiirrr... jualan atau donasi sih ini Kang Bubur? Kayaknya dia kerja sukarela deh! Mana gue dikasi telor puyuh oy!”


“Lo apresiasi lah itu Kang bubur jadi klien Yudha Mas, hahahaha!” sahut Rio.


“Kang buburnya sudah pergi sambil nangis-nangis.” Desisi Meneer. “Mana gue lupa minta sambel pula.”


“Kenapa??” tanya Junot.


“Si hedon kesenengan dikasih extra telor puyuh, jadi dia transfer ke rekening anaknya Kang bubur 100juta.” Kata Meneer. “Terus si Kang bubur sungkem-sungkem dan pergi dengan gerobaknya. Katanya mau bayar hutang.”


“Hmmm...” lalu semuanya terdiam sambil sarapan.


“Yo...” panggil Junot sambil mengernyit menatap Rio.


“Apaaaa?” Rio lagi asyik ngaduk bubur.


“Jorok ih.”


“Apa’an jorok?!” tanya Rio.


“Diaduk sampe encer begitu buburnya. Nggak rapih deh makannya.” Junot mengernyit.


“Ya malah enak begini kecampur-campur satu rasa. Nah elo, sebelah asin sebelah rasa bawang sebelah lagi rasa cakwe!” tuduh Rio.


“Tapi kan estetik.”


“Mau makan saja lo ribet banget sih Not. Bubur China itu diaduk loh!”


“Ya tapi kan toping di atasnya nggak diaduk...”


“Not, nih...” Meneer memberi Junot potongan ayam. “Keras, nyelip-nyelip digigi. Gue nggak suka. Hehe.”


“Ini bubur ayam, apa perkara makan bubur ayam nggak pake ayamnya?!”keluh Junot.


“Ya ini bubur ayam, kenapa manusia yang makan? Bubur bayi kan untuk bayi. Bubur ayam kan harusnya untuk ayam dong?” goda Meneer.


“Itu jokes bapak-bapak, basi!”


“Guys, foto dulu yuk.” Abbas selfie dengan mengarahkan kamera ke teman-temannya.


Ckrekk!!


“Lo kasih caption apa?”


“Nggak gue posting dulu. Tunggu 10 tahun lagi kita balik ke sini, kita foto lagi di tempat yang sama sambil makan bubur.”


“Kang buburnya udah jadi punya warung bubur pas 10 tahun lagi kita balik.”


“Aamiin.”


**


Pak Artha sampai menengadahkan kepalanya ke sandaran kursi di ruangan direktur rumah sakit, saat ia mendengar penjelasan dari Junot. Sambil memijat dahinya dia berusaha mengatur emosinya.


Junot-nya hanya berdiri di depan Pak Artha sambil menunduk dan kakinya memain-mainkan butiran debu di lantai.


Sementara Jenny sudah berada di kamar inap, mereka kini sedang menunggu Jenny sadar.


Di sebelah pak Artha ada beberapa aparat dari Polri dan dari Polsek setempat.


Setelah lama ketegangan berlalu Pak Artha mengangkat kepalanya dan Junot reflek menutup telinganya.


“GOBLOKKK!!” seru pak Artha keras-keras.


Iya dia sudah tahu bapaknya bakal berteriak begitu. Makanya reflek nutup telinga.


Setelah itu serentetan makian keluar dari mulut si Big Boss.


Junot menerima dengan lapang dada.


Lumayan lama sumpah serapahnya, ada sekitar 30menit dengan intonasi hardikan yang stabil. Menggelegar.


Makanya cari ruangan tertutup, agar tidak mengganggu pasien dan menyebabkan gempa lokal.


Setelah itu. Keadaan hening lagi.


“Terus, Pah...” desis Junot.


Tak ada jawaban dari Pak Artha.


“Kayaknya aku mau tunangan sama Jenny deh. Bulan depan gimana?”


Sumpah, ini anak berani banget. Ya walau pun sama bapaknya sendiri sih.


“Papah telpon Pdt Gilbert dulu, dia masih simpan stock air suci yang dari palung mariana nggak...”


“Di sini adanya yang dari air terjun kembar. Tinggal dibacain  Mazmur 103 dan-“


BRAKK!!


Dan Sang Big Boss berjanggut panjang pun menggebrak meja Pak Direktur RS.


“Maksud kamu tunangan itu apa?! Setelah Jenny mengecewakan Papah dengan cerobohnya mengajak kamu ke arena perang, sekarang kamu malah kesengsem sama dia? Dua kali dia menempatkan kamu dalam bahaya Junot!!” seru Pak Artha.


“Ya kan aku yang mancing dia untuk-“


“Nggak bisa!! Usaha lebih keras lagi buat kisah cinta kalian berdua!! Papah nggak restu! Jenny akan ikut Pak Avramm ke Singapur, dan kamu...” Pak Artha menghela nafas, “Papah harap kamu bisa mencari uang sendiri dulu baru kamu bisa main tunangan-tunangan. Jelas kamu?! Pokoknya jangan pakai uang papah untuk membiayai hidup anak orang!!”


Entah bagaimana, Rio, Abbas dan Meneer langsung menyeringai selebar mungkin.


Ya mereka setuju sih dengan Pak Artha.


“Hal ini yang ngebuat gue masih jomblo sampai sekarang,” bisik Meneer ke Rio.


“Sori banget ini Neer, lo tuh masih bocil. KTP juga belom punya. Chasing lo aja yang Om-Om...” balas Rio.