Rascal In Love

Rascal In Love
Belanja Bareng


Pukul 3 sore, semua anak dengan santai melewati pagar sekolah untuk pulang ke rumah masing-masing. Besok Weekend, dan semua sedang merencanakan akan liburanakhir pekan di mana.


“Bingung gue antara weekend di Spanyol atau Amrik. Duh sebenernya gue bosen main ke sana, sekali-kali gue pingin ke kawasan yang dingin-dingin gitu seperti Kanada atau Alaska, tapi gue takut beruang.” desis Ivory sambil ngaca. Mereka semua sedang berdiri di depan lobi Sekolah untuk menunggu driver masing-masing yang mengantri sepanjang jalan menjemput anak-anak majikannya.


“Emang lu nginep di hutan sampe didatengin beruang? Ngotak doooong!” seru Dahlia terkakak.


“Hey, Ratu Bangkrut, lo gimana? Jangan-jangan weekend lo ke Bali? Hahahah! Kere beneeeer!” mereka menggoda Anggun yang dari tadi sibuk memeriksa ponselnya.


Mereka mengejek Anggun sedemikian rupa karena iri Anggun bisa mendapatkan Rio. Diam-diam, setiap teman-teman Anggun menaruh hati ke pemuda itu.


Dan Anggun sudah tahu hal ini.


“Hm... besok ya?” Anggun berlagak berpikir, “Pagi-pagi mau nge-gym bareng sama Rio, siangnya mau masak berdua, tapi Papahku mau ngajak ke kantor barunya tuh liat-liat. Katanya ada kerja magang buat Rio di sana, siapa tahu Rio berminat nyambi kuliah sambil kerja,”


Semua diam.


“Bokap lo katanya dipecat, gimana sih?!”


“Dulu ada polisi tanya-tanya tentang Ikhsan dan elo, gimana sih? Ada apa sebenarnya?”


“Ada hubungannya dengan lo nggak masuk beberapa hari kemarin?”


Anggun menurunkan ponselnya sambil menatap teman-temannya, dan tersenyum. Seperti biasa dia menanggapi teman-teman Toxic-nya dengan elegan. "Kata siapa sih Papaku dipecat? Spekulasi kalian sendiri kali ya? Dasar lambe!"


Semakin Toxic mereka, semakin puas Anggun. Karena di akhir kalimat, tetap saja Anggun yang menang berdebat. Karena itu ia tidak menghindari dari mereka tapi juga tidak mendekati mereka. Dan nyatanya berkali-kali di skak-mat mereka tetap mengikuti Anggun ke mana-mana. Anggun malah lebih nyaman bersama Mecca dibanding dengan teman-temannya sendiri.


“Papah aku resign dari Kantor Lamanya, Kantornya Pak Kinto, Tahu kan ya siapa Pak Kinto? Bapaknya Ikhsan? Yaaa itu, karena dia direkrut oleh Arghading Corp untuk menggantikan manajer investasi mereka. Jabatan itu sudah lama kosong sejak manajer terakhir terkena kasus penggelapan dana. Saat resign itu dia dikasih kompensasi 120 miliar.”


Semua ternganga mendengar penjelasan Anggun.


“Tapi kalo soal aku jadi bangkrut sih yaaa, enggak lah ya. Istilahnya apaa yaaa... aku dituntut untuk lebih hemat saja. Mulai sekarang untuk jajan aku, Rio yang kasih soalnya, dia nggak ngasih banyak-banyak, dijatah."


"Kok bis alo dijatah sama Rio? Lo tuh baru pacaran loh Nggun! Mau-maunya!"


"Yaaa bisa dibilang... latihan jadi istri.” Kekeh Anggun


“Latihan Jadi Istri?!!!” seru semuanya kaget.


Anggun mengangguk, “Aku cinta banget sama Rio,”


“Sampai segitunya Nggun?!”


“Sampai segitunya perasaanku ke Rio. Jadiiii... Kalau besok kalian melihat ku di rumah cuma pakai daster, rambut digelung ke atas, muka berminyak, yaaa mohon maaf, heheheheheh!”


“Astagaaaa Anggun! Pede banget lo bakalan nikah sama Rio!! Masa muda lo masih panjang Nggun!"


Anggun tersenyum memnanggapi mereka, “Papahku sebenarnya masih mau ngasih aku jajan seperti biasa, tapi ya Rio bilang lebih baik uang papah ditabung. Karena bisa jadi suatu saat dia akan nikah lagi dan punya keluarga sendiri,” kata Anggun.


“Tapi kan nggak harus turun kasta gini, Nggun.”


“Pengalamanku mengajarkan, Kasta paling tinggi pun tidak menjamin tingkah mereka tidak kampungan. Dan Kasta paling rendah belum tentu hidup mereka tidak beradab. Buktinya, Ikhsan yang sekaya itu, ngasih aku Hermes curian... kurang norak apa coba?” Anggun mengangkat bahunya dan menatap teman-temannya.


“Teman-teman Rio, lihat?” Anggun menatap Rio Cs di seberang jalan yang sedang tertawa-tawa dengan motor bodong mereka. Mereka sedang mengagumi mobil baru Rio.


“Kurang kaya apa mereka? Tapi lihat gaya hidupnya... mereka berteman dengan tulus. Dan lebih bangga kalau sesuatu dicapai dengan tangan mereka sendiri, bukan pemberian bapaknya seperti kalian ini.” Anggun tersenyum sinis sambil berjalan menghampiri Rio.


**


“Anggun!! Woy Nggun!” Abbas nekat maju dan mengacungkan tangannya ke depan hidung gadis itu.


“Apa sih kamuuu, kotor ih!” Anggun menepis tangan Abbas.


“Temen gue yang di sana itu, Tolooooong banget! Kalau tingkahnya nyebelin, cuekin aje! Lo cium juga sembuh! Okeee... pokoke lidah lo tuh dikunci lah jangan nyelekit-nyelekit banget! Rio sangar di depan, tapi hati Donal Bebek, sensitif!”


“Anying! Ngomong apa lo bahlul!” seru Rio sambil melempar stella jeruk ke arah Abbas.


“Mobil lo TJ Wrangler masih pake Stella jeruk! Macam dalamnye mobil sedot wc aje!!”


“Emang lo pernah tahu  mobil sedot WC kayak apa?”


“Sering liat di jalan, tapi kagak tahu bokap gue pernah pakai jasanya apa nggak. Metode septic tank di rumah gue mungkin langsung dimasukin jet terus dilebur di matahari kali ya, seumur-umur belum pernah liat mobil sedot WC nyangsang di rumah gue,”


“Ini stella juga nemu dilaci mobil. Bekas pemilik sebelumnya kayaknya. Gile baunya bikin gue keliyengan hahahaha!”seru Rio.


“Makanya lu lempar ke gue?! Biar gue lebih fresh dikit gitu?! Ta1 lu!”


“Pakai Stella yang khusus buat mobil dong Rio. Yuk ke Supermarket, beli dulu. Sekalian jalan-jalan?” tawar Anggun dengan senyum manisnya.


“Si Anggun tau juga merk sejuta umat, gue pikir pengharum mobilnya pake Jo Malone,” gumam Junot.


“Kita ikut laaaaah!!” seru Abbas langsung ceria.


“Nggak cukup nampung lo semua! Motor lu simpen di mana?”


“Pangku-pangkuan doooong! Motor di sekolah aja,”


“Ribet lo!! Sana raib! Gue mau pacaran!!” seru Rio sambil mengusir teman-temannya.


**


“Ganti baju dulu yaaaa,” Anggun mengambil dress dari kotak bekalnya dan membentangkannya. “Pakai seragam nggak boleh masuk Mall.”


“Hm,” Rio hanya mengamati Anggun sambil bersandar di kursinya.


“Kamu dari awal memang bisa nyetir mobil ya?” tanya Anggun sambil membuka kancing seragamnya.


“Hm... nggak,” Rio masih menatap Anggun membuka satu persatu kancing bajunya.


“Kok kayaknya lancar banget tadi?” Anggun membuka kemejanya, kini ia hanya berbalut b ra berenda. Terlihat gundukan menawan mengintip dari sela cupnya.


“Gampang ternyata,” gumam Rio sambil menelan ludahnya.


“Mungkin kamu bisa ajari aku kapan-kapan,” kata Anggun sambil melepaskan rok-nya ke bawah.


“Beli pengharum dan beli bahan buat bikin Sando,”


“Sando tuh apa?”


“Itu, roti isi krim dan buah yang tadi aku beli di kantin,”


“Krim ya...” pikiran Rio langsung terbang melambung ke alam lain. Boleh juga krimnya kalau dioleskan di-adek gue, terus dijilat si Anggun.


“Rio?”


“Eh?” Rio terkaget.


“Kamu bengong? Capek?”


Rio terkekeh “Nggak, Cuma h0rny aja,”


Anggun diam, wajahnya langsung merah. “Iiiih Rioooo!”


“Kenapa kamu malu, aku kan suami kamu,” desis Rio.


Anggun buru-buru memakai dressnya cepat-cepat, “Kita masih di Mall!”


“Jangan kelamaan, nanti keburu ku-eksekusi di mobil,”


“Nggak gitu ih!” Anggun mencubit lengan Rio.


**


Sepanjang perjalanan ke Mall mereka bergandengan tangan, suasana  Mall dipenuhi dengan pegawai kantoran yang berkelompok.


Anggun tampak dengan seksama memilih pengharum mobil dan membanding-bandingkannya.


“Lama amat kamu di situ? Perasaan waktu milih bahan kue cuma sebentar,”


“Aku baru tahu kalau merknya ada banyak dan wanginya enak-enak. Selama ini aku nggak perhatian. Driver papah yang mengatur semuanya.” Lalu ia ke arah rak reed Diffuser. “Astagaaa, harganya semurah ini, wanginya enak bangeeeeet!”


“Memang yang dikamar kamu kenapa?”


“Kamu nggak bakal mau tahu,” desis Anggun sambil menggelengkan kepalanya.


Rio menghela nafasnya, "Maaf ya.”


“Maaf?”


“Iya, maaf. Gara-gara aku kamu harus menekan gaya hidup kamu. Aku tahu itu nggak mudah. Aku merasakannya dulu setelah Ayahku meninggal,”


Anggun terdiam mendengarkan Rio.


“Saat ini, hanya ini yang bisa kuberikan untukmu. Tapi aku akan berusaha sukses agar kamu bisa hidup enak-“


Anggun mengecup bibir Rio untuk menghentikan kalimat cowok itu.


Erat sekali.


Ia melingkarkan tangannya di leher cowok itu.


“Nggak Rio, jangan minta maaf, tolong!” desis Anggun.


“Emh?”


“Yang kamu berikan padaku adalah hampir seluruhnya darimu. Sementara yang orang lain berikan padaku adalah sebagian kecil dari milik mereka. Papa memberiku jajan 10 juta di saat gajinya 150juta. Sementara kamu memberikan jajan 1 juta di saat penghasilan kamu 6 juta. Dari presentasinya saja sudah beda sekali, Rio. Bukannya aku tak menganggap Papa tidak sayang padaku ya, aku hanya mencoba memberi contoh.”


“Hehe, aku mengerti kok maksud kamu,”


“Kalian berdua, Papa dan Kamu, adalah orang-orang yang sangat berarti bagiku. Kalian selalu ada di sekitarku. Jadi bayangkan pentingnya kalian dalam kehidupanku. Demi kalian, aku akan berusaha memperbaiki gaya hidupku, sifatku, tingkahku, hal-hal yang sekiranya berkenan di hati Kamu dan Papah.”


“Hm,” Rio merapikan rambut anggun yang menutupi kening, lalu mengecup dahi gadis itu.


“Mau masak apa malam ini?” Rio merangkul bahu Anggun sambil melanjutkan perjalanan


“Ehehehehe, aku lagi lihat resep cah daging sapi,” Anggun memasukkan pengharum mobil ke keranjang dan merangkul pinggang Rio.


**


“Gila, kebersamaan mereka mencengangkan!” desis Meneer sambil menggigit choki-choki belum bayar-nya.


“Sanaan dikit, kaki gue keinjek, bego!!” desis Abbas sambil mendorong Agung ke belakang.


Mecca menarik-narik lengan Meneer, “Damian, Damian, mending kita ke Chatime aja minum Bobba, daripada buntutin-“


“Diem lu curut centil ! Bas, kondisikan adek lu Bas!” gerutu Meneer sambil meraup wajah Mecca.


“Ca, lu ke konter yupi aja sama Junot, tuh dia udah standby persediaan bulanan!” Abbas mengusir Mecca.


“Eh, Yupi ada yang bentuk Pizza! Keren banget gilaaaa!” seru Junot di kejauhan.


“Kak Agung mau kemana?” tanya Mecca saat Agung mulai menjauh.


“Bosen, mau liat ikan aja di sana,”


Mecca akhirnya mengikuti Agung, “Ngapain liat Ikan?”


“Kan lucu berenang-renang,” kata Agung.


“Ya tahu mereka berenang. Memangnya ada keistimewaan lain selain ikan bisa berenang?”


“Ada dong istimewnya, mereka hidup di alam yang tidak bisa kita tinggali. Tahu nggak kamu, NASA itu sampai menghentikan eksplorasi ke lautan dan akhirnya malah jor-joran meneliti luar angkasa, seakan mereka mau nyari tempat lain selain Bumi. Bikin bertanya-tanya, apakah yang mereka temukan di lautan sampai mereka mau kabur keluar bumi?”


“Widih, Kak Agung kalau lagi kesurupan kok keren banget ya. Kesurupan aja terus Kak.”