
Saat Anggun dan Rio datang, mereka langsung disambut oleh seorang wanita cantik yang langsung memeluk Anggun di depan gerbang.
Mereka berdua sebenarnya tidak saling kenal sebelumnya. Tante Nirmala, Mamah Meneer, bertemu Anggun saat acara Wisuda, dan sejak itu mengobrol akrab. Ditambah, Anggun sedang hamil, jadi Anggun membutuhkan figur seorang ibu untuk keluh kesahnya. Jadilah mereka bestie dalam sekejab.
Mama-nya Meneer adalah seorang wanita cantik berusia sekitar 50 tahunan, bisa lebih malah kalau dihitung dari usia di KTP. Memang perbedaan usia pasangan suami-istri Cakra ini jomplang sekali sih. Papanya Meneer menikah dengan istrinya saat seusia Rio. Dan selama ini memang yang jadi patokan Rio untuk semangat berusaha menggapai cita-cita memang adalah sosok papanya Meneer ini. Terbukti, menikah di usia muda tidak menghalanginya untuk sukses di masa depan, walau pun masa lalu kelam dan kenakalan kerap terjadi, hal itu menjadi antisipasinya sebagai orang tua untuk mengajarkan luasnya dunia ke anak mereka.
Masalahnya, saking sempurnanya Papanya Meneer, Meneernya jadi termotivasi untuk selalu... berkompetisi.
Yah, bagus sih.
Tapi lebih banyak nggak bagusnya.
Mindset ‘kalo bokap gue bisa, gue juga bisa dong?’ itu tertanam di otak Meneer dalam-dalam. Padahal takdir orang beda-beda.
Jadi, Papanya Meneer, anak-anak biasa memanggilnya Om Kevin, saat ini bekerja di Amethys Tech. Dia asisten manajer untuk pengembangan soft ware. Boss di atasnya persis adalah ayahnya Agung. Yang mana, ayahnya Agung lebih sering menghandle pekerjaan untuk cabang luar negeri, jadi untuk Kantor Pusat, wewenang diserahkan ke Om Kevin. Sementara, Boss di atas Bossnya lagi alias pemilik perusahaan, adalah ibunya Abbas.
Hierarki di sana, kalau di sinetron itu, Abbas pemegang kasta paling tinggi. Seharusnya.
Seharusnya loh...
Nyatanya dia malah...
“Lo malu-maluin gue aje Bass! Ngapain ke komplek gue pake Porsche haaah?! Bisa-bisa banyak yang kerumah gue pinjem duit!! Tau gue temenan sama anak konglomerat!” seru Meneer sambil melempar bola basket. Mentok ke jidat Abbas.
“Ferarri gue terlalu ceper, nggak bisa lewat polisi bobok,” begitu alasan Abbas.
“Ya naek becak dong semprooool!” Meneer ingin sekali melempar kursi plastik ke wajahnya Abbas.
“Si Abbas elah nyusahin aje, tutupin aja lah pake tenda...” desis Rio sambil bawa-bawa terpal biru. Masalah Porschenya diparkir di depan gerbang, beneran mencolok untuk komplek perumahan sederhana.
Bukan berarti Meneer dari keluarga Pas-pasan seperti Tante Author, bukan. Tapi rumah yang sekarang mereka tempati ini adalah rumah kenangan keluarga Om Kevin, Jadi mereka tetap tinggal di sana walau pun sebenarnya bisa beli rumah di Permata Hijau.
Jadi Abbas itu adalah sebenar-benarnya Pangeran yang Tertindas. Di rumah dibully bapaknya, di sekolah dibully Meneer.
Lagian tingkahnya agak ‘beda’. Suka sok kaya tapi mental tempe.
Paling tidak, dia setia kawanlah ya.
“Gue nggak boleh naik motor-drag lagi soalnya lulus dengan nilai pas-pasan. Di rumah ‘cuma’ punya Porsche dan Ferrarri.” gumam Abbas sambil cemberut. Hanya dua mobil itu yang di klaim miliknya, yang lainnya mobil bapak-ibunya.
Tapi kemudian dia diam, karena menyadari perubahan raut wajah teman-temannya. Semua menatapnya sambil memicingkan mata.
“Apa?” tanya Abbas menantang.
“Lagak lo, padahal cuma mau pamer. Nilai Pas-pasan aje dibeliin Porsche, gimana 10 besar, gitu kan maksud lo? Nyindir gue kan lo? Gue rangking 2 se-kelas 12 cuma dibeliin indomie telor kornet ama bapak gue, gitukan maksud lo?” sembur Meneer.
“Elah, Neeeer. Lo mau dibeliin mobil juga buat apaaaaa, lu kan belom boleh punya SIM!” desis Junot sambil loncat-loncat bantuin Rio nerpalin mobil Abbas.
“Yo, kaki gue nggak nyampe, lu aja dah yang nerpalin...” keluh junot.
Meneer akhirnya menggantikannya.
“Lo dibeliin apa sama mertua lo Yo? Lo kan rangking 8 sekelas 12 loh,” tanya Agung yang dari tadi berdiri sambil makan pisang goreng, kalem saja dia melihat tingkah teman-temannya. Lagian dia juga lega luar biasa karena sudah lulus dengan nilai nyaris nggak selamat karena Anggun turun tangan langsung mengajarinya.
“Nggak dibeliin apa-apa, hadiahnya sudah sampai pas tengah semester sih. Garis dua.” Rio menyeringai.
Semua langsung mesem-mesem. “Hadiah duluan ya, Langsung dari Yang Maha Kuasa.”
“Jadi yang Anggun ngajarin gue pake cambuk itu, dia dalam keadaan lagi hamil dong?” desis Agung sambil bergidik. “Ngeri juga ya kalo bumil moodnya naik-turun...”
“Dia pake cambuk soalnya lo kan ketiduran melulu kalo liat huruf banyak dikit...”
“Ya tapi kan sakit, yo.”
“Gue sambil nangis loh belajarnya, nahan perih,”
“Lulus kan?”
“Lulus sih, makasih Pak Suamiiii...” Agung pose berlutut menghormat.
Om Kevin keluar rumah karena mendengar ribut-ribut di luar.
Tampang Om Kevin gimana?
Ganteng. Lebih ganteng dari Meneer. Si Damian Cakra ini udah yang paling ganteng di SMA Bhakti Putra. Nah, bapaknya lebih ganteng lagi. Tampangnya londo, neneknya gundik Belanda soalnya. Ras Eropanya itu nurun ke Meneer. Makanya dia dijuluki Meneer, karena wajahnya sangat kompeni sekali.
Tapi seganteng-gantengnya orang, tetap saja insecure kalo ngeliat Rio. Karena cowok itu tinggi besar, tampang gahar, cocok banget menyandang bazooka di pundaknya. Om Kevin aja ngeliat Rio sampai mundur dan mendongak. Dengan waspada dia pun berujar, “Dari Kesatuan mana Pak?”
“Ini Rio loh Om,” desis Rio sambil mencibir.
“Hah? Rio serius?! Kamu kesedak steroid ya?”
“Meledak dong Om...” gumam Rio.
“Jiper dah saya...” gumam Om Kevin sambil memicing melihat ke arah Rio dari atas ke bawah.
“Masih bisa tumbuh lagi nih badanku Om,”
“Barusan saya berasa kena enemy double kill,” gumam Om Kevin. “Ini siapa yang kondangan di depan pagar? Ada tenda biru segala!”
“Si Abbas bawa Porsche, Pah!” seru Meneer.
“Madekipe lu Abbaaaaas, saya gak bisa ngutang rokok lagi di warung Bude Nar! Dikiranya circle orang kaya!” Omel Om Kevin.
Bapak-anak hampir mirip. Bedanya Meneer lebih bawel.
“Papah jangan bilang ngutang rokok kenceng-kenceng, nanti Mama denger...” bisik Meneer.
“Lupa kan papah, gara-gara emosi ngeliat Abbas!” Om Kevin mengusap wajahnya. Masalahnya seluruh gajinya diserahkan ke istrinya, dan dia hanya dijatah rokok sebulan 4 bungkus. Mana cukup, coba... jadi Om Kevin kerap ngutang rokok di warung Bude seberang.
“Yaa yaa yaaa, besok Porsche gue tuker dah jadi Avanza! Biar puas lo semua!” Omel Abbas sambil masuk ke dalam rumah Meneer.
“Hidup yang normal-normal aja dong Bas,” gumam Meneer sambil masuk juga.
Sementara Anggun sudah menyibukkan diri di gudang rumah untuk milih-milih perlengkapan bayi, dari semenjak mereka datang tadi.
Om Kevin merangkul bahu Rio, “Yo, gosipnya kamu nikah siri sudah lama, benar?”
“Iya Om, tapi mereka nggak tahu.” Bisik Rio.
“Kamu luruskan lah dari pada salah paham,”
“Biarlah Om, nanti mereka tanya-tanya kenapa saya bisa nikah siri, malah aib Anggun yang tersebar. Om Pasti tahu dari Pak Rendi kan?”
“Iya, kan kalian masuk Amethys University harus rekomendasi dari saya, tentu saja saya tahu.”
“Jadi biarlah mereka beranggapan beda Om, lagian mereka nggak rese tanya-tanya kok,”
“Oke, kalau begitu saya nge-les saja kalau Damian tanya-tanya. Kamu tahu kan gaya dia kalau menginterogasi seseorang?!”
“Jejelin rawit aja om mulutnya, hahaha!” kata Rio sambil terbahak.
Rio sebenarnya bercanda, Tapi Om Kevin mengernyit tanda dia menganggap serius ide Rio. Sambil mengangguk pelan pun karena sedang mempertimbangkan ide itu, Om Kevin pun berlalu pergi ke ruang kerjanya untuk lanjut main game.