
“Bella ke mana Tante?” Anggun bertanya sambil memilih-milih pakaian bayi. Masih bagus-bagus dan bersih, setiap bagiannya di laundry dan dimasukkan ke plastik vacum sehingga kondisinya terjaga.
“Menginap di rumah temannya,” Tante Nirmala, Ibu Meneer, mengangkat sebuah dress bayi dengan renda yang lucu. “Kamu ambil saja deh semua, Nggun. Kalau ada yang tidak terpakai, sumbangkan saja ke yang membutuhkan. Pakaian yang begini kan hanya sebentar butuhnya, tidak semua terpakai juga, yang digunakan malah yang itu-itu saja, hehe,”
“Nanti saya bagi dua sama mertua saya deh Tante,’
“Mertua...?”
“Rio punya ibu tiri, dan sekarang dia juga lagi hamil dengan suami barunya,”
“Bagaimana? Kok Tante tidak ngeh ya...?!”
“Hem... agak rumit ya Tante? Bagaimana saya menjelaskannya ya? Jadi ibu Rio kan sudah lama meninggal, dan ayahnya itu menikah siri dengan wanita lain.”
“Oh... saya mengerti. Laki-laki memang jarang ada yang menduda sampai akhir hayat sih, walau pun ada tapi kecil sekali jumlahnya. Sebaliknya, wanita lebih banyak yang menjanda seumur hidupnya. Bagi kami suami kami cinta sehidup semati kami. Bisa jadi saya pun nanti kalau ‘mendahului’ Kevin mungkin akan mengizinkannya menikah lagi, karena saya tahu Kevin butuh seseorang yang mendampingi.”
“Tante, usia lebih tua bukan berarti lebih dulu meninggal loh,” desis Anggun.
“Ya Tante tahu, tapi kan ini hitungan kasar saja, prepare for the worst. Mempersiapkan kemungkinan terburuk, dan bukan berarti kita pesimis loh ya. Tapi kalau sudah menyangkut pasangan hidup, sudah menyangkut anak, hal-hal seperti itu otomatis terpikirkan,”
Anggun lalu diam.
Tiba-tiba otaknya dipenuhi berbagai macam hal.
“Tante, saya ambil yang bagian ini ya, nanti Rio yang angkut ke mobil, tinggalkan saja di sini,”
“Ih Makasih loh, gudang Tante jadi agak lowong, hehe.”
“Tante, Om Kevin dan Meneer nggak bisa lihat ruangan kosong, bentar lagi juga penuh sama onderdil motor...”
“Aaargh iya kamu benar jugaaaa! Saya pasang garis polisi saja lah di pintu!”
**
Sementara itu,
Saat Geng Savage membuka kamar Meneer, mereka langsung –
“Beuuuuh!”
“Woooah gilaaaa gila gila gilaaa!”
“Lah damage banget lu Neer,”
“Njir, kapan lu beli ginian tau-tau ada!” kata Junot setengah mengeluh. Dia saja yang bolak-balik rumah Meneer belum pernah melihat benda yang kini ada di tengah ruangan Meneer, dikelilingi oleh kaca aklirik tebal.
“Ini baru minggu lalu dateng, hasil taruhan balap selama 3 tahun ini,” kata Meneer sambil berkacak pinggang mengagumi benda di depannya.
Action Figure tokoh anime kesayangannya, nama tokohnya Roronoa Zoro, dari komik One Piece. Action Figure adalah mainan berkarakter yang berpose, biasa disebut miniatur, terbuat dari plastik atau material lainnya.
Masalahnya Figure yang ada di depan mereka lumayan mencengangkan kerennya.
Bahkan untuk Junot yang seorang Wibu saja, tidak sampai bisa membeli figure limited edition yang dimiliki oleh Meneer.
“Bang sat... ini statue Zoro produksi F3 Studio...” keluh Junot kesal.
Figure anime itu mengambil pose Zoro ketika menggunakan ketiga pedangnya. Di belakangnya juga terdapat tiga ekor naga yang merupakan salah satu jurus dari Zoro. Dalam statue ini, Zoro masih memegang pedang Shushui di tangan kanannya.
“Kok bisa lu dapet ini? Sekelas Sultan loh ini, Sultan beneran aja belum tentu bisa dapet beginian!” desis Abbas mengagumi patung di depannya.
“Prosesnya setahun gue dapet beginian, gue dapet jaringan dari papah. Tadinya mau gue tawarin ke Junot, tapi gue inget dia kan maniaknya sama figur waifu. Action mah nggak masuk.” Kekeh Meneer.
“Waifu - waifu juga kalo lu tawarin gue beginian gue bakalan ngemis-ngemis ke bokap buat dibeliin Meneeeeer!” rengek Juno, sekaligus kesal.
(Waifu merupakan istilah yang digunakan untuk karakter perempuan dalam anime atau manga yang difavoritkan).
“Untungnya apa sih nyimpen beginian? Inikan cuma mainan? Bisa ngomong atau gimana gitu?” tanya Agung.
“Percuma ngomong sama lu, minset lu udah spek bapak-bapak.” Gerutu Meneer.
“Lah, mending gue melihara ikan, kan?!” kata Agung.
“Yang mau punya bayi nggak usah ikutan. Yang ada hancur semua.” desis Meneer.
“Iya, gue aja kalo adek-adek dateng ke rumah gue kunci bener-bener kamar gue, dari pada ntar mamah-mamah pada biarin anaknya masuk, ngancur-ngancurin hotwheels gue, terus mereka bilang ‘Duuuh maaf ya Abbas, Mamah ganti mainannya yaaa, 10ribu kan ya satu?!’ mereka nggak tahu kalo harga satu unitnya setara sama lipen Dior mereka... dikali 10.”
“Emang lu punya adek selain Mecca?”
“Anak-anaknya mantan istri Papa,” jawab Abbas.
“Masih sering main ke rumah ya? Akur beneeeer,”
“Namanya juga mantan istri, pasti pernah punya ikatan. Bokap gue berasa Sultan beneran dulu, punya istri sampe tiga... untung nyokap gue saklek.”
“Ini lu beli berapa Neer?” tanya Rio.
“9 jutaan belum ongkir,” jawab Meneer.
“Hah? Hasil taruhan kita segitu banyak? Kok gue cuma kebagian sejuta terakhir gue menang?!” tanya Rio.
Meneer diam saja.
“Bener juga Neer? Kita balap kan buat hobi, sudah disepakati kalau menang taruhan, semua buat Rio untuk makan sehari-hari?!” tanya Junot meminta konfirmasi.
Meneer lagi-lagi diam.
“Gue sih tahu kalo terong yang lain pada taruhan, tapi kita bukannya nolak dikasih ya?”
Meneer hanya diam, menatap kosong ke depan.
“Damian Cakraaaaaaa?!?” tekan yang lain.
"Iye! Iyeeeee! Gue ikutan taruhan! Kebanyakan atas nama Rio! Gue cuma kasih Rio sejuta sekali menang buat kompensasi, sisanya bagi-bagi!” akhirnya Meneer mengakui.
“Woaaaaah! Bocil Saraaaappppp!!” seru semuanya.
“Jadi di figure ini ada hak gue dooong!!” seru Rio.
“Nggak-nggak-nggak! Nggak bisa! Zoro punya gue, punya gueeee!!" egoisnya Meneer muncul, mode anak SD lagi ngambek.
“Lu korupsi itu namanya, gue anti banget sama kasus beginian nih!” desis Rio.
“An jing, plis dooooong!” Meneer memeluk kaca aklirik di depan mereka.
“Kasus lo Neer, gue laporin nyokap lo, habis lo dimasukin asrama pendeta sekalian!”
“Jangan bawa-bawa Dewi Khayangan dooong, gue cuma hamba julitaaa!” Meneer mengiba.
“Ya terus maunya gimana? Jangan main ambil hak orang, kuburan lo sempit ntar!” seru Abbas.
“Woy, doa lu serem anjir!” seru Meneer. “Btw, gue pake peti,”
“Peti lo kebanjiran!”
“As u lo! Gue minta dikremasi!”
“Abu lo terbang ke kali Angke!”
“Yang bener ajeeee! Jangan ke Angke Dong! Elit dikit laaah!”
“Terus gimana maunya heh?!”
“Yo dah deh! Kita tanding ulang! Pemenang berhak dapet Roronoa Zoro! Pake Perjanjian Gentleman Cap jempol!!” seru Meneer terpaksa.
“Gue kagak boleh naik motor, jadi gue gak ikut balapan. Tapi demi hobi yang seru dan berlandaskan asas persahabatan ini, gue bakalan fasilitasi semuanyaaaa!” seru Abbas.
“Nah gitu dong Bas, sekali-kali duit bokap lu berguna!!” seru Junot.
Dan begitulah, awal mula diadakan pertandingan balap liar eksklusif tersebut.