
Junot mengamati rumah Jenny yang termasuk kecil untuk ukuran rumah di Hang Tuah, tapi entah bagaimana layout-nya yang industrial terasa cozy dan ‘Jenny banget’. Notabene setelah diperhatikan sebenarnya ruangan itu bersih, bahkan terlalu bersih untuk ukuran rumah yang ditinggal sebulan.
“Jadi... apa yang bisa kubantu? Perasaan tidak ada yang perlu di bereskan.” Junot mengernyit sambil berjalan masuk dan melihat-lihat barang-barang Jenny.
"Ada bibik yang suka bersih-bersih tiap hari, jadi selalu rapi. Tapi tetap saja kalau rumah tidak ditinggali manusia ada saja yang rusak," kata Jenny sambil duduk di sofa.
Junot duduk di samping Jenny, ia berusaha santai.
Lagi pula, mereka sudah saling tahu perasaan masing-masing.
Hanya belum bermesraan saja.
Tapi Junot juga bingung bagaimana cara bermesraan dengan gadis seperti Jenny.
Ia pernah mendekati seorang gadis saat masih di geng motor, mereka cukup akrab. Dan rata-rata gadis-gadis tidak menolak saat didekati Junot.
Karena walau pun penampilan Junot mirip cewek, cantik dan mungil, tapi ia kerap mencapai finish dengan score tinggi saat balapan. Kemampuan berantemnya juga tak diragukan. Tapi dia memang berusaha menghindari sesuatu yang berhubungan dengan kekerasan.
Tapi karena masalah tinggi badan… saat gadis incarannya terlihat terpukau dengan Rio atau Meneer, Junot akan mundur teratur.
Ia cukup tahu diri.
Tidak ada sakit hati di pikirannya.
Tapi Jenny berbeda.
Junot cemburu waktu mengintip sedikit dari pintu, saat Jenny menyerahkan gelang couple ke Rio.
Makanya ia sempat ragu saat Jenny mengajaknya berangkat ke Singapura malam itu juga. Karena ia masih memendam kesal.
Nyatanya, gelang itu malah bertuliskan namanya.
Jadi saat ini…
Sekali lagi, Junot melingkarkan gelang dari emas putih ke tangan Jenny. Modelnya rantai kotak sederhana. Dengan bagian kaitnya terdapat bulatan berisi pelacak. Dan ada bandul bulat bertuliskan…
Milik Junot.
"Hah?!" Jenny kaget karena dua hal.
Pertama, Junot memberinya gelang keren.
Kedua…
"Aku berasa punya majikan! HAHAHAHA!! Milik Junot! Ahahahahaha!!" Jenny langsung ngakak melihat grafirnya.
Lalu Junot mengangkat tangannya. Ada gelang yang sama.
Grafirnya bertuliskan.
Milik Jenny.
Jenny pun terdiam.
Lalu menyeringai.
"Jen…" Junot menatap Jenny dengan serius. "Aku ini agak kaku, nggak suka kekerasan, introvert akut, kalau ketemu orang yang baru kenal suka anxiety, wibu, kalau udah ketemu sama mesin rakitan suka lupa waktu. Rada sensitif aku akui alias cengeng, nonton anime Studio Ghibli aku bisa nangis. Penggemar makanan manis dan jajanan bocil. Apa lagi ya…" Junot mengerutkan keningnya mengingat-ingat sifatnya.
"Kamu setia kawan, cerdas, pemikiran kamu berdasarkan logika dan pertimbangan matang, kamu kalem dan lebih baik sendiri daripada menghabiskan waktu tidak berguna. Kamu menyukai detail dan kreatif. Kamu bisa mengembangkan mesin yang biasa aja speknya jadi luar biasa. Kamu orang yang paling dapat dipercaya karena pintar menyimpan rahasia. Dan yang paling kusukai, kamu orangnya perhatian dan memiliki empati tinggi…"
"Kenapa kamu lebih tahu diriku dibandingkan diriku sendiri?!"
“Mengamati sebulan-dua bulan, aku sudah tahu segala hal mengenai kamu.”
“Kamu yang terlalu hebat atau...”
“Aku terlalu terobsesi padamu.”
Junot pun menggaruk kepalanya. “Apanya yang menarik sih hidupku?”
“Sangat menarik. Bagiku.” Jenny menaikkan bahunya. "Aku tanya sekarang. Apa kamu mencintai diri sendiri?"
"Ya tentu."
"Sama dong. Aku juga cinta kamu. Hehehehe,"
Junot mencebik mendengar kalimat itu. Benar-benar jokes twitter receh.
"Kamu sendiri bagaimana? Kamu cinta diri sendiri nggak?" tanya Junot balik ke Jenny
"Nomor dua setelah kamu." Jenny menyeringai.
"Jangan begitu Jenny. Kalau aku mengecewakanmu, kamu bisa gila. Cintailah dirimu sendiri dulu. Baru otomatis kamu bisa membawa kenyamanan di hubungan kita."
"Bagiku, kamu yang terpenting sekarang. Dulu aku menjalani hidup seenaknya, tanpa tujuan. Apa pun aku kerjakan untuk mengatasi kebosanan sampai jadi detektif swasta segala. Sekarang, tujuan hidupku adalah membuatmu bahagia."
"Itu seharusnya kata-kataku sebagai laki-laki."
"Kenapa sih bawa-bawa gender terus. Memangnya perempuan nggak boleh menyampaikan isi hati?"
"Masalahnya kamu betina yang terlalu jantan melebihi jantan yang asli."
"Betina... sepertinya kamu memang menganggapku kucing.” Jenny menyeringai
“Kucing? Maksudku malah singa. Yang betina biasanya garis depan. Tipe emak-mak nyerobot antrian nasi uduk dan dengan brutalnya bertanya : anak saya bentar lagi hampir telat. Padahal kita juga hampir telat.”
“Aku nggak pernah ngantri nasi uduk. Waktu sekolah biasanya langsung disediakan nasi lemak di kantin, pakai kartu.”
“Ya pasti ada dong manusia yang dengan bar-barnya nyerobot antrian.”
“Ada, tapi aku nggak pernah mengalami. Singapur gitu loh...”
“Kalau mak-mak sen kanan belok kiri?”
“Sudah langsung ditilang kali, sim ditahan dan nggak boleh mengendarai mobil selama setahun. Itu pun harus ikut ujian lagi.”
“Di Singapura nggak ada motor?”
“Ada buat delivery, dan motor gede. Pajaknya gila-gilaan soalnya. Apalagi kalo motor lama yang usianya di atas 10 tahun.”
“Berapa pajaknya?”
“Sekitar 130juta’an kalo di kurs rupiah.”
“Njir... apa kabar Satria fanta gue. Eh, sudah jadi milik Rio deng.”
“Kamu nggak punya motor?”
“Ada. Royal Enfield. Barusan dibeliin Papah.”
“Nggak pernah dipake?”
Junot mencibir. Lalu ambil remote tv.
“Kok diam?” tanya Jenny.
“Nggak pernah kupakai.” Jawab Junot. “Nggak usah tanya kenapa.”
Jenny terdengar mendengus. Kayaknya dia reflek mau ketawa tapi ketahan di tenggorokan yang ada malah keselek.
“Aku nggak mau dibonceng. Atau joke-nya dicustom jadi rendah, atau duduk di muka di samping pak kusir. Nggak, aku nggak mau.” Potong Junot dengan nada suara kalem tapi mata tertuju ke layar tv. Nonton acara kuliner bapak-bapak makan bakso beranak, tapi pikiran Junot ke mana-mana.
“Mau kubeliin Vespa?”
Junot menoleh dengan alis terangkat.
“Kubelikan pakai uangku sendiri kok, bukan uang ortuku. Kamu tunggu hal itu kan? Sesuatu yang tanpa campur tangan uang Pak Artha? Aku ngerti sih perasaan kamu.” Jenny menyeringai sambil mengangkat kaki ke sofa dan duduk meringkuk. Gerimis sore berubah menjadi hujan. Rumah itu jadi lebih dingin.
“Apa... ada syaratnya?” tanya Junot.
“Ini...” Jenny menyentuh bibirnya, “Kamu yang maju.”
“Hanya itu?”
“Hanya itu.”
“Cuma cium di situ? Nggak di bagian lain?”
“Kamu tanya apa mancing? Aku sih mau saja. Aku sudah menyerahkan segalanya padamu, harga diriku di tanganmu. Bahkan nyawaku kuserahkan padamu.”
“Jangan terlalu gila, Jenny.”
“Kamu yang bikin aku gila.”
Junot menghela nafas melihat tingkah Jenny.
Ia mematikan tv, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Jenny.
Gerakannya tanpa ragu.
Saat ia sudah memutuskan sesuatu, ia akan lakukan dengan sepenuh hati.
Jadi Junot mengecup bibir Jenny perlahan, lalu menarik kepalanya. Matanya yang sayu mengamati Jenny yang tampak tertegun.
Lalu Junot maju lagi, kali ini ciumannya lebih erat.
Ia membuka bibir Jenny dan menahan leher gadis itu, ia memasukkan lidahnya untuk meraih Jenny.
Jenny terpacu. Tangannya terangkat merangkul leher Junot.
Ia meladeni pemuda itu.
Ia eratkan rangkulannya saat tangan Junot meluncur turun ke punggungnya.
Jemari pemuda itu masuk ke sela-sela kaos Jenny dan naik lagi ke atas, ke arah dada Jenny.
Perlahan ia menyusup ke dalam br4 Jenny dan membuat gadis itu mende sah di sela-sela ciumannya.
Junot melepas ciumannya.
Jenny merajuk kecewa. “Junot...”
“Hehe... bukannya aku tidak ingin, tapi terlalu cepat Jenny.”
“Terlalu cepat bagaimana...”Jenny mengecup leher Junot, menggoda pemuda itu. “Kamu juga sudah tegang ini.” Tangan Jenny berada di area privat Junot, sedikit menekan tubuh cowok itu.
“Aku takut lepas kendali.” Desis Junot.
Jenny menghujaninya dengan ciuman lagi di bibirnya. Sesaat mereka dalam posisi seperti itu, saling menautkan lidah beberapa menit, sampai akhirnya Jenny menegakkan tubuhnya dan melepas seluruh pakaiannya dengan cepat, lalu menarik celana Junot ke bawah.
Ia ciumi sekujur tubuh sensitif Junot, dan ia masukkan perlahan ke mulutnya.
Junot mengerang karena sensasi ero tis menyerang kepalanya.
Jenny memposisikan tubuhnya berlawan arah dengan Junot, lalu mengarahkan jemari Junot supaya bermain dengan kewanitaannya.
Hisa pan Jenny mengencang saat Junot menyentuh Cl1tnya dengan gerakan melingkar. Merangsang tubuh gadis itu, lalu ia masukan perlahan jari tengahnya ke dalam tubuh Jenny.
Permainan lidah Jenny semakin kuat.
Junot sedikit mengangkat pinggulnya karena gerakan reflek.
Tubuhnya sampai agak masuk ke dalam mulut Jenny saat ia melakukan hal itu, Jenny terdengar tersedak. Lalu berikutnya gadis itu diam untuk mengatur nafasnya, dan kembali melu mat tubuh Juniot.
“Sori...” desis Junot disela-sela gairahnya.
Dan saat itu Junot tak sadar dua jarinya masuk terlalu dalam ke tubuh Jenny.
Ia mengernyit saat melihat setitik cairan kemerahan membasahi ujung kukunya.
“Jen... Jenny...” desisnya panik. Ia menegakkan tubuhnya dan mencabut kepala Jenny dari tubuhnya.
Jenny menatapnya nanar.
Lalu tersenyum lembut.
“Kamu...”Junot tidak tega untuk bilang kalau keperawanan Jenny direnggut oleh... jarinya.
Jenny menangkap rahang Junot dan mencium pemuda itu.
“Yang penting, olehmu.” bisik Jenny.
“Ya tapi jangan begini maksudku.”
“Biar kamu tanggung jawab, hehe.” Jenny mengecup pipi Junot. “Kamu belum keluar...”
“Aku nggak ingin keluar.” Terus terang saja, perasaan Junot campur aduk.
“Mau aku-“
“Kita makan di luar saja yuk?” Junot mengelus pipi Jenny. Wajah gadis itu tampak kecewa.
“Kamu nggak suka dengan-“
“Bukan begitu Jenny. Jangan salah paham...”
“Lalu apa?”
“Aku sebenarnya... ingin kita melakukannya setelah menikah. Seperti yang seharusnya.” Junot meletakkan tangannya di pipi Jenny. “Tidak seharusnya aku memperlakukan kamu seperti ini.”
“Aku yang ingin. Jangan merasa bersalah.” Jenny menatapnya dengan lembut.
Junot menggeleng lagi. “Bersabar ya, cintaku padamu tidak butuh kepuasan seksual semacam ini. Aku tahu rasanya perih, Jenny. Kamu menahannya di matamu. Aku tak apa Jenny, sungguh. Aku tahu kamu juga tidak merasa enak. Jangan memaksakan ya?”
Jenny akhirnya duduk di depan Junot. Ia diam sambil berpikir.
“Aku tidak akan ke mana-mana, aku sudah berkomitmen akan tetap bersamamu. Sebagai kekasih. Tidak perlu susah payah memberikan tubuhmu.” Kata Junot.
“Ah...” Jenny tersenyum menyadari kesalahannya.
Inilah Junot yang ia kenal.
Pemuda dengan perasaan kasih sayang yang tidak setengah-setengah saat ia sudah memutuskan.
“Kalau sudah waktunya, akan kuambil.” Bisik Junot sambil mengecup lembut pipi Jenny.