
“Kenapa? Kenapa kamu jadi benci aku? Aku salah apa??” tanya Jenny sambil menggenggam teralis besi dipagar Junot seakan ia tidak terima dengan pernyataan Junot.
“Kalau kamu tidak melempar batu itu, semua ini tak akan terjadi. Udah bener-bener anjingnya di dalem pagar aja pake dikomporin...” kata Junot.
Jenny diam dan menghela nafas.
"Hm... iya itu salahku. Makanya aku kepikiran sampai sekarang.” desis Jenny
Lalu mereka berdua terdiam.
Hanya berdiri berhadapan sambil saling bertatapan.
Gadis di hadapan Junot ini, cantik sekaligus keren. Rambut hitam panjangnya malah membuatnya tampak seperti tokoh game. Matanya sipit, tapi melebar dan memicing ke atas seperti mata kucing. Dan bibirnya tebal.
Bukan masalah dada yang tepos, tapi Junot memang tidak terlalu percaya dengan orang asing. Ia berhati-hati dalam memilih teman, selain Geng Savage ia tidak terlalu dekat dengan orang lain.
Doktrin Papanya juga yang membuatnya seperti ini. Sebagai pewaris jutaan dollar, Junot dituntut untuk tidak melangkah dengan ceroboh. Karena berbagai hal yang sensitif mengelilingi kehidupannya.
Sebagai pebisnis, musuh Papahnya banyak. Bisa jadi ada juga yang sudah mengincarnya untuk menculiknya, atau menculik mamanya, demi tebusan. Karena itu mereka tinggal di lingkungan yang kanan kiri saling tahu, saling peduli, dengan penjagaan di sekeliling komplek lumayan ketat. Orang-orang bayaran Papanya tentunya.
Ya tapi kalau ancaman dari dalam seperti anjing waktu itu, memang tidak mudah dihindarkan. Karena anjing itu milik tetangga mereka sendiri.
Mobil Papa Junot berhenti di depan pagar, Keheningan mereka berdua terpecahkan. Junot membuka pagar dan menunggu sebentar sampai mobil Pak Artha masuk ke garasi.
“Pulang gih, udah malem...”desis Junot ke Jenny.
“Justin,”
“Namaku Junot,”
“Iya Junot, iyaaa. Aku tahu aku agak memaksa kamu untuk bisa berhubungan akrab, tapi tidak bisakah kita... trial error dulu?”
“Hah? Trial error? Percobaan dulu maksudnya?”
“Iya. Sebulan aja plis? Kalau kamu tetap nggak suka sama kau, aku mundur. Atau mungkin kamu tiba-tiba suka cewek lain, aku-“
"Si Jenny udah dateng, kok nggak disuruh masuk? Kasian anaknya Pak Avramm masuk angin gimana?!” sapa Pak Artha.
“Malam Om,” Jenny menyeringai.
“Barusan saya meeting sama bapak kamu. Nih udah deal.”
“Makasih ya Om, udah percaya sama Papah saya.”
“Berikutnya saya mau meeting sama kamu. Ada beberapa layout yang saya kurang sreg, biar lebih greget lagi.”
“Baik Om, saya siap. Malam ini juga boleh...” Jenny melirik Junot sambil tersenyum licik.
“Ya jangan di rumah dong, nanti kamu fokusnya ke Junot, bukan ke saya.” Kekeh Pak Artha sambil menepuk bahu Junot.
Junot hanya menghela nafas, ia semakin tidak percaya diri. Ternyata Jenny bekerjasama dengan ayahnya sendiri, Pak Avramm, untuk mendirikan perusahaan multimedia. Junot memang sudah tahu kalau Pak Avramm ada proyek dengan ayahnya, tapi ia tak menyangka kalau Jenny ikut terlibat di dalamnya.
Papanya memang tidak mendorongnya untuk memimpin perusahaan, seperti orang tua di dalam gengnya, tidak ada yang mendesak anak-anak mereka untuk jadi pemimpin di perusahaan milik ayah-ayah mereka. Karena hal itu berkenaan dengan passion, harus muncul dari dalam hati mereka sendiri.
Namun, Abbas dan Rio tampaknya memang sudah memutuskan untuk menjadi penerus. Walau pun Abbas masih meraba-raba, dan Rio hubungannya dengan Pak Banyu adalah menantu. Meneer juga tergila-gila dengan teknologi seperti Om Kevin.
Kalau Agung... entahlah, kebebasannya dengan orang-tua yang ada dan tiada, menjadikan Agung mengikuti hidup sejalan dengan aliran air. Mengalir saja.
Yang belum tahu akan jadi apa hanya Junot.
Dan rasanya passion Junot bukan di bisnis. Bukan seperti Papahnya.
Dan akhirnya gadis itu pun berjalan ke arah mobilnya yang diparkir di seberang jalan untuk pulang.
“Kamu pacaran sama Jenny?” tanya Pak Artha.
“Aku masih bingung.”
“Nggak ada ruginya kok dekat-dekat dengan dia.”
“Setiap ngeliat Jenny, pinggangku yang bekas jahitan nyeri...” Junot meringis sambil masuk ke dalam rumah.
Pak Artha masih berdiri di samping gerbang sambil menatap mobil Jenny yang menjauh. Lalu ia menatap ke arah sekuriti di dalam portal, orang-orang bayarannya. Mereka mengangguk padanya.
**
Pagi harinya,
Junot menghela nafas sambil menunduk dan memandang ke arah laptopnya. Cuaca hari ini cerah berangin, ia sedang menjernihkan pikirannya di taman kampus.
Sesekali ia menopang dagunya menatap ke depan, memperhatikan para mahasiswa berlalu lalang.
Lalu Junot menyadari… Ia sendirian saat ini.
Mungkin memang benar, saat menjadi mahasiswa, semua sibuk dengan urusan masing-masing. Teman baru, pelajaran baru, suasana baru… Juga tingkah laku yang baru.
Junot ingin mengubah imejnya, dari childish ke pria dewasa, tapi sepertinya harus melalui proses yang lama. Sosoknya yang lebih mirip sang ibu membuatnya tampak terlihat imut.
Bukannya ia benci keadaannya, tidak. Menurutnya ibunya sangat cantik dan ia merasa ayahnya sangat beruntung bisa mendapatkan ibunya.
Perbedaan usia 23 tahun di antara keduanya tidak membuat hubungan mereka renggang, malah semakin hari semakin mesra saja.
Tapi sering kali, Junot tidak percaya diri. Baginya, Papahnya terlalu gentleman. Ia tahu Papahnya tidak mengharapkannya menjadi laki-laki sangar seperti dirinya. Ya tapi justru itu masalahnya. Rasanya Junot merasa tidak ada di dirinya yang bisa dibanggakan.
Apalagi kalau melihat teman-temannya…
Abbas, Meneer dan Rio dalam sekejab jadi idola di kampus. Ketiganya tampan, cerdas, kayaraya, dan yang paling penting dalam diri Junot… Mereka tinggi.
Menjulang…
Bagaimana bisa?! Kenapa dia hanya 160cm?! Apa tak bisa tumbuh lagi?! Kenapa mentok di 160cm?! Padahal ia sudah bisa lompat berputar menendang bantalan setinggi 3 meter saat latihan taekwondo, kenapa badannya tidak kunjung tinggi?! Bukannya harusnya kalau sering melompat struktur tulang akan memanjang ya?!
"Ck!" decaknya kesal. Entahlah harus kesal ke siapa. Mau marah ke Tante Author nanti malah dibikin sial kayak Rio. Ketangkap preman lah, dipukuli lah, dibikin miskin tujuh turunan lah, jadi lebih baik memendam kekesalan sendiri saja…
"Mikirin apa, Sayang?" Jenny dengan lancangnya duduk di belakang Junot dan memeluk tubuh mungilnya sambil mencium pelipis cowok itu.
“Aku belum bilang ‘iya’,” desis Junot, tapi dia tak menghindar.
“Kenapa nggak langsung aja bilang ‘iya’?”
“Takut disiksa dengan kegalauan.”
“Hehe... pasti akan kusiksa kok, tenang aja...” Jenny berbisik di telinga Junot.
“Aku lagi bikin tugas, sana kuliah yang bener...” kata Junot
“Temenin aku ke kantor Om Artha ya? Nanti siang habis matkul,”
Junot menghela nafas lagi. “Iyaaa,” gumamnya setuju.