
Entah sudah berapa lama mereka di sana akhirnya Abbas minta izin ke IPTU Rayhan untuk mempertemukannya dengan Intan melalui jeruji besi. Abbas dapat keistimewaan karena pertimbangan tertentu.
Di sana Intan hanya bisa terduduk lemas seakan tak memiliki gairah hidup. Matanya bengkak karena terus-terusan menangis. Bisa dibilang, dia tidak mendapatkan apa pun dari sini.
Intan yang naif dan lugu harus rusak karena langkah yang ceroboh. Dengan bodohnya ia menyingkirkan segalanya demi cinta semu-nya. Angan-angannya.
Dan Abbas tidak mengerti semua itu.
Ia ingin mendapatkan jawaban. Apa yang sebenarnya Intan cari. Apakah ia waras atau pikirannya sudah terganggu?
“Hey, Mbak Suster,” sapa Abbas.
Intan mengangkat wajahnya yang sembab.
“Kamu toh,” desisnya. “Mau apa?”
“Apa saat itu kamu benar-benar keguguran?”
Intan mengangkat alisnya dan terpaku.
Ia tidak menjawab, hanya menatap Abbas dengan pandangan kaget.
“Kamu benar-benar menginginkan anak Andri? Atau tidak?” tanya Abbas lagi.
“Apa urusannya denganmu?!” Intan menggebrak meja di depannya dengan marah. Sontak hal itu menjadi perhatian polisi penjaga. Iptu Rayhan bertanya mengenai status pengacara Intan, namun sang penjaga bilang kalau Intan menolak didampingi pengacara.
Seakan gadis itu memang lebih memilih tinggal dipenjara saja daripada di dunia luar.
“Jawabanmu akan menentukan kebebasanmu.”
“Aku tidak ingin keluar dari sini. Aku orang yang berbahaya. Aku menculik bayi baru lahir dari ibunya! Aku pantas tinggal dipenjara!”
“Apakah itu hanya pengalih perhatian kamu saja? Di dalam penjara bisa jadi lebih buruk dari pada di luar penjara, di sana tempatnya-”
“Aku akan berulah lagi kalau bebas dari sini!” sepertinya itu ancaman dari Intan.
“Kalau kamu tetap di sini, pikiranmu itu tidak akan terbuka. Kamu memilih mengucilkan diri di tempat yang salah. Aku bahkan ragu kamu benar-benar menginginkan bayi itu.”
“Kamu mau apa sebenarnya?!” Intan mulai tak sabar.
Abbas menghela nafas.
“Permohonan maaf kamu ke Rio, juga cerita yang sebenarnya. Aku akan membayar jaminan untukmu. Agar kamu bisa menata kembali hubunganmu dengan orang tuamu. Kamu merasa sakit hati kan saat bayi yang kamu kandung gugur? Buah hati kamu dan Andri?!”
“Iya.”
“Kamu dan ibumu sama-sama seorang ibu. Terbayang sakit hatinya sekarang?”
“Ah...”
Intan menatap Abbas dengan mata terbelalak.
“Aku juga memiliki seorang ibu yang khawatir kalau aku kenapa-napa. Kamu tahu kalau ibumu pingsan saat melihatmu di dalam sini? Hancurnya hati ayahmu saat anak perempuannya mendekam di jeruji besi?” desis Abbas.
Lalu mereka saling dia, beberapa saat.
Sekitar beberapa detik kemudian, Abbas pun berujar, “Bisakah kau sekali saja melakukan sesuatu untuk orang lain dan menekan egomu?”
“Andri bahkan tak peduli padamu... yang ia pedulikan hanya Rio. Kamu bahkan mencintai orang yang salah, Dan yang benar-benar mencintaimu dunia akhirat malah kau buang. Dan saat kau terpuruk begini kamu menyalahkan orang lain, padahal kau yang menjatuhkan dirimu sendiri.” kata Abbas
“Kamu... kenal Andri?”
“Kenal.”
“Enes?”
“Kenal.”
“Rio?”
“Sahabat.” Ujar Abbas.
“Kamu juga geng motor...”
“Ya.”
“Bagaimana bisa kamu dekat dengan Rio sedangkan Andri tidak bisa? Bagaimana bisa Andri menggantikan Rio balapan saat itu?”
“Aku akan menjawab setelah kamu ceritakan yang sebenarnya.”
**
Satu tahun yang lalu,
“Intan, Les Nari Jaipong sama Pak Ujang ya jam 13.” Sahut ibunya saat Intan menuruni tangga untuk menuju ke mobil. Ia ingin jajan sedikit ke swalayan di depan sana.
“Yah gimana? Ibu sudah terlanjur bayar untuk satu tahun sekaligus loh sampai kamu berhasil ikut kompetisi! Kamu sendiri loh yang mau...”
“Iya kan tapi...” dan Intan tidak meneruskan ucapannya.
Ia tidak ingin bertemu Pak Ujang.
Kalau bisa selamanya.
Perutnya langsung mual dan eneg.
“Nggak bisa ganti guru tari bu? Yang perempuan aja begitu? Ibu kan uangnya banyak , bayar segitu bukan masalah toh?”
“Intan, kamu bagaimana sih? Bukan masalah duit ibu banyak atau tidak, tapi pertanyaannya, Kenapa? Apa yang membuat kamu ingin berganti guru?”
Ibu Intan langsung menaruh perhatian ke putri semata wayangnya itu.
Dan Intan diam.
Pak Ujang adalah Wali Kelasnya di Sekolah, dan ia sekaligus mengajar tari sebagai penghasilan tambahan.
Ia tahu pak Ujang memiliki anak yang seusia dengannya. Juga ada 3 lainnya. Jadi ada 4 anak dan mereka semua menggantungkan penghasilan dari Pak Ujang. Ditambah, istri Pak Ujang kabarnya berselingkuh dan lari dengan selingkuhannya. Jadi kalau Pak Ujang ia laporkan... bagaimana nasib anak-anaknya?
Lalu Intan teringat siang itu, saat pak Ujang mulai menyentuh bagian-bagian tubuhnya yang privat.
“Pak! Sekali lagi saya teriak ya Pak! Nasib anak-anak bapak bisa habis!”
Pak Ujang hanya menaikkan alisnya sambil menatap Intan.
“Oh, jadi kamu tak ingin dapat nilai bagus di kesenian nanti? Ya sudah saya langsung beri kamu nilai D.”
“Tidak ada hubungannya pelajaran di sekolah dengan kelas menari Pak!”
“Ya terserah kamu saja. Toh gerakan tari Jaipong ya memang begini, berdempet-dempet begini...”
Tapi caranya menekan tubuh Intan, dengan anggota tubuh yang sudah sangat tegang, membuat Intan langsung risih dan mual.
Dan saat ini, saat ia kembali dihadapkan dengan jadwal menari, ia meminta ibunya untuk men-cancel semuanya. Namun Intan bingung cara mencari alasannya.
“Intan bolos dulu hari ini ya bu.” Kata Intan. “Sedang kurang sehat.”
Dan akhirnya gadis itu menuju ke mobil dengan perasaan galau.
Di mobil, kembali Intan dihadapkan dengan situasi yang tidak mengenakkan.
Supirnya, Pak Toro, mulai berbicara dengannya dengan cara bicara yang menjurus.
Seketika Intan melihat ke arah pakaiannya.
Ia langsung menyadari kalau ia salah... karena nyaman, Intan hanya memakai tanktop dan celana pendek saja. Sesuatu yang memang ia lakukan setiap harinya, baik itu di rumah mau pun di area yang dekat dengan rumah, termasuk minimarket yang akan ia datangi ini. Ia biasanya hanya membawa ponsel dan atm ia selipkan di kantong celana pendeknya.
Masalah... ia bukan anak kecil lagi.
Ia kini sudah dewasa.
Lekuk tubuhnya pasti terlihat jelas, walau pun sebenarnya ia cenderung kurus.
Walau pun ia masih memakai pakaian dalam, tapi kondisi bajunya bisa dibilang terbuka.
“Non Intan cantik pakai baju begitu, saya jadi terangsang. Maaf ya neng.”
Bulu kuduk Intan langsung merinding.
“Saya turun di sini saja Pak,” desisnya.
“Non jangan begitu dong! Itu kan hanya kalimat biasa. Seharusnya non Intan bangga dengan diri sendiri karena saya puji cantik.”
“Maksud bapak apa bicara begitu ke saya?!”
“Non jangan salah paham dong, saya ini bicara apa adanya,”
“Saya bukan wanita murahan!”
“Loh, tapi kok pakaiannya begitu?! Apalagi coba maksudnya kalau bukan untuk menarik perhatian saya?”
Intan langsung membuka pintu keluar, tapi sayang terkunci.
Ia berusaha menekan ke depan tuas kunci, tapi berkali-kali ditahan dari depan oleh Pak Toro.
“Non! Jangan begitu dong! Awas saja kalau sampai Non ngadu ke ayah, non akan saya-“
“Toloooong!!” Intan membuka jendela dan berteriak.
Namun jendela itu langsung ditarik ke atas oleh Pak Toro