Rascal In Love

Rascal In Love
Lepas


Hati Anggun bergetar.


Ia seketika merasa sangat berdosa. Ia tak enak hati.


Rio tidak mendapatkan haknya sebagai suami karena dirinya belum bisa menerima kenyataan. Padahal saat ini, kejadian itu sudah selesai, semua hal buruk itu sudah usai.


Logikanya harus berjalan.


Demi Rio yang berkali-kali menerjang badai untuk dirinya.


Pengorbanan Rio melebihi orang lain, untuknya.


Anggun pun melepaskan Rio, lalu duduk di pangkuan pemuda itu. Matanya menatap lurus ke manik Rio, lalu perlahan-lahan turun ke dada Pemuda itu. Ia menge cup pelan dada Rio, ia ke cup setiap lebam yang ada. Ia jilat puncak dada Rio. Ia rasakan tubuh pemuda itu se sapan demi se sapan.


Perlahan ia pun turun ke bawah.


Tangan besar Rio berada di tengkuknya, merem mas rambut panjangnya. Rio mengera ng saat ia menikmati lidah Anggun di tubuhnya, “Jangan dipaksa,” bisik pemuda itu.


Anggun menjilat area perut di bawah pusar Rio, sambil matanya menatap ke atas, ke arah Rio. Ia sedang merayu suaminya.


Ekspresi wajah Rio yang meringis dan mengiba, entah bagaimana malah membuatnya semakin berhasrat.


Anggun merasakan tubuh bawahnya mulai basah.


Jemari Anggun masuk ke dalam sisi celana Rio. Ibu jarinya terkait dan perlahan ia tarik ke bawah. Rio mengangkat pinggulnya dan membantu Anggun melepaskan celananya sendiri.


Tubuh itu terpampang jelas di depan hidung Anggun, Berdiri kaku dan keras, dengan kulit kecoklatan dan urat kehijauan yang menghiasi tepiannya.


Ini berbeda... pikir Anggun.


Rio berbeda... ia suamiku.


Kembali, ia mengeluarkan lidahnya.


Ia cicipi rasa Rio.


Terdengar erangan pelan Rio yang tertahan. Mendengarnya, Anggun semakin bersemangat merasakan.


“Sudah cukup...” desis Rio. Sambil menahan rahang Anggun.


Anggun berhenti dan mencium Rio. Ciuman mereka menggelora, saling menautkan lidah seakan mereka kelaparan.  Saling menyesap seakan kehausan.


Rio meremas lembut dada Anggun, ia tidak tahan untuk melu mat puncak mungil Anggun.


Ia rengkuh semua dengan mulutnya.


Anggun mengeluhkan nama Rio. “Terus...” bisiknya, “Aku suka di sana, terus...” gadis itu melengkungkan tubuhnya.


Rio menarik pinggul Anggun dengan sekali tarikan.


Ia mengambil kesempatan saat Anggun sudah terlena. Gadis itu sangat ba sah di bawah sana.


Rio mendorong saat posisinya sudah pas. Terdengar sentakan nafas Anggun yang terkaget.


“Rio!” gadis itu mencengkeram lengan Rio.


Rio mendorong sekali lagi,


Dan sekali lagi,


Dan sekali lagi sampai ia masuk seluruhnya.


Ia sayangnya, tidak mendengar teriakan Anggun yang tak berdaya. Rio sendiri sudah terlena dengan kehangatan gadis itu.


Ia keluarkan sedikit, dan ia hentak agak kencang.


Dan lagi...


Dan lagi...


Sampai ia bergerak lebih cepat.


Ia fokus ke tubuh bagai kelopak mawar Anggun. Ia berusaha tidak menyaktii gadis itu.


Ia perlambat sedikit gerakannya, lalu ia hentak lagi agak cepat.


Tanpa ia sadari, tubuh Anggun bergetar. Dan rem asan kuku Anggun menggores lengannya hingga berdarah.


Ia hentak berkali-kali, sampai ia sadar kalau gerakannya semakin cepat.


Dan tiba-tiba teriakan Anggun menyerang telinganya.


“Astaga!” desisnya menyadari kesalahannya. Ia menatap ke arah wajah Anggun.


Wajah sendu dan kesakitan Anggun langsung membuatnya takut. Anggun menatapnya sambil terengah-engah.


“Kenapa berhenti?” de sah gadis itu.


“Eh...”


“Kamu butuh pengaman atau bagaimana?” tanya Anggun di sela-sela nafasnya yang terputus-putus.


“Aku pikir kamu kesakitan,”


“Awalnya iya... lama-lama...”


Rio tertawa pelan.


Ia menunduk untuk mengecup puncak dada Anggun, sekali lagi gadis itu mende sah nikmat. “Aku nggak butuh pengaman, aku akan menumpahkan semua di dalammu,” desis Rio sambil kembali menarik pinggul Anggun. Kali ini ia mengaitkan sebelah kaki Anggun di bahunya, sehingga Anggun agak miring, dengan posisi satu kaki terangkat. Rio kembali masuk dan mendorong Anggun.


“Oooh kena! Langsung kena di sana!” gumam Anggun ke-enakan.


“Lebih cepat sayang,” desis Anggun sambil memejamkan matanya.


“Pelan-pelan, nanti kamu pingsan,” kekeh Rio,


“Pelan-pelan aku malah pusing! Aku sudah nggak tahan!”


“Tanggung sendiri akibatnya.” Desis Rio.


Berikutnya, udara kamar itu terasa semakin panas. Yang ada hanya de sahan dan teriakan Anggun yang lirih.


**


“Kalian makan tengah malam begini?”


“Laper Pah,” desis Rio sambil memasukkan nasi goreng ke mulutnya.


Anggun hanya berdehem karena... suaranya habis.


Pak Banyu berjalan menuju dapur, sambil mengambil toples kopi, tapi matanya masih mengawasi ‘anak-anaknya’.


“Papah belum tidur?” tanya Rio


“Masih kerja, besok mau persiapan seminar,”


“Weekend masih sibuk aja Pah,”


“Pegawai baru, sih. Hehe,”


“Hati-hati Pah di Arghading,”


“Kenapa?”


“Cewenya seksi dan liar...” Rio menaik-naikan alisnya.


“Papah cari yang berjilbab buat jadi calon ibu kalian,”


“Halah! Hahahah!” Rio terbahak.


Lalu mereka terdiam


“Capek, Nggun? Serak ya?” tanya Papa tiba-tiba.


“Ohok!!” Anggun tersedak nasi goreng.


Pak Banyu tersenyum penuh arti.


***


Anggun terbangun besok paginya dalam keadaan letih. Ia menatap ke arah sampingnya. Tidak ada Rio di sana.


Lalu gadis itu terduduk dan memandang ke segala arah, Rio tetap tidak ada.


Sinar matahari yang masuk melalui jendela menerpa wajahnya.


Anggun merasa hangat dan nyaman.


bibirnya membentuk senyuman. Lalu ia menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya. Lalu merenggangkan tubuhnya.


Segar... Pikirnya.


Suaranya masih serak.


Tidak seperti waktu itu, saat ini semua terasa indah.


Rio berhasil membuat traumanya menghilang. Beginilah seharusnya bercinta itu. Lembut di saat yang tepat, bergelora si saat yang seharusnya. Suaminya sangat menghargainya, menghargai tubuhnya, menghargai hatinya, ia diperlakukan sangat baik, di saat beraktivitas mau pun di atas ranjang.


Begini ternyata rasa Rio. Pantas dia jadi idola. Bisa jadi banyak yang terpikat padanya. Untung dia bukan playboy.


Begitu pikir Anggun.


Lalu Anggun menyibakkan selimutnya dan memeriksa kondisi tubuhnya.


Heran, Pikirnya.


Tidak terasa sakit, tidak ada bengkak. Tetap lembab tapi nyaman.


"Wah..." desis Anggun semakin heran. Padahal ukuran Rio di atas rata-rata. Ia bisa bicara begini karena semua pria penjahat itu menunjukkan milik mereka. Tidak ada yang sebesar dan sekuat Rio.


Apakah karena mereka sudah suami-istri, otomatis secara magis tubuh mereka bersatu dengan cara saling melengkapi? Entahlah, Anggun hanya merasa terkesima.


Gadis itu turun dari ranjangnya, lalu ke kamar mandi.


Rio di sana, di depannya, di bawah shower.


Dalam posisi memunggunginya.


Anggun terkesima melihatnya.


Ya Tuhan, itu di depanku ada suamiku. AnugerahMu.


Tubuhnya tinggi dan tegap, dengan otot yang terukir sempurna padahal dia masih seorang pemuda. Belum matang secara usia, tapi KaryaMu sudah membiusku bagai masuk ke dalam SurgaMu.


Pertanyaanku hanya satu saat ini. Aku yang begitu berdosa PadaMu, tapi Kau malah memberiku Harta Tak Ternilai. Maha Baik dengan segala RahmatMu.


Seteelah memuji dan berterima kasih kepada Tuhan, Anggun pun membuka matanya.


Akhirnya gadis itu berjalan masuk ke dalam. Lalu memeluk punggung suaminya dari belakang.