Rascal In Love

Rascal In Love
Season untuk Junot



“Jadi pacar aku ya!”


Junot, si cowok mungil, 160cm/55kg, (Beratnya baru aja naik 5 kilo dipaksa makan terus sama Meneer biar nggak ceking-ceking amat) terpaku menatap perlahan ke atas sambil memicingkan mata.


Sosok di depannya ini sangat...’besar’. Setinggi Rio, tapi rambutnya panjang, bertattoo, dan tampangnya oriental. Dibilang cantik sih... ya pake banget.


Stylenya apa lagi, macho gaya militer tapi tetap feminin.


Tapi lalu mata Junot langsung tertuju ke dada cewek itu.


Dan Junot pun mencebik tak tertarik.


“Maaf kak, aku mother complex.” Katanya asal sambil melengos pergi.


Sudah jelas penampilan si kakak tingkat tidak membuatnya tertarik, walau pun ia mengakui kalau cewek itu cantik banget sebenarnya untuk ukuran etnis asia timur. Tapi Junot... ehem! Penyuka cewek berdada besar. (Bisa jadi karena dari kecil, wanita di sekitarnya semua berdada besar, mamanya, budenya, bahkan teman-teman mamanya yang sosialita, jarang ada yang dadanya tepos. Hal itu menjadikan Junot memiliki standar tinggi untuk tipe seseorang yang akan dijadikan pacarnya).


“Eh, Kamu yang namanya Justin Otello kan ya?!” si Kakak tingkat menghentikan langkah Junot dengan memegang lengan kurus tapi kokoh Junot.


“Yaaa?”


“Benar kamu kok, mana mungkin aku salah. Jadi pacarku ya?”


Lalu teman kating di belakangnya sambil terkekeh bilang, “Cewek kok namanya cowok banget?!”


“Saya memang cowok sih,” desis Junot.


Semua mengangkat alisnya, melihat penampilan Junot dari atas ke bawah ke atas ke bawah lagi.


“Iya dia memang cowok, gue tahu kok,” desis kating cewek itu. “Gue sering ngeliat dia di gereja sama mamanya,”


Jelas mata Junot membesar. Ia mengingat-ingat sosok di depannya ini. Mau sampai kepalanya miring-miring juga tetap saja ia tidak bisa mencari database mengenai sosok rupawan nan tinggi ini di otaknya.


Ya tapi kalau di gereja Mama dan Papanya memang selalu berada di golongan duduk di-depan sih, jadi jemaat yang lain berasa buram saja di mata Junot.


“Kamu nggak ingat aku? Kamu pernah digigit anjing sampai hampir mati karena kamu mencoba melindungi aku,” kata cewek itu.


“Iya, aku memang pernah digigit anjing sih, sejak itu aku boncel terus, pertumbuhan jadi terhenti.” gumam Junot sambil mengerutkan alisnya, bertanya dalam hati kok orang ini bisa tahu gue pernah digigit anjing sampai berdarah-darah.


Reflek, Junot mengelus pinggangnya. Tempat gigi si Pitbull menancap. Nyerinya langsung terasa akibat pikirannya melayang ke masa lalu saat tubuh kecilnya dihempaskan ke kanan dan kiri dengan gigi anjing itu menancap keras seakan ingin melepaskan semua bagian tubuh mungilnya.


Junot koma 2 minggu setelahnya. Dan katanya anjingnya sudah disuntik mati. Saat itu ia ingat sedang mengenakan seragam Merah putih, sekitar SD Kelas 4.


“Serius kamu...” desis cewek itu. “Maafin aku ya. Kalau saja aku nggak ceroboh waktu itu, kamu pasti-“


“Itu takdir, nggak usah dipermasalahkan lagi,” Junot mengibaskan tangannya lalu berniat melanjutkan perjalanannya ke kantin Fakultas Teknik di depan sana.


“Aku berniat mempermasalahkannya. Tolong jadi pacarku ya? Aku tidak sempat balas budi waktu itu. Tapi aku sudah berniat kalau seandainya kamu sadar, aku ingin dekat dengan kamu. Ternyata setelah itu keluargaku pindah ke Singapur jadi kita tidak bertemu lagi, baru tiga tahun yang lalu aku kembali ke Indonesia. Aku sempat mengingat nama kamu saat dokter bertanya di rumah sakit, ortu kamu bilang kalau nama kamu Justin Otello. Baru-baru ini aku tinggal lagi di lingkungan lama itu, ternyata kamu masih tinggal di situ dan bahkan satu gereja denganku. Tolonglah, izinkan aku jadi pacarmu,”


Junot hanya melongo mendengar penjelasan cewek itu.


Kata per kata berusaha ia cerna.


Tapi ternyata buffer karena matahari semakin terik di atasnya.


“Cijen, tawanan kabur tuh,” desis salah satu cowok di belakang si cewek.


“Sebentar ya Justin,” desis cewek itu lembut, lalu ia menoleh ke arah pemuda di seberang sana yang berusaha lari dari kawanan. “Woy Bang sat!! Lu Kabur gue cambuk sampe lemes yak!!” seru cewek itu kencang sekali.


Sontak di seberang sana, semua tawanan menunduk, memanggut-manggut dan kembali ke barisan.


Si cewek kembali fokus ke arah Junot, “Bagaimana tawaranku? Tolong terima ya? Atau ada cara lain yang  bisa menjadikan kamu jadi milik aku?”


“Mereka... siapa?”


“Mereka mencuri karya orang lain untuk diakui sebagai tugas akhir. Kami sedang memberi pelajaran. Oh Iya, namaku Jennifer Avramm, Semester 6 fakultas Design, anak DKV. Panggil aja aku Jenny.”


Jenny mengulurkan tangannya ke arah Junot sambil tersenyum.


“Hm... Justin Otello Connor, Panggil aja Junot. Semester awal teknik informatika. Salam kenal Kak Jenny,” Junot menyambut uluran tangan Jenny.


Tapi cewek itu menarik tangan Junot,


Dan langsung mengecup bibir cowok itu.


Erat sekali ekstra peluk.


Junot saking kagetnya tidak bisa bergerak, bahkan tidak mampu berpikir.


Ciumannya baru lepas saat tubuh Jenny di tarik ke belakang oleh... Meneer.


“Lo siapa maen cium-cium aja?!” desis Meneer sambil mengangkat alisnya.


“Nah, lo sendiri siapa?”balas Jenny


“Gue sepupunya.” Meneer menunjuk Junot dengan dagunya.


“Jadi lo Damian Cakra ya?” tanya Jenny.


Meneer menatap cewek di depannya ini dari atas ke bawah. Tinggi mereka sama, yang mana lumayan bikin Meneer kaget ada juga cewek setinggi dia. “Njir, keren banget,” tak sengaja bibirnya terucap kata sakti.


“Heeem...” Junot menghapus bekas ciuman Jenny di bibirnya, “Anuu, sori Kak Jenny, saya nggak boleh pacaran sama mama. Nih, sama Meneer aja.” Junot mendorong Meneer agak maju ke depan.


Jenny memicingkan mata.


“Aku maunya kamu,” Ia menangkap tangan Junot. ”Nggak mungkin kamu nggak boleh pacaran!”


Junot menepis tangan Jenny sambil menyeringai tak enak hati.


“Alasan kamu yang sebenarnya apa? Saya janji akan selalu bikin kamu senang dan-“,


Junot menyatukan kedua tangannya pose minta maaf, “Maaf Kak, Maaaaaaf banget! Aku suka cewek yang dadanya gede. Kakak dadanya tepos. Maap ya Kaaaaak,” kata Junot sambil langsung ngibrit sekencang yang ia bisa.


“Semprul, gue dikorbanin...” maki Meneer sambil menatap Junot yang lari menjauh. “Udah bikin heboh di tengah aula, ngehina cewek, sekarang kabur pula.”


Dan ia menghela nafas sambil menatap Jenny yang masih bengong menatap Junot. “Maklumin aja ya Kak Jenny, emang dia rada-rada-“


“Gila gue baru kali ini ketemu cowok seganteng itu...”


“Hah? Nggak sengaja kebuka mata batinnya ya Kak? Ganteng apanya? Kayak wibu lagi cosplay waifu gitu.”


(Wibu : Penggemar anime. Waifu : Istri 2 Dimensi alias gambar anime cewek yang diakui jadi istri).


“Unik kan? Nggak ada di mana pun!”


Meneer hanya bisa mengernyit  sambil mencibir. Dalam hatinya ia berpikir, kenapa sekitaran gue circlenya orang aneh semua.