
“Mas Rio, bisa bicara?” Saat sedang membeli kopi di kantin, dalam keadaan jam besuk sudah habis dan semua teman-temannya sudah kembali pulang, Rio dikejutkan dengan Saiful, Suami Isma yang datang dan menemuinya. Tampaknya Saiful datang khusus memang untuk bertemu dengan Rio.
Perawakan Rio yang menjulang tinggi, dengan otot yang bersembulan dan tatapan mata tajam, sejenak membuat Saiful gentar. Namun ia nekat maju karena ini semua demi keluarganya.
“Ya, Mas? Dulu dulu aja gimana?” tanya Rio, agar suasana jadi lebih cair. Rio juga memesan dua gelas kopi hitam ke ibu kantin, jangan terlalu banyak gula.
Maka kini mereka duduk di area tunggu di depan kasir. Siang itu suasana ramai, polisi masih berlalu lalang mengamankan situasi, dan banyak pengunjung sedang menunggu antrian dokter.
“Mas... bisa tidak, Mbak Anggun jangan terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga saya?” kata Saiful.
Pertanyaan yang menurut Rio wajar, bahkan sudah sepantasnya dilontarkan oleh Saiful. Tadinya Rio pikir Saiful tidak memiliki nyali untuk bertanya.
Rio masih tersenyum tipis menanggapi Saiful, ia diam dulu. Ia ingin Saiful mencurahkan isi hatinya. Biar lega.
“Saat Mbak Anggun ikut campur, rasanya memang Isma jadi lebih bersemangat menjalani hidup. Namun itu terkesan merendahkan saya Mas. Saya ini memilih Isma jadi istri juga dengan pertimbangan Mas, tidak serta merta menyatakan cinta ke orang lewat. Isma itu anaknya kalem dan sabar, dan tadinya kami memang ngontrak Mas, tidak tinggal serumah dengan ibu saya. Tapi tiba-tiba bapak saya sakit keras, Mas.”
Kopi hitam datang dan Rio mempersilakan Saiful untuk menyesapnya sejenak.
Setelah menghela nafas untuk membuang panas dari lidahnya, Saiful merasa lebih lega karena cafein sudah mulai merambah ketenangan di otaknya.
“Bapak bilang ke saya, kalau ibuk saya itu tidak pandai mengatur uang. Ya saya mengerti, ibuk berkali-kali kena tipu Mas. Bapak khawatir sepeninggal dia, Rumah itu dijual sama ibuk, terus dia kena tipu lagi. Jadi, Bapak balik nama sertifikatnya ke atas nama saya, dengan cara hibah agar tidak kena pajak. Dan seminggu kemudian bapak saya meninggal Mas. Karena khawatir dengan ibu yang tinggal sendirian, ya kami akhirnya pindah ke sana Mas. Kalau ortunya Isma kan masih berdua, jadi saya beratin ibuk saya Mas.”
Begitu curhat Saiful.
“Memangnya sejak awal perlakuan ibu ke Mbak Isma keras begitu ya?”
“Duh, saya juga bingung Mas, ibuk itu sepertinya terpengaruh konten-konten provokasi di Instagram itu loh Mas. Sejak diajari untuk buka internet dan bikin akun medsos, komen-komennya ibu ke konten-konten itu tak terkendali Mas. Tadinya saya pikir mungkin sebagai pelampiasan stress karena ditinggal bapak, tapi makin ke sini malah berdampak ke Isma, Mas.”
Saiful membuka-buka konten di salah satu aplikasi dan menunjukkannya ke Rio. Ia rupanya masuk ke aplikasi melalui akun ibunya.
syurga seorang anak lelaki adalah di bawah tapak kaki ibu, tetapi syurga bagi seorang istri ialah di bawah tapak kaki suaminya
Kewajiban Menantu pada Mertua : Memperlakukan Layaknya Orang Tua Sendiri. Perlakukan dengan baik, beri kasih sayang dan perhatian, turuti nasehatnya, dan memahami keduanya.
Apabila mertua Anda sudah berusia tua, mungkin juga sakit-sakitan maka kewajiban Anda adalah merawatnya.
kewajiban anak laki-laki terhadap ibunya setelah menikah adalah memberikan nafkah. Sebagai istri yang baik tentu harus memahami hal tersebut. Sisihkan gaji suami untuk memberikan nafkah pada mertua.
Dan kata-kata lain yang tertera pada media sosial itu.
Semua kata-kata itu tidak ada salahnya, tapi memang harus disikapi dengan lebih bijak karena kondisi rumah tangga setiap orang berbeda-beda.
“Mas Rio pasti paham dong yang seperti ini?” tanya saiful.
“Sejujurnya, tidak Mas. Hubungan saya dengan bapak Mertua baik-baik saya, dan ibu saya sudah meninggal sejak saya 7 tahun. Bapak saya sendiri malah meninggal bunuh diri di penjara, Mas. Jadi Anggun tidak punya mer-“
“Meninggal di penjara...?”
“Iya Mas, dia korupsi di kantor lalu dijebloskan oleh perusahaannya. Lalu saya luntang-lantung di jalanan bahkan hampir saja putus sekolah. Berulang kali saya keluar masuk penjara karena kasus kekerasan, balap liar, obat terlarang, mabok dan vandalisme fasilitas umum. Kacau sekali memang hidup saya dulu. Sampai saya ketemu Anggun, baru saya tobat. Berhenti gitu-gituan...”
“Anggun sendiri dari kecil dia dianiaya ibunya Mas, jadi masa kecilnya sudah keras. Lalu ibunya kan sekarang entah di mana sama pacar barunya di luar negeri kayaknya. Karena benci sekali dengan ibunya, maka Anggun selalu berusaha jadi yang nomor satu di segala bidang, dia populer di sekolah Mas.”
“M-m-mas Rio dari tadi cerita mengenai sekolah... sebenarnya usia Mas Rio sendiri berapa kalau boleh tahu.”
“Tahun ini 18 Mas, Anggun juga sama. Jalan 19 tahun sih Mas,”
“Ya ampun, masih muda banget!”
“Hm...” Rio mengangguk-angguk, “Yaaa, mohon maklumi istri saya ya Mas. Tapi jangan khawatir Mas, saya sudah tegur dia supaya jangan menghakimi banyak pihak. Dalam hal ini sebenarnya yang harus melakukan pendekatan adalah Isma dan Ibunya Mas. Tugas Mas Saiful adalah mendamaikan keduanya. Susah Mas kalau mereka sudah bersitegang. Yang satu sumber pahala, yang satu sumber surga. Kalau Mas Saiful bisa menyatukan keduanya, Alhamdulillah berkahnya sangat besar Mas.”
“Ibuk saya pasti ngomel Mas,”
“Kalau dia sayang dengan Mas Saiful, pasti dia mau mendengarkan kok Mas. Seorang ibu pasti menyayangi anaknya, kecuali dia kelainan mental. Anggun dengan ibu tirinya juga sering bertengkar, bahkan pernah berkelahi jambak-jambakan, tonjok-tonjokan. Tapi kalau ada amsalah mereka malah bersatu.”
“Ibu tiri Mas?”
“Iya, bapak saya punya istri kedua, setelah ibu tiri saya jadi janda, dia malah menikah dengan polisi yang dulu suka jeblosin saya ke penjara...”
“Mas Rio ini kehidupannya keras sekali ya ternyata. Masalah saya terasa tidak ada apa-apanya...”
“Jangan begitu , Mas. Masalah saya sifatnya duniawi. Kalau Mas Saiful sudah dunia akhirat Mas. Prestasi terbesar setan adalah kalau bisa membuat suami-istri bercerai. Lagi pula Mas, mungkin kamu akan sering bertemu saya. Anggun kan sudah jadi ibu susunya Adya.”
Saiful menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. “Itu juga di luar izin saya loh. Apa boleh melangkahi saya seperti itu?! Saya nasabnya loh.” Saiful tampak kesal.
“Mas Saiful lihat keadaan Adya saat it tidak?”
‘Ya tidak, saya kan tak boleh masuk NICU, di sana ibu-ibu semua!”
Rio memperlihatkan video Adya saat ia menangis tak berhenti. Bibir bayi itu kebiruan, dengan urat bersembulan dari dahinya. Meraung sampai suaranya habis,. Isma histeris dan hanya bisa memeluk Adya dengan putus asa.
Tampak raut wajah Isma yang sangat miris, duduk di lantai sambil menangis tanda frustasinya. Ia sampai sujud-sujud meminta agar Adya mau meminum susu. Atau paling tidak ASInya harus keluar. Dengan depresi, Isma bahkan memukul-mukul dadanya sendiri saking kesalnya ia karena ASInya tidak keluar.
Kejadian itu ternyata berlangsung saat Freya hilang. Jadi Anggun belum tampak di video.
Saiful tampak terpaku melihat video itu.
Lalu menit berikutnya ia ulang lagi video itu, kali ini air mata menetes ke pipinya.
“Kondisi Isma yang begini, yang paling tersakiti dari semua ini adalah dia Mas. Saat menikah dulu, Masnya berjanji untuk membahagiakan Isma. Bagaimana janjinya Mas? Masa tega melihat istri sendiri begini? Lihat itu jahitan sesarnya sampai berdarah lagi...” kata Rio.
Saiful tidak menjawab, ia hanya melihat video itu.
Lalu di video selanjutnya, diambil sekitar 45 menit dari video yang pertama, Anggun datang dan menggendong Adya. Tampak wanita itu menimang Adya, memeluknya, mencium dahi bayi itu , lalu menyusuinya dengan cara membelakangi kamera. Namun Saiful bisa melihat, Anggun menggendong Adya, namun tangan kirinya merangkul Isma. Isma mengelus dahi Adya. Jadi koneksi mereka bertiga tampak terkait.
“Berikan video ini ke ibu ya Mas, bilang ke dia untuk membiarkan Isma merawat bayinya dengan caranya sendiri. Kalau ingin membantu, dukunglah Isma tanpa menuduh ini-itu. Mendidik dan mengasuh anak adalah tugas istri, bukan tugas ibumu Mas. Zamannya sudah berbeda.” Kata Rio.