
Sesaat Junot masih berpikir kalau ia bermimpi.
Pertama, kenapa ia bisa tiba-tiba berada di sini tanpa ia ingat prosesnya.
Kedua, kepalanya sangat pusing dan pandangan matanya buram.
Ketiga, ia tidak mengenal orang-orang ini.
Tapi erangan Jenny di sebelahnya terasa memilukan. Kedua tangan Jenny terikat ke belakang. Dan ia hanya bisa meringis sambil menunduk.
Asap kecil timbul dari paha kanannya.
Junot bisa melihat darah merembes dari celana baggy abu cewek itu.
Lalu, Junot merasakan sesuatu yang panas tertempel di dahinya. Pemuda itu melihat sosok pria, besar dan bertubuh gempal. Ia tersenyum licik.
Dan di tangan pria itu ada lempengan besi, yang tertempel ke tengah dahi Junot.
Berikutnya Junot sadar kalau yang pria itu pegang adalah pistol.
Pistol ditempelkan ke dahinya.
“Telepon Pak Artha, 1 triliun, kirimkan ke rekening perantara ANTAM, lalu letakkan di tempat yang telah kami sediakan dalam bentuk logam mulia.” desis pria di depan Junot. Ia berujar ke Jenny dengan mengancam Junot.
Junot tegang.
Ini bukan mimpi.
“Maka kalian berdua bisa bebas, tapi tentu saja, dengan kondisi mata kalian buta dan lidah kalian terpotong. Kalian telah melihat kami semua. Kheheheheh,”
Junot melihat kertas yang di atasnya ada tulisan tangan. Lokasi sebuah gedung. Kantor Pak Kinto. Kertas itu disodorkan ke Jenny.
Apakah kini mereka sedang berada di kantor Pak Kinto?
Tapi kenapa atapnya rendah dan tampak seperti sebuah rumah yang belum selesai dibangun? Bukannya gedung?
“Bacakan...” Si pria penculik menekan paha Jenny yang terluka.
Gadis itu meraung kesakitan.
Lalu pria itu melepaskan tekanannya, dan Jenny terengah-engah mengatur nafasnya.
Tulisan di kertas itu berisi teks skenario. Yang kalau Jenny membacakannya, maka tuduhan akan beralih ke dirinya. Seakan ia adalah penjahatnya.
Jenny melirik Junot.
Junot menggeleng.
DOR!!
Senjata itu ditembakkan ke dinding di belakang Junot.
“Tembakan peringatan, jangan berani-berani membangkang.” Kata si penculik.
Junot gemetaran.
Jenny menahan sakit yang luar biasa di pahanya.
Lalu gadis itu mengangguk.
“Jen...” desis Junot.
Jenny hanya bisa diam.
Mau tak mau akan ia lakukan, demi keselamatan Junot.
Dan ponsel itu pun ditekan. Ponsel Jenny. Nomor Pak Artha dihubungi.
“Jenny!” begitu suara Pak Artha. Terdengar sedang diliputi kepanikan luar biasa.
Jenny menarik nafas, lalu mengusahakan agar suaranya tenang, sesuai skenario. Ia gugup sedikit, nyawa Junot melayang.
“Apa kabar Om? Sudah panik belum?” sapa Jenny.
Terdengar sumpah serapah pak Artha.
Jenny meneteskan air mata.
Hatinya sakit.
Ia kepikiran ayah dan ibunya.
Bagaimana pun ia hanya gadis yang berlagak kuat. Ia bahkan lebih ketakutan dari Junot. Dalam posisi begini, ilmunya di bela diri tidak terpakai, dan kekasihnya dalam bahaya.
Ia yang harus menjadi kambing hitam.
Setelah ini, ia mungkin akan dibunuh. Dan ayah ibunya di cap seumur hidup menjadi orang tua sindikat penculik. Semua bisnis ayahnya akan hancur, dan saudara-saudaranya akan dicap jelek.
“Semua yang Om tuduhkan ke saya benar adanya. Tidak usah banyak bicara lagi...” Jenny menarik nafas panjang. “Dengarkan saya baik-baik. 1 Triliun. Dalam bentuk emas Antam berbagai pecahan yang nomor serinya belum diinput. Letakkan di sebuah kantong sampah hitam dengan nominal sama besar, terbagi di 12 titik.”
Jenny membacakan titik-titik peletakkan emas, semua berada di sekitar gedung kantor Pak Kinto di berbagai cabang di Jakarta.
“Ada satu saja anggota kami yang tertangkap, kami akan memotong...” Jenny menelan ludah karena ketakutan. “Bagian tubuh Justin satu persatu. Dan kami kirimkan potongannya kepadamu. Sedikit demi sedikit... dan kami pastikan saat kejadiannya Justin tidak akan dibius...”
Sekuat tenaga Jenny menahan diri untuk tidak menangis.
Dan setelah telepon itu di tutup, pria itu terkekeh dan keluar dari kamar itu.
Junot hanya bisa terkulai lemas di kursinya.
Setelah beberapa saat keadaan mulai mereda. Tangis Jenny berhenti dan hanya isakannya yang terdengar. Ia berusaha menyimpan tenaganya karena kepalanya mulai pusing. Ia kehabisan banyak darah dari luka tembak di pahanya.
“Jen...” panggil Junot.
“Hm...” terdengar gumaman gadis itu
“Maafkan aku.”
Jenny menegakkan duduknya, dan mengatur nafasnya. Wajahnya sembab karena menangis.
“Aku rela demi kamu.” Desis pelan Jenny.
“Kamu konyol.”
“Aku hampir membuat kamu mati dulu. Kalau sekarang aku begini, anggap saja ini balasan setimpal.”
Lalu mereka berdua terdiam.
Junot memikirkan semuanya.
Kejadian demi kejadian.
Gara-gara syarat darinya, mereka harus berada di sini.
Jenny berani dengan ceroboh mengambil risiko seperti ini, yang penting baginya adalah pengakuan Junot.
“Kamu... kulihat kamu bertukar gelang ke Rio. Gelang couple. Masih bisa bicara cinta padaku?”
Dengusan sinis Jenny tercipta. “Kamu lihat toh? Tukang intip...”
“Aku percaya Rio tidak akan mengkhianati Anggun. Tapi aku tidak percaya padamu. Apa kamu... berusaha menggoda Rio?”
“Hm? Menggoda Mas Rio? Sama saja aku menggoda tembok dong.” Balas Jenny.
Lalu mereka diam lagi. Terdengar suara gaduh di luar sana. Kelihatannya mereka sedang merencanakan strategi saat mengambil tebusan mereka.
“Ini... dimana?” tanya Junot.
“Daerah Jawa Tengah...”
“Tambang emas?”
“Ya...”
“Apa benar Pak Kinto biang keladinya?”
“Mereka berusaha membuatnya tampak seperti itu. Kudengar begitu.”
“Jadi Pak Kinto tidak ada sangkut pautnya?”
“Tidak ada. Dia sudah hidup nyaman di Amerika. Tapi pekerja tambang ini marah karena Pak Kinto begitu saja menyerahkan tanah ini dan pengelolaan tambang ke Om Artha. Itu berarti tidak ada lagi pekerjaan untuk mereka. Jadi mereka mau membuat seolah dalang di balik ini Pak Kinto, dan aku tentunya. Aku dibuat seakan bekerja sama dengan Pak Kinto untuk menculikmu. Agar Om Artha menyediakan tebusan, sebagai ganti tambang ini. Karena jelas, tambang ini sudah tidak mungkin bisa mereka miliki.”
“Siapa dalangnya...”
“Kamu akan kaget.”
“Siapa?!”
“Warga kampung... satu kelurahan berkongsi untuk penculikan kita. Warga kampung yang menggantungkan hidupnya di tambang ilegal ini.”
“Astaga... kita musuh desa ini...”
“Mereka berbuat nekat, untuk menghidupi keluarga mereka. Selama ini mereka dimanjakan oleh emas. Kehilangan kita, kamu dan aku, tidak berarti bagi mereka. Karena di sini nyawa puluhan kepala keluarga dipertaruhkan. ”
Lalu mereka hening lagi. Mereka berusaha mendengarkan suara-suara yang ada di luar ruangan.
“Kamu benar-benar suka padaku...” desis Junot.
“Sayangnya... iya.”
“kalau aku tidak suka bagaimana?”
“Aku mundur teratur. Walau pun nggak ikhlas. Apa pun permintaanmu, kuusahakan kukabulkan, sekemampuanku.”
“Kalau kita berhasil keluar dari sini? Apa yang akan kamu lakukan?”
“Kalau aku keluar dalam keadaan mati, aku akan menghantuimu. Aku akan meneror istrimu, dan menganggap anakmu adalah anakku juga.”
Terdengar kekehan Junot.
Suasana di luar sana sangat gaduh. Entah apa yang mereka persiapkan. Tapi semakin lama jadi semakin ribut.
“Kalau...” Jenny mengerang menahan sakit di pahanya, “Kalau kita keluar dalam keadaan buta dan bisu, aku masih bisa mendengar. Aku akan mengetik semua kejadian dengan huruf braile. Walau pun tak bisa melihatmu, aku masih bisa mengendus bau-mu.”
Junot terkekeh.
“Lalu...” gumam Jenny lagi, “Kalau bisa keluar dari sini dalam keadaan hidup... aku akan menerima apa pu-“
“Aku nggak mau pacar-pacaran. Kita tunangan saja.” Potong Junot.
“Heh?!”