
Malam harinya.
"Mak, Al berangkat dulu ya" Alfi pamit untuk belajar kelompok kepada sang ibu. Tak lupa Alfi mencium punggung tangan sang emak.
"Iya hati-hati di jalan ya nak." Ujar Wati sambil membelai kepala Alfi.
"Jangan keluyuran kemanapun. Kalau udah selesai langsung pulang" Wati memberikan peringatan.
"Oke mak bos" ujar Alfi menghidupkan mesin motor nya.
Ketika motor Alfi berjalan, Lia sudah stand by di jok belakang.
"Kamu sudah siap kan Al?" Tanya Lia.
"Iya, semua keperluan ada di ransel ini" Alfi menepuk ransel yang ada di punggung nya.
"Sekarang kita mau kemana dulu? Langsung ke tempat tujuan atau bagaimana?" Tanya Alfi.
"Kita akan langsung cek in hotel yang sama, sebelum kita bertindak." Ujar Lia.
"Bagaimana caranya kita cek in hotel itu. Gue tidak mau identitas gue di ketahui oleh siapapun" pinta Alfi.
"Kamu tenang saja. Aku sudah mengatur semuanya" ucap Lia.
Sesampainya di hotel, Alfi berjalan untuk cek in di kamar yang bersebelahan dengan target.
"Dengan nama siapa dek?" Tanya resepsionis.
"Lia zolanda" ucap Alfi dengan wajah datar.
"Baiklah ini kuncinya dek. Selamat istirahat" resepsionis memberikan kunci kamar ketangan Alfi.
"Ceklek" pintu kamar di buka.
Lia keluar dari tubuh Alfi.
"Dimana ini?" Tanya Alfi.
"Kita sudah masuk ke hotel Al. Di depan adalah kamar target pertama kita." Jelas Lia.
"Lia kan sudah gue katakan. Gue tidak mau berbagi raga dengan lu" protes Alfi.
"Sudah terlanjur Al. Kalau tidak seperti itu, kita tidak akan sampai di kamar ini" ucap
Lia.
"Apakah ada orang yang mengenali gue?" Tanya Alfi.
"Selama aku berada di tubuh mu, maka orang hanya akan melihat sosok seorang Lia yang sudah mati. Namun ketika aku keluar, kamu akan kembali menjadi dirimu sendiri" jelas Lia.
"Al, lakukan tugas mu secepat nya. Setelah itu keluarlah dari hotel ini. Supaya kamu lebih aman. Karna setelah kematian mereka, tempat ini akan di eksekusi oleh pihak yang berwajib. Jangan sampai kamu terbawa arus." Pesan Lia. Alfi mengangguk mengerti.
Lia menghilang meninggalkan Alfi sendirian. Lia menembus dinding pembatas antar kamar.
"Put? Jam berapa om Bram akan datang?" Tanya Serly.
"Seperti sekitar jam sepuluhan, bagaimana dengan kamu ser, apa sudah siap?" Tanya putri.
"Sudah dong. Lihat setiap inci to tubuh ku terlihat sangat sempurna" Serly memamerkan setiap inci tubuhnya di hadapan putri.
"Put, kira-kira jimad ini kalau di lepas bahaya nggak sih? Soal nya selama ini aku belum pernah di ganggu oleh hantu Lia. Apa jangan-jangan Fii berbohong ya?" Tanya Serly.
"Nggak tau juga sih ser. Tapi buat jaga-jaga saja sih. Siapa tau hantu Lia nyamperin kita" saran putri.
"Tapi kalau pakai ini, bisa merusak keseksian tubuh ku put" keluh Serly.
Di tengah perdebatan putri dan Serly, Alfi masuk menggunakan seragam pegawai hotel. Tak lupa Alfi membawa makanan untuk alasan Alfi biar bisa masuk ke dalam kamar mereka.
"Tok, tok, tok" Alfi mengetuk pintu.
"siapa?" Tanya putri.
"Petugas mbak. Saya bawakan makanan pesanan Mbak" ujar Alfi dengan menggunakan masker.
Putri segera membuka kan pintu untuk Alfi. Dengan sigap Alfi menarok makanan itu di atas meja. Ketika Alfi hendak keluar tiba-tiba saja lampu mati total. Kedua perempuan itu melompat ke arah Alfi.
"ambil jimad itu dari pergelangan tangan nya" bisik Lia.
Dengan cepat Alfi menarik gelang itu secara perlaha. Kedua jimad sudah aman di tangan Alfi.
Tak lama berselang lampu kembali hidup. Dan Alfi meminta izin untuk keluar.
Lia berdiri dengan jarak satu meter dari Alfi duduk.
"Ngapain lu di situ? Tumben lu nggak nyamperin gue" ucap Alfi usil.
"Bakar jimad itu Al. Aku tidak bisa mendekati mu selama jimad itu ada di dekat kamu" pinta Lia.
"Wah benarkah? Kalau begitu bagus dong. Jadi lu tidak bisa lagi gangguin gue" Alfi merebahkan badannya di atas tempat ranjang.
"Jangan macam-macam Al. Kamu mau masuk penjara karna kasus pembunuhan.? Lihat dimana-mana ada cctv Al. Hanya aku yang bisa menolong kamu keluar dari sini" ejek Lia.
"Hahaha, iya-iya gue cuma bercanda kok. Lu tenang saja. Jimad ini akan berakhir di tempat ini." Alfi mengeluarkan korek yang ada di saku sweter nya. Lalu membakar jimad itu hingga menjadi abu.
"Makasi Al. Sekarang bersiap lah, kita akan keluar dari tempat ini" Lia kembali masuk ke dalam tubuh Alfi.
Alfi yang berwajah kan Lia kembali ke ruang resepsionis. Alfi melakukan cek out 2 jam sebelum tragedi berdarah.
"Kok cuma beberapa jam dek?" Tanya resepsionis.
"Iya mbak. Saya cuma numpang istirahat sebentar. Karna saya harus melanjutkan tour saya lagi" ujar Alfi datar.
Sesampainya di parkiran, Lia keluar dari tubuh Alfi. Dan menyuruh Alfi untuk Segera meninggalkan tempat itu.
"Pulang lah Al. Kalau ada berita besar tentang kematian mereka, kamu pura-pura tidak tahu apa-apa. Aku jamin kamu akan selamat" ujar Lia sambil menghilang.
Alfi dengan keringat dingin, segera meninggalkan penginapan tersebut. Jam masih menunjukan pulul setengah sembilan malam. Alfi bingung hendak kemana, karna Alfi izin sama emaknya sampai jam 10 atau jam 11 san baru akan pulang.
Ketika sampai di persimpangan jalan, Alfi di panggil oleh seseorang.
"Al?" Sapa Rendi.
"Eh lu ren" ujar Alfi.
"Dari mana lu?" Tanya Rendi.
"Ini ren habis pulang belajar kelompok. Sebentar lagi kan mau ujian nasional" alasan Alfi.
"Kalau begitu ayo gabung dulu. ini kita lagi pada ngopi" ajak Rendi.
Alfi ikut bergabung dengan Rendi dan teman-teman nya. Alfi ikut tertawa dan bercanda dengan mereka. Tanpa Alfi sadari jam sudah menunjukkan pukul 10.30.
"Ren, gue pulang dulu ya. Kasihan emak sendirian di rumah" ujar Alfi pamit undur diri.
"Ayo, biar gue antar sampai rumah. Nanti lu kenapa-napa lagi" ujar Rendi.
"Cieee yang lagi jatuh cinta" sorak teman Rendi sambil tertawa.
"Apapan sih kalian. Jangan ngomong gitulah, nanti Alfi pada ilfeal sama kita-kita" seloroh Rendi.
"Lu bisa saja ren. Tapi makasi ren, gue pulang sendiri juga nggak apa-apa kok. Nggak enak juga lu ninggalin yang lain demi ngantar gue pulang" ujar Alfi.
"Udah, lu nggak usah bawel deh. Nanti lu di ganggu in preman bagaimana?" Rendi bersikeras untuk menemani Alfi pulang.
Akhirnya Alfi mengendarai motornya dan Rendi juga mengendarai moge miliknya. Rendi mengantarkan Alfi sampai depan rumah.
"Makasih ren" ucap Alfi.
"Sama-sama. Gue cabut dulu" Rendi segera pergi meninggalkan Alfi.
"Baru pulang pit?" Tanya Wati.
"Iya mak. Maaf aku agak lama" ujar Alfi.
"Iya nggak apa-apa, yang penting lu pergi buat belajar" kata-kata sang emak seperti belati yang menusuk jantung Alfi. Itu karna Alfi berbohong kepada sang ibu.
"Udah kamu tidur gih sana. Malah bengong" suruh Wati.
Alfi segera melangkah menuju kamarnya. Mata Alfi tidak mau di pejamkan. Saat ini Alfi sedang berfikir, bagaimana nasib putri dan kawannya di penginapan itu.
***
Di tempat lain tepat nya di hotel melati, putri dan Serly sedang bersenang-senang dengan om-om kaya.
Permainan malam ini sangat menarik. 2 lawan 1 dengan hasil yang memuaskan. Namun itu hanya hayalan mereka semata.
Pada kenyataannya, putri dan Serly sedang di landa ketakutan.
"A-ampun. Jangan ganggu kami" pinta putri lirih.
Lia tidak mau menggubris perkataan mereka. Dengan sigap Lia melayang mendekati mereka.