Pembalasan Demi Sang Ibu

Pembalasan Demi Sang Ibu
terungkap


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Lia dan Rizal sedang asyik bercerita-cerita di atas balkon sedangkan Alfi dan Rendi sedang asyik mengobrol di depan televisi sambil menonton Drakor.


"Lu mau ngomongin apa sih ren?" Tanya Alfi. Tatapan mata Rendi langsung beralih ke arah Alfi.


"Cup" Rendi menc*um bibir Alfi dengan lembut. Dan dalam hitungan detik kiss itu mereka akhiri.


"Otak mesum lu" gerutu Alfi.


"Sorry Al. Gue khilaf, habisnya bib*r lu menggoda banget." Rendi tersenyum


"So, jadi lu pengen ngomongin apa.? Selagi gue punya waktu buat dengarin lu. Siapa tahu nanti gue udah tidak bisa lagi dengerin ocehan lu yang tidak berbobot ini" cibir Alfi.


"Love you Al" ujar Rendi memeluk Alfi.


"Love you more ren" balas Alfi lembut.


"Ingat lah Al, sampai kapan pun lu akan tetap menjadi milik gue. Apa pun yang akan terjadi kedepan nya. Lu paham kan?" Ujar Rendi.


"Paham, tapi gue minta sama lu, jangan terlalu mencintai gue ren. Gue takut lu akan kecewa nantinya." Alfi melerai pelukan mereka.


"Gue janji akan selalu ada buat lu Al. Dan gue janji tidak akan meninggalkan lu dalam keadaan apapun. Gue nggak akan kecewa sama lu." Rendi mengecup kening Alfi dan membawa kepala Alfi bersender di bahu rendi.


'semoga saja ren. Gue juga udah janji Sama diri gue sendiri kalau Anto adalah mangsa gue untuk terakhir kalinya. Semoga saja gue aman dan bisa memulai kehidupan baru bersama lu' batin Alfi yang larut dalam dekapan Rendi.


***


Sinar mentari telah muncul menyinari bumi. Alfi dan Rendi tertidur di atas sofa dengan berpelukan. sedangkan Rizal dan Lia tertidur di tempat masing-masing.


"Al, bangun" Lia menggoyang kan tubuh Alfi.


"Eh, udah pagi ya?" Tanya Alfi sambil mengucek mata.


"Iya, ayo kita siap-siap untuk pulang. Nanti siang kita harus ke kampus" ujar Lia mengingat kan Alfi.


"Oh iya ya." Alfi berdiri.


"Ren bangun, kita jadikan pulang pagi ini?" Tanya Alfi menoel-noel pipi Rendi.


"Huaaaaa iya jadi. Ayo siap-siap sekarang" Rendi bangkit dan langsung menuju kamar mandi.


Setelah semua nya beres, mereka berempat cek uot dari penginapan dan singgah dulu mencari sarapan pagi.


"Makasih ya, bye-bye. Hati-hati di jalan" Alfi dan Lia melambaikan tangan Kepada Rendi dan Rizal selepas mengantarkan mereka ke kosan.


"Al, kita ke kampus atau tidak?" Tanya Lia.


"Gue ragu lia. Seperti nya gue harus menyiapkan beberapa barang untuk nanti malam. Gue sudah yakin akan melakukan nya malam ini" ujar Alfi.


"Kalau begitu aku telfon si Udin dulu, biar absen kita aman" Lia segera menghubungi Udin. Sedangkan Alfi sibuk menyiapkan beberapa barang yang dia perlukan.


"Kenapa perasaan gue sedih kayak gini ya? Rasanya gue ingin punya waktu yang lebih lama lagi sama lu ren. Dan baru juga beberapa menit lu nggak ada di samping gue. Gue sudah rindu setengah mati." gumam Alfi dengan sedikit senyum getir yang terulas di bibir nya.


"Bagaimana Lia,? Amankan?" Tanya Alfi


"Aman dong, Lia gitu loh" Lia membaringkan tubuhnya di atas kasur yang biasa mereka tiduri.


"Al, gue kok jadi bucin ya sama si Rizal. Pengen banget gue menghentikan waktu agar selalu bisa bersama dengan dia" tutur Lia tersenyum sambil menatap langit-langit.


"Lah hantu bucin lu. Semoga saja kalian bisa bersatu di alam fana" ejek Alfi. Lia memanyunkan bibirnya ke depan.


Sore harinya Alfi dan Lia berangkat ke kampung halaman Alfi. Dengan menggunakan perlengkapan seadanya mereka akan beraksi kembali malam ini.


"Motor nya kamu tinggal disini lagi Al? Yakin aman?" Tanya Lia meyakinkan.


"Lu percaya sama gue deh Lia. Tidak akan ada yang menemukan motor ini di sini" ujar Alfi mantap. Seperti yang sudah-sudah, Alfi dan Lia bersembunyi di rumah tua peninggalan Wati. Mereka menunggu hinggap berjam-jam.


Sampai lah mereka berdua di hujung penantian. Alfi dan Lia melihat Anto yang baru pulang dari luar dengan keadaan kacau.


"Kenapa dia?" Tanya Lia.


"Kemungkinan dia mabuk, tapi bagus lah itu akan mempermudah kita untuk menghabisi nya" Alfi tersenyum memperlihatkan sisi gelapnya yang tersimpan selama ini.


"Ayo!" Ajal alfi.


Alfi dan Lia berhasil menerobos rumah milik Anto. Dengan gesit mereka masuk kedalam kamar yang di tempati Anto.


"Siapa kalian?" Tanya Anto dengan suara khas orang mabuk. Alfi dan Lia tidak ada yang mengeluarkan suara sedikitpun.


"Apakah kalian ingin membunuh ku? Seperti yang kalian lakukan kepada anak dan istri ku?" Tanya Anto dengan tertawa.


"Ayo lakukan. Setelah kepergian mereka hidup ku sudah tidak artinya lagi. Bahkan aku sudah menanti kan momen ini dengan sangat lama. Ayo cepat lah." Racau Anto.


Seketika Anto terbelalak melihat sosok itu adalah sang ponakan yang selama ini dia tindas.


"A-alfi?" Tanya Anto.


"Iya aku adalah Alfi. Aku adalah anak dari wanita yang telah engkau habisi dengan sangat tragis" ujar Alfi mengingat kan ada kembali ingatan yang telah berlalu.


"D-dari mana kamu tau kalau aku yang menghabisi Wati?" Tanya Anto.


"Apa yang tidak aku tau paman. Bahkan ke dua teman mu sudah lebih dulu berangkat ke neraka. Dan di susul oleh anak dan istri mu. Tapi kamu tenang saja, sebentar lagi kamu juga akan menyusul mereka" ucap Alfi mantap.


"Oke baiklah. Kau pun akan ikut dengan ku b*doh" Anto bangkit dan menyerang Alfi menggunakan golok yang tajam.


Dengan sigap Lia menendang tangan Anto sehingga membuat golok itu terpental ke sudut ruangan.


"Lihat lah. Sekarang kamu tidak lagi mempunyai kesempatan untuk selamat paman. Semoga kamu tenang di alam neraka. Hahaha" Alfi tertawa sambil melangkah mendekati Anto.


Beberapa kali Alfi melayangkan pisau yang ada di tangan nya. Namun masih bisa di elakan oleh Anto.


Untuk Serang terakhir Alfi berhasil memberikan tusukan yang dalam di dada anto. Seketika darah mengucur deras tak kala Alfi menarik pisau tersebut.


Tujuh kali tusukan membuat Anto terkapar. Namun ketika Alfi hendak memutilasi tubuh Anto, seseorang datang dari luar rumah sambil berteriak.


"Tolonnggggg"


"Ada pembunuhan. Tolooong" teriak laki-laki tersebut.


Sontak saja para warga berhamburan keluar rumah. Sedangkan Alfi dan Lia kaget bukan main. Mereka segera berlari di arah hutan disusul oleh beberapa warga yang melihat mereka.


Dengan sekuat tenaga Alfi berlari menebus kegelapan malam. Lia yang lari nya kurang kencang akhirnya berhasil di ringkus oleh para warga. Dengan terpaksa Lia meninggalkan tubuh Ratna dan menghilang menembus dimensi lain.


Alfi yang masih lari karna kejaran warga akhirnya sampai di tepi jurang dalam. Melihat para warga yang sudah semakin dekat Alfi nekad melompat ke dasar jurang yang tak berujung itu.


"Selamat tinggal Rendi. Aku sangat menyayangimu" gumam Alfi dengan tetesan air mata yang mengalir di pipinya.


"Ah sial. Dia nekad melompat ke sana" ujar salah satu warga.


"Kemungkinan besar dia akan mati. Karna jurang ini sangat dalam. Bahkan manusia pun belum pernah menjejak kan kaki ke dalam sana."ujar Supri.


"Kira-kira siapa ya pelaku nya?" Tanya pak RT.


"Alfi pak. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bahwa pembunuh itu adalah Alfi anaknya Wati." Ujar beni.


"Benar kah? Bukan kah dia sedang menempuh pendidikan di kota besar? Sebenarnya apa motif pembuahan tersebut?" Tanya pak RT.


"Kemungkinan besar karna sakit hati atau dendam pak RT. Karna sepengetahuan saya Anto sering kali merendahkan keluarga mereka." Jawab beni.


"Pak, salah satu pelaku sudah berhasil di tangkap. Tapi ada yang aneh pak" ujar Mul yang baru saja datang.


"Apa nya yang aneh?" Tanya pak RT.


"Ketika pelaku itu di tangkap tiba-tiba saja tubuhnya merosot ke bawah. Dan tak lama kemudian tubuh itu membusuk dan mengeluarkan belatung-belatung kecil dari dalam dagingnya yang sudah hancur. Baunya sangat menyengat pak. Seperti orang yang sudah mati berbulan-bulan lamanya. Padahal kami baru menangkap orang tersebut dalam hitungan menit."jelas Mul yang menceritakan kejadian beberapa menit yang lalu.


"Astagfirullah, kok bisa ya?" Ujar pak RT heran.


"Kalau begitu ayo kita kembali ke rumah pak anto. Biar kan pihak yang berwajib menyelesaikan penyelidikan ini" ujar pak RT.


Semua warga Segera kembali ke rumah Anto. Di sana line polisi telah melingkar dan tak diizinkan satu orang pun masuk dalam line tersebut.


"Bagaimana keadaan Anto pak?" Tanya pak RT.


"Dia sudah meninggal karna kehabisan darah" jelas polisi yang menangani.


"Innalilahi wa innailaihi Raji'un" ujar pak RT.


"Warga tenang saja, kami akan menyelidiki kasus ini sampai tuntas. Beberapa tim sudah kami kerahkan untuk terjun ke jurang. Dan untuk jenazah yang sudah membusuk ini kami akan segera mengubur kan nya dan mencari tau keberadaan keluarga pelaku." Jelas polisi.


"Pak saya melihat dengan mata kepala saya sendiri kalau pelakunya yang melompat ke jurang adalah Alfi, Ponakan dari korban yang bernama anto.  Dan jasad ini seperti nya teman Alfi yang dia bawa dari kota. Tapi aneh nya dalam Hitungan detik kenapa tubuh ini bisa membusuk?" Ujar Beni memberikan kesaksian.


"Terima kasih atas kesaksian nya pak. Kami juga sudah menemukan beberapa bukti dari barang-barang yang mereka tinggalkan. Kemungkinan besar karna kaget pelaku tidak sempat membawa barang-barang tersebut." Jelas polisi lagi.


"Pak, kami menemukan motor di semak-semak di perbatasan kampung. Ini motor itu" bapak-bapak peronda menyerahkan motor milik Alfi yang berhasil mereka temukan.


"Nah benar. Ini motor memilik Alfi anak nya Wati. Kok tega bener dia ngelakuin itu kepada paman nya sendiri." Ujar ibuk-ibuk yang ikut hadir malam itu.


"Sudah-sudah. Pokoknya kita serahkan semua ini kepada pihak polisi. Untuk warga terima kasih atas partisipasi nya. Silahkan kembali ke rumah masing-masing. Karna hari sudah larut malam." Pak RT memberikan arahan.


Semua warga pun mengikuti instruksi dari sang kepala kampung. Satu persatu dari mereka sudah kembali ke rumah masing-masing.