
Dua hari telah berlalu semenjak konflik antara Alfi dan Rendi telah selesai. Sekarang rendi sudah kembali melanjutkan kuliahnya seperti hari biasanya.
Tak ada hari bagi Rendi kecuali hari-hari bersama Alfi. Dua pasang anak muda itu benar-benar sedang di mabukan oleh cinta. Yang satu laki-laki bad boy dan yang satu lagi wanita spikopat. Entah kenapa mereka bisa untuk menyesuaikan diri terhadap pasangan masing-masing.
"Al, nanti malam kita keluar yuk. Makan jajanan di tepi jalan" ajak Rendi.
"Boleh ren. Tapi kali ini ajak Ratna ya. Kasihan kalau harus di tinggal terus" saran Alfi.
"Boleh deh, nanti aku ajak Haikal kalau dia mau" ujar Rendi.
"Haikal? Kamu yakin kalau dia mau ikut?" Tanya Alfi.
"Seperti nya. Tapi nanti kita coba dulu, siapa tau dia mau kan" kata Rendi berfikiran positif.
"Ya udah, Sampai ketemu nanti malam ya?" Ucap Alfi. Alfi turun dari boncengan Rendi. Sedangkan Ratna sudah menunggu di kosan dari tadi.
"Eheem, yang lagi buncin-bucinnya. Nggak ingat waktu lagi kalau udah berduaan" sindir Lia.
"Apaan sih Lia. Ini tadi gue dari grandmedia cari buku untuk bahan makalah. Lu udah ada emang?" Tanya Alfi sambil mengeluarkan beberapa buku yang dia beli.
"Wah kebetulan sekali aku juga tidak punya Al. Nanti kita kongsi ya, please" bujuk Lia sambil menyatukan kedua telapak tangan nya dan meletak kannya di dada.
"Emang hantu masih butuh yang beginian?" Sindir Alfi.
"Kami kadang-kadang bikin simosi juga Al. Ya butuh lah, hantu juga butuh tambahan ilmu biar pintar" ujar Lia cemberut.
"Hahaha kirain nggak butuh."Alfi berjalan menuju tempat tidur nya.
"Lia, nanti malam kita keluar ya? Cari angin segar biar otak kita fresh" ajak Alfi.
"Boleh Al, tapi nanti aku jadi obat nyamuk kalian lagi" cibir Lia.
"Haha, untuk kali ini lu tenang saja. Rendi mau ajak Haikal buat jadi partner lu" tutur Alfi sambil tertawa cekikikan.
"Haikal? Kamu yakin Al?" Tanya Lia serius.
"Gue juga kurang yakin. Tapi nggak tau juga deh, siapa tau dia mau" jawab Alfi kurang yakin.
"Hehe aku yakin dia tidak akan mau Al." Ujar Lia yakin.
"Lah kenapa? Kok lu yakin banget dia tidak akan mau?" Tanya Alfi.
"Hehe, beberapa Minggu yang lalu aku sempat mendatangi nya Al. Dan dia sangat ketakutan. Setelah itu kamu lihat kan perubahan dia.? Dia langsung jaga jarak sama kita." Jelas Lia.
"Dasar lu Lia, jadi hantu kok ceroboh banget. Bagaimana kalau dia mencurigai kita berdua" gerutu Alfi.
"Kamu tenang saja Al. Aku pastikan dia tidak akan mencurigai kita. Tapi dia akan menyangka kalau kita berdua ada penjaganya hehe" kata Lia sambil tersenyum.
"Al aku dengar-dengar paman kamu akan pergi merantau jauh. Apakah kamu tidak ingin mengakhiri semua ini secepatnya?" Tanya Lia.
"Itu lah yang sedang gue fikirkan. Seperti nya dalam waktu dua hari ini gue harus bertindak Lia. Kalau tidak tipis sudah harapan kita untuk membunuh Anto" jawab Alfi dengan tatapan tajam.
"Aku akan Membantu mu Al. Tapi ini untuk yang terakhir kalinya. Setelah ini aku tidak ingin melakukan pembunuhan lagi. Aku akan hidup seperti orang yang normal. Menghabiskan waktu seperti manusia pada umumnya. Sampai ada jalan untuk ku pulang." Jelas Lia dengan tatapan kosong.
"Gue juga ingin menjadi kan ini pembunuhan yang terakhir Lia. Sudah banyak rasanya dosa yang gue lakukan dengan menghabisi nyawa mereka. Gue akan berhenti setelah Anto benar-benar mendapatkan balasan yang setimpal." Sambung Alfi.
"Sip gue pasti akan selalu support kamu Al" Lia memeluk Alfi dari samping.
Malam hari nya Rendi datang bersama dengan teman satu geng nya dulu. Kebetulan dia juga sedang di universitas yang berbeda dengan Rendi.
Melihat dia Alfi iseng mengerjai rendi. Dengan santainya Alfi menaiki motor teman Rendi yang belum dia tau siapa namanya.
"Eheem" dehem Rendi memberi kode. Namun Alfi kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu. Lia menghembuskan nafas panjang.
Akhirnya dengan sedikit paksaan Rendi menarik Alfi turun. Alfi yang kaget hampir saja terjatuh.
"Astaga, santai woi. Kalau gue jatuh bagaimana?" Protes Alfi.
"Makanya jangan memancing di air keruh. Gue makan juga lu akhirnya" cibir Rendi.
"Lah hubungan apa coba?" Tanya Alfi yang menggaruk kepalanya.
"Nggak ada hubungan apa-apa. Sekarang lu naik Sama gue. Si Rizal biar sama Ratna saja. Dasar cewek kegatelan lu" ejek Rendi yang sedang terbakar api cemburu.
'wkwkwk, kena juga lu akhirnya ren. Rasain' batin Alfi yang sedang duduk di atas moge Rendi.
"Kita mau kemana?" Tanya Alfi yang menumpang kan dagunya di bahu rendi.
"Ke puncak, seperti nya malam ini di sana pemandangan nya sangat bagus." Usul rendi.
"Mau nginap atau bagaimana?" Tanya Alfi lagi.
"Hmm, memang kamu mau nginap?" Goda Rendi.
"Hmm mau sih ren. Tapi kita satu kamar sama-sama saja. Biar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan" ujar Alfi.
"Boleh juga. Ya sudah kalau begitu nanti kita bicarakan sama Ratna dan Rizal" Rendi kembali fokus mengendalikan moge kesayangan nya.
Alfi dan Rendi Sebenarnya tidak berpacaran, mereka hanya saling berkomitmen dan saling menjaga hati masing-masing. Hanya rasa cinta yang di bumbui kerinduan lah yang mampu membuat mereka saling mengerti satu sama lain nya.
Sesampainya di puncak, rendi sudah membooking satu tempat yang sangat Spesial untuk Alfi. Dari sana mereka dapat melihat pemandangan yang sangat indah untuk di lihat. Rumah-rumah terlihat lebih kecil dari atas sana. Terpaan angin malam membuat suasana menjadi lebih sejuk.
"Zal, rat gimana kalau malam ini kita nginap saja di sini. Kebetulan besok juga libur kan. Paginya kita bisa jalan-jalan dan mencari hiburan. Itu di sebelah sana banyak wahana yang menantang untuk kita coba" saran Rendi.
"Boleh juga ren. Kebetulan gua besok juga free." Sahut Rizal.
"Lu gimana rat? Nggak keberatan kan?" Tanya rendi.
"Ya enggak lah. Masak dia keberadaa apalagi di temani cowok ganteng kayak Rizal." Goda Alfi. Seketika wajah Lia atau Ratna berubah menjadi merah.
"Lu bisa saja Al" ujar Rizal.
"Nah kebetulan Rizal itu jomblo rat. Siapa tau kalian cocok kan" sambut Rendi sambil tertawa.
"Udah jangan di goda terus ren. Nanti dia risih" Bela rizal.
"Uluh- uluh, sekarang ada yang belain ya rat" ujar Rendi.
"Apaan sih kalian sibuk banget deh. Nanti aku pulang nih" akhirnya Lia angkat bicara.
"Hehehe, bercanda doang kok rat. Masak marah" tutur Alfi mesem-mesem.
"Owh iya. Kamar nya udah di booking belum?" Tanya Rizal.
"Udah zal, lu tenang saja. Pasti lu udah nggak sabar satu kamar sama Ratna kan" guyon Rendi.
"Buset dah, otak lu ren ngeres terus." Protes Rizal.
"Nah seperti nya dia ini yang tidak sabar mau ehem-ehem sama Alfi" timpal lia.
"Haha, tau saja kalian. Btw kita satu kamar semua kok. Itu permintaan Alfi, biar tidak terjadi hal yang diinginkan" jelas Rendi.
"Kenapa tidak dua kamar saja ren. Satu untuk Alfi dan Ratna, dan satu lagi untuk kita berdua" ujar Rizal.
"Ye males gue berduan sama lu, yang ada nanti kita di kira penyuka sesama kaum lagi" cibir Rendi.
"Haha, ya sudah. Pesan twin bed saja kalau begitu" akhirnya Rizal mengalah.
Mereka berempat menghabiskan waktu sampai jam satu malam. Setelah cuaca semakin sejuk mereka memutuskan untuk kembali ke penginapan yang sudah mereka pesan.
Mereka memutuskan untuk segera tidur. Entah kenapa malam ini Rendi tidur dengan sangat resah.
"Ngapain sih lu ren. Garasak grusuk" tanya Rizal dengan mata yang tertutup.
"Zal lu pindah di bed Ratna dong. Biar Alfi tidur di sini" pinta Rendi.
"Lu jangan aneh-aneh dong ren." Tegur Rizal.
"Gue cuma mau tidur sambil oeluk dia kok zal. Lu kan tau kalau gue nggak pernah aneh-aneh" tutur Rendi dengan suara serak.
"Ya udah." Jawab Rizal singkat.
Dengan langkah yang oyong Rizal berjalan mendekati bed Alfi dan Ratna. Rendi langsung menggendong Alfi dan meletakkan nya di tempat tidur Rendi. Akhirnya Rizal tidur tepat di sebelah Ratna yang di batasi dengan bantal guling.
"Cantik banget calon istri gue kalau lagi tidur" gumam Rendi sambil membelai lembut wajah Alfi.
Alfi yang sudah terlelap dengan nyenyak, sampai tidak tau kalau Rendi memindahkan Alfi agar satu bed dengan Rendi.
Rendi tak mau melepaskan tatapan matanya dari arah wajah Alfi. Sungguh ini adalah pengalaman pertama baginya bisa melihat Alfi tertidur dengan nyenyak dari jarak yang sangat dekat.
Tak mau berfikiran lebih jauh lagi, akhirnya Rendi tidur dengan memeluk Alfi. Sengaja kepala Alfi dia letakkan di atas lengan nya yang berotot sebagai ganti bantal untuk Alfi.
"Selamat malam sayang. Aku sangat mencintaimu" Rendi mencium kening Alfi dan memejamkan mata untuk tidur.
Dalam hitungan menit, akhirnya Rendi ikut tertidur dengan nyenyak. Seketika mata Lia terbuka.
Lia melihat ke arah Rendi dan Alfi sambil tersenyum.
"Dasar bocah edan kamu ren. Awas saja kalau sampai melakukan hal yang buruk Sama Alfi. Aku pecah kan kepala mu" gumam Lia lirih.
Jadi ketika rendi dan Rizal berpindah posisi tadi sebenarnya Lia mengetahui itu. Hanya saja Lia pura-pura tidur agar mereka tidak merasa Canggung. Pasalnya Lia adalah roh yang tidak akan pernah tertidur sampai kapan pun.
Tatapan Lia berhenti tepat di samping nya. Lia melihat Rizal tertidur dengan dengkuran halus.
'Cute juga kamu ya zal. Tidur pun masih terlihat cool.' batin Lia.
'apakah aku sedang jatuh cinta ya?' batin Lia bertanya kepada dirinya sendiri.
'ini pertama kalinya aku merasakan hal yang seperti ini. Setelah kematian aku sudah tidak pernah lagi merasakan yang namanya cinta' batin Lia.
Sepanjang malam Lia terjaga untuk memastikan keselamatan Alfi. Bahkan Lia hanya berbaring di samping Rizal dengan mata yang menerawang jauh kedepan.