
Sepulang kuliah Alfi dan Lia atau Ratna berjalan keluar gerbang. Karna kosan Alfi yang dekat dengan kampus, Rendi tidak memperbolehkan Alfi untuk membawa motor ke kampus. Pagi Rendi akan menjemput Alfi dan ketika pulang Rendi akan mengantar Alfi.
Berhubung hari ini Rendi ada kelas tambahan akhirnya Alfi memutuskan untuk pulang berjalan kaki bersama Lia.
"Al, aku ingin tinggal sama kamu boleh?" Tanya Lia.
"Jadi selama ini lu tinggal sama siapa Lia? Sama gue kan?" Tanya Alfi.
"Iya sih Al. Tapi kan sekarang aku sudah jadi manusia lagi Al." Cibir lai.
"Hahaha, astaga aku sampai lupa Lia. Ya sudah lu pindahkan semua barang-barang Ratna ke kos gue. Kita tinggal satu kamar saja" ajak Alfi.
"Kalau begitu bantuin aku ya?" Pinta Lia.
"Iya, manja banget lu" Alfi memanyunkan bibirnya.
"Eh Lia. Lu ngutang penjelasan sama gue. Jadi setelah lu pamitan sama gue lu kemana? Apa lu nggak jadi kembali ke alam lu yang sebenarnya?" Tanya Alfi.
"Hehe aku berkelana Al. Setelah aku memutuskan untuk kembali, aku langsung menuju makam ku sendiri. Namun di situ aku menangis Al." Jelas Lia sedih.
"Lah kenapa?" Tanya Alfi serius.
"Aku nggak tau jalan pulang, haha" tawa Lia pecah.
" Koplak lu. Masak datang bisa, pulang nggak bisa. Hantu macam apa lu" protes Alfi.
"Itu lah yang masih menjadi tanda tanya di benak ku Al. Bagaimana caranya agar aku bisa kembali ke alam ku sendiri. Bahkan selama ini aku berkelana untuk mencari tahu nya Al. Aku sudah bertanya kesana sini namun masih belum menemukan jawabannya" jelas Lia.
"Memang nya lu tanyain sama siapa?" Tanya Alfi.
"Sama hantu yang lainnya. Dan mereka juga tidak tau jalan pulang Al. Sama kayak aku" ujar Lia yang mampu membuat Alfi menjadi gedek.
"Bulshit lu. Noh lu tanya sama pak ustadz pasti dia punya jawabannya" saran Alfi yang sedikit jengkel.
"Iiihh Atut Al. Nanti bisa-bisa aku di kurung lagi. Atau kalau nggak aku di suruh pergi ke tempat hutan-hutan dan tinggal Disana sampai hari kiamat tiba" Lia bergidik ngeri.
"Yang lebih parahnya lagi. Aku nggak punya teman Al disana. Enakan juga di sini sama kamu Al" sambung Lia.
" Udah ah. Ngomong sama lu bikin gue darting lia. Ayok kita pindah kan barang-barang lu ke kosan gue. Nanti kita susun lagi rencana untuk membalaskan kematian Ratna. Sumpah gue kasihan melihat penderita an hidupnya" ajak Alfi. Mereka berdua berjalan menelusuri trotoar. Dengan sesekali bersenda gurau.
Kehadiran Lia kembali, mampu membuat Alfi tersenyum kembali. Karna selama ini Lia lah yang selalu menemani Alfi dalam susah. Walaupun mereka sempat berbeda alam.
Satu bulan kemudian.
" Syukur lah. Jadi apa rencana kamu selanjutnya Al? Aku siap membantu kamu Al" tawar Lia dengan senyum merekah.
"Gue akan mengakhiri dendam kepada anto. Gue rasa dia sudah keluar dari persembunyiannya" jelas Alfi.
"Dari mana kamu tau Al?" Tanya Lia.
"Gue cuma menerka nya Lia, kalau di fikirkan dengan logika, sangat pasti dia akan kembali. Karna gue sudah mengonfirmasikan kepada pihak polisi untuk menutup kasus pembunuhan yang mereka lakukan kepada emak. Tidak ada lagi alasan dia untuk tidak menemui anak istrinya. Dan sebelum hasil autopsi keluar aku sudah membayar satu perawat untuk memanipulasi data." jelas Alfi.
"Jadi kapan kamu akan beraksi?" Tanya Lia.
"Besok malam. Gue akan berangkat sehabis magrib dari sini. Dan target utama gue adalah anak dan istrinya. Gue ingin dia merasakan bagaimana sakitnya kehilangan orang yang kita cintai seperti gue" tutur Alfi pasti.
"Baiklah kalau begitu aku ikut kamu Al" saran Lia.
"Boleh, siapa tau lu bisa membantu gue Lia. Tapi ingat jangan jadi beban ya, Awas saja lu. ujar Alfi.
***
Malam yang di tunggu-tunggu Alfi pun tiba. Dengan segala peralatan yang dia miliki Alfi sudah siap untuk tempur malam ini.
Selepas magrib Alfi dan Lia berboncengan menuju rumah Alfi di kampung. Ketika sampai jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Alfi langsung mengarahkan motor nya ke tepi hutan perbatasan kampung nya. Alfi dan Lia memutuskan berjalan kaki menuju rumah yang sudah dia tinggal kan hampir dua bulan lamanya.
Rumah itu sangat kotor dan tidak terurus. Karna Alfi tidak pernah lagi pulang kesana. ketika Alfi rindu sang ibu, Alfi akan langsung menuju makam nya dan kembali lagi ke kota.
Bukan tanpa alasan Alfi tidak mau singgah di rumah itu. Setiap Alfi memasuki rumah itu, hati Alfi kembali di selimuti oleh dendam yang membara. Sedangkan beberapa waktu yang lalu Alfi dalam keadaan penyembuhan. Alfi takut tidak bisa mengendalikan hasrat itu dan ikut mencelakai dirinya sendiri.
"Mak, aku pulang" lirih Alfi.
"Sabar Al, aku juga ikut merasakan apa yang kamu rasakan" ujar Lia mengelus punggung Alfi.
"Tapi emak tenang saja, malam ini dia akan merasa kan bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita sayang dalam keadaan tragis." Lirih Alfi dengan tatapan kosong kedepan.
Beberapa jam menunggu, akhirnya Alfi keluar dari sarangnya. Dengan sigap Alfi menembus kegelapan malam di temani Lia. Kali ini Lia ikut dalam wujud manusianya.
"Aman!" ujar Lia yang memantau situasi.
"Alfi mencongkel pintu belakang dan mulai masuk dari sana. Dengan penerangan yang tidak seberapa Alfi dengan sigap membaca situasi.
"Lia, kamu urus anaknya, aku akan mengurus perempuan itu!" Pinta Alfi.