
"Woy Al, lu ngapain bengong?" Tanya Rendi.
"Hehe, nggak ada kok ren. Owh ya lu tadi kemana?" Tanya Alfi lagi.
"Dari rumah. Gue mandi sama ambilin lu baju ganti. Tapi gue cuma bisa bawain baju ini buat lu. Karna hanya baju ini yang gue punya." Rendi mengeluarkan baju dan celana dari dalam tas yang dia bawa.
"Ini punya siapa?" Tanya Alfi yang memegang underwear wanita satu set.
"Hehe, sorry gue nggak tau ukuran lu Al. Jadi gue asal pilih saja. Itu baru gue beli kok. Lu tenang saja, mana mungkin gue ngasihin bekas sama lu" jelas Rendi malu.
"Owh iya, terima kasih lagi ya ren" ucap Alfi, memasukan Kembali baju dan underwear yang sempat dia pegang.
"Sini gue bantuin. Tangan lu kan masih sakit" Rendi menyambar baju itu dari tangan Alfi, dan memasukkan nya kembali ke dalam tas.
"Owh ya ren, kuliah lu bagaimana?" Tanya Alfi.
"Itu lah yang jadi masalah sekarang Al. Gue cuma izin untuk 3 hari dan besok gue harus balik ke kota. Tapi gue bingung lu mau gue tinggal sama siapa? Sedangkan gue tidak punya orang kepercayaan. Karna menurut gue tidak ada orang yang bisa kita percayai selain diri kita sendiri" tutur Rendi.
"Ren, lu nggak usah mikirin gue. Lu fokus sama masa depan lu. Ingat ren, lu masih punya kedua orang tua yang harus lu bahagiakan. Lu harus bisa membuat mereka bangga." Nasehat Alfi.
"Jangan cuma gara-gara gue, masa depan lu jadi kacau. Gue yakin bisa menjaga diri gue sendiri. Dan luka ini belum seberapa ren palingan besok juga sudah sembuh" Alfi meyakinkan Rendi.
"Meskipun lu ngomong kayak gitu Al. Gue tidak akan bisa ninggalin lu di sini Al." Ucap Rendi jujur.
"Kenapa?" Tanya Alfi yang mampu membuat Rendi terdiam.
"pertanyaan semacam apa itu?" Rendi balik bertanya.
"Nggak usah balik bertanya ren. Lu suka sekali berbicara dengan berbelit-belit" sanggah Alfi.
"Hehe, Al cepat sembuh ya. Gue berharap lu mau kembali melanjutkan pendidikan lu" Rendi menatap mata alfi dalam.
Alfi yang menyadari tatapan itu, langsung mengalih kan mata nya menghadap ke pintu.
"Apaan sih lu ren. Jangan buat gue salting dong, gue malu" guyon Alfi.
"Hehe, ya sudah lu istirahat sekarang. Gue juga mau istirahat" Rendi dalam keadaan duduk merebahkan kepalanya di atas tempat tidur Alfi. Secara perlahan Rendi tertidur.
"Heemm, ada yang lagi bucin ni Yee." Ledek Lia.
Alfi melotot kan matanya agar Lia tidak menggangu nya. Namun bukan Lia namanya kalau tidak bisa membuat Alfi jengkel.
"Dia tulus ya Al. Andai saja dulu gue bertemu dengan laki-laki seperti dia. Pasti udah gue kandangin." Ujar Lia sambil tertawa.
"Emang binatang, mau lu kandangin segala" jawab Alfi judes.
Rendi menegakkan kepalanya menatap ke arah Alfi.
"Lu ngomong sama siapa Al?" Tanya Rendi penuh selidik.
" Hehe, sorry ren gue emang punya penyakit bawaan ren. Gue kebiasaan sering ngigau kalau lagi tidur" alasan Alfi.
'awas lu ya Lia. Gara-gara lu gue harus menjelekkan diri gue sendiri' batin Alfi.
Lia yang mendengar kan penuturan Alfi menjadi tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Rendi hanya menerbitkan senyum manis kepada Alfi.
"Yaudah tidak apa-apa. Lain kali kalau mau tidur lu berdoa dulu" saran Rendi.
Alfi mengangguk dan berkata dalam hati.
'sejak kapan, sikap lu semanis ini ren?'
Rendi kembali merebahkan kepalanya di atas tempat tidur Alfi.
***
Tiga hari kemudian.
Hari ini Alfi sudah di perbolehkan pulang. Rendi dengan setia menemani Alfi hingga detik ini. Bahkan kuliah Rendi pun dia korban kan agar bisa menjaga Alfi.
"Ren makasih, udah mau gue repotin" ujar Alfi.
"Iya sama-sama. Lagian gue tidak merasa di repotin kok" jawab Rendi enteng.
"Sekarang kita mau pulang kemana ini? Kerumah lu atau ke rumah gue?" Tanya Rendi.
"Pulang ke rumah gue saja ren. Nggak enak juga haru ngerepotin nyokap sama bokap lu" ucap Alfi tak enak hati.
Rendi mengantarkan Alfi ke rumah nya. Di perjalanan Rendi membuka obrolan bersama Alfi.
"Al, gue izin besok kembali ke kota ya. Apa lu tidak apa-apa gue tinggal?" Tanya Rendi.
"Iya ren nggak masalah kok. Lagian gue merasa tidak enak ren. Gara-gara gue semua urusan pribadi lu harus lu korban kan" tutur Alfi.
"Iya juga ren. Gue juga sempat berfikir seperti itu. Tapi lihat nanti deh, gue masih bingung" Alfi mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil.
"Sebenarnya apa sih Al yang sedang lu fikirin? Apa sebenarnya yang ada di hati lu Al?" Tanya Rendi penasaran.
"Hehe nggak ada kok ren." Senyum tipis terpancar di bibir Alfi.
Sesampainya di rumah, Rendi menolong Alfi untuk masuk ke dalam rumah.
"Ren, gue bisa sendiri kok. " Protes Alfi ketika Rendi memapah Alfi untuk berjalan.
"Gue wanti-wanti saja Al. Nanti lu jatuh lagi" alasan Rendi.
"Mau gue antar ke kamar?" Tanya Rendi.
"Nggak usah ren, disini saja. Nanti lu ngapa-ngapain gue lagi" guyon Alfi, sambil duduk di kursi kayu di depan rumah.
"Ya elah otak lu Al. Bikin gue ngakak" Rendi juga ikut duduk di samping Alfi.
"Ya sudah gue pulang dulu ya. Ini stok makanan buat lu dua hari kedepan. Pokoknya kalau gue datang lagi. Lu harus sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kota." Rendi mengusap kepala Alfi dan berjalan menuju mobil miliknya.
Alfi menatap punggung Rendi sampai menghilang. Entah kenapa, ada rasa sedih di hati Alfi ketika Rendi tak lagi disisi nya.
Selepas kepergian Rendi, Alfi memasukan semua stok makanan yang Rendi belikan ke dalam rumah.
Tak lupa Alfi memeriksa semua barang yang ada di dalam ranselnya.
"Syukurlah semua nya lengkap. Aku sudah tidak sabar untuk membantai mereka lagi" ucap Alfi lirih.
Untuk mengisi waktu luang nya. Alfi segera berjalan menuju makan Wati. Di sana Alfi bercerita tentang perjalanan hidupnya setelah di tinggal oleh sang emak.
"Mak ternyata hidup sendiri itu tidak enak ya?. Sebenarnya Al mau menyusul emak. Namun semua misi Al belum terpenuhi Mak. Semoga saja Al bisa menyelesaikan semua nya Mak. Doa kan Al ya Mak" ujar Alfi bicara sendiri.
Sedangkan di tempat lain, seorang laki-laki sedang sibuk memotong rumput di pinggir rumah di dekat hutan.
"Kok bau banget di sini ya? Apa jangan-jangan ada ****** babi atau kera ya?" Gumam laki-laki itu lirih.
Karna tidak tahan dengan bau yang menyengat, laki-laki itu kembali ke pemukiman warga.
"Bg tadi saya memotong rumput untuk makan sapi di pinggir hutan itu. Di dekat bekas rumah mang Dono. Disana bau banget Bg. Seperti nya ada bangkai babi atau kera deh" ujar Supri.
"Masak sih Bg? Beberapa hari yang lalu saya melihat ada dua orang laki-laki yang tinggal di situ" timbal Boby.
"Lah sejak kapan rumah itu ada isinya" tanya Supri.
"Saya tidak tau juga Bg. serius saya melihat mereka tapi dari jauh sih. Dan saya tidak terlalu mengenali wajahnya." Jelas Boby.
"Kalau begitu, ayo kita rame-rame melihat kesana. Jangan-jangan ada yang mati salah satu di antara mereka" ajak Supri.
Mereka berbondong-bondong pergi kerumah itu. Tak lupa mereka membawa perangkat desa sebagai saksi.
Ketika pintu di buka, serempak mereka semua menutup mulut dan hidung menggunakan tangan. Ada pula yang langsung muntah karna sudah terlanjur basah menghirup aroma busuk tersebut.
"Bangkai apa ini? Kok bau sekali?" Tanya pak RT sambil menutup mulut.
Karna tidak ada yang tau bau itu berasal dari bangkai apa. Beberapa orang berinisiatif mengecek ke dalam rumah.
Sedangkan beberapa warga yang tidak tahan, mereka berjalan sedikit menjauhi rumah itu.
"Hoooeekkkkk, hoooeekkkkk" seseorang keluar dari rumah dan langsung memuntahkan isi perutnya.
"Ada apa Bg?" Tanya pak RT.
"Ada dua mayat di dalam pak RT. Seperti nya korban pembunuhan. Tubuhnya sudah membusuk pak." Jelas yang satu lagi.
"Kalau begitu kita hubungi polisi dulu, biar polisi yang mengurus semua ini" ujar pak RT memberikan pendapat.
Warga yang hadir berjalan menjauhi rumah itu. Mereka memilih menunggu polisi untuk menyelediki apa yang terjadi.
"Bagaimana kondisi mayat itu?" Tanay pak RT.
"Parah pak. Tubuhnya sudah tidak berbentuk. Ada beberapa bagian tubuh yang terpisah dari tempat nya. Wajah mereka sudah tidak bisa untuk kita kenali. Dan setiap pori-pori kulit nya terdapat belatung yang menggerogoti dagingnya." Jelas Supri karna dia salah satu yang ikut masuk ke dalam.
Warga yang mendengar kan penjelasan Supri bergidik ngeri.
"Kira-kira apa yang terjadi ya? Apakah mereka saling bunuh atau di bunuh orang lain?" Salah satu mereka melontarkan pertanyaan.
"Seperti di bunuh pak Karna tidak mungkin rasanya. Yang satu mati dalam keadaan tubuh yang terpisah-pisah. Dan yang satu lagi mati dengan kepala yang terpenggal" pendapat Supri.
Mereka sibuk mengemukakan teori mereka masing-masing sembari menunggu polisi datang.