Pembalasan Demi Sang Ibu

Pembalasan Demi Sang Ibu
berpisah dari emak


"Al?" Sapa Lia. Mata Alfi terbuka kembali setelah sekian detik terpejam.


"Iya Lia. Kemana saja lu selama menghilang. Apa lu marah sama gue?" Tanya Alfi.


"Hihihi, kenapa? kamu rindu ya Al?. Dan atas dasar apa aku marah sama kamu?" Goda Lia.


"Bulshit, siapa juga yang rindu sama hantu resek kayak lu. Gue cuma heran lu mengilang kemana? Atau lu udah balik ke asal lu dan tidak pamitan sama gue." Ujar Alfi.


"Al, kamu mau kuliah ya?" Tanya Lia.


"Rencana. Tapi belum tentu gue di terima. Lagi pula gue masih bingung, entah kenapa hati gue terasa berat ninggalin emak" curhat Alfi.


"Apa yang ada di hati kamu lebih peka dari pada apa yang ada di fikiran kamu. Jangan gegabah mengambil keputusan Al. Cuma itu saran aku" nasehat Lia.


"Bagaimana dengan misi balas dendam lu Lia? Maaf beberapa Minggu ini gue selalu sibuk jadi tidak bisa memantau lu" jelas Alfi.


"Belum ada perkembangan Al. Mereka masih belum bisa untuk aku dekati. Sudah beribu cara yang aku lakukan untuk menjebak mereka. Tapi hasilnya masih nihil." Jelas Lia.


"Aku masih menunggu kamu, untuk mau  membantu ku lagi Al. Suatu saat nanti kamu pasti akan mau" kata Lia lirih.


"Semoga saja Lia. Untuk sekarang ini aku masih was-was. Karna pembunuhan di hotel waktu itu masih dalam penyidikan. Kalau kita beraksi sekarang, pasti aku akan tertangkap. Aku tidak mau mengambil resiko" jelas Alfi.


"Ya aku tau Al." Lia lenyap dari pandangan Alfi.


Seminggu telah berlalu, Alfi mendapatkan panggilan untuk segera pergi kesekolah. Dan sesampainya di sekolah, Alfi dekejutkan oleh berita yang sangat membahagiakan.


"Selamat Al, dari ratusan murid di sekolah ini, kamu termasuk salah satu siswa yang lulus bidik misi dan mendapatkan beasiswa setiap bulannya. Kamu di terima di universitas Garuda dengan jurusan bahasa dan sastra." Ucap wasila guru wali kelas Alfi.


"Alhamdulillah, terima kasih banyak buk. Saya sangat senang mendengar kabar ini. Dan saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini" Alfi menyalami gurunya.


"Sama-sama Al. Semoga kamu jadi orang yang sukses" doa wasila. Alfi mengaminkan dalam hati. Setelah selesai Alfi berpamitan pulang kepada wasila.


Alfi pulang dengan perasaan bangga, Alfi sengaja singgah di salah satu rumah makan untuk membelikan nasi bungkus untuk sang emak. tanpa Alfi sadari, Anto sang paman menyaksikan kebahagiaan Alfi.


Anto merasa tidak terima kalau Alfi dan Wati memiliki hidup yang layak. Sebenarnya sudah dari dulu Anto tidak menyukai keluarga itu. Namun puncaknya ketika Alfi membeli motor baru. Anto merasa tidak di butuhkan lagi oleh mereka. Dan pemasukan Anto menjadi berkurang.


"Assalamualaikum Mak" panggil Alfi.


"Iya, emak di belakang" sorak Wati dari belakang rumah.


"Emak ngapain?" Tanya Alfi.


"Ini mau cabut singkong buat cemilan Al. Sayang kalau di biarkan terbuang kayak gini" jelas Wati.


"Ini Mak, Aku belikan nasi. Ayo kita makan dulu" ajak Alfi.


"Nasi bungkus yang enak itu ya Al?" Tanya Wati.


"Iya mak, nasi bungkus kesukaan emak" seloroh Alfi.


"Alhamdulillah, kebetulan emak cuma masak nasi dengan sayur bening, eh rupa nya ada rejeki yang tak terduga" Wati mengucap syukur.


"Alhamdulillah kalau begitu pit. Selamat ya nak." Senyum lebar terpampang di bibir Wati.


"Tanggal 20 nanti Al sudah masuk kuliah Mak. Untuk masa orientasi mahasiswa." Jelas Alfi.


"Jadi kapan kamu akan mencari kos-kosan untuk di tempati?" Tanya Wati.


"Rencana secepat nya Mak. Kalau bisa sebelum tanggal 19 Al sudah mendapatkan tempat tinggal"  jawab Alfi.


"Besok berangkat lah ke kota pit. Kamu bisa kan mencari sendiri?" Tanya Wati.


"Bisa dong Mak. Lagian aku kan sudah besar" cibir Alfi.


"Hahaha, ternyata anak emak sudah besar ya" Wati mulai menggoda Alfi.


"Emak suka sekali menggoda Al" rutuk Alfi sambil menyuap nasi kemulutnya.


Di samping rumah Mereka, Anto sedang menyunggingkan senyum licik.


"Tunggu saja giliran kalian. Sebentar lagi semua kebahagiaan kalian akan sirna" gumam Anto lirih.


***


Hari yang ditunggu-tunggu pun telah tiba.  Hari ini Alfi berangkat ke kota untuk menempuh jenjang pendidikan yang dia damba-dambakan.


"Jaga diri emak baik-baik ya. Aku akan pulang sekali seminggu untuk menemui emak." Ucap Alfi mencoba untuk tegar.


"Iya nak. Kamu juga jaga diri baik-baik di kota orang. Jangan nakal ya. Kuliah yang rajin. Emak sayang kamu pit" tak terasa pertahan Alfi runtuh. Air matanya jatuh membasahi bumi.


"Hiks" Alfi semakin terisak, begitu pun dengan Wati. Ini adalah perpisahan pertama bagi mereka. Walaupun Alfi bisa pulang sekali seminggu, namun Wati pasti akan sangat kesepian di tinggal sendiri an. Dan semua itu butuh waktu untuk menetralkan nya.


"Sudah, berangkat lah nak. Jangan menangis, emak baik-baik saja kok" Wati mengusap air mata nya yang sempat menetes. Alfi tak dapat berkata-kata lagi, suaranya seakan di telan oleh air mata yang berjatuhan.


Dengan berat hati Alfi meninggalkan Wati sendirian. Di sepanjang perjalanan air mata Alfi masih berjatuhan. Ntah kenapa di hatinya merasa tidak ikhlas meninggalkan sang ibu.


"Ternyata kamu cengeng ya Al" bisik Lia. Dengan secepat kilat Alfi mengusap air matanya.


"Tutup mulut lu Lia. Jangan ganggu aku" pinta Alfi dengan suara serak.


"Hihihi, hati-hati di jalan Al. Sampai ketemu di kos-kosan" suara Lia menghilang.


'Ya Allah, jaga orang yang sangat aku cintai. Aku titip keselamatan emak kapada Mu' batin Alfi.


Sesampai nya di kos-kosan Alfi merebahkan tubuhnya sesaat.


"Rasanya sangat cepek sekali. Mana udah sore lagi" lirih Alfi.


Tak terasa Alfi tertidur sangat pulas hingga larut malam.