
"Ssttt tidak baik berbicara seperti itu di sini. Hargailah Anto yang sedang berduka. Jangan kita menambah beban beliau" sanggah seorang ibu-ibu yang mendengar percakapan mereka.
Anto yang memang sudah mendengar kan semua perkataan dua orang tadi. Sejenak kembali larut dalam pemikiran nya.
'Apakah ini ada sangkut pautnya dengan kematian Wati?' batin Anto.
'Jangan-jangan Wati kembali untuk membalas dendam? Atau semua ini karma untuk ku?' sambung batin Anto bertanya-tanya.
"Pak untuk memeriksa lebih lanjut lagi. Kami akan membawa jenazah korban untuk di periksa ke rumah sakit. Apakah bapak menyetujui nya?" Tanya polisi.
"Lakukan apa yang bisa bapak lakukan.segera temukan pelakunya pak. Hiks" Anto akhirnya menangis dengan sesegukan.
"Baiklah, jenazah akan kami bawa. Dan rumah ini segera untuk di kosong kan. Karna rumah ini akan kami beri garis polisi untuk menyelediki lebih lanjut di area TKP" ujar polisi.
Setelah jenazah di bawa para warga segara membubarkan diri. Sedangkan Anto ikut ke kantor polisi untuk dimintai keterangan beserta Sarip dan tamar sebagai saksi.
***
Keesokan paginya, seluruh jagad Maya di gempar kan oleh berita mutilasi yang telah Alfi dan Lia lakukan. Alfi melihat berita itu menerbitkan senyuman kepuasan.
Di tambah lagi foto Anto yang terlihat sangat terpukul dengan kejadian itu.
"Baru pemanasan paman. Bagaimana rasanya? Pasti sakit bukan?. Selanjutnya tunggu giliran paman. Paman akan mengerti bagaimana sakitnya kehilangan orang yang kita cintai." ujar Alfi dengan suara yang serak.
"Ayo Al. Kita berangkat, nanti terlambat" ajak Lia.
Alfi dan Lia Segera berangkat ke kampus. Meskipun bagian mata Alfi terdapat lingkaran hitam karna kurang tidur, itu bukan penghambat bagi Alfi untuk menghadiri pembelajaran hari ini.
"Mata kamu kenapa Al?" Tanya Rendi yang bertemu dengan Alfi di gerbang kampus.
"Seperti nya kurang tidur ren. Semalam mata gue nggak bisa tidur" jawab Alfi.
"Ini pasti karna kalian keluyuran tadi malam kan?" Tanya Rendi.
"Hehe seperti nya begitu ren" jawab Alfi singkat.
"Tapi kok si Ratna matanya nggak kayak lu Al. Aman-aman saja dia?" Tanya Rendi heran.
"Ya elah ren. Kalau dia lu nggak usah heran, kebo kayak dia begitu rebahan langsung tertidur dengan nyenyak" jawab Alfi berbohong. Padahal selama Lia menempati tubuh Ratna. Tubuh Ratna tidak pernah tertidur sedikit pun. Kecuali jika Lia meninggalkan tubuh Ratna untuk mencari darah segar.
"Mulut kamu ya Al. Jangan buka aib dong" protes Lia.
Mereka bertiga memutuskan untuk masuk ke dalam kampus. Karna sebentar lagi pembelajaran akan di mulai.
Ketika mereka bertiga masuk tiba-tiba Haikal muncul di hadapan mereka.
"Ren lu jangan dekat-dekat dengan mereka. Karna mereka adalah vampir" kata Haikal memojokkan Alfi.
Itu adalah salah satu trik Haikal agar Rendi menjauhi Alfi. Selagi Rendi berada di samping Alfi Haikal tidak akan bisa mendekati Alfi dan membongkar semua rahasia Alfi.
"Apaan sih lu kal. Ngomong kok ngaco" ketus Rendi.
"Gue serius kok. Soalnya ada yang bilang sama gue kalau mereka berdua meminum darah di belakang kampus tempo hari" jelas Haikal mengambing hitam kan seseorang yang tak tau namanya.
Alfi dan Lia saling bertatapan. Mereka sama-sama teringat dengan kejadian yang ada di belakang kampus, ketika Ratna bunuh diri. Dan Lia masuk ke dalam tubuh Ratna lalu menjilati semua darah yang ada di pergelangan Ratna.
"Udah lah kal. Lu kalau nggak suka sama gue bilang saja. Nggak usah gosipin yang aneh-aneh deh tentang kami" protes Alfi.
Lia menatap Haikal dengan tatapan dingin dan mengintimidasi. Bahkan Lia dengan sengaja membasahi bibir nya agar Haikal merasa Lia menginginkan darahnya.
Melihat aksi Lia, Haikal memutuskan untuk lari menjauhi mereka. Bahkan Haikal sempat terjatuh karna tersandung batu.
"Hahaha, bocah yang aneh" ujar Lia tertawa.
"Jangan di ambil hati Al. Mungkin dia tidak mengenal lu lebih jauh makanya Haikal ngomong ngelantur. Tapi sebenarnya dia anak yang baik kok." hibur Rendi.
"Iya ren. Lagian gue nggak apa-apa kok. Gue sih nggak peduli sama tuduhan orang. Selagi gue tidak melakukan nya ya bodo amat. Iya kan rat?" Tanya Alfi
"Betul itu. Bodo amat lah ya" jawab Lia yang berwujud kan Ratna.
"Kita berpisah Disini ya Al. Nanti pas istirahat gue temuin lu lagi. Bye" Rendi mengambil langkah berpisah dari Ratna dan Lia. Karna ruangan mereka berbeda.
"Bagaimana ini Al? Haikal tau kejadian itu" tanya Lia berbisik.
"Ssssttt kita lihat kelanjutannya. Kalau dia berani lebih jauh lagi maka dia adalah korban selanjutnya." Jawab Alfi dengan suara kecil. Alfi dan Lia berjalan sambil tertawa cekikikan.
Di tempat lain Haikal baru saja sampai di toilet. Dia mengatur nafas nya yang masih naik turun.
"Seperti aku harus waspada. Nanti bisa saja mereka menyerang ku tanpa aku sadari. Iiih ngeri banget. Malang sekali nasib mu ren, bisa-bisa nya kamu mencintai gadis vampir seperti itu" gumam Haikal.